17Agustus. Bangsa Indonesia merayakan apa yang
dinyatakan sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Terlihat bendera Merah Putih dikibarkan di tiap rumah-
rumah, gedung-gedung, perkantoran, dan lain sebagainya.
Media pun meliput tema yang sama, yaitu kemerdekaan.
Pemerintah menggunakan isu Ramadhan dan Nuzulul
Qur’an sebagai isu dalam perayaan tahun ini. Demikian
terngiang di khutbah-khutbah Jum’at pada berbagai masjid.
Pada beberapa tempat, kemerdekaan ini menjadi sebuah
pertanyaan besar. Hakikat dari kemerdekaan itu sendiri
kemudian tidak lepas dari pertanyaan. Apakah benar
Indonesia merdeka? Apakah hakikat dan makna dari
kemerdekaan yang dirayakan pada 17 Agustus dari tahun ke
tahun? Bagaimanakah kemerdekaan itu seharusnya atau
setidaknya yang diharapkan?
Dalam tingkatan apapun, kemerdekaan adalah sebuah
utopia yang tidak akan tercapai. Kemerdekaan dalam artian
bebas dari kungkungan pemikiran, adat istiadat, nilai dan
norma merupakan sebuah khayalan belaka. Dalam
peradaban manapun sepanjanga sejarah manusia, belum
pernah terjadi hal semacam ini. Baik pada tingkatan individu,
masyarakat maupun bangsa dan negara.
Mengapa demikian? Karena manusia pada hakikatnya adalah
hamba yang menghamba kepada sesuatu yang akan
mengaturnya, menentukan penilaian dan sikapnya dan
mengarahkannya kepada sebuah tujuan. Dengan demikian,
kebebasan atau kemerdekaan absolut tidak dapat tercapai,
karena akan menyalahi fithroh manusia itu sendiri.
Beberapa komunitas masyarakat menentang fithroh ini,
mengingkarinya dan berusaha sebisa mungkin untuk
mengubahnya. Upaya ini bersumber dari kebodohan yang
nyata terhadap fithroh mereka. Apakah langkah mereka
akan berhasil? Tentu tidak, kecuali hanya berupa ilusi akan
kemerdekaan. Pada kenyataannya, mereka hanyalah
menjadi hamba pula atas hawa nafsu mereka sendiri,
melepaskan diri dari segala aturan yang tidak sesuai dengan
hawa nafsu mereka.
Penghambaan manusia akan selalu menjadi salah satu titik
perhatian dalam Islam, dimana seorang Muslim hanya
menjadi hamba bagi Allah ta’ala yang menciptakan mereka,
mengenal dan memahami mereka berdasarkan fithroh
mereka, dan mengatur lalu mengarahkan mereka
berdasarkan fithroh tersebut. Karenanya Islam
membebaskan dan memerdekakan manusia dari belenggu
penghambaan kepada yang bertentangan dengan fithroh
mereka, lalu membawa manusia menuju penghambaan
sesuai dengan fithroh manusia itu sendiri. Inilah hakikat
kemerdekaan sebenarnya.
Kemerdekaan bukanlah kedaulatan mutlak seorang manusia
atau bangsa atas dirinya sendiri, karena hal tersebut
bertentangan dengan fithroh. Manusia tidak mengetahui
keadaan diri mereka sehingga mereka akan melakukan
kesalahan berulang-ulang, dan seringkali dalam jangka
panjang cenderung tidak belajar dari kesalahan mereka.
Dengan demikian, kedaulatan manusia atas dirinya sendiri
hanya akan mencelakakan dirinya dan membelenggu dirinya
kepada kungkungan syahwatnya yang tidak kunjung habis.
Tidak ada kebahagiaan di dalam keadaan yang seperti itu,
karena hidup menjadi ajang keserakahan yang tidak
berhenti.
Kemerdekaan bukanlah humbaran hawa nafsu yang
menjadikan diri menggunakan tali kekang selayaknya kuda.
Kemana hawa nafsu ingin melangkah, kesitulah diri dibawa.
Tali kendali dipegang oleh syahwat. Diri kita hanya akan
merdeka jika hawa nafsu kita tunduk kepada kesadaran,
bahwa kita adalah hamba Allah ta’ala yang berikan perintah
dan larangan yang menjadi sarana untuk mengendalikan
hawa nafsu tersebut. Ketakwaan adalah ketika hawa nafsu
kita tunduk pada ketentuan perintah dan larangan dari Allah
ta’ala tersebut.
Hanya dengan keadaan bertakwa tersebutlah, seorang
manusia terbebas dari hawa nafsunya. Lalu ia akan merdeka
untuk menjalankan peranannya di muka bumi ini sesuai
dengan tujua penciptaannya.
Sudahkah kita merdeka? Sudahkah kita bertakwa?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar