HILFUL FUDHUL dan KOALISI KEUMATAN
Ketika suasana kedzaliman merajalela di Kota Mekah. Kejujuran dinistakan. Banyak tokoh yang diam membisu tidak sanggup berbuat. Maka ketika itulah muncul gagasan Hilful Fudhul (kesepakatan) antara lima suku dari kabilah Quraisy. Mereka adalah Bani Hasyim, Bani Muthalib, Bani Asad, Bani Zuhrah, dan Bani Taim.
Kemudian suku-suku yang telah bersepakat ini mendatangi pejabat yg berbuat zalim karena merampas barang dagangan lalu meminta untuk mengembalikan kepada pemiliknya.
RASULULLAH IKUT KEPADA HILFUL FUDHUL
Rasulullah SAW menghadiri perjanjian ini bersama dengan paman-paman beliau. : “Sungguh aku mengikuti sebuah sumpah perjanjian di rumah Abdullah bin Jad’an dari sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada aku memiliki unta merah dan seandainya aku diundang untuk mendatangi perjanjian yang seperti itu ketika aku telah mengenal Islam, maka sungguh aku akan memenuhi undangan tersebut” [Ibnu Hisyam 1/154-155]
PKS dan PERSATUAN KEUMATAN
Sejarah mencatat ketika PKS menginisiasi koalisi biasanya berjalan langgeng lebih awet dan mencapai banyak kesepakatan untuk kepentingan umat. Lihatlah Koalisi Poros Tengah, KMP (Koalisi Merah Putih) dan yang cukup langgeng adalah persekutuan antara Gerindra dan PKS yang mengantarkan Gerindra masuk pada persiapan atas. Padahal banyak pengamat meyakini umur koalisi antar parpol sesuatu yg seumur jagung, rentan diobok-obok pihak ketiga akhirnya bubar tanpa kesepakatan yag menguntungkan.
SIKAP PKS BERADA DI KUBU KEUMATAN.
Pimpinan PKS memandang persatuan umat adalah asset yg mahal. Sesuatu yg sudah lama diidamkan. Selain itu pimpinan meyakini jalan ini sebagai perwujudan bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan.
Kejelian membaca kebutuhan ummat muncul dalam seruan #2019gantipresiden disambut masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Mengalahkan isu2 lain. Mardani alisera DPP PKS mampu menjadi faktor perekat berbagai kepentingan umat.
PKS dan FUNGSI PEREKAT
Soliditas PKS Yang "menakutkan" demikian pengamat menilai setelah perolehan PKS di PILGUB Jawa barat mematahkan angka yg disajikan lembaga survey. Pengamat menilai gerak kader dan mesin organisasi efektif bergerak di akar rumput.
Gelagat PKS bergabung ke kubu keummatan diyakini bisa menjadi tulangpunggung yang efektif. Tentu saja gelagat direspon dengan kekhawatiran banyak pihak. Karena umat islam sering ditafsirkan sebagai ancaman bisnis mereka.
PKS DAN UJIAN SOLIDITAS
Alhamdulillah "gerakan" pengundurkan diri secara mendadak sebagian BCAD (Bakal Calon Anggota Dewan) PKS tidak berhasil "menggagalkan pendaftaran PKS sebagai peserta pemilu 2019".
Gerakan pengunduran diri secara tiba2 adalah manuver melawan disiplin organisasi partai manapun. Apalagi langsung dipublish. Sebuah manuver politik yg dinilai banyak orang sebagai respon kekanak-kanakan.
Apakah ada kaitannya pelemahan PKS dengan manuver para cukong politik. Apakah dengan gencarnya postingan yang mendiskreditkam PKS di medsos sebagai bentuk progres report laporan kepada para cukong tersebut?
Biarkan analisa sebagai bentuk kewaspadaan. Asalkan ukhuwah tetap terjaga.
Selasa, 31 Juli 2018
Minggu, 22 Juli 2018
SONY AFIHANDONO,SE CAD DPRD KAB.BOGOR 2019
Songsong Kemenangan 2019, Fraksi PKS Kokohkan Barisan
Jakarta (20/07) -- Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, Sukamta mengajak kepada seluruh Anggota Dewan Pusat dan Daerah yang berasal dari Fraksi PKS untuk semakin meningkatkan kualitas dalam menjalankan peran-perannya. Hal ini disampaikan oleh Sukamta dalam pembukaan acara rapat kerja, konsolidasi dan Halal Bi Halal yang digelar oleh Fraksi PKS DPR, Kamis 19 Juli 2019.
"Hari ini kita kokohkan kembali komitmen fraksi PKS untuk memperjuangkan tiga isu besar garis perjuangan fraksi PKS, yaitu kerakyatan, keumatan dan pengokohan nasionalisme Indonesia. Kita pastikan, fraksi PKS dari Pusat dan daerah selalu menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan umat," ungkap wakil rakyat yang berasal dari Dapil Jogjakarta ini.
Sukamta menyebutkan, kinerja baik yang ditunjukan oleh Anggota Dewan dapat menjadi salah satu faktor kemenangan PKS pada Pemilu 2019 mendatang.
"Fraksi Pusat dan daerah memiliki peran yang signifikan dalam pemenangan 2019. Penting fraksi secara nasional memiliki kesamaan arah dan strategi. Sehingga manfaat dan dampaknya benar-benar dirasakan oleh rakyat yang akan menghasilkan kekuatan yang dahsayat untuk pemenangan 2019," terang Sukamta.
Meskipun memiliki jumlah anggota dewan yang tidak terlalu besar, Sukamta percaya bahwa dengan 1200 anggota dewan yang dimiliki oleh PKS dapat memberikan kebermanfatan yang nyata kepada masyarakat dan umat.
"Jumlah aleg saat ini di pusat ada 40 orang, namun jika digabung (dengan) daerah, jumlah mencapai kurang lebih 1200 orang. Jumlah ini belum besar jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan anggota dewan pusat dan daerah. Namun, kita menegaskan bahwa 1200 orang ini memiliki kapasitas nasional dan jama'i, sehingga kehadirannya dirasakan oleh rakyat," ungkap Sukamta.
Kegiatan yang digelar selama dua hari ini, Sukamta berharap dapat memberikan sumbangsih yang nyata kepada masyarakat dan kemenangan PKS mendatang.
Sumber : pks.id
Jakarta (20/07) -- Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, Sukamta mengajak kepada seluruh Anggota Dewan Pusat dan Daerah yang berasal dari Fraksi PKS untuk semakin meningkatkan kualitas dalam menjalankan peran-perannya. Hal ini disampaikan oleh Sukamta dalam pembukaan acara rapat kerja, konsolidasi dan Halal Bi Halal yang digelar oleh Fraksi PKS DPR, Kamis 19 Juli 2019.
"Hari ini kita kokohkan kembali komitmen fraksi PKS untuk memperjuangkan tiga isu besar garis perjuangan fraksi PKS, yaitu kerakyatan, keumatan dan pengokohan nasionalisme Indonesia. Kita pastikan, fraksi PKS dari Pusat dan daerah selalu menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan umat," ungkap wakil rakyat yang berasal dari Dapil Jogjakarta ini.
Sukamta menyebutkan, kinerja baik yang ditunjukan oleh Anggota Dewan dapat menjadi salah satu faktor kemenangan PKS pada Pemilu 2019 mendatang.
"Fraksi Pusat dan daerah memiliki peran yang signifikan dalam pemenangan 2019. Penting fraksi secara nasional memiliki kesamaan arah dan strategi. Sehingga manfaat dan dampaknya benar-benar dirasakan oleh rakyat yang akan menghasilkan kekuatan yang dahsayat untuk pemenangan 2019," terang Sukamta.
Meskipun memiliki jumlah anggota dewan yang tidak terlalu besar, Sukamta percaya bahwa dengan 1200 anggota dewan yang dimiliki oleh PKS dapat memberikan kebermanfatan yang nyata kepada masyarakat dan umat.
"Jumlah aleg saat ini di pusat ada 40 orang, namun jika digabung (dengan) daerah, jumlah mencapai kurang lebih 1200 orang. Jumlah ini belum besar jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan anggota dewan pusat dan daerah. Namun, kita menegaskan bahwa 1200 orang ini memiliki kapasitas nasional dan jama'i, sehingga kehadirannya dirasakan oleh rakyat," ungkap Sukamta.
Kegiatan yang digelar selama dua hari ini, Sukamta berharap dapat memberikan sumbangsih yang nyata kepada masyarakat dan kemenangan PKS mendatang.
Sumber : pks.id
Minggu, 16 Oktober 2016
Belajar dari Kisah Salim bin Abdullah bin Umar bin Khathab
Anak Umar bin Khathab banyak, akan tetapi yang paling
mirip dengannya adalah Abdullah. Abdullah bin Umar juga mmeiliki banyak anak,
bahkan lebih banyak daripada anak ayahnya, dan yang paling mirip dengan
Abdullah adalah Salim.
Salim bertempat tinggal di kota Thaibah Madinah
Al-Munawarah. Ketika itu kota tersebut dalam kondisi makmur dan kaya raya.
Rizki dan kenikmatan melimpah ruah dan belum pernah disaksikan yang seperti itu
sebelumnya. Rezeki datang dari segala penjuru, para khalifah Bani Umayah
membanjirinya dengan kekayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Namun hal itu tidaklah membuat Salim terpikat dengan
harta seperti yang lain, dan tidak pula menggandrungi keindahan-keindahan yang
sementara dan fana. Sebaliknya dia senantiasa berzuhud atas apa yang ada di
tangan manusia demi mengharapkan apa yang ada di sisi Allah. Beliau berpaling
dari hal-hal yang fana untuk menggapai kenikmatan yang abadi.
Tak terhitung seringnya khalifah Bani Umayah ingin
memberikan hadiah berbagai kenikmatan bagi beliau dan bagi yang lainnya, namun
beliau tetap berpegang pada kezuhudannya, tidak tamak terhadap apa yang ada di
tangan orang lain dan memandang rendah dunia beserta isinya.
Tahun itu, khalifah Sulaiman berkunjung ke Makkah
untuk berhaji. Pada saat melakukan thawaf, beliau melihat Salim bin Abdullah
bersimpuh di hadapan Ka’bah denga khusyu’. Sementara air matanya meleleh di
kedua pipinya. Seakan ada lautan air mata di balik kedua matanya.
Usai thawaf dan shalat dua raka’at, khalifah berusaha
menghampiri Salim. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk
bersimpuh hingga menyentuh kaki Salim. Namun Salim tidak menghiraukannya karena
asyik dengan bacaan dan dzikirnya.
Diam-diam khalifah memperhatikan Salim sambil menunggu
beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah
segera menyapa,
Khalifah, “Assalamu’alaika warahmatullah wahai Abu
Umar.”
Salim, “Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”
Khalifah, “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda
wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya.”
Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga khalifah
menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi
permintaannya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya bisa
memenuhinya.”
Salim, “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana
mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”
Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari
tempat duduknya. Ketika shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang
memburunya untuk bertanya tentang hadits, dan ada yang meminta fatwa tentang
urusan agama, dan adapula yang meminta untuk dido’akan. Khalifah Sulaiman
termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang
menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati Salim, lalu
berkata, “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan
Anda agar saya dapat membantu Anda.”
Salim, “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”
Khalifah, “Tentunya dari kebutuhan dunia.”
Salim, “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang
Memilikinya, bagaimana pula saya akan meminta kepada yang bukan pemiliknya?”
Khalifah malu mendengar kata-kata Salim. Dia berlalu
sambil bergumam, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai
keturnan Al-Khathab, alangkah kayanya kalian dengan Allah. Semoga Allah
memberkahi kalian sekeluarga.”
Tahun sebelumnya, Al-Walid bin Abdul Malik juga
menunaikan ibadah haji. Ketika orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah
menjumpai Salim bin Abdillah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdillah mengenakan
pakaian ihram.
Al-Walid mengucapkan salam dan do’a, khalifah
memandangi tubuh Salim yang terbuka, tampak begitu sehat dan kekar bagaikan
sebuah bangunan yang kokoh.
Al-Walid, “Bentuk tubuh Anda bagus sekali, wahai Abu
Umar, apakah makanan Anda sehari-sehari?”
Salim, “Roti dan Zaitun dan terkadang daging jika saya
mendapatkannya.”
Al-Walid, “Hanya roti dan zaitun?”
Salim, “Benar.”
Al-Walid, “Apakah kamu berselera memakan itu?”
Salim, “Jika kebetulan aku tidak berselera maka aku
tinggalkan hingga lapar hingga saya berselera terhadapnya.”
Salim tak hanya mirip dengan kakeknya, Al-Faruq Umar
bin Khathab, dalam bentuk fisik dan kezuhudan terhadap dunia yang fana, namun
juga dalam keberaniannya menyampaikan kalimat yang benar meski berat resikonya.
Beliau pernah menemu Hajjaj bin Yusuf untuk
membicarakan tentang kebutuhan kaum muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan baik,
dipersilakan duduk di sisinya dan dihormati secara berlebihan. Beberapa saat
kemudian beberapa orang dibawa ke hadapan Hajjaj, pakaiannya compang-camping,
wajahnya pucat dan semua dalam keadaan dibelenggu. Hajjaj menoleh kepada Salim
bin Abdullah dan menjelaskan, “Mereka adalah pembuat onar di muka bumi, menghalalkan
darah yang telah Allah haramkan.”
Dia mengambil pedang dan menyerahkannya kepada Salim
sekaligus memberi isyarat kepada orang pertama, dia berkata kepada Salim,
“Bangkitlah dan tebaslah lehernya!”
Pedang itu diterima oleh Salim, beliau menghampiri orang
yang dimaksud. Seluruh mata menghadap kepadanya untuk melihat apa yang hendak
beliau lakukan. Salim berdiri di depan orang tersebut lalu bertanya,
Salim, “Apakah Anda muslim?”
Tahanan, “Benar saya muslim. Tapi apa perlunya Anda
bertanya demikian? Lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Anda!”
Salim, “Apakah Anda shalat shubuh?”
Tahanan, “Sudah saya katakan bahwa saya muslim.
Mengapa Anda bertanya apakah saya shalat shubuh? Adakah orang muslim yang tidak
melaksanakan shalat shubuh?”
Salim, “Saya bertanya, apakah Anda shalat shubuh hari
ini?”
Tahanan, “Semoga Allah memberikan hidayah kepada Anda.
Saya katakan “Ya.” Silakah Anda melaksanaka perintah orang zhalim itu, jika
tidak tentulah dia akan marah kepada Anda.”
Salim bin Abdullah kembali ke hadapan Hajjaj. Sambil
melemparkan pedang yang digenggamnya dia berkata, “Orang ini mengaku sebagai
seorang muslim dan berkata bahwa hari ini sudah shalat shubuh. Saya mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa shalat shubuh, dia berada dalam naungan
Allah,’ maka saya tidak akan membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan
Allah.”
Hajjaj marah mendengarnya dan berkata, “Kami akan
membunuhnya bukan karena meninggalkan shalat, melainkan karena ia membantu
pembunuhan atas khalifah Utsman bin Affan.” Salim berkata, “Padahal ada orang
yang lebih berhak untuk menuntut darah Utsman bin Affan daripada engkau.”
Hajjaj pun diam tak mampu bicara.
Di antara yang menyaksikan kejadian itu pergi di
Madinah dan menceritakan semua yang dilihatnya tentang Salim kepada ayahnya,
Abdullah bin Umar. Ibnu Umar tak sabar ingin segera mendengar cerita orang
tersebut sehingga bertanya mendesak. “Lalu apa yang dilakukan oleh Salim” orang
ini menjelaskan, “Dia melakukan ini dan itu.”
Alangkah gembiranya Abdullah bin Umar. Beliau berkata,
“Bagus! Bagus! Cerdas…cerdas..!”
