Selasa, 07 Agustus 2012

Cara rasul mendidik anak n cucunya

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata “anak”?
Apakah perwujudan darah daging kita yang nantinya bisa
diperintah sekehendak hati dengan alasan seorang anak
wajib mematuhi perintah orangtuanya? Atau, hanya sebuah
mulut lain yang harus kita beri makan sehingga aktivitas
pencarian nafkah untuknya menjadi beban? Ataukah,
makhluk yang fungsinya hanya untuk dibanggakan di
hadapan kerabat dan saudara lainnya ketika sang anak
meraih kesuksesan, baik di bidang materi atau gelar
akademis sehingga kesuksesannya dijadikan penutup cela
dan kekurangan sang orangtua sehingga bisa dengan lantang
berkata, “Inilah anakku, aku yang telah mendidiknya”?
Lain kita, lain pula Nabi Muhammad Saw. Di mata Rasul,
seorang anak adalah calon manusia dewasa yang telah
memiliki hati, persaan, harga diri yang sama dengan
manusia dewasa, dan telah memiliki hak-hak tertentu. Hal
ini terlihat dari berbagai sikap beliau dalam memperlakukan
anak kecil.
Ketika beliau membagi madu kepada orang dewasa dan di
situ ada anak kecil, Rasul memberi jatah pada anak kecil
tersebut. Ketika ada anak seorang sahabat yang buang air
kecil di gendongan beliau dan ibu anak tersebut
membentaknya, Rasul menegur dengan mengatakan bahwa
air pipis bisa dicuci sedangkan sakit hati anak susah diobati.
Beliau tidak mengganggu anak-anak yang sedang bermain,
bahkan pernah menonton anak-anak yang sedang bermain
dengan penuh senang hati. Rasul pun tidak mengganggu
boneka Siti Aisyah yang dinikahi ketika masih kecil.
Nabi juga tiak membedakan antara anak laki-laki dan
perempuan. Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki duduk
di sebelah beliau, hingga kemudian anak laki-lakinya datang
dan duduk di pangkuannya. Tak lama kemudian, datanglah
anak perempuannya, tetapi laki-laki itu tidak memangkunya.
Kemudian Nabi bersabda, “Mengapa engkau tidak
menyamakan keduanya?”
Selain itu, tentunya Nabi juga memandang bahwa seorang
anak adalah penerus generasi muslim di masa yang akan
datang. Karenanya, pendidikan yang baik untuk seorang anak
harus menjadi perhatian orangtua muslim. Dalam hal ini,
Rasulullah Saw. berpesan, “Ajarkan kebaikan kepada anak-
anak kamu dan didiklah mereka.” (H.R Abdurrazaq dan Sain
bin Manshur). Karena itu, kecintaan kepada anak-anak tidak
membuat Rasul berpaling dari tujuan utama hidupnya atau
membuatnya lupa akan tanggung jawab sebenarnya
terhadap anak-anak.
Walaupun sebelum masa akil baligh adalah masa tidak atau
belum dicatatnya kebaikan dan keburukan seorang manusia,
Nabi tetap menganjurkan anak-anak kita agar dididik tentang
tata cara ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran, dan
memperkenalkannya pada aspek akidah, seperti keberadaan
Allah dan kerasulan Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Didiklah anak-
anakmu atas tiga hal, mencintai Nabimu, mencintai
keluarganya, dan membaca Al-Quran. Sebab para ahli Al-
Quran itu berada dalam naungan singgasana Allah pada hari
yang tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-
Nya.” (H.R. At-Thabrani)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Nabi
Muhammad Saw. memerintahkan agar para orangtua
menyuruh anaknya mentaati perintah-perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya. Sebab, hal itu akan menjaganya
dari api neraka. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa
Nabi memerintahkan agar orangtua memerintahkan shalat
kepada anaknya sejak umur tujuh tahun. Kemudian, jika
pada usia sepuluh tahun anak tidak shalat, maka Nabi
memerintahkan orangtua untuk memukul mereke.
Secara umum, Rasulullah mendidik anak dengan penuh kasih
sayang, kehangatan, telaten, penuh perhatian dan tanggung
jawab serta senantiasa diiringi doa. Beliau bersabda, “Alzimu
auladakum” yang artinya “Dekati anak-anakmu!” Beliau
sering menggendong anak sahabat yang dibawa berkunjung
ke rumahnya. Beliau juga memangku Hasan di atas paha
yang satu dan memangku anak sahabat di atas paha lainnya
kemudian memeluk mereka berdua. Dan, dalam suasana
seperti itu keluarlah doa-doa untuk anak-anak itu, di
antaranya, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka
cintailah dia dan cintai pula orang yang mencintainya”.
Beliau tidak melakukan sesuatu yang membahayakan anak.
Walau sedang shalat, beliau tidak bangkit dari sujud karena
cucunya sedang duduk di pundaknya. Beliau pun kerap
menyuruh untuk mencium dan mengusap kepala anak.
Masih banyak lagi hadits yang menggambarkan besarnya
kepedulian Nabi terhadap anak-anak. Bahkan, Nabi pernah
bersabda, “Siapa yang mempunyai anak, hendaklah dia
‘menjadi anak’ pula (yakni memahami, bersahabat, dan
menjadi teman bermain anaknya).”
Pada dasarnya, Rasulullah Saw. mengajarkan perilaku lemah
lembut dalam mendidik anak dan tidak mengajarkan
kekerasan. Perintah beliau untuk memukul anak yang tidak
mau shalat pada usia sepuluh tahun bukanlah perintah untuk
melakukan kekerasan. Pukulan yang dilakukan adalah
dharban rafiiqan, pukulan yang disertai rasa kasih sayang,
bukan pukulan sebagai luapan kemarahan. Pukulan itu tidak
boleh mengenai wajah (falyajtanib al-wajha) atau anggota
tubuh yang vital. Pukulan itu juga tidak boleh menimbulkan
bekas (dharban ghaira mubarrih). Pukulan baru diberikan
sebagai sanksi kepada anak yang tetap membangkang
setelah menjalani proses pendidikan selama empat tahun
terus-menerus, dari usia tujuh tahun sampai sepuluh tahun.
Nabi Saw. bersabda, “Gunakanlah cinta dan kasih sayang
dalam mendidik dan membina, dan jangan menggunakan
kekejaman. Sebab, seorang penasihat yang bijak adalah lebih
baik ketimbang seorang yang kejam.”
SebeNarnya, sanksi tidak harus dengan pukulan. Sabda
Rasul, “Wa lan yadhriba khiyaarukum (orang baik di antara
kamu tidak akan pernah memukul)”. Selalu ada jalan untuk
memberi sanksi tanpa harus memukul. Yang paling penting
adalah anak yang salah perlu diberi sanksi.
Yang perlu diingat oleh para orangtua adalah jangan
membiasakan mendidik anak dengan pukulan. Hikmah
pemberian pukulan dalam mendidik anak adalah agar
orangtua jangan menyerah kepada keinginan anak yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam. Orangtua harus berani
mengalahkan kasih sayang yang bersifat hawa nafsu dengan
memberikan hukuman yang bersifat keselamatan dunia
akhirat. Hikmah bagi anak adalah untuk mengingatkan
bahwa perbuatan yang dilakukannya sudah keterlaluan.
Nabi lebih banyak memberikan arahan tindakan preventif
agar anak tidak sering membantah. Dari keseluruhan cara
Nabi mendidik anak, semua dilakukan dengan cara
pendekatan dan upaya menyelami jiwa anak serta selalu
dikaitkan dengan nilai-nilai ilahi. Dengan demikian,
menghadapi anak yang sering membantah orangtua harus
dengan cara terus didekati, diketahui, dan dipahami
penyebab dari perilakunya. Tentu saja, diperlukan
kelapangan dada dari orangtua untuk introspeksi. Doa
merupakan metode yang ampuh untuk menyertai usaha.
Semua perilaku Nabi dalam mendidik anak merupakan
nasihat agar anak tersentuh hatinya, dari membangun
kedekatan dengan anak, melatih kehalusan sikap dan
ucapan, usaha menyelami pikiran anak, dan tentu saja
penanaman nilai-nilai ilahi. Anak harus diingatkan akan
kekuasaan Allah dan masa depan yang akan dihadapi di
dunia, terlebih kehidupan di akhirat.
Namun, dalam perilaku lembut nan penuh cinta kasih, bukan
berarti Nabi menganjurkan kita memanjakan buah hati.
Fathimah, putri Nabi, melakukan semua pekerjaan rumah
tangga, seperti menyapu rumah, membuat tepung dan
memanggang roti, serta mengambil air dari sumur. Semua
perkerjaan ini membuat warna kulitnya gelap dan tangannya
kasar. Ketika Fatiman menemui Nabi untuk meminta
seorang pembantu, beliau bersabda, “Orang-orang Suffah
sangat miskin dan lebih membutuhkan bantuan daripada
engkau. Akan kuajarkan kepadamu tentang suatu hal yang
lebih baik daripada memiliki seorang pembantu. Apabila
engkau pergi tidur, bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali,
bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah
sebanyak tiga puluh empat kali.”
Contoh ini menunjukkan bahwa walaupun Nabi sangat
mencintai anaknya, beliau tidak pernah mengorbankan
prinsip-prinsipnya dalam kondis apa pun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar