Selasa, 07 Agustus 2012

Seni menangkap kupu kupu

Seorang pemuda tengah termenung, duduk di bangku
taman. Dari tadi, tak segurat pun rona gembira terpancar
dari wajahnya. Seorang kakek yang duduk di bangku lain, tak
jauh dari si pemuda, mengamati dengan serius. Akhirnya,
kakek itu pun menghampiri anak muda tersebut.
“Ada apa, anak muda? Sejak tadi kuperhatikan, engkau
tampaknya sedang gundah.”
Anak muda itu mendongakkan kepala. Makin jelaslah gurat
kecewa di wajahnya. Dia pun kembali menundukkan
wajahnya. Sang kakek, tanpa disilakan, duduk di samping
pemuda tersebut.
“Tidakkah kupu-kupu yang menari bersama bebungaan ini
menarik perhatianmu, anak muda?” sang kakek
mengakrabkan diri.
Pemuda itu menarik napas panjang dan perlahan
mengembuskannya. “Justru kupu-kupu itulah yang
membuatku sedih dan merasa diri tidak berguna.”
“Apa maksudmu, anak muda?”
“Adik perempuanku ingin kupu-kupu. Dia memintaku untuk
menangkapnya.”
“Bukankah di taman ini ada banyak kupu-kupu dengan
aneka warnanya yang indah yang bisa kau tangkap?”
Pemuda itu menjambak rambutnya sendiri. Rona sesal
mengemuka. “Aku tidak bisa menangkapnya, kek,” pemuda
itu masih merasa jengkel dengan dirinya sendiri.
“Apa yang membuatmu tidak bisa menangkap kupu-kupu
itu, anak muda?”
“Apa kakek tidak lihat? Kakiku cacat. Untuk bisa berjalan saja
aku harus ditopang tongkat,” ucapnya sambil menunjukkan
kakinya yang cacat.
“Tapi kamu belum mencobanya, bukan?”
Pemuda itu mengangguk.
“Cobalah dahulu!”
Pemuda itu pun bangkit. Tertatih-tatih sambil ditopang
tongkat, dia mulai berjalan ke tengah taman yang banyak
ditumbuhi bermacam bunga. Sampai di tengah tanaman,
dengan beringas dia menangkapi kupu-kupu yang tengah
terbang atau yang hinggap di kelopak bunga. Malang
baginya, karena menangkap kupu-kupu memang tidaklah
mudah, begitu dia menggerakkan tangannya, kupu-kupu itu
sudah terbang entah ke mana. Merasa tengah diperhatikan
oleh sang kakek, dia terus berusaha mengejar kupu-kupu
yang terbang, bahkan dia menjadikan tongkatnya untuk
memukul kupu-kupu yang hinggap pada tanaman bunga.
Alhasil, tanaman bunga yang mulanya tertata rapi dan indah,
kini rusak dan acak-acakan.
“Lihatlah Kek, aku tidak bisa menangkap kupu-kupu itu,”
ucap pemuda itu masih ngos-ngosan.
Sang kakek tersenyum lalu menghampiri pemuda itu dan
menuntunnya duduk di bangku taman tempat mereka
duduk tadi. “Kamu mau kuajari bagaimana cara menangkap
kupu-kupu?”
“Aku mau, kek. Ajari aku menangkap kupu-kupu.”
“Akan kuajari kamu menangkap kupu-kupu tanpa merusak
taman.”
Kakek itu pun melangkah ke salah satu sudut taman yang
lain. Di sana, banyak kupu-kupu yang tengah hinggap dan
mengisap sari bunga atau yang terbang berpindah dari satu
bunga ke bunga yang lain. Alih-alih bergerak lincah ke sana
kemari mengejar kupu-kupu, sang kakek hanya diam
mematung.
Melihat hal itu, sang pemuda heran. Namun, rasa heran
tersebut lekas musnah ketika secara ajaib, kupu-kupu yang
tengah beterbangan yang tadi amat susah dia tangkap,
malah hinggap di tangan kakek itu. Bukan hanya satu, ada
tiga sampai empat kupu-kupu dengan warna dan corak yang
indah.
Belum habis rasa heran pemuda itu, sang kakek pun
berbicara. “Anak muda, menangkap kupu-kupu adalah
bagaimana kamu menyiapkan dan memantaskan diri untuk
didatangi dan dihinggapinya. Bukan hanya kupu-kupu, apa
pun dalam hidup, akan dengan sendirinya mendatangimu
jika kamu siap dan pantas menerimanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar