Sabtu, 19 Januari 2013
percakapan harian bahasa Korea
Saat Ini
Korea sudah menjadi bahasa yang tidak asing lagi, berikut ini
Percakapan Bahasa Korea Sehari-hari . Percakapan
Bahasa Korea yang sering dilakukan dalam kehidupan di
Korea.
Percakapan Bahasa Korea Sehari-hari
Aku Cinta Kamu = Saranghae / Saranghamnida
Aku Suka Kamu = Choaheyo
Selamat Ulang Tahun untuk Anda = Saengil Chukha
Hamnida
Senang Bertemu Dengan Mu = Mannaseo
bangapseummnida
Saya Orang Indonesia = Indonesia saramimnida
Saya Belajar Bahasa Korea = Naneun hangugeoreul
baeunda
Maafkan Aku = Mian ne
Mian hamnida
Kalian Dari Mana ? = Neohuideureun eodieseo wanni ?
Boleh, Silahkan = Ne, doemnida
Bagus Sekali = Maeu joseumnida
Oke = Jeoseumnida
Tidak = Anio
Iya = Ye / Ne
Tidak Pernah = Gyeolko animnida
Aku Mengerti = Algesseoyo
Arayo
Aku Nggak Tau = Mollayo
Ya, Ada = Ne, isseoyo
Siapa Nama Mu ? = Ireumi mwoyeyo?
Nama Ku Jeong Ji-Hoon = Jeo neun Jeong Ji-Hoon ieyo
Apakah Ini ? = Ige mwoyeyo?
Sangat Cantik = Cham yebbeoyo
Nggak Apa-Apa = Goenchanayo
Baik-Baik Saja, Terima Kasih= Jal jinaepida,
gamsahamnida
Maaf, Tidak Tahu = Minhamnida, jal moreugesseumnida
Aku Suka Nasi Goreng = Jeoneun nasi gorengeul
joahamnida
Halo = (Ucapan pembuka di telefon)
Yeoboseyo…
Penyanyi : Gasu
Keluarga : Gajok
Masuk Angin : Gamgi
Polisi : Gyeongchal
Kucing : Goyangi
Teman : Gongwon
Telefon Umum : Gongjungjeonhwa
Bandara : Gonghang
Kue : Gwaja
Sepatu : Gudu
Seratus : Baek
Rumah Sakit : Byeongwon
Pulpen : Bolpen
Roti : Ppal
Toko Buku : Seojeom
Restoran : Sikdang
Indah : Areumdappda
Bayi : Agi
Pagi : Achim
Koran, Surat Kabar : Sinmun
Majalah : Japji
Anak – Anak : Eorini
Rumah : Jip
Kopi : Keopi
Taksi : Taeksi
Televisi : Tellebijeon
Pesta : Pati
Hotel : Hotel
Kantor : Hoesa
Sekolah : Hakgyo
SD : Chodeunghakgyo
SMP : Junghakgyo
SMA : Godeunghakgyo
Murid SMA : Godeunghaksaeng
Universitas : Daekhagyo
Laki – Laki : Namja
Perempuan : Yeoja
Adik Laki – Laki : Namdongsaeng
Adik Perempuan : Yeodongsaeng
NAMA HARI BAHASA KOREA
Senin : Wolyoil
Selasa : Hwayoil
Rabu : Suyoil
Kamis : Mokyoil
Jum'at : Geumyoil
Sabtu : Toyoil
Minggu : Ilyoil
NAMA BULAN BAHASA KOREA
Januari : Ilwol
Februari : Iwol
Maret : Samwol
April : Sawol
Mei : Owol
Juni : Yuwol
Juli : Chilwol
Agustus : Palwol
September : Guwol
Oktober : Siwol
November : Sipilwol
Desember : Sipiwol
BILANGAN BAHASA KOREA
1 : Il
2 : I
3 : Sam
4 : Sa
5 : O
6 : Yuk
7 : Chil
8 : Pal
9 : Gu
10 : Sip
11 : Sip-Il
12 : Sip-I
13 : Sip-Sam
14 : Sip-Sa
15 : Sip-O
16 : Sip-Yuk
17 : Sip-Chil
18 : Sip-Pal
19 : Sip-Gu
20 : I-Sip
21 : I-Sip-Il
50 : O-Sip
55 : O-Sip-O
100 : Il-Baek
1.000 : Il-Cheon
10.000 : Il-Man
100.000 : Il-Sip-Man
1.000.000 : Il-Baek-Man
10.000.000 : Il-Cheon-Man
100.000.000 : Il-Eok
belajar dari Kholid bin walid
Tak ada satu wilayah yang didatangi kecuali ia
taklukkan. Tak ada satu peperangan kecuali ia
menangkan. Tak ada satupun musuh kecuali ia
kalahkan. Ia-lah si pedang Allah yang selalu terhunus.
Kholid bin Walid RA. Saifullohi Al-Maslul . Dihormati dan
disegani kawan dan lawan. Menaklukkan imperium
Romawi dan Persia. Dan menguasai wilayah sangat
luasnya. Pahlawan pemberani dan panglima tak
terkalahkan. Bahkan dalam beberapa operasi
militernya, didapati daerah yang dituju sudah kosong
tak bertuan ditinggalkan penduduknya. Mereka
memilih ‘kabur’ mendengar komandan pasukannya
adalah Kholid. Sepertinya mereka meyakini betul
sebuah mitos, Tak ada peluang untuk menang jika
Kholid sebagai komandannya. Dan bukti kecilnya adalah
julukan sayyidul fatihin atau guru para penakluk
sebagai sebuah kehormatan bagi Kholid yang
disematkan para sejarawan padanya.
Adapun Muhammad Asad, salah seorang penulis dan
cendikiawan dari Pakistan, memberinya julukan 'Sang
Jenius Perang'. Tak berlebihan memang. Karena terlalu
banyak keistimewaan Kholid yang terkait dengan
peperangan; Kecedasannya mengatur strategi.
Kepiawaiannya dalam berkuda dan menggunakan
senjata. Kejeliannya memanfaatkan peluang dan
membaca kondisi lawan. Keberaniannya bertarung dan
menghadang musuh. Kecepatannya dalam
mengkoordinasi para komandan dan memobilisasi
pasukan. Juga ketepatannya mengarahkan serangan dan
kehebatannya saat bertahan.
Beragam strategi dikuasai dan mampu diterapkan.
Memadukan strategi konvensional versi Romawi dan
Persia dengan strategi lokal wilayah gurun jazirah. Baik
perang terbuka atau teknik gerilya. Saat menyerang
maupun bertahan. Di medan datar atau perbukitan.
Dengan jenis senjata tertentu. Dengan jumlah pasukan
tertentu. Dalam cuaca tertentu. Dan dalam kurun
waktu tertentu. Tak akan jadi masalah bagi Kholid. Sang
genius ini akan memenangkan pertempurannya.
Begitulah Kholid bin Walid. Sang Penakluk yang
dilahirkan 17 tahun sebelum kenabian. Tumbuh dalam
naungan keluarga para pahlawanan Quraisy, yakni Bani
Makhzum. Yang terkenal sebagai ‘sarang’-nya para
perwira ksatria dan pejuang yang tak kenal takut. Umar
bin Khottob termasuk bagian Bani Makhzum dan masih
berhubungan nasab dengan Kholid. Dengan Nabi SAW,
Kholid tak jauh pula hubungnan kekerabatannya.
Karena Maimunah RA, Istri Nabi SAW adalah Bibi
Kholid sendiri.
Membaca sejarah Kholid bin Walid, adalah membaca
sejarah peperangan. Membaca strategi militer yang
mumpuni. Juga membaca pribadi penakluk yang luar
biasa. Kehebatan Kholid bukan seperti kebanyakan
tokoh penakluk lainnya. Dimana pribadi yang keras dan
tegas tanpa batas menjadi sebuah pemakluman. Jiwa
yang kasar dan arogan seolah mendapat pembenaran.
Dan perilakunya yang sombong dan tak mau terikat
aturan seakan dibolehkan. Sangat jauh pribadi Kholid
dengan sifat dan sikap seperti itu. Karena pada
perakteknya, Kholid sudah menyiapkan dirinya menjadi
penakluk sejati. Dan esensi penaklukan bukanlah
mengalahkan musuh atau merebut wilayah yang luas.
Mendapat ghanimah maupun tawanan perang. Tetapi
ia memahami bahwa dasar penaklukan adalah
penaklukan diri sendiri. Karena itu, semua aktivitas dan
amal-amal adalah sebentuk ketundukan diri pada Ilahi.
Dilakukan karena-Nya dan untuk mendapat ridho-Nya.
Dan pribadi dengan kilau hati yang mentereng itu
terlihat jelas dalam peristiwa Yarmuk.
Perang Yarmuk adalah perang yang menentukan dalam
sejarah awal pertumbuhan Islam. Perang yang
menempatkan dawah Islam dan umatnya memasuki
fase baru sebagai penguasa dunia. Inilah perang yang
mengawali kebangkrutan imperium Romawi di Asia dan
Afrika. Namun perang Yarmuk disebut juga oleh para
sejarawan sebagai perang-nya Kholid. Perang yang
membuktikan kecerdasan dan kehebatan strategi
perangnya. Perang yang juga mengantarkannya ke
puncak kemuliaan dan ketinggian pribadinya. Antara
kecerdasan dan ketundukan. Antara kehebatan dan
kebersahajaan. Antara kekuatan dan kelembutan.
Antara menaklukkan musuh dan menaklukkan diri
sendiri. Inilah contoh ideal seorang penakluk. Itulah
Kholid bin Walid.
Seperti yang telah dicatat sejarah, Perang ini
mempertemukan Romawi dengan pasukan kaum
Muslimin. Reputasi Romawi sebagai super power Dunia
kala itu, tak disangsikan lagi dalam strategi perang,
kekuatan pasukan dan kelengkapan persenjataannya.
Adapun kaum Muslimin, adalah sekelompok pasukan
yang baru dikenal dengan prestasi belum seberapa.
Datang hanya dengan 46.000 tentara dan persenjataan
terbatas. Sementara Romawi mampu mengumpulkan
240.000 prajurit dengan persenjataan lengkap dan
akomodasi memadai. Adapun Kholid, yang menjadi
panglima tertinggi kaum Muslimin, Ia mampu
menerapkan strategi jitu dan akhirnya berhasil meraih
kemenangan gemilang dalam pertempuran dahsyat itu.
Yang menyempurnakan peristiwa itu adalah,
digantikannya posisi Kholid sebagai panglima tertinggi
menjadi prajurit biasa oleh Khalifah Umar bin Khotob.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin
seorang panglima tertinggi yang memenangkan
pertempuran penting digantikan begitu saja? Bahkan
sebelum pertempuran itu sendiri usai. Apa alasan
dalam logika paling sederhana sekalipun yang membuat
posisinya digantikan? Tidakkah itu sebuah spekulasi atas
reaksi yang akan terjadi? Tidak adakah penghargaan
yang lebih memadai? Kesalahan besar apa dilakukannya
sebenarnya?
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi
wajar saja karena keputusan yang tidak semua orang
memahami. Hata di tataran para panglima bawahan
Kholid dari kalangan para sahabat sendiri. Tetapi tidak
bagi Kholid. Ia ternyata tidak berpikir seperti itu. Dan
itu-lah hebatnya. Itulah kualitas sesungguhnya dari
Kholid. Meski dalam kapasitasnya, Kholid punya
peluang besar mendapat dukungan dari para
prajuritnya untuk bisa bertahan pada posisinya. Atau
setidaknya mempertanyakan alasan penggantiannya.
Sikap legowo ini jauh lebih berkilau dari
kemenangannya di banyak medan pertempuran. Karena
musuh yang dihadapi adalah dirinya sendiri. Yang bisa
saja atas nama kehormatan, status dan harga diri Ia
memperalat ego dan hawa nafsunya untuk melakukan
penolakan atau pembangkangan. Atau memilih menjadi
oposan, agar harga diri dan statusnya tetap terjaga.
Dan sekali lagi, Kholid tidak memilih sikap itu. Terlalu
remeh dan kecil baginya mempersoalkan status,
pangkat dan jabatan dengan mengorbankan keyakinan
serta kemuliaan akhlaknya. Orientasi amal dan
hidupnya sudah full dihibahkan bagi dawah. Itulah
makna yang terkandung dalam ucapannya, “Aku
berjuang bukan karena Umar, dan aku hanyalah anak
panah yang siap dilontarkan kemana saja…”
Bukankah ini pelajaran luar biasa dari Kholid? Inilah
jiwa sejati dari Sang Penakluk, Pedang Allah yang
Terhunus. Ia mengajarkan kepada para pemimpin,
panglima, ketua dan kita semua. Pelajaran
meluluhlantakan ego dan hawa nafsu dalam keikhlasan
beramal. Pelajaran bagaimana menggilas persepsi dan
ambisi dengan kecerdasan ruhiyah agar tak mendapat
tempat sama sekali dalam diri. Pelajaran bagaimana
menggembok hawa nafsu dengan tsiqoh dan ketaatan
sempurna. Dan pelajaran bagaimana berlapang dada
dengan husnu dzon pada Allah atas apa-pun takdir
yang menimpa. Allahu a’lam bisshowab.
Subang, 18/01/13
(Buat Kholid-ku, tanjamkan terus pedangmu dan
lembutkan hatimu..!)
Jumat, 18 Januari 2013
Bakri diundang ke sekolah anaknya untuk
menghadiri peringatan 'Hari Ayah'.
Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa
sudah tua dan memiliki empat anak.
Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri
dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke
sekolah.
Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di
sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak
mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi,
menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan
lainnya.
Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan
sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri
hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak
pertamanya melakukan hal itu.
Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar,
Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan
menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan-
kawannya. Namun, dugaannya meleset.
Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan
penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil
bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran
di sekolah itu.
Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar
akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir
memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta
membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan
yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah.
Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik
yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar.
Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian,
Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan
dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga
sangat merdu serta menenangkan jiwa.
Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka
semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para
ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap
anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan
Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang
ke sekolah, kini tampak bersemangat.
Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk
membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup
penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa
kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan
memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya.
Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu
dengan derai air mata yang membasahi pipi.
Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada
Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya.
Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan
kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal,
orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku
mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang
hadir pun memuji kebesaran Allah.
Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan.
"Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa
mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan
ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan
ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar.
Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang
dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih,
anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk
mempelajari Alquran."
engkau dan hartamu milik orangtuamu
Dalam hadis riwayat Thabrani dari Jarir RA,
ada seorang anak muda mengadu kepada
Rasulullah SAW.
Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin
mengambil hartaku.”
Mendengar pengaduan anak muda itu, Rasul berkata,
“Pergilah kamu dan bawa ayahmu kesini!”
Setelah anak muda itu berlalu, Malaikat Jibril turun
menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril
berkata; “Ya, Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla
menyampaikan salam untukmu, dan berpesan, kalau orang
tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang
dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh
telinganya.”
Tak lama, anak muda itu datang bersama ayahnya.
Rasulullah kemudian bertanya orang tua itu. “Mengapa
anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin
mengambil uangnya?”
Sang ayah yang sudah tua itu menjawab, “Tanyakan saja
kepadanya, ya Rasulullah. Bukankah saya menafkahkan uang
itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau
khalati (saudara ibu)-nya, dan untuk keperluan saya sendiri?”
Rasulullah bersabda lagi, “Lupakanlah hal itu. Sekarang
ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam
hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu.”
Maka wajah keriput lelaki tua itu pun menjadi cerah dan
tampak bahagia. Dia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah,
dengan ini Allah SWT berkenan menambah kuat keimananku
dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib
malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya.”
Rasulullah mendesak, “Katakanlah, aku ingin
mendengarnya.”
Orang tua itu berkata dengan air mata yang berlinang. “Saya
mengatakan kepadanya kata-kata ini, 'Aku mengasuhmu
sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil
jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit
di malam hari, hatiku gundah dan gelisah. Lantaran sakit dan
deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang
sakit, bukan kau yang menderita.”
“Lalu air mataku berlinang-linang dan mengucur deras.
Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal
pasti datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa
yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan,
kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi
kenikmatan dan keutamaan.”
“Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau
perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu
menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran
selalu menempel di dirimu. Seakan-akan kesejukan bagi
orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”
Selanjutnya Jabir berkata, “Pada saat itu Nabi langsung
memegangi ujung baju pada leher anak itu, seraya berkata,
‘Engkau dan hartamu milik ayahmu!”
Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketika
sudah besar, sebagai anak kadang kita lupa kepada orang tua
yang telah berjuang mencari nafkah untuk kita. Ayah kita
memberikan segala apa yang dimilikinya tanpa pernah
meminta kembali.
Sedangkan kita, ketika akan memberikan sesuatu untuk ayah
dan ibu, begitu banyak pertimbangan. Tak jarang, kita
mencari dan membuat berbagai alasan agar kepunyaan yang
dimiliki tidak berpindah kepada orang tua kita.
Dalam kesempatan ini, marilah kita terus mencintai dan
menyayangi keduanya, sebelum mereka pergi meninggalkan
kita untuk selamanya.
memuliakan orangtua
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia,” (Qs Al-Isra: 23).
Surah Al-Isra mengisyaratkan keharmonisan dua hubungan
yakni hubungan baik dengan Allah, juga dengan manusia
yang dalam hal ini ialah sosok yang semestinya kita
muliakan, orang tua.
Para mufassir sepakat bahwa perkataan yang mulia menurut
firman Allah di atas ialah mengucapkan kata “ah” kepada
orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi
mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka
dengan lebih kasar daripada itu.
Penghormatan terhadap orang tua sangat diatur oleh Islam
agar terciptanya hubungan baik antara orang tua dan anak.
Lebih spesifik lagi, penghormatan kepada salah satunya
sungguh telah Rasulullah yang menyatakan seorang laki-laki
datang menghampiri Rasulullah dan bertanya siapakah yang
layak untuk dipatuhi? Rasul pun menjawab, “Ibumu,” hingga
tiga kali berturut-turut, kemudian, “ayahmu”. (HR Bukhari-
Muslim).
Penyebutan lebih dari satu kali dalam hadis Rasul bukan
tanpa makna. Pemaknaan yang luas terhadap apa yang
pernah beliau sampaikan lebih khusus kepada urusan
kepatuhan anak kepada ibu, menjadi kewajiban tersendiri
mengingat ibu adalah sosok yang sangat berperan dalam
kehidupan si anak dari masa kehamilan, kanak-kanak, hingga
dewasa.
Adalah Umar bin Khattab seorang anak yang sangat hormat
kepada ibunya, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya.
Dalam hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan
mendahului ibunya.
Ia bahkan tak berani makan bersama-sama dengan ibunya,
sebab ia khawatir akan mengambil dan memakan hidangan
yang tersedia di meja, sementara ibunya menginginkan
makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah
mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang
anak masih kecil dan lemah.
Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apa pun juga. Yang bisa
dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan
pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam
keadaan lemah. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan
kaum Muslimin, "Hidungnya harus direndahkan ke tanah,
hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus
direndahkan ke tanah."
Beliau ditanya, "Ya Rasulullah, siapa?" Jawabnya, "Orang
yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu
kedua orang tuanya di masa tuanya, baik salah satunya
maupun kedua-duanya, tetapi ia gagal mendapatkan dirinya
masuk surga."
Gagalnya seseorang untuk masuk surga lantaran pengabaian
terhadap hak-hak orang tua, dapat kita simak dalam kisah
Juraij. Juraij adalah remaja yang taat beribadah. Saat ia ingin
melakukan shalat sunah, ibunya memanggilnya.
Kala itu, Juraij bimbang—dahulukan shalat, atau memenuhi
panggilan ibunya? Maka, Juraij pun memilih shalat dan
mengabaikan panggilan Ibunya yang sudah berkali-kali
menggema di telinganya.
Sang ibu pun kecewa, dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah,
janganlah Engkau mematikan anakku sebelum ia mendapat
fitnah dari wanita pelacur.” Singkat cerita, Juraij
mendapatkan fitnah dari seorang pelacur karena ia
mengabaikan seruan ibunya.
Menghormati dan memuliakan orang tua bukan saja saat
mereka masih hidup. Ketika beliau wafat, maka sebagai
seorang anak, kita berkewajiban untuk melaksanakan lima
hal, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,
kewajiban itu di antaranya ialah menyalatkan keduanya,
membacakan istighfar, melaksanakan wasiatnya,
bersilaturahim kepada kerabatnya, juga menghormati
sahabat-sahabatnya.
kebaikan bulan safar
Shafar adalah bulan baik dan mulia,
sebagaimana sebelas bulan lainnya yang
telah ditetapkan Allah SWT dalam hitungan satu tahun.
Kebaikan bulan tersebut menurut Dr Taisir Rajab Al Tamimi
terletak pada eksistensi bulan tersebut sebagai bulan Allah
yang diperbolahkan bagi manusia untuk melakukan
perbuatan apa saja dengan catatan kebaikan dan takwa.
Adapun anggapan yang memandang bulan shafar sebagai
bulan kesialan dan tidak menguntungkan yang
mengakibatkan sekelompok orang tidak berani melakukan
akad nikah dan bepergian di bulan Shafar, merupakan
pandangan tanpa dasar kuat yang tidak lain merupakan sisa-
sisa kepercayaan kaum Jahiliyah.
Mereka jika hendak bepergian memiliki kebiasaan
melemparkan burung ke udara dan mempercayainya bahwa
jika burung tersebut terbang ke arah kanan maka mereka
jadi bepergian dan jika burung tersebut terbang ke arah kiri,
maka mereka menunda rencana bepergian.
Betapa menyulitkan tradisi tersebut, jika hingga kini masih
ada yang melestarikannya. Pasalnya, bukan hanya akan
mengganggu kegiatan kemanusiaan secara menyeluruh,
melainkan juga menunda banyaknya kebajikan yang
seharusnya dapat dilakukan.
Apalagi, binatang, alam dan segala yang ada di dunia ini
diciptakan dan ditundukkan bagi manusia agar dapat
melaksanakan fungsi kepemimpinan dan memakmurkan
bumi.
Namun demikian, dewasa ini tindakan serupa masih terjadi,
walaupun obyeknya bukan lagi manusia. Penggunaan Paul Si
Gurita, Onta, Babi, Sapi, Burung, dan binatang lain untuk
memprediksi kemenangan pertandingan sepak bola
merupakan kegiatan naif yang menumpulkan akal manusia.
Kebanyakan manusia menyadari bahwa kegiatan tersebut
sekedar mencari sensasi karena keakuratannya tidak valid
sebab sumberdaya binatang hanya terletak pada instingnya.
Bagaimana mungkin akal manusia yang istimewa tunduk
pada insting binatang yang alakadarnya?
Dalam rangka mengarahkan kepercayaan yang salah
menjadi benar, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa
(penularan penyakit tanpa seizin Allah), thiyarah
(kepercayaan pada burung yang membawa kesialan),
hammah (kepercayaan burung hantu yang hinggap di atas
rumah sebagai pertanda kematian) dan Shafar (kesialan di
bulan shafar)." (HR. Bukhari Muslim).
Maksud dari hadis tersebuat adalah peniadaan segala bentuk
kepercayaan pada makhluk baik berupa penyakit, benda
(jimat), binatang, bulan tertentu dan semacamnya yang
dipandang membawa kesialan atau mara bahaya. Hal
tersebut karena, pertama: Allah-lah yang menciptakan,
mengatur, menguasai, mengizinkan segala sesuatu terjadi
sesuai dengan takdir-Nya. (QS. Yunus: 31-33). Tanpa izin
Allah, tentu semua kepercayaan itu hanya pepesan kosong
belaka.
Kedua, Rasulullah SAW mengganti kepercayaan buruk
dengan cara berpikir positif bahwa yang bermanfaat bagi
manusia terhadap sesamanya dan Allah SWT adalah berpikir
baik dan positif dalam bentuk perkataan baik sebab
perkataan baik merupakan representasi pikiran yang baik.
Ketiga, berkeyakinan bahwa tidak ada yang dapat
membahayakan manusia selama dirinya mengingat terus
Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya. Rasulullah
SAW bersabda, "Barang siapa yang dipalingkan dari
keperluannya oleh perasaan bernasib sial, maka sungguh dia
telah bersuat syirik."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa penebus
perasaan itu." Beliau menjawab, "Salah seorang dari kalian
mengucapkan, ‘Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan
kebaikan-Mu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang
engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu’." (HR.
Ahmad).
Dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut tampak jelas bahwa
tidak manusia, benda, binatang, hari maupun bulan yang
membuat diri kita menjadi sial, kecuali kesialan yang kita
ciptakan sendiri dalam bentuk perbuatan buruk, dosa dan
melanggar aturan agama. Wallahu a'lam.
nasihat bisu. . .
Bahasa apa yang paling indah untuk
mengingatkan ujung perjalanan? Bisikan
seperti apa yang paling menggugah untuk menyadarkan
betapa hidup hanyalah suatu penantian?
Sambil menanti jemputan, kita pun merenda waktu dengan
asyik bercanda. Padahal, tanpa mengetuk pintu, utusan
langit pasti datang menjemput tanpa menyapa. Malaikat
maut pemutus kelezatan siap merenggut.
Wahai para penempuh jalan, kitab seperti apa yang akan kau
jadikan petunjuk, sedangkan setiap ayat Alquran adalah
cahaya penerang kebahagiaan.
Nasihat seperti apa lagi yang engkau butuhkan, sedangkan
Rasulullah bersabda, "Nasihati dirimu dengan dua hal.
Nasihat yang berbicara yaitu Alquran dan nasihat yang bisu
yaitu kematian."
Dengarkan dan simaklah dengan rasa haru, betapa Sayidina
Ali memberikan fatwanya yang sangat indah.
Ia berkata, "Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, kamu
sekalian serta segala yang kamu miliki dari dunia ini berada
di jalan orang-orang sebelum kamu yang telah pergi
meninggalkannya.”
“Mereka lebih panjang usianya daripada kamu, lebih
makmur kediamannya dan lebih membekas peninggalannya.
Suara-suara mereka kini redup membisu, kegiatan mereka
tak berbekas, tubuh-tubuh mereka hancur, rumah-rumah
mereka sunyi senyap dan peninggalan mereka kini hanya
reruntuhan.”
"Nama dan panggilan mereka sirna diterkam warna zaman.
Istana yang dilulur manik manikam dan permadani, kini
hanya fosil bebatuan. Tempat-tempatnya berhimpitan,
namun penghuninya berjauhan. Betapa mungkin mereka
saling berkunjung, sedangkan jasad-jasad mereka telah
hancur luluh oleh kerapuhan."
"Kini bayangkanlah seolah-olah kalian sendirian telah
menjadi mereka. Tertahan di atas tempat pembaringan
seperti itu, terkungkung dalam ruangan gelap pengap.
Tubuhmu yang gagah, kini ajang pesta rayap-rayap kecil.”
“Apa kiranya yang akan kalian lakukan apabila telah sampai
akhir perjalanan. Saat gundukan tanah terakhir menutup
lubang kuburan, jawaban apa yang akan engkau berikan
pada saat sidang peradilan? Sedangkan junjungan tercinta
Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketahuilah bahwa kubur itu
taman-taman yang ada di surga atau lubang dari segala
lubang di neraka’." (HR Tirmidzi).
“Maka datangilah kuburan. Biarkan setiap nisan bisu itu
menjadi nasihat untuk dirimu. Tataplah dengan penuh rasa
haru. Di hadapanmu ada gundukan tanah yang memeluk
tulang belulang. Di antara mereka ada yang namanya
disanjung atau dipasung."
"Di antara mereka ada yang hidupnya mewah penuh suka
cita gelak tawa. Tetapi, ada pula mereka yang selama
hidupnya didera deru derita penuh duka. Kini tubuh mereka
bernasib sama, bisu beku, mendebu. Tetapi, ruhnya
berbeda-beda. Ada yang memasuki taman surga, ada yang
menjerit memasuki lubang-lubang gelap yang lebih gelap
lagi.”
Orang bijak berkata, "Ketika terlahir engkau menangis dan
semua yang menyambut tertawa. Maka, ketika datang hari
perjumpaan, jadikanlah dirimu tertawa menatap taman
surga dan orang-orang menangis duka kehilangan dirimu."
Karena itu, jadilah anggota rombongan yang tahu ke mana
akhir perjalanan mengarah.
siapakah Tuhanmu?
"Siapakah Tuhanmu?" Jika ditanyakan
kepada semua orang, termasuk diri kita
sendiri, jawabannya suka meyakinkan, Allah adalah Tuhanku,
tak ada yang lain. Terkadang agar lebih meyakinkan, pakai
tanda seru, biar jelas dan tegas.
Padahal, dalam realitasnya kita tak sepenuhnya demikian.
Kita sering salah menempatkan posisi Tuhan. Karena itu,
semuanya perlu pembuktian.
Sekarang, cobalah hal yang sederhana. Silakan ibu-ibu pergi
ke pasar seperti biasa belanja harian tanpa membawa uang.
Untuk bapak-bapak, silakan pergi ke rumah makan dan
makanlah disana, tanpa membawa uang. Gimana, bisa?
Biasanya suka pada tertawa. "Emangnya ke pasar, muter
doang? Lah, nggak bawa uang, mau belanja pakai apa?"
Yang bapak-bapak juga menjawab sambil tertawa kecil,
sebab dianggapnya pertanyaan ini ada-ada saja. "Ngutang
mah bisa kali. Yang namanya makan, ya bayar. Apalagi di
rumah makan tertentu, bayarnya duluan."
Ini dia. Ini baru contoh kecil. Tuhannya udah bukan Allah,
tapi duit. La ilaha illa fulus (uang). Nggak ada uang, maka
kita nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak bisa beli ini dan itu.
Sekarang, bertanyalah pada diri sendiri. Semua yang ada di
langit dan di bumi ini, milik siapa? Milik Allah, kan? Termasuk
pasar dengan segala isinya, juga milik Allah.
Nah, sekarang berangkatlah ke pasar. Minta terlebih dahulu
kepada Allah. Masak iya yang berangkat ke pasar bawa uang,
lalu ditemani Yang Punya Uang dan Punya Pasar, kemudian
pulang ke rumah nggak bawa barang-barang belanja?
Cobalah cara yang kecil ini. Untuk sementara, nggak usah
yang besar dulu, seperti pergi haji umrah, nggak pakai uang.
Bangun rumah, nggak pakai uang. Memulai usaha,
mengembangkan usaha, juga nggak pakai uang.
Menyekolahkan dan nguliahin anak, nggak pakai uang. Beli
motor atau mobil, nggak pakai uang.
Cobalah yang kecil dulu. Benar-benar pergi ke warung
makan. Minta sama Allah dengan meyakinkan, bahwa kalau
minta, ya mesti dikasih. Jangan minta sama yang menjaga
dan menunggu warung. Minta sama Yang Punya Warung.
Insya Allah dikasih. Malah bisa dikasih lebih. Plus bungkus,
he he.
Insya Allah, cara-cara-Nya akan ditunjukkan oleh Allah untuk
mereka yang percaya dan yakin. Tapi bagaimana mau yakin?
Belum apa-apa sudah meminggirkan Allah. Dan tuhannya
semakin banyak saja. Selain uang, dia ada berbentuk pikiran,
atau kadang ikhtiar.
Ya, ikhtiar suka jadi tuhan juga. Belum lagi kehadiran
kenalan, sahabat, keluarga, yang juga kerap menjadi Tuhan.
Oke. Mumpung masih di awal tahun, kembalilah bertuhan
Allah. Sebenar-benarnya bertuhan Allah. Apa saja, andalkan
Allah, berharap sama Allah. Bahwa kita bermuamalah,
berdagang, bekerja, berusaha, berikhtiar, semua hanyalah
adab kita, akhlak kita, dan ibadah kita, kepada Allah. Wallahu
a'lam.
kejujuran . .
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang
khianat dan apa yang disembunyikan oleh
hati." (QS Ghafir: 19).
"Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi." (QS al-
Fajr: 14).
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab berjalan melintasi
padang rumput. Dia terpesona melihat kambing-kambing
yang gemuk dan sehat.
Dia kemudian menemui sang penggembala dan berniat
untuk membelinya. Namun, budak itu menolak, dengan
alasan kambing itu punya majikannya.
Khalifah Umar berkata lagi, "Bilang saja kepada majikanmu
bahwa kambing itu dimakan serigala."
Namun, apa kata si bocah gembala? "Kalau begitu, di mana
Allah?" Akhirnya, Umar membebaskan budak tersebut dan
menyerahkan seluruh kambing itu kepadanya.
Pada waktu lainnya, ketika musim paceklik, Khalifah Umar
berjalan berkeliling Kota Madinah. Sebelumnya, dia
mewanti-wanti kepada kaum Muslim agar jangan berlaku
curang.
Ketika pada suatu malam dia melintas dekat sebuah rumah,
terdengar percakapan antara seorang ibu penjual susu dan
anak gadisnya. Sang ibu menyuruh anaknya untuk
mencampur susu tersebut dengan air, supaya hasilnya lebih
banyak dan mereka untung lebih besar.
Namun, sang gadis tidak mau, karena Khalifah Umar
melarang warga mencampur susu dengan air. "Memang,
tidak ada orang yang mengetahui perbuatan kita. Tapi, di
mana Allah? Allah dan para malaikat tahu, dan besok di hari
kiamat kita akan dimintai pertanggungjawabannya," kata si
gadis.
Mendengar kejujuran sang gadis, Khalifah Umar lalu
mengambilnya sebagai menantu.
Dua kisah di atas menggambarkan betapa agungnya
kejujuran. Kejujuran yang lahir dari iman yang teguh kepada
Allah SWT. Iman yang meyakini bahwa Allah Mahamelihat
apa pun yang kita lakukan, biarpun tidak ada orang lain yang
tahu. Selalu jujur kapan pun dan di manapun. Selalu merasa
diawasi oleh Allah SWT (muraqabah).
Rasul SAW memerintahkan kepada setiap Muslim untuk
selalu bersikap dan berbuat jujur. Sebaliknya, Rasul SAW
mengingatkan setiap Muslim agar menghindari sikap dan
perbuatan dusta.
Mari kita simak hadis berikut ini: "Bersikaplah jujur.
Sesungguhnya kejujuran mengantarkan pada kebaikan, dan
kebaikan mengantarkan ke surga… Jauhilah bohong.
Sesungguhnya kebohongan menyeret pada kedurjanaan, dan
kedurjanaan menyeret ke neraka…" (HR Muslim).
Jujur adalah mahkota kehidupan. Karena itu, sudah
seharusnya kaum Muslim senantiasa berpegang teguh pada
kejujuran. Kejujuran akan mencegah seseorang dari
melakukan hal-hal yang tidak diridai Allah SWT.
Misalnya, korupsi, berjudi, berzina, mencuri, merampok,
menipu, memperdaya orang lain, dan berbagai perbuatan
buruk lainnya yang selama ini, dan terutama akhir-akhir ini,
makin sering terjadi di negeri ini.
"Sesungguhnya Allah itu cemburu. Cemburunya Allah, yaitu
jika seseorang melakukan sesuatu yang diharamkan
terhadapnya." (HR Bukhari-Muslim).
sikap khusnudzon alias berbaik sangka
Rasulullah SAW selalu mencontohkan
kepada para sahabatnya untuk berbaik
sangka terhadap semua orang.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu ketika
Rasulullah mengutus Umar untuk menarik zakat, tetapi Ibnu
Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas paman Rasulullah tidak
menyerahkan (zakat).
Sehingga beliau bersabda, "Tidak ada sesuatu yang membuat
Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat, kecuali karena
dia fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya."
"Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim
terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan
peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah
mengambil zakatnya dua tahun yang lalu." (HR Bukhari dan
Muslim).
Rasul SAW senantiasa memperingatkan umat Islam agar
menjauhi prasangka buruk. "Jauhilah prasangka karena
sesungguhnya prasangka itu pembicaraan yang paling dusta.
Janganlah kalian menyadap (pembicaraan kaum), memata-
matai mereka, berlomba-lomba (dalam hal yang tidak baik),
saling mendengki, saling membenci, dan saling
membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang
bersaudara." (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).
Al-Hafidz mengatakan bahwa Khaththabi berpendapat
bahwa yang dimaksud prasangka dalam hadis tersebut
adalah benar-benar prasangka, bukan sesuatu yang terlintas
dalam benak pikiran, sebab hal itu di luar kemampuan
seseorang.
Prasangka yang dimaksud oleh Khaththabi adalah prasangka
yang menetap dalam hati. Lintasan hati adalah sesuatu yang
tidak dapat dihindari manusia. "Allah mengampuni
prasangka yang terlintas dalam hati manusia selama mereka
tidak membicarakan atau melakukannya." (HR Bukhari dan
Muslim).
Qurthubi mengatakan, yang dimaksud dengan prasangka
(yang terlarang) adalah tuduhan tanpa alasan. Misalnya
menuduh seseorang melakukan zina tanpa ada bukti nyata.
Karena itu, kata azh-zhann dalam redaksi hadis ini,
dihubungkan dengan larangan untuk memata-matai orang
lain.
Jika seseorang memiliki sedikit prasangka yang mengarah
pada tuduhan di dalam hatinya, ia akan berupaya untuk
mewujudkan tuduhan itu. Dia akan mencari-cari kesalahan
orang yang dituduh dengan memata-matainya. Karena,
langkah-langkah itu dilarang agama.
"Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya prasangka
itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang
lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing
sebagian yang lain..." (QS al-Hujarat: 12).
Dalam kehidupan masyarakat kita akhir-akhir ini banyak
kejadian yang bersifat prasangka dan tuduhan di antara
sesama warga (su'uzhon). Padahal, berbagai persoalan
tersebut memerlukan penelitian, klarifikasi (tabayyuni)
sehingga duduk persoalan jelas dan kita dapat menyikapinya
dengan bijaksana agar tidak menyalahkan orang lain.
Karena itu, kearifan dari berbagai pihak khususnya para
tokoh dan pemimpin masyarakat merupakan sikap Nabi
yang selalu husnuzhan dalam menyikapi berbagai persoalan
sehingga masalah menjadi cair, jernih, dan sejuk dan
akhirnya persoalan dapat diselesaikan dengan damai dan
adil. Wallahu 'alam.
bahaya harta yg haram
Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata, “Telah
diriwayatkan kepada kami bahwa Rasulullah
SAW bersabda, ‘Wahai Kaab bin Ujroh, aku mohonkan
perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan
orang-orang bodoh.’
Kaab bertanya, ‘Apakah itu, wa hai Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Setelahku akan ada para penguasa di
mana siapa yang ikut mereka dan membenarkan ucapannya
serta mendukung kezalimannya maka mereka bukanlah
golonganku dan aku tidak termasuk golongannya dan
mereka tidak akan masuk dalam telagaku’.”
“Dan barang siapa yang tidak mau ikut mereka, tidak
membenarkan ucapannya dan tidak mendukung
kezalimannya, maka mereka termasuk golonganku dan aku
termasuk golongannya serta mereka akan masuk dalam
telagaku.”
“Wahai Kaab bin Ujroh, shalat adalah taqarrub, puasa adalah
benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air
memadamkan api. Hai Kaab, tidak akan masuk surga orang
yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka
lebih dekat dengannya.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami).
Allah memerintahkan kita agar selalu makan makanan halal
dan menjauhi yang haram sebagai bentuk syukur untuk
menambah keberkahan hidup. (QS al-Baqarah [2]: 172).
Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari
api neraka.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata,
“Seseorang di bawah tanggungan Rasulullah SAW bernama
Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasul berkata, ia
akan masuk ke neraka. Maka, para sahabat pergi
memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju
jubah hasil tipuan.” (Shahih Bukhari, hadis No. 2845).
Di antara bahaya memakan harta haram, pertama,
pelakunya akan masuk neraka. “Barang siapa yang
mengambil hak milik orang Muslim dengan menggunakan
sumpah, maka Allah akan mewajibkannya masuk neraka dan
diharamkan masuk surga.”
Seorang bertanya, “Walaupun barang yang kecil, wahai
Rasulullah?” Beliau bersabda, “Walaupun sepotong kayu
arok.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami dari Abu Umamah).
Kedua, pemakan haram tidak akan mencapai derajat takwa.
Orang bertakwa adalah ahli surga. Dari Atiyyah as- Sa’di,
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak akan
mencapai derajat muttaqin sampai meninggalkan sebagian
yang halal karena khawatir terperosok pada yang haram.”
Ketiga, orang yang makan makanan haram kesadaran
beragamanya sempit, artinya tidak banyak beramal yang
mendapat pahala sehingga mudah masuk neraka. “Seorang
mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama
tidak makan yang haram.” (HR Bukhari).
Keempat, pemakan harta haram tidak diterima amalnya dan
ditolak doanya. “Demi Zat yang jiwaku berada dalam
genggaman-Nya, seorang yang memasukkan sekerat daging
haram ke perutnya, maka tidak akan diterima amalnya
selama 40 hari dan barang siapa yang dagingnya tumbuh
dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk
membakarnya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Ahmad dan ad-
Darami).
Orang yang makan harta haram sama dengan berusaha
menghancurkan dirinya, merusak ibadahnya,
mempermainkan doanya dan menghancurkan keluarga serta
keturunannya.
sepenggal firdaus . . untuk kita
Bumi tidak cukup untuk dibagi bersama.
Manusia sudah terlalu banyak untuk
sumberdaya yang terlalu sedikit. itu doktrin
Robert Malthus kepada Barat. Maka dunia
pun berubah jadi rimba raya: mari kita adu
kuat untuk merebut sumberdaya bumi.
Sejak itu kompetisi lantas jadi bahasa sosial,
ekonomi dan politik. Watak kita adalah keserakahan. Tidak
ada cinta yang memungkinkan kita saling berbagi. Dua puluh
lima persen penghuni bumi yang bermukim di belahan utara
menguasai tujuh puluh lima persen kekayaan bumi.
Sementara tujuh puluh lima persen penduduk bumi yang
ada dipojok selatan dunia harus berbagi atas dua puluh lima
persen kekayaan yang tersisa. Padahal sebagian besar
sumber daya alam justru dititip Tuhan di belahan selatan.
Inilah imerialisme: mereka menciptakan kesejahteraan
diatas penderiataan bangsa lain.
Itu yang terjadi ketika cinta lenyap dari kehidupan kita. Tidak
ada kedermawanan kolektif yang membuat kita mau
berbagi. Inilah penyakit eksistensial Barat saat ini, kata Erich
Fromm. Cinta sudah habis pupus dari jiwa Barat. Mereka tak
lagi punya cinta. Mereka tak lagi sanggup mencintai. Bumi
pun jadi sempit dan sumpek. Bahkan terasa seperti neraka:
setiap jengkal tanahnya, setiap jenak suasananya adalah
panas. Tak ada ruang yang membuat kita merasa nyaman
menghuninya.
Cintalah yang memungkinkan kita mengubah dunia kita jadi
sepenggal firdaus. Bumi akan terasa nyaman dihuni sumber
kehidupan, kalau kita mau berbagi atas nama cinta.
Keserakahanlah yang membuat bumi jadi sempit. Kalau
sedekah tidak mengurangi kekayaan, seperti sabda
Rosulullah saw, maka berbagi tidak akan membuat kita
kekurangan. Apalagi miskin.
Serakah mendorong orang jadi pelit dan angkuh. Sebab
serakah adalah cara merebut kekayaan, sementara pelit dan
angkuh adalah cara mempertahankannya. Maka kemiskinan
pun mengubah orang jadi pendendam. Sebab
ketidakberdayaan mendorong mereka mencari kambing
hitam. Mereka itulah kambing hitamnya: orang-orang kaya
yang telah mengalahkan mereka dalam pergulatan sosial
ekonomi.
Konflik sosial kita sesungguhnya selalu tercipta di garis batas
itu: antara orang kaya yang pelit dan angkuh dengan orang
miskin yang apatis dan pendendam. Bukan kesenjangan
menciptakan menciptakan konflik. Tapi serakah dan pelitlah
yang membuat orang-orang miskin merasakan pahitnya
mesenjangan itu. Maka mereka bereaksi: jarah, hancurkan
kekayaan mereka! Mereka tidak jadi kaya dengan menjarah.
Tapi mereka puas. Dendam mereka lepas tuntas.
Hanya cinta yang dapat merekatkan mereka. Bersedekahlah,
kata Rasulullah saw, sebab itu akan menghilangkan dendam
orang-orang miskin. ~
mata air keluhuran
Kalau benar hati sang raja. Putera
mahkotanya ternyata seorang pemuda
pemalas. Apatis. Talenta raja-raja tidak
terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang
raja menemukan cara mengubah pribadi
puteranya: the power of love .
Sang raja mendatangkan gadis-gadis cantik
ke istananya. Istana pun seketika perubah jadi taman:
semua bunga mekar di sana. Dan terjadilah itu. Sesuatu
yang memang ia harapkan: puteranya jatuh cinta pada salah
seorang di antara mereka. Tapi kepada gadis itu raja
berpesan, "Kalau puteranya menyatakan cinta padamu,
bilang padanya, "Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok
untuk raja atau seseorang yang berbakat jadi raja".
Benar saja. Putera mahkota itu seketika tertantang. Maka ia
pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui
seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan
seketika talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa,
ternyata! Tapi kaena cinta!
Cinta telah bekerja dalam jiwa anak muda itu secara
sempurna. Selalu begitu: menggali tanah jiwa manusia,
sampai dalam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata
air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan
keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air
keluhuran itu sungai-sungai kebaikan kepada semua yang
ada disekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang
membanjir, deras mendesak menuju muara. Cinta
menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta
memanusiakan manusia dan mendorong kita
memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang
tinggi.
Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarh
kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang
pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan,
yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar
jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu
memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada
manusia atau hewan atau tumbuhan atau apa saja,
mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang
diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita
cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi
sekaligus tertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.
Cobalah simak cerita cinta Letnan Jenderal Purnawirawan
Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan
beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan
bersedia berhijrah dari Katolik menuju Islam, ia tergetar
hebat. "Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon
istrinya," katanya membatin, "seharusnya atas nama cinta ia
mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya." Ia
sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji,
"Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku
berharap bisa mempersembahkan kepada dedengkot
Fretelin untukmu." Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar
lunas!
Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari
mata air cinta. Sebab, "cinta adalah gerak jiwa sang pencinta
kepada yang dicintainya," kata Ibnul Qoyyim.
subh. smg usia kita barokah
Suatu kenikmatan yang amat besar saat
kita tidur kemudian kita terbangun kembali. Tidak semua
orang dapat merasakan kenikmatan ini. Saat subuh pun
merupakan suatu pelajaran yang binatang ajarkan kepada
manusia. Waktu subuh sautan ayam telah mengajarkan kita
untuk bangun dan mengucap rasa syukur terhadap Allah.
Pada saat tersebut, seseorang tertidur tanpa berhubungan
dengan dunia nyata. Tubuh dan jiwanya terpisah. Saat ini,
yang dia pikirkan sebagai tidur, sebenarnya adalah sejenis
kematian. Allah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa jiwa
manusia diambil pada saat mereka tertidur.
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia
mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian
Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk
disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian
kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan
kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan (Al-An’am:60)
Sesungguhnya saat kita tertidur Allah mematikan kita sesaat.
Oleh karenanya Rasulullah mengajarkan doa “Alhamdulillahi
al-ladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihi an-nushur”
artinya “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami
setelah dimatikan- Nya, dan kepada-Nya kami akan
kembali”.
Suasana segar di pagi hari memberikan inspirasi tertanda
kekuasaan Illahi. Segarnya udara pagi belum terkontaminasi
polusi memberikan khasiat yang luar biasa bagi pernafasan
kita. Kualitas oksigen yang baik ini akan memaksimalkan
kerja otak, mencegah kerusakan paru-paru, memperlancar
peredaran darah, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Di
saat orang membuka matanya di pagi dini hari, dia
menujukan pikirannya kepada Allah dan memulai hari
dengan sebuah shalat yang khusyuk, shalat subuh.
Bagi mereka yang beriman dan hidup berdasarkan ajaran Al
Qur’an, setiap hari baru penuh akan bukti keberadaan Allah
dan kenyataan yang menuntun kepada iman. Sebagai
contoh, membuka mata dan memulai hari merupakan salah
satu nikmat Allah kepada manusia dan kenyataan yang
menuntun kepada iman yang perlu direnungkan.
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan
(memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya;
maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai
waktu yang ditetapkan (Az-Zumar:42)
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah berfirman bahwa jiwa
manusia diambil pada saat tidur, namun dikembalikan lagi
sampai waktu yang telah ditentukan untuk kematian datang.
Selama tidur, seseorang setengah kehilangan kesadaran
terhadap dunia luar. Untuk bangkit dari “kematian” tidur
kepada kesadaran dan kondisi yang sama seperti pada hari
sebelumnya, dan untuk dapat melihat, mendengar, dan
merasakan dengan baik dan sempurna adalah sebuah
keajaiban yang harus kita renungkan. Seseorang yang
berangkat tidur di malam hari tidak dapat memastikan
bahwa nikmat yang tiada bandingannya ini akan diberikan
lagi kepadanya besok pagi. Dan kita tidak pernah dapat
memastikan apakah kita akan mengalami bencana atau
bangun dalam kondisi sehat. [1]
Sementara pengertian dari barakah itu sendiri ialah “ziyadah
Al-Khair” artinya bertambah kebaikan. Sungguh beruntung
bagi orang yang dalam hidupnya panjang umur dan banyak
amal kebaikan atau amal shalihnya. Semoga kita bisa
memanfaatkan usia, sehingga dapat beramal shalih dengan
ikhlas, aamiin .
Wallahua’lam bishshawab
[1] Harun Yahya (24 jam seorang muslim)
tahun politik para pembisik
ahun ini dan tahun depan rakyat kebanyakan negeri ini
akan banyak-banyak dihibur oleh suara-suara lantang
yang menjanjikan kemakmuran dan pengentasan
kemiskinan. Suara-suara lantang yang menghibur rakyat
tersebut kemudian akan menghilang pasca pemilihan.
Setelah terpilih menjadi anggota legislatif ataupun duduk di
eksekutif, mereka tidak lagi bersuara lantang – mereka
rajin berbisik !.
Mengapa berbisik ? karena yang mereka omongkan tidak
untuk kepentingan rakyat banyak, maka hanya dengan
berbisik-bisik di antara merekalah mereka berunding untuk
kepentingan kelompoknya masing-masing.
Mereka berbisik ketika mereka merencanakan plesir studi
banding, berbisik ketika membicarakan anggaran, berbisik
untuk mencantumkan atau menghilangkan ayat-ayat
tertentu dalam perundang-undangan, berbisik ketika
membuat peraturan pemerintah, berbisik ketika mereka
menyusun perda dst.
Mengapa harus berbisik ? karena ada yang mereka
sembunyikan dari masyarakat kebanyakan. Mereka juga
harus berbisik karena banyaknya pembisik-pembisik yang
sibuk menitipkan kepentingannya masing-masing.
Bahwasanya negeri ini dari pusat sampai daerah
dikendalikan oleh bisik-bisik, itu dapat kita lihat dari
beberapa fenomena berikut :
Mengapa rakyat kebanyakan tidak memiliki pasarnya untuk
bisa menaikkan taraf hidup ? Karena para penguasa
mendapatkan bisikan bahwa mal-mal modern nan
mewahlah yang menaikkan gengsi pada kotanya, pasar-
pasar megah yang hanya bisa dijangkau oleh yang punya
uang-lah yang bisa mendatangkan pendapatan daerah
yang besar. Seolah mereka berbisik “ Hanya yang kaya yang
boleh jualan di sini… ”
Rakyat kebanyakan yang ‘mencuri’ kesempatan untuk
berjualan di pinggir-pinggir jalan, di pasar kaget dlsb –
selalu menjadi korban gusuran aparat pemda yang seolah
berbisik “ Orang miskin jangan jualan disini, mengganggu
ketertiban …”.
