Sabtu, 19 Januari 2013

percakapan harian bahasa Korea

Saat Ini Korea sudah menjadi bahasa yang tidak asing lagi, berikut ini Percakapan Bahasa Korea Sehari-hari . Percakapan Bahasa Korea yang sering dilakukan dalam kehidupan di Korea. Percakapan Bahasa Korea Sehari-hari Aku Cinta Kamu = Saranghae / Saranghamnida Aku Suka Kamu = Choaheyo Selamat Ulang Tahun untuk Anda = Saengil Chukha Hamnida Senang Bertemu Dengan Mu = Mannaseo bangapseummnida Saya Orang Indonesia = Indonesia saramimnida Saya Belajar Bahasa Korea = Naneun hangugeoreul baeunda Maafkan Aku = Mian ne Mian hamnida Kalian Dari Mana ? = Neohuideureun eodieseo wanni ? Boleh, Silahkan = Ne, doemnida Bagus Sekali = Maeu joseumnida Oke = Jeoseumnida Tidak = Anio Iya = Ye / Ne Tidak Pernah = Gyeolko animnida Aku Mengerti = Algesseoyo Arayo Aku Nggak Tau = Mollayo Ya, Ada = Ne, isseoyo Siapa Nama Mu ? = Ireumi mwoyeyo? Nama Ku Jeong Ji-Hoon = Jeo neun Jeong Ji-Hoon ieyo Apakah Ini ? = Ige mwoyeyo? Sangat Cantik = Cham yebbeoyo Nggak Apa-Apa = Goenchanayo Baik-Baik Saja, Terima Kasih= Jal jinaepida, gamsahamnida Maaf, Tidak Tahu = Minhamnida, jal moreugesseumnida Aku Suka Nasi Goreng = Jeoneun nasi gorengeul joahamnida Halo = (Ucapan pembuka di telefon) Yeoboseyo… Penyanyi : Gasu Keluarga : Gajok Masuk Angin : Gamgi Polisi : Gyeongchal Kucing : Goyangi Teman : Gongwon Telefon Umum : Gongjungjeonhwa Bandara : Gonghang Kue : Gwaja Sepatu : Gudu Seratus : Baek Rumah Sakit : Byeongwon Pulpen : Bolpen Roti : Ppal Toko Buku : Seojeom Restoran : Sikdang Indah : Areumdappda Bayi : Agi Pagi : Achim Koran, Surat Kabar : Sinmun Majalah : Japji Anak – Anak : Eorini Rumah : Jip Kopi : Keopi Taksi : Taeksi Televisi : Tellebijeon Pesta : Pati Hotel : Hotel Kantor : Hoesa Sekolah : Hakgyo SD : Chodeunghakgyo SMP : Junghakgyo SMA : Godeunghakgyo Murid SMA : Godeunghaksaeng Universitas : Daekhagyo Laki – Laki : Namja Perempuan : Yeoja Adik Laki – Laki : Namdongsaeng Adik Perempuan : Yeodongsaeng NAMA HARI BAHASA KOREA Senin : Wolyoil Selasa : Hwayoil Rabu : Suyoil Kamis : Mokyoil Jum'at : Geumyoil Sabtu : Toyoil Minggu : Ilyoil NAMA BULAN BAHASA KOREA Januari : Ilwol Februari : Iwol Maret : Samwol April : Sawol Mei : Owol Juni : Yuwol Juli : Chilwol Agustus : Palwol September : Guwol Oktober : Siwol November : Sipilwol Desember : Sipiwol BILANGAN BAHASA KOREA 1 : Il 2 : I 3 : Sam 4 : Sa 5 : O 6 : Yuk 7 : Chil 8 : Pal 9 : Gu 10 : Sip 11 : Sip-Il 12 : Sip-I 13 : Sip-Sam 14 : Sip-Sa 15 : Sip-O 16 : Sip-Yuk 17 : Sip-Chil 18 : Sip-Pal 19 : Sip-Gu 20 : I-Sip 21 : I-Sip-Il 50 : O-Sip 55 : O-Sip-O 100 : Il-Baek 1.000 : Il-Cheon 10.000 : Il-Man 100.000 : Il-Sip-Man 1.000.000 : Il-Baek-Man 10.000.000 : Il-Cheon-Man 100.000.000 : Il-Eok

belajar dari Kholid bin walid

Tak ada satu wilayah yang didatangi kecuali ia taklukkan. Tak ada satu peperangan kecuali ia menangkan. Tak ada satupun musuh kecuali ia kalahkan. Ia-lah si pedang Allah yang selalu terhunus. Kholid bin Walid RA. Saifullohi Al-Maslul . Dihormati dan disegani kawan dan lawan. Menaklukkan imperium Romawi dan Persia. Dan menguasai wilayah sangat luasnya. Pahlawan pemberani dan panglima tak terkalahkan. Bahkan dalam beberapa operasi militernya, didapati daerah yang dituju sudah kosong tak bertuan ditinggalkan penduduknya. Mereka memilih ‘kabur’ mendengar komandan pasukannya adalah Kholid. Sepertinya mereka meyakini betul sebuah mitos, Tak ada peluang untuk menang jika Kholid sebagai komandannya. Dan bukti kecilnya adalah julukan sayyidul fatihin atau guru para penakluk sebagai sebuah kehormatan bagi Kholid yang disematkan para sejarawan padanya. Adapun Muhammad Asad, salah seorang penulis dan cendikiawan dari Pakistan, memberinya julukan 'Sang Jenius Perang'. Tak berlebihan memang. Karena terlalu banyak keistimewaan Kholid yang terkait dengan peperangan; Kecedasannya mengatur strategi. Kepiawaiannya dalam berkuda dan menggunakan senjata. Kejeliannya memanfaatkan peluang dan membaca kondisi lawan. Keberaniannya bertarung dan menghadang musuh. Kecepatannya dalam mengkoordinasi para komandan dan memobilisasi pasukan. Juga ketepatannya mengarahkan serangan dan kehebatannya saat bertahan. Beragam strategi dikuasai dan mampu diterapkan. Memadukan strategi konvensional versi Romawi dan Persia dengan strategi lokal wilayah gurun jazirah. Baik perang terbuka atau teknik gerilya. Saat menyerang maupun bertahan. Di medan datar atau perbukitan. Dengan jenis senjata tertentu. Dengan jumlah pasukan tertentu. Dalam cuaca tertentu. Dan dalam kurun waktu tertentu. Tak akan jadi masalah bagi Kholid. Sang genius ini akan memenangkan pertempurannya. Begitulah Kholid bin Walid. Sang Penakluk yang dilahirkan 17 tahun sebelum kenabian. Tumbuh dalam naungan keluarga para pahlawanan Quraisy, yakni Bani Makhzum. Yang terkenal sebagai ‘sarang’-nya para perwira ksatria dan pejuang yang tak kenal takut. Umar bin Khottob termasuk bagian Bani Makhzum dan masih berhubungan nasab dengan Kholid. Dengan Nabi SAW, Kholid tak jauh pula hubungnan kekerabatannya. Karena Maimunah RA, Istri Nabi SAW adalah Bibi Kholid sendiri. Membaca sejarah Kholid bin Walid, adalah membaca sejarah peperangan. Membaca strategi militer yang mumpuni. Juga membaca pribadi penakluk yang luar biasa. Kehebatan Kholid bukan seperti kebanyakan tokoh penakluk lainnya. Dimana pribadi yang keras dan tegas tanpa batas menjadi sebuah pemakluman. Jiwa yang kasar dan arogan seolah mendapat pembenaran. Dan perilakunya yang sombong dan tak mau terikat aturan seakan dibolehkan. Sangat jauh pribadi Kholid dengan sifat dan sikap seperti itu. Karena pada perakteknya, Kholid sudah menyiapkan dirinya menjadi penakluk sejati. Dan esensi penaklukan bukanlah mengalahkan musuh atau merebut wilayah yang luas. Mendapat ghanimah maupun tawanan perang. Tetapi ia memahami bahwa dasar penaklukan adalah penaklukan diri sendiri. Karena itu, semua aktivitas dan amal-amal adalah sebentuk ketundukan diri pada Ilahi. Dilakukan karena-Nya dan untuk mendapat ridho-Nya. Dan pribadi dengan kilau hati yang mentereng itu terlihat jelas dalam peristiwa Yarmuk. Perang Yarmuk adalah perang yang menentukan dalam sejarah awal pertumbuhan Islam. Perang yang menempatkan dawah Islam dan umatnya memasuki fase baru sebagai penguasa dunia. Inilah perang yang mengawali kebangkrutan imperium Romawi di Asia dan Afrika. Namun perang Yarmuk disebut juga oleh para sejarawan sebagai perang-nya Kholid. Perang yang membuktikan kecerdasan dan kehebatan strategi perangnya. Perang yang juga mengantarkannya ke puncak kemuliaan dan ketinggian pribadinya. Antara kecerdasan dan ketundukan. Antara kehebatan dan kebersahajaan. Antara kekuatan dan kelembutan. Antara menaklukkan musuh dan menaklukkan diri sendiri. Inilah contoh ideal seorang penakluk. Itulah Kholid bin Walid. Seperti yang telah dicatat sejarah, Perang ini mempertemukan Romawi dengan pasukan kaum Muslimin. Reputasi Romawi sebagai super power Dunia kala itu, tak disangsikan lagi dalam strategi perang, kekuatan pasukan dan kelengkapan persenjataannya. Adapun kaum Muslimin, adalah sekelompok pasukan yang baru dikenal dengan prestasi belum seberapa. Datang hanya dengan 46.000 tentara dan persenjataan terbatas. Sementara Romawi mampu mengumpulkan 240.000 prajurit dengan persenjataan lengkap dan akomodasi memadai. Adapun Kholid, yang menjadi panglima tertinggi kaum Muslimin, Ia mampu menerapkan strategi jitu dan akhirnya berhasil meraih kemenangan gemilang dalam pertempuran dahsyat itu. Yang menyempurnakan peristiwa itu adalah, digantikannya posisi Kholid sebagai panglima tertinggi menjadi prajurit biasa oleh Khalifah Umar bin Khotob. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin seorang panglima tertinggi yang memenangkan pertempuran penting digantikan begitu saja? Bahkan sebelum pertempuran itu sendiri usai. Apa alasan dalam logika paling sederhana sekalipun yang membuat posisinya digantikan? Tidakkah itu sebuah spekulasi atas reaksi yang akan terjadi? Tidak adakah penghargaan yang lebih memadai? Kesalahan besar apa dilakukannya sebenarnya? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi wajar saja karena keputusan yang tidak semua orang memahami. Hata di tataran para panglima bawahan Kholid dari kalangan para sahabat sendiri. Tetapi tidak bagi Kholid. Ia ternyata tidak berpikir seperti itu. Dan itu-lah hebatnya. Itulah kualitas sesungguhnya dari Kholid. Meski dalam kapasitasnya, Kholid punya peluang besar mendapat dukungan dari para prajuritnya untuk bisa bertahan pada posisinya. Atau setidaknya mempertanyakan alasan penggantiannya. Sikap legowo ini jauh lebih berkilau dari kemenangannya di banyak medan pertempuran. Karena musuh yang dihadapi adalah dirinya sendiri. Yang bisa saja atas nama kehormatan, status dan harga diri Ia memperalat ego dan hawa nafsunya untuk melakukan penolakan atau pembangkangan. Atau memilih menjadi oposan, agar harga diri dan statusnya tetap terjaga. Dan sekali lagi, Kholid tidak memilih sikap itu. Terlalu remeh dan kecil baginya mempersoalkan status, pangkat dan jabatan dengan mengorbankan keyakinan serta kemuliaan akhlaknya. Orientasi amal dan hidupnya sudah full dihibahkan bagi dawah. Itulah makna yang terkandung dalam ucapannya, “Aku berjuang bukan karena Umar, dan aku hanyalah anak panah yang siap dilontarkan kemana saja…” Bukankah ini pelajaran luar biasa dari Kholid? Inilah jiwa sejati dari Sang Penakluk, Pedang Allah yang Terhunus. Ia mengajarkan kepada para pemimpin, panglima, ketua dan kita semua. Pelajaran meluluhlantakan ego dan hawa nafsu dalam keikhlasan beramal. Pelajaran bagaimana menggilas persepsi dan ambisi dengan kecerdasan ruhiyah agar tak mendapat tempat sama sekali dalam diri. Pelajaran bagaimana menggembok hawa nafsu dengan tsiqoh dan ketaatan sempurna. Dan pelajaran bagaimana berlapang dada dengan husnu dzon pada Allah atas apa-pun takdir yang menimpa. Allahu a’lam bisshowab. Subang, 18/01/13 (Buat Kholid-ku, tanjamkan terus pedangmu dan lembutkan hatimu..!)

Jumat, 18 Januari 2013

Bakri diundang ke sekolah anaknya untuk menghadiri peringatan 'Hari Ayah'. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa sudah tua dan memiliki empat anak. Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke sekolah. Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi, menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan lainnya. Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak pertamanya melakukan hal itu. Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar, Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan- kawannya. Namun, dugaannya meleset. Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran di sekolah itu. Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah. Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar. Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian, Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga sangat merdu serta menenangkan jiwa. Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang ke sekolah, kini tampak bersemangat. Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya. Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu dengan derai air mata yang membasahi pipi. Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya. Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal, orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang hadir pun memuji kebesaran Allah. Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan. "Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar. Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih, anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk mempelajari Alquran."

engkau dan hartamu milik orangtuamu

Dalam hadis riwayat Thabrani dari Jarir RA, ada seorang anak muda mengadu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku.” Mendengar pengaduan anak muda itu, Rasul berkata, “Pergilah kamu dan bawa ayahmu kesini!” Setelah anak muda itu berlalu, Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata; “Ya, Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla menyampaikan salam untukmu, dan berpesan, kalau orang tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya.” Tak lama, anak muda itu datang bersama ayahnya. Rasulullah kemudian bertanya orang tua itu. “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?” Sang ayah yang sudah tua itu menjawab, “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah. Bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu)-nya, dan untuk keperluan saya sendiri?” Rasulullah bersabda lagi, “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu.” Maka wajah keriput lelaki tua itu pun menjadi cerah dan tampak bahagia. Dia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah SWT berkenan menambah kuat keimananku dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya.” Rasulullah mendesak, “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.” Orang tua itu berkata dengan air mata yang berlinang. “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini, 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah. Lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.” “Lalu air mataku berlinang-linang dan mengucur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan.” “Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu. Seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.” Selanjutnya Jabir berkata, “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu, seraya berkata, ‘Engkau dan hartamu milik ayahmu!” Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketika sudah besar, sebagai anak kadang kita lupa kepada orang tua yang telah berjuang mencari nafkah untuk kita. Ayah kita memberikan segala apa yang dimilikinya tanpa pernah meminta kembali. Sedangkan kita, ketika akan memberikan sesuatu untuk ayah dan ibu, begitu banyak pertimbangan. Tak jarang, kita mencari dan membuat berbagai alasan agar kepunyaan yang dimiliki tidak berpindah kepada orang tua kita. Dalam kesempatan ini, marilah kita terus mencintai dan menyayangi keduanya, sebelum mereka pergi meninggalkan kita untuk selamanya.

memuliakan orangtua

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia,” (Qs Al-Isra: 23). Surah Al-Isra mengisyaratkan keharmonisan dua hubungan yakni hubungan baik dengan Allah, juga dengan manusia yang dalam hal ini ialah sosok yang semestinya kita muliakan, orang tua. Para mufassir sepakat bahwa perkataan yang mulia menurut firman Allah di atas ialah mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Penghormatan terhadap orang tua sangat diatur oleh Islam agar terciptanya hubungan baik antara orang tua dan anak. Lebih spesifik lagi, penghormatan kepada salah satunya sungguh telah Rasulullah yang menyatakan seorang laki-laki datang menghampiri Rasulullah dan bertanya siapakah yang layak untuk dipatuhi? Rasul pun menjawab, “Ibumu,” hingga tiga kali berturut-turut, kemudian, “ayahmu”. (HR Bukhari- Muslim). Penyebutan lebih dari satu kali dalam hadis Rasul bukan tanpa makna. Pemaknaan yang luas terhadap apa yang pernah beliau sampaikan lebih khusus kepada urusan kepatuhan anak kepada ibu, menjadi kewajiban tersendiri mengingat ibu adalah sosok yang sangat berperan dalam kehidupan si anak dari masa kehamilan, kanak-kanak, hingga dewasa. Adalah Umar bin Khattab seorang anak yang sangat hormat kepada ibunya, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya. Dalam hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan mendahului ibunya. Ia bahkan tak berani makan bersama-sama dengan ibunya, sebab ia khawatir akan mengambil dan memakan hidangan yang tersedia di meja, sementara ibunya menginginkan makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil dan lemah. Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apa pun juga. Yang bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kaum Muslimin, "Hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah." Beliau ditanya, "Ya Rasulullah, siapa?" Jawabnya, "Orang yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu kedua orang tuanya di masa tuanya, baik salah satunya maupun kedua-duanya, tetapi ia gagal mendapatkan dirinya masuk surga." Gagalnya seseorang untuk masuk surga lantaran pengabaian terhadap hak-hak orang tua, dapat kita simak dalam kisah Juraij. Juraij adalah remaja yang taat beribadah. Saat ia ingin melakukan shalat sunah, ibunya memanggilnya. Kala itu, Juraij bimbang—dahulukan shalat, atau memenuhi panggilan ibunya? Maka, Juraij pun memilih shalat dan mengabaikan panggilan Ibunya yang sudah berkali-kali menggema di telinganya. Sang ibu pun kecewa, dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan anakku sebelum ia mendapat fitnah dari wanita pelacur.” Singkat cerita, Juraij mendapatkan fitnah dari seorang pelacur karena ia mengabaikan seruan ibunya. Menghormati dan memuliakan orang tua bukan saja saat mereka masih hidup. Ketika beliau wafat, maka sebagai seorang anak, kita berkewajiban untuk melaksanakan lima hal, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, kewajiban itu di antaranya ialah menyalatkan keduanya, membacakan istighfar, melaksanakan wasiatnya, bersilaturahim kepada kerabatnya, juga menghormati sahabat-sahabatnya.

kebaikan bulan safar

Shafar adalah bulan baik dan mulia, sebagaimana sebelas bulan lainnya yang telah ditetapkan Allah SWT dalam hitungan satu tahun. Kebaikan bulan tersebut menurut Dr Taisir Rajab Al Tamimi terletak pada eksistensi bulan tersebut sebagai bulan Allah yang diperbolahkan bagi manusia untuk melakukan perbuatan apa saja dengan catatan kebaikan dan takwa. Adapun anggapan yang memandang bulan shafar sebagai bulan kesialan dan tidak menguntungkan yang mengakibatkan sekelompok orang tidak berani melakukan akad nikah dan bepergian di bulan Shafar, merupakan pandangan tanpa dasar kuat yang tidak lain merupakan sisa- sisa kepercayaan kaum Jahiliyah. Mereka jika hendak bepergian memiliki kebiasaan melemparkan burung ke udara dan mempercayainya bahwa jika burung tersebut terbang ke arah kanan maka mereka jadi bepergian dan jika burung tersebut terbang ke arah kiri, maka mereka menunda rencana bepergian. Betapa menyulitkan tradisi tersebut, jika hingga kini masih ada yang melestarikannya. Pasalnya, bukan hanya akan mengganggu kegiatan kemanusiaan secara menyeluruh, melainkan juga menunda banyaknya kebajikan yang seharusnya dapat dilakukan. Apalagi, binatang, alam dan segala yang ada di dunia ini diciptakan dan ditundukkan bagi manusia agar dapat melaksanakan fungsi kepemimpinan dan memakmurkan bumi. Namun demikian, dewasa ini tindakan serupa masih terjadi, walaupun obyeknya bukan lagi manusia. Penggunaan Paul Si Gurita, Onta, Babi, Sapi, Burung, dan binatang lain untuk memprediksi kemenangan pertandingan sepak bola merupakan kegiatan naif yang menumpulkan akal manusia. Kebanyakan manusia menyadari bahwa kegiatan tersebut sekedar mencari sensasi karena keakuratannya tidak valid sebab sumberdaya binatang hanya terletak pada instingnya. Bagaimana mungkin akal manusia yang istimewa tunduk pada insting binatang yang alakadarnya? Dalam rangka mengarahkan kepercayaan yang salah menjadi benar, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa (penularan penyakit tanpa seizin Allah), thiyarah (kepercayaan pada burung yang membawa kesialan), hammah (kepercayaan burung hantu yang hinggap di atas rumah sebagai pertanda kematian) dan Shafar (kesialan di bulan shafar)." (HR. Bukhari Muslim). Maksud dari hadis tersebuat adalah peniadaan segala bentuk kepercayaan pada makhluk baik berupa penyakit, benda (jimat), binatang, bulan tertentu dan semacamnya yang dipandang membawa kesialan atau mara bahaya. Hal tersebut karena, pertama: Allah-lah yang menciptakan, mengatur, menguasai, mengizinkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan takdir-Nya. (QS. Yunus: 31-33). Tanpa izin Allah, tentu semua kepercayaan itu hanya pepesan kosong belaka. Kedua, Rasulullah SAW mengganti kepercayaan buruk dengan cara berpikir positif bahwa yang bermanfaat bagi manusia terhadap sesamanya dan Allah SWT adalah berpikir baik dan positif dalam bentuk perkataan baik sebab perkataan baik merupakan representasi pikiran yang baik. Ketiga, berkeyakinan bahwa tidak ada yang dapat membahayakan manusia selama dirinya mengingat terus Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial, maka sungguh dia telah bersuat syirik." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu." Beliau menjawab, "Salah seorang dari kalian mengucapkan, ‘Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu’." (HR. Ahmad). Dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut tampak jelas bahwa tidak manusia, benda, binatang, hari maupun bulan yang membuat diri kita menjadi sial, kecuali kesialan yang kita ciptakan sendiri dalam bentuk perbuatan buruk, dosa dan melanggar aturan agama. Wallahu a'lam.

nasihat bisu. . .

Bahasa apa yang paling indah untuk mengingatkan ujung perjalanan? Bisikan seperti apa yang paling menggugah untuk menyadarkan betapa hidup hanyalah suatu penantian? Sambil menanti jemputan, kita pun merenda waktu dengan asyik bercanda. Padahal, tanpa mengetuk pintu, utusan langit pasti datang menjemput tanpa menyapa. Malaikat maut pemutus kelezatan siap merenggut. Wahai para penempuh jalan, kitab seperti apa yang akan kau jadikan petunjuk, sedangkan setiap ayat Alquran adalah cahaya penerang kebahagiaan. Nasihat seperti apa lagi yang engkau butuhkan, sedangkan Rasulullah bersabda, "Nasihati dirimu dengan dua hal. Nasihat yang berbicara yaitu Alquran dan nasihat yang bisu yaitu kematian." Dengarkan dan simaklah dengan rasa haru, betapa Sayidina Ali memberikan fatwanya yang sangat indah. Ia berkata, "Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, kamu sekalian serta segala yang kamu miliki dari dunia ini berada di jalan orang-orang sebelum kamu yang telah pergi meninggalkannya.” “Mereka lebih panjang usianya daripada kamu, lebih makmur kediamannya dan lebih membekas peninggalannya. Suara-suara mereka kini redup membisu, kegiatan mereka tak berbekas, tubuh-tubuh mereka hancur, rumah-rumah mereka sunyi senyap dan peninggalan mereka kini hanya reruntuhan.” "Nama dan panggilan mereka sirna diterkam warna zaman. Istana yang dilulur manik manikam dan permadani, kini hanya fosil bebatuan. Tempat-tempatnya berhimpitan, namun penghuninya berjauhan. Betapa mungkin mereka saling berkunjung, sedangkan jasad-jasad mereka telah hancur luluh oleh kerapuhan." "Kini bayangkanlah seolah-olah kalian sendirian telah menjadi mereka. Tertahan di atas tempat pembaringan seperti itu, terkungkung dalam ruangan gelap pengap. Tubuhmu yang gagah, kini ajang pesta rayap-rayap kecil.” “Apa kiranya yang akan kalian lakukan apabila telah sampai akhir perjalanan. Saat gundukan tanah terakhir menutup lubang kuburan, jawaban apa yang akan engkau berikan pada saat sidang peradilan? Sedangkan junjungan tercinta Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketahuilah bahwa kubur itu taman-taman yang ada di surga atau lubang dari segala lubang di neraka’." (HR Tirmidzi). “Maka datangilah kuburan. Biarkan setiap nisan bisu itu menjadi nasihat untuk dirimu. Tataplah dengan penuh rasa haru. Di hadapanmu ada gundukan tanah yang memeluk tulang belulang. Di antara mereka ada yang namanya disanjung atau dipasung." "Di antara mereka ada yang hidupnya mewah penuh suka cita gelak tawa. Tetapi, ada pula mereka yang selama hidupnya didera deru derita penuh duka. Kini tubuh mereka bernasib sama, bisu beku, mendebu. Tetapi, ruhnya berbeda-beda. Ada yang memasuki taman surga, ada yang menjerit memasuki lubang-lubang gelap yang lebih gelap lagi.” Orang bijak berkata, "Ketika terlahir engkau menangis dan semua yang menyambut tertawa. Maka, ketika datang hari perjumpaan, jadikanlah dirimu tertawa menatap taman surga dan orang-orang menangis duka kehilangan dirimu." Karena itu, jadilah anggota rombongan yang tahu ke mana akhir perjalanan mengarah.

siapakah Tuhanmu?

"Siapakah Tuhanmu?" Jika ditanyakan kepada semua orang, termasuk diri kita sendiri, jawabannya suka meyakinkan, Allah adalah Tuhanku, tak ada yang lain. Terkadang agar lebih meyakinkan, pakai tanda seru, biar jelas dan tegas. Padahal, dalam realitasnya kita tak sepenuhnya demikian. Kita sering salah menempatkan posisi Tuhan. Karena itu, semuanya perlu pembuktian. Sekarang, cobalah hal yang sederhana. Silakan ibu-ibu pergi ke pasar seperti biasa belanja harian tanpa membawa uang. Untuk bapak-bapak, silakan pergi ke rumah makan dan makanlah disana, tanpa membawa uang. Gimana, bisa? Biasanya suka pada tertawa. "Emangnya ke pasar, muter doang? Lah, nggak bawa uang, mau belanja pakai apa?" Yang bapak-bapak juga menjawab sambil tertawa kecil, sebab dianggapnya pertanyaan ini ada-ada saja. "Ngutang mah bisa kali. Yang namanya makan, ya bayar. Apalagi di rumah makan tertentu, bayarnya duluan." Ini dia. Ini baru contoh kecil. Tuhannya udah bukan Allah, tapi duit. La ilaha illa fulus (uang). Nggak ada uang, maka kita nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak bisa beli ini dan itu. Sekarang, bertanyalah pada diri sendiri. Semua yang ada di langit dan di bumi ini, milik siapa? Milik Allah, kan? Termasuk pasar dengan segala isinya, juga milik Allah. Nah, sekarang berangkatlah ke pasar. Minta terlebih dahulu kepada Allah. Masak iya yang berangkat ke pasar bawa uang, lalu ditemani Yang Punya Uang dan Punya Pasar, kemudian pulang ke rumah nggak bawa barang-barang belanja? Cobalah cara yang kecil ini. Untuk sementara, nggak usah yang besar dulu, seperti pergi haji umrah, nggak pakai uang. Bangun rumah, nggak pakai uang. Memulai usaha, mengembangkan usaha, juga nggak pakai uang. Menyekolahkan dan nguliahin anak, nggak pakai uang. Beli motor atau mobil, nggak pakai uang. Cobalah yang kecil dulu. Benar-benar pergi ke warung makan. Minta sama Allah dengan meyakinkan, bahwa kalau minta, ya mesti dikasih. Jangan minta sama yang menjaga dan menunggu warung. Minta sama Yang Punya Warung. Insya Allah dikasih. Malah bisa dikasih lebih. Plus bungkus, he he. Insya Allah, cara-cara-Nya akan ditunjukkan oleh Allah untuk mereka yang percaya dan yakin. Tapi bagaimana mau yakin? Belum apa-apa sudah meminggirkan Allah. Dan tuhannya semakin banyak saja. Selain uang, dia ada berbentuk pikiran, atau kadang ikhtiar. Ya, ikhtiar suka jadi tuhan juga. Belum lagi kehadiran kenalan, sahabat, keluarga, yang juga kerap menjadi Tuhan. Oke. Mumpung masih di awal tahun, kembalilah bertuhan Allah. Sebenar-benarnya bertuhan Allah. Apa saja, andalkan Allah, berharap sama Allah. Bahwa kita bermuamalah, berdagang, bekerja, berusaha, berikhtiar, semua hanyalah adab kita, akhlak kita, dan ibadah kita, kepada Allah. Wallahu a'lam.

kejujuran . .

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS Ghafir: 19). "Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi." (QS al- Fajr: 14). Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab berjalan melintasi padang rumput. Dia terpesona melihat kambing-kambing yang gemuk dan sehat. Dia kemudian menemui sang penggembala dan berniat untuk membelinya. Namun, budak itu menolak, dengan alasan kambing itu punya majikannya. Khalifah Umar berkata lagi, "Bilang saja kepada majikanmu bahwa kambing itu dimakan serigala." Namun, apa kata si bocah gembala? "Kalau begitu, di mana Allah?" Akhirnya, Umar membebaskan budak tersebut dan menyerahkan seluruh kambing itu kepadanya. Pada waktu lainnya, ketika musim paceklik, Khalifah Umar berjalan berkeliling Kota Madinah. Sebelumnya, dia mewanti-wanti kepada kaum Muslim agar jangan berlaku curang. Ketika pada suatu malam dia melintas dekat sebuah rumah, terdengar percakapan antara seorang ibu penjual susu dan anak gadisnya. Sang ibu menyuruh anaknya untuk mencampur susu tersebut dengan air, supaya hasilnya lebih banyak dan mereka untung lebih besar. Namun, sang gadis tidak mau, karena Khalifah Umar melarang warga mencampur susu dengan air. "Memang, tidak ada orang yang mengetahui perbuatan kita. Tapi, di mana Allah? Allah dan para malaikat tahu, dan besok di hari kiamat kita akan dimintai pertanggungjawabannya," kata si gadis. Mendengar kejujuran sang gadis, Khalifah Umar lalu mengambilnya sebagai menantu. Dua kisah di atas menggambarkan betapa agungnya kejujuran. Kejujuran yang lahir dari iman yang teguh kepada Allah SWT. Iman yang meyakini bahwa Allah Mahamelihat apa pun yang kita lakukan, biarpun tidak ada orang lain yang tahu. Selalu jujur kapan pun dan di manapun. Selalu merasa diawasi oleh Allah SWT (muraqabah). Rasul SAW memerintahkan kepada setiap Muslim untuk selalu bersikap dan berbuat jujur. Sebaliknya, Rasul SAW mengingatkan setiap Muslim agar menghindari sikap dan perbuatan dusta. Mari kita simak hadis berikut ini: "Bersikaplah jujur. Sesungguhnya kejujuran mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga… Jauhilah bohong. Sesungguhnya kebohongan menyeret pada kedurjanaan, dan kedurjanaan menyeret ke neraka…" (HR Muslim). Jujur adalah mahkota kehidupan. Karena itu, sudah seharusnya kaum Muslim senantiasa berpegang teguh pada kejujuran. Kejujuran akan mencegah seseorang dari melakukan hal-hal yang tidak diridai Allah SWT. Misalnya, korupsi, berjudi, berzina, mencuri, merampok, menipu, memperdaya orang lain, dan berbagai perbuatan buruk lainnya yang selama ini, dan terutama akhir-akhir ini, makin sering terjadi di negeri ini. "Sesungguhnya Allah itu cemburu. Cemburunya Allah, yaitu jika seseorang melakukan sesuatu yang diharamkan terhadapnya." (HR Bukhari-Muslim).

sikap khusnudzon alias berbaik sangka

Rasulullah SAW selalu mencontohkan kepada para sahabatnya untuk berbaik sangka terhadap semua orang. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah mengutus Umar untuk menarik zakat, tetapi Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas paman Rasulullah tidak menyerahkan (zakat). Sehingga beliau bersabda, "Tidak ada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat, kecuali karena dia fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya." "Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah mengambil zakatnya dua tahun yang lalu." (HR Bukhari dan Muslim). Rasul SAW senantiasa memperingatkan umat Islam agar menjauhi prasangka buruk. "Jauhilah prasangka karena sesungguhnya prasangka itu pembicaraan yang paling dusta. Janganlah kalian menyadap (pembicaraan kaum), memata- matai mereka, berlomba-lomba (dalam hal yang tidak baik), saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Al-Hafidz mengatakan bahwa Khaththabi berpendapat bahwa yang dimaksud prasangka dalam hadis tersebut adalah benar-benar prasangka, bukan sesuatu yang terlintas dalam benak pikiran, sebab hal itu di luar kemampuan seseorang. Prasangka yang dimaksud oleh Khaththabi adalah prasangka yang menetap dalam hati. Lintasan hati adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari manusia. "Allah mengampuni prasangka yang terlintas dalam hati manusia selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya." (HR Bukhari dan Muslim). Qurthubi mengatakan, yang dimaksud dengan prasangka (yang terlarang) adalah tuduhan tanpa alasan. Misalnya menuduh seseorang melakukan zina tanpa ada bukti nyata. Karena itu, kata azh-zhann dalam redaksi hadis ini, dihubungkan dengan larangan untuk memata-matai orang lain. Jika seseorang memiliki sedikit prasangka yang mengarah pada tuduhan di dalam hatinya, ia akan berupaya untuk mewujudkan tuduhan itu. Dia akan mencari-cari kesalahan orang yang dituduh dengan memata-matainya. Karena, langkah-langkah itu dilarang agama. "Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..." (QS al-Hujarat: 12). Dalam kehidupan masyarakat kita akhir-akhir ini banyak kejadian yang bersifat prasangka dan tuduhan di antara sesama warga (su'uzhon). Padahal, berbagai persoalan tersebut memerlukan penelitian, klarifikasi (tabayyuni) sehingga duduk persoalan jelas dan kita dapat menyikapinya dengan bijaksana agar tidak menyalahkan orang lain. Karena itu, kearifan dari berbagai pihak khususnya para tokoh dan pemimpin masyarakat merupakan sikap Nabi yang selalu husnuzhan dalam menyikapi berbagai persoalan sehingga masalah menjadi cair, jernih, dan sejuk dan akhirnya persoalan dapat diselesaikan dengan damai dan adil. Wallahu 'alam.

bahaya harta yg haram

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata, “Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Kaab bin Ujroh, aku mohonkan perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.’ Kaab bertanya, ‘Apakah itu, wa hai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Setelahku akan ada para penguasa di mana siapa yang ikut mereka dan membenarkan ucapannya serta mendukung kezalimannya maka mereka bukanlah golonganku dan aku tidak termasuk golongannya dan mereka tidak akan masuk dalam telagaku’.” “Dan barang siapa yang tidak mau ikut mereka, tidak membenarkan ucapannya dan tidak mendukung kezalimannya, maka mereka termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta mereka akan masuk dalam telagaku.” “Wahai Kaab bin Ujroh, shalat adalah taqarrub, puasa adalah benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api. Hai Kaab, tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka lebih dekat dengannya.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami). Allah memerintahkan kita agar selalu makan makanan halal dan menjauhi yang haram sebagai bentuk syukur untuk menambah keberkahan hidup. (QS al-Baqarah [2]: 172). Orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari api neraka. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata, “Seseorang di bawah tanggungan Rasulullah SAW bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasul berkata, ia akan masuk ke neraka. Maka, para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan.” (Shahih Bukhari, hadis No. 2845). Di antara bahaya memakan harta haram, pertama, pelakunya akan masuk neraka. “Barang siapa yang mengambil hak milik orang Muslim dengan menggunakan sumpah, maka Allah akan mewajibkannya masuk neraka dan diharamkan masuk surga.” Seorang bertanya, “Walaupun barang yang kecil, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Walaupun sepotong kayu arok.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami dari Abu Umamah). Kedua, pemakan haram tidak akan mencapai derajat takwa. Orang bertakwa adalah ahli surga. Dari Atiyyah as- Sa’di, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sampai meninggalkan sebagian yang halal karena khawatir terperosok pada yang haram.” Ketiga, orang yang makan makanan haram kesadaran beragamanya sempit, artinya tidak banyak beramal yang mendapat pahala sehingga mudah masuk neraka. “Seorang mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan yang haram.” (HR Bukhari). Keempat, pemakan harta haram tidak diterima amalnya dan ditolak doanya. “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seorang yang memasukkan sekerat daging haram ke perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan barang siapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Ahmad dan ad- Darami). Orang yang makan harta haram sama dengan berusaha menghancurkan dirinya, merusak ibadahnya, mempermainkan doanya dan menghancurkan keluarga serta keturunannya.

sepenggal firdaus . . untuk kita

Bumi tidak cukup untuk dibagi bersama. Manusia sudah terlalu banyak untuk sumberdaya yang terlalu sedikit. itu doktrin Robert Malthus kepada Barat. Maka dunia pun berubah jadi rimba raya: mari kita adu kuat untuk merebut sumberdaya bumi. Sejak itu kompetisi lantas jadi bahasa sosial, ekonomi dan politik. Watak kita adalah keserakahan. Tidak ada cinta yang memungkinkan kita saling berbagi. Dua puluh lima persen penghuni bumi yang bermukim di belahan utara menguasai tujuh puluh lima persen kekayaan bumi. Sementara tujuh puluh lima persen penduduk bumi yang ada dipojok selatan dunia harus berbagi atas dua puluh lima persen kekayaan yang tersisa. Padahal sebagian besar sumber daya alam justru dititip Tuhan di belahan selatan. Inilah imerialisme: mereka menciptakan kesejahteraan diatas penderiataan bangsa lain. Itu yang terjadi ketika cinta lenyap dari kehidupan kita. Tidak ada kedermawanan kolektif yang membuat kita mau berbagi. Inilah penyakit eksistensial Barat saat ini, kata Erich Fromm. Cinta sudah habis pupus dari jiwa Barat. Mereka tak lagi punya cinta. Mereka tak lagi sanggup mencintai. Bumi pun jadi sempit dan sumpek. Bahkan terasa seperti neraka: setiap jengkal tanahnya, setiap jenak suasananya adalah panas. Tak ada ruang yang membuat kita merasa nyaman menghuninya. Cintalah yang memungkinkan kita mengubah dunia kita jadi sepenggal firdaus. Bumi akan terasa nyaman dihuni sumber kehidupan, kalau kita mau berbagi atas nama cinta. Keserakahanlah yang membuat bumi jadi sempit. Kalau sedekah tidak mengurangi kekayaan, seperti sabda Rosulullah saw, maka berbagi tidak akan membuat kita kekurangan. Apalagi miskin. Serakah mendorong orang jadi pelit dan angkuh. Sebab serakah adalah cara merebut kekayaan, sementara pelit dan angkuh adalah cara mempertahankannya. Maka kemiskinan pun mengubah orang jadi pendendam. Sebab ketidakberdayaan mendorong mereka mencari kambing hitam. Mereka itulah kambing hitamnya: orang-orang kaya yang telah mengalahkan mereka dalam pergulatan sosial ekonomi. Konflik sosial kita sesungguhnya selalu tercipta di garis batas itu: antara orang kaya yang pelit dan angkuh dengan orang miskin yang apatis dan pendendam. Bukan kesenjangan menciptakan menciptakan konflik. Tapi serakah dan pelitlah yang membuat orang-orang miskin merasakan pahitnya mesenjangan itu. Maka mereka bereaksi: jarah, hancurkan kekayaan mereka! Mereka tidak jadi kaya dengan menjarah. Tapi mereka puas. Dendam mereka lepas tuntas. Hanya cinta yang dapat merekatkan mereka. Bersedekahlah, kata Rasulullah saw, sebab itu akan menghilangkan dendam orang-orang miskin. ~

mata air keluhuran

Kalau benar hati sang raja. Putera mahkotanya ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja-raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi puteranya: the power of love . Sang raja mendatangkan gadis-gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika perubah jadi taman: semua bunga mekar di sana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan: puteranya jatuh cinta pada salah seorang di antara mereka. Tapi kepada gadis itu raja berpesan, "Kalau puteranya menyatakan cinta padamu, bilang padanya, "Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk raja atau seseorang yang berbakat jadi raja". Benar saja. Putera mahkota itu seketika tertantang. Maka ia pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata! Tapi kaena cinta! Cinta telah bekerja dalam jiwa anak muda itu secara sempurna. Selalu begitu: menggali tanah jiwa manusia, sampai dalam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai-sungai kebaikan kepada semua yang ada disekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, deras mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi. Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarh kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekaligus tertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat. Cobalah simak cerita cinta Letnan Jenderal Purnawirawan Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia berhijrah dari Katolik menuju Islam, ia tergetar hebat. "Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya," katanya membatin, "seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya." Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, "Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa mempersembahkan kepada dedengkot Fretelin untukmu." Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas! Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, "cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya," kata Ibnul Qoyyim.

subh. smg usia kita barokah

Suatu kenikmatan yang amat besar saat kita tidur kemudian kita terbangun kembali. Tidak semua orang dapat merasakan kenikmatan ini. Saat subuh pun merupakan suatu pelajaran yang binatang ajarkan kepada manusia. Waktu subuh sautan ayam telah mengajarkan kita untuk bangun dan mengucap rasa syukur terhadap Allah. Pada saat tersebut, seseorang tertidur tanpa berhubungan dengan dunia nyata. Tubuh dan jiwanya terpisah. Saat ini, yang dia pikirkan sebagai tidur, sebenarnya adalah sejenis kematian. Allah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa jiwa manusia diambil pada saat mereka tertidur. Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan (Al-An’am:60) Sesungguhnya saat kita tertidur Allah mematikan kita sesaat. Oleh karenanya Rasulullah mengajarkan doa “Alhamdulillahi al-ladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihi an-nushur” artinya “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah dimatikan- Nya, dan kepada-Nya kami akan kembali”. Suasana segar di pagi hari memberikan inspirasi tertanda kekuasaan Illahi. Segarnya udara pagi belum terkontaminasi polusi memberikan khasiat yang luar biasa bagi pernafasan kita. Kualitas oksigen yang baik ini akan memaksimalkan kerja otak, mencegah kerusakan paru-paru, memperlancar peredaran darah, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Di saat orang membuka matanya di pagi dini hari, dia menujukan pikirannya kepada Allah dan memulai hari dengan sebuah shalat yang khusyuk, shalat subuh. Bagi mereka yang beriman dan hidup berdasarkan ajaran Al Qur’an, setiap hari baru penuh akan bukti keberadaan Allah dan kenyataan yang menuntun kepada iman. Sebagai contoh, membuka mata dan memulai hari merupakan salah satu nikmat Allah kepada manusia dan kenyataan yang menuntun kepada iman yang perlu direnungkan. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan (Az-Zumar:42) Dalam ayat-ayat tersebut, Allah berfirman bahwa jiwa manusia diambil pada saat tidur, namun dikembalikan lagi sampai waktu yang telah ditentukan untuk kematian datang. Selama tidur, seseorang setengah kehilangan kesadaran terhadap dunia luar. Untuk bangkit dari “kematian” tidur kepada kesadaran dan kondisi yang sama seperti pada hari sebelumnya, dan untuk dapat melihat, mendengar, dan merasakan dengan baik dan sempurna adalah sebuah keajaiban yang harus kita renungkan. Seseorang yang berangkat tidur di malam hari tidak dapat memastikan bahwa nikmat yang tiada bandingannya ini akan diberikan lagi kepadanya besok pagi. Dan kita tidak pernah dapat memastikan apakah kita akan mengalami bencana atau bangun dalam kondisi sehat. [1] Sementara pengertian dari barakah itu sendiri ialah “ziyadah Al-Khair” artinya bertambah kebaikan. Sungguh beruntung bagi orang yang dalam hidupnya panjang umur dan banyak amal kebaikan atau amal shalihnya. Semoga kita bisa memanfaatkan usia, sehingga dapat beramal shalih dengan ikhlas, aamiin . Wallahua’lam bishshawab [1] Harun Yahya (24 jam seorang muslim)

tahun politik para pembisik

ahun ini dan tahun depan rakyat kebanyakan negeri ini akan banyak-banyak dihibur oleh suara-suara lantang yang menjanjikan kemakmuran dan pengentasan kemiskinan. Suara-suara lantang yang menghibur rakyat tersebut kemudian akan menghilang pasca pemilihan. Setelah terpilih menjadi anggota legislatif ataupun duduk di eksekutif, mereka tidak lagi bersuara lantang – mereka rajin berbisik !. Mengapa berbisik ? karena yang mereka omongkan tidak untuk kepentingan rakyat banyak, maka hanya dengan berbisik-bisik di antara merekalah mereka berunding untuk kepentingan kelompoknya masing-masing. Mereka berbisik ketika mereka merencanakan plesir studi banding, berbisik ketika membicarakan anggaran, berbisik untuk mencantumkan atau menghilangkan ayat-ayat tertentu dalam perundang-undangan, berbisik ketika membuat peraturan pemerintah, berbisik ketika mereka menyusun perda dst. Mengapa harus berbisik ? karena ada yang mereka sembunyikan dari masyarakat kebanyakan. Mereka juga harus berbisik karena banyaknya pembisik-pembisik yang sibuk menitipkan kepentingannya masing-masing. Bahwasanya negeri ini dari pusat sampai daerah dikendalikan oleh bisik-bisik, itu dapat kita lihat dari beberapa fenomena berikut : Mengapa rakyat kebanyakan tidak memiliki pasarnya untuk bisa menaikkan taraf hidup ? Karena para penguasa mendapatkan bisikan bahwa mal-mal modern nan mewahlah yang menaikkan gengsi pada kotanya, pasar- pasar megah yang hanya bisa dijangkau oleh yang punya uang-lah yang bisa mendatangkan pendapatan daerah yang besar. Seolah mereka berbisik “ Hanya yang kaya yang boleh jualan di sini… ” Rakyat kebanyakan yang ‘mencuri’ kesempatan untuk berjualan di pinggir-pinggir jalan, di pasar kaget dlsb – selalu menjadi korban gusuran aparat pemda yang seolah berbisik “ Orang miskin jangan jualan disini, mengganggu ketertiban …”. Ketika banjir besar melanda ibu kota dan sekitarnya seperti hari-hari ini, pemda dan masyarakat kayanya berbisik menyalahkan orang miskin. Seolah mereka-mereka yang tinggal di pinggir kali penyebabnya, mereka yang membuang sampah di kali penyebabnya. Logikanya karena orang-orang kaya tidak tinggal di pinggir kali, mereka tidak membuang sampah di pinggir kali. Lalu merekapun seolah berbisik “…orang miskin jangan tinggal di sini…”. Yang tidak kalah menyakitkan lagi, hari-hari ini ada salah satu pemda dari kota penyangga ibu kota yang membuat aturan hanya rumah-rumah besar yang boleh dibangun oleh developer di kotanya. Alasannya adalah agar kotanya tidak menjadi kumuh, maka mereka-pun seolah berbisik “…orang miskin jangan tinggal di kota ini…” Di rumah-rumah sakit orang miskin tidak dilayani semestinya, seolah mereka bicara “…orang miskin yang sakit jangan dibawa ke sini...”. Di sekolah-sekolah yang mahal, bahkan ada anak guru yang tidak bisa masuk sekolah dimana orang tuanya mengajar, mereka seolah bicara “…orang miskin jangan sekolah disini… ”. Barangkali inilah yang membuat negeri ini tidak kunjung makmur setelah 67 tahun merdeka, negeri ini melalaikan kepentingan orang miskin ini di hampir setiap kebijakan publik yang dibuatnya. Negeri ini berjalan melalui bisik- bisik dan melalaikan peringatan Allah antara lain melalui ayat berikut : “Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu". Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang- orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)" ” (QS 68 : 23-27) Padahal ada janji pertolongan dan rezeki dariNya melalui keberadaan (do’a) orang-orang miskin ini : “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah diantara kalian” (HR. Bukhari). Maka berangkat dari fenomena yang ada di masyarakat kita yang tidak kunjung makmur, berbekal dengan ayat-ayat dan hadits yang sahih di atas, insyaAllah negeri ini bisa makmur justru ketika setiap membuat kebijakan publik – mendahulukan kepentingan orang miskin yang lemah di negeri ini. Negeri ini bisa makmur ketika para pengambil keputusan tidak lagi berbisik, mereka bisa bersuara lantang lantaran tidak lagi ada yang mereka sembunyikan. InsyaAllah.

hujan jadi musibah atau barokah

Hari-hari ini mayoritas penduduk Jakarta lagi berjuang mengatasi masalahnya sendiri-sendiri yang terkait dengan banjir ini. Tetapi benarkah kita harus melihat banjir ini hanya sebagai masalah ?, bisakah kita melihat ada peluang besar sekali yang tersembunyi di belakangnya ?. Do’a yang diajarkan ke kita ketika melihat hujan adalah “Allahumma Shayyiban Naafi’an ” atau terjemahan bebasnya “ Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat ”. Seolah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan bahwa ada hujan yang bermanfaat dan ada hujan yang tidak bermanfaat. Hujan hari-hari ini di Jakarta nampaknya menjadi hujan jenis yang kedua, bisa jadi karena kita lalai bahwa hujan ini sebenarnya bisa menjadi hujan jenis pertama yaitu hujan yang bermanfaat. Hujan jenis pertama ini juga kita jumpai dari sejumlah ayat antara lain : “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon- pohon dan biji-biji tanaman yang diketam… ” (QS 50:9) dan “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu .” (QS 51:22). Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita bisa mengambil manfaatnya yang lebih besar dari hujan ini, ketimbang efek sampingnya berupa mudharat seperti banjir yang saat ini kita hadapi ?. Pertama adalah merubah sikap dahulu, bahwa hujan itu adalah barakah dan melalui hujan inilah antara lain rezeki kita diturunkan dari langit. Yang kedua adalah kemudian mengelolanya dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di jaman ini agar yang seharusnya barakah sumber rezeki tersebut tidak malah menjadi musibah. Bayangkan kalau Anda punya lahan yang luas dan subur, Apa yang Anda akan lakukan dengan lahan ini ? apakah membiarkannya ditumbuhi ilalang, dijarah orang dlsb sehingga Anda hanya sibuk mengeluarkan biaya untuk menjagainya tanpa memperoleh hasil dari lahan tersebut ?. Atau di lahan negeri ini ada cadangan gas alam yang sangat besar, apakah kita biarkan menjadi letupan-letupan kebakaran di sana –sini atau kita mengelolanya sebagi sumber energi yang melimpah ?. Makanan (Food), Energy dan Air (Water) atau disingkat FEW adalah tiga sumber pemenuhan kebutuhan pokok manusia yang teramat penting yang bahkan menjadi alasan-alasan perang sepanjang masa. Sumber –sumber FEW itu melimpah di negeri ini, masa kita persepsikan sebagai sumber musibah ?. Bahwa ketiganya harus dikelola bersama, ini juga diajarkan oleh uswatun hasanah kita melalui sabdanya : “ Orang- orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api ” (Sunan Abu Daud, no 3745). Maka setelah kita menyikapi air hujan sebagai sumber rezeki yang penuh barakah, sama dengan sumber-sumber pangan dan sumber-sumber energy, insyaAllah kita akan semangat menyongsong dan mengelolanya. Para ahli kemudian dapat merumuskan bagaimana mengelola air yang turun berlimpah secara musiman ini, agar manfaatnya bisa di- spread sepanjang tahun sebagai sumber air baku untuk minum, untuk pengairan, untuk perikanan, penunjang berbagai industri dlsb. Bayangan saya yang perlu dibuat tidak harus waduk yang sebesar-besarnya seperti yang disampaikan Gubernur DKI kemarin jawabannya, bisa saja waduk-waduk skala kecil tetapi menyebar di sejumlah lokasi yang tepat – insyaallah akan lebih efektif dan doable dengan melibatkan masyarakat luas. Tetapi ya Wa Allahu A’lam , diserahkan ke ahlinya untuk merancangnya yang paling efektif. Untuk menyiapkan waduk-waduk dan sarana pengelolaan air yang paripurna ini tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk inipun saya sudah pernah menulis sarana pengumpulan dana’nya yang melibatkan masyarakat DKI melalui dana ta’awun . Salah satu dari tiga sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia itu lagi tersedia melimpah ruah di Jakarta hari- hari ini, akankah kita biarkan terus menjadi musibah padahal sesungguhnya dia sumber rezeki yang penuh barakah ? Jawabannya bukan hanya ada pada para pemimpin kita, tetapi juga ada pada diri-diri kita. Mulai menyikapinya secara benar, kemudian berikhtiar secara maksimal dengan ilmu dan petunjukNya – InsyaAllah air hujan yang melimpah ini akan kembali menjadi sumber rezeki yang penuh barakah. Amin.