Ketika banjir besar melanda ibu kota dan sekitarnya seperti
hari-hari ini, pemda dan masyarakat kayanya berbisik
menyalahkan orang miskin. Seolah mereka-mereka yang
tinggal di pinggir kali penyebabnya, mereka yang
membuang sampah di kali penyebabnya. Logikanya karena
orang-orang kaya tidak tinggal di pinggir kali, mereka tidak
membuang sampah di pinggir kali. Lalu merekapun seolah
berbisik “…orang miskin jangan tinggal di sini…”.
Yang tidak kalah menyakitkan lagi, hari-hari ini ada salah
satu pemda dari kota penyangga ibu kota yang membuat
aturan hanya rumah-rumah besar yang boleh dibangun
oleh developer di kotanya. Alasannya adalah agar kotanya
tidak menjadi kumuh, maka mereka-pun seolah berbisik
“…orang miskin jangan tinggal di kota ini…”
Di rumah-rumah sakit orang miskin tidak dilayani
semestinya, seolah mereka bicara “…orang miskin yang
sakit jangan dibawa ke sini...”. Di sekolah-sekolah yang
mahal, bahkan ada anak guru yang tidak bisa masuk
sekolah dimana orang tuanya mengajar, mereka seolah
bicara “…orang miskin jangan sekolah disini… ”.
Barangkali inilah yang membuat negeri ini tidak kunjung
makmur setelah 67 tahun merdeka, negeri ini melalaikan
kepentingan orang miskin ini di hampir setiap kebijakan
publik yang dibuatnya. Negeri ini berjalan melalui bisik-
bisik dan melalaikan peringatan Allah antara lain melalui
ayat berikut :
“Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari
ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam
kebunmu". Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan
niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka
mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu,
mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-
orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari
memperoleh hasilnya)" ” (QS 68 : 23-27)
Padahal ada janji pertolongan dan rezeki dariNya melalui
keberadaan (do’a) orang-orang miskin ini :
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan
karena adanya orang-orang yang lemah diantara
kalian” (HR. Bukhari).
Maka berangkat dari fenomena yang ada di masyarakat kita
yang tidak kunjung makmur, berbekal dengan ayat-ayat
dan hadits yang sahih di atas, insyaAllah negeri ini bisa
makmur justru ketika setiap membuat kebijakan publik –
mendahulukan kepentingan orang miskin yang lemah di
negeri ini.
Negeri ini bisa makmur ketika para pengambil keputusan
tidak lagi berbisik, mereka bisa bersuara lantang lantaran
tidak lagi ada yang mereka sembunyikan. InsyaAllah.
hujan jadi musibah atau barokah
Hari-hari ini mayoritas penduduk Jakarta lagi
berjuang mengatasi masalahnya sendiri-sendiri yang terkait
dengan banjir ini. Tetapi benarkah kita harus melihat banjir
ini hanya sebagai masalah ?, bisakah kita melihat ada
peluang besar sekali yang tersembunyi di belakangnya ?.
Do’a yang diajarkan ke kita ketika melihat hujan adalah
“Allahumma Shayyiban Naafi’an ” atau terjemahan
bebasnya “ Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang
bermanfaat ”. Seolah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
ingin mengabarkan bahwa ada hujan yang bermanfaat dan
ada hujan yang tidak bermanfaat.
Hujan hari-hari ini di Jakarta nampaknya menjadi hujan
jenis yang kedua, bisa jadi karena kita lalai bahwa hujan ini
sebenarnya bisa menjadi hujan jenis pertama yaitu hujan
yang bermanfaat.
Hujan jenis pertama ini juga kita jumpai dari sejumlah ayat
antara lain : “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak
manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-
pohon dan biji-biji tanaman yang diketam… ” (QS 50:9) dan
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan
terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu .” (QS 51:22).
Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita bisa
mengambil manfaatnya yang lebih besar dari hujan ini,
ketimbang efek sampingnya berupa mudharat seperti
banjir yang saat ini kita hadapi ?.
Pertama adalah merubah sikap dahulu, bahwa hujan itu
adalah barakah dan melalui hujan inilah antara lain rezeki
kita diturunkan dari langit. Yang kedua adalah kemudian
mengelolanya dengan segala ilmu pengetahuan dan
teknologi yang ada di jaman ini agar yang seharusnya
barakah sumber rezeki tersebut tidak malah menjadi
musibah.
Bayangkan kalau Anda punya lahan yang luas dan subur,
Apa yang Anda akan lakukan dengan lahan ini ? apakah
membiarkannya ditumbuhi ilalang, dijarah orang dlsb
sehingga Anda hanya sibuk mengeluarkan biaya untuk
menjagainya tanpa memperoleh hasil dari lahan tersebut
?.
Atau di lahan negeri ini ada cadangan gas alam yang
sangat besar, apakah kita biarkan menjadi letupan-letupan
kebakaran di sana –sini atau kita mengelolanya sebagi
sumber energi yang melimpah ?.
Makanan (Food), Energy dan Air (Water) atau disingkat FEW
adalah tiga sumber pemenuhan kebutuhan pokok manusia
yang teramat penting yang bahkan menjadi alasan-alasan
perang sepanjang masa. Sumber –sumber FEW itu
melimpah di negeri ini, masa kita persepsikan sebagai
sumber musibah ?.
Bahwa ketiganya harus dikelola bersama, ini juga diajarkan
oleh uswatun hasanah kita melalui sabdanya : “ Orang-
orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal
padang rumput, air dan api ” (Sunan Abu Daud, no 3745).
Maka setelah kita menyikapi air hujan sebagai sumber
rezeki yang penuh barakah, sama dengan sumber-sumber
pangan dan sumber-sumber energy, insyaAllah kita akan
semangat menyongsong dan mengelolanya.
Para ahli kemudian dapat merumuskan bagaimana
mengelola air yang turun berlimpah secara musiman ini,
agar manfaatnya bisa di- spread sepanjang tahun sebagai
sumber air baku untuk minum, untuk pengairan, untuk
perikanan, penunjang berbagai industri dlsb.
Bayangan saya yang perlu dibuat tidak harus waduk yang
sebesar-besarnya seperti yang disampaikan Gubernur DKI
kemarin jawabannya, bisa saja waduk-waduk skala kecil
tetapi menyebar di sejumlah lokasi yang tepat – insyaallah
akan lebih efektif dan doable dengan melibatkan
masyarakat luas. Tetapi ya Wa Allahu A’lam , diserahkan ke
ahlinya untuk merancangnya yang paling efektif.
Untuk menyiapkan waduk-waduk dan sarana pengelolaan
air yang paripurna ini tentu dibutuhkan dana yang tidak
sedikit, untuk inipun saya sudah pernah menulis sarana
pengumpulan dana’nya yang melibatkan masyarakat
DKI melalui dana ta’awun .
Salah satu dari tiga sarana pemenuhan kebutuhan pokok
manusia itu lagi tersedia melimpah ruah di Jakarta hari-
hari ini, akankah kita biarkan terus menjadi musibah
padahal sesungguhnya dia sumber rezeki yang penuh
barakah ? Jawabannya bukan hanya ada pada para
pemimpin kita, tetapi juga ada pada diri-diri kita.
Mulai menyikapinya secara benar, kemudian berikhtiar
secara maksimal dengan ilmu dan petunjukNya –
InsyaAllah air hujan yang melimpah ini akan kembali
menjadi sumber rezeki yang penuh barakah. Amin.
Langganan:
Komentar (Atom)