Ketika khalifah beralih ke tangan Umar bin Abdul Aziz,
khalifah baru itu segera mengirim surat kepada Salim bin Abdullah:
“Amma ba’du, Saya telah menerima ujian dari Allah
untuk mengurusi permasalahan umat tanpa diminta atau dimusyawarahkan terlebih
dahulu dengan saya. Maka dengan ini saya memohon pertolongan Allah yang telah
mengujiku agar berkenan menolongku. Jika surat ini sampai ke tangan Anda, saya
minta agar Anda mengirimkan kepadaku buku-buku tentang Umar bin Khathab,
perilaku dan keputusan-keputusannya sebagai khalifah. Saya ingin sekali
mengikuti jejak beliau dan berjalan mengikuti jalan beliau, semoga Allah
memelihara saya untuk ini. Wassalam.”
Setelah membaca surat tersebut, Salim bin Abdullah
mengirim surat balasan:
“Telah sampai kepadaku surat Anda yang menyatakan
bahwa Allah telah menguji Anda dengan kewajiban mengurus kaum muslimin tanpa
Anda minta dan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan Anda. Dan Anda
menginginkan jalan yang telah dilalui Umar bin Khathab. Yang perlu Anda
perhatikan dan ingat selalu bahwa Anda tidak hidup pada zaman Umar bin Khathab
dan tidak didampingi seperti orang-orang yang mendampingi Umar bin Khathab.
Tetapi ketahuilah, bila Anda mempunyai niat untuk berbuat baik dan benar-benar
menginginkannya, niscaya Allah akan membantu Anda bersama para pejabat yang
mendampingi Anda. Hal itu akan datang di luar perhitungan Anda, sebab
pertolongan kepada hamba-Nya didasarkan pada niatnya. Bila berkurang niatnya
pada kebaikan, maka akan berkurang pula pertolongan-Nya. Apabila nafsu Anda
mengajak kepada sesuatu yang tak diridhai allah, maka ingatlah apa yang dialami
oleh para penguasa sebelum Anda.
Maka perhatikanlah betapa rusaknya mata mereka karena
hanya digunakan untuk melihat kenikmatan, perut mereka pecah karena terlalu
kenyang dengan syahwat. Bayangkanlah seandainya jenazah mereka diletakkan di
samping rumah dan tidak dimasukkan ke liang lahat. Tentulah kita akan sengsara
karena baunya dan terkena penyakit karena bau busuknya. Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.”
Kehidupan Salim bin Abdullah bin Umar bin Khathab
penuh dengan taqwa, akrab dengan hidayah, menjauhi kesenangan dunia dan
godaannya, memperlakukannya sesuai dengan jalan yang diridhai Allah. Beliau
makan makanan yang keras dan mengenakan pakaian dari bahan yang kasar,
bergabung dengan pasukan muslimin untuk menghadapi Romawi, dan selalu berusaha
membantu menyelesaikan permasalahan kaum muslimin.
Ketika ajal menjemputnya pada tahun 106 H, duka cita
menyelimuti kota Madinah. Semua orang datang untuk mengantar jenazah dan
menyaksikan pemakamannya. Termasuk Hisyam bin Abdul Malik yang ketika itu
berada di Madinah turun menghadiri pemakaman beliau.
Takjub dengan banyaknya lautan manusia yang mengantar
jenazah Salim bin Abdillah, timbul rasa iri di hatinya sehingga dia bergumam,
“Nanti akan terbukti berapa banyak manusia yang akan menghadiri pemakaman
tatkala khalifah muslimin wafat di negeri mereka.” Kemudian dia berkata,
“Kirimkanlah empat ribu pemuda ke perbatasan.” Maka tahun tersebut dikenal
dengan tahun empat ribu. (Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru
min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu
Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 318-326.)
Kamis, 28 April 2016
Jumat, 25 Oktober 2013
Rabu, 14 Agustus 2013
"Debu"Rumah kita masih yang itu-itu juga. Tapi, sekembalidari mudik dan silaturahmi kita menemukan adayang beda. Ditinggal sebentar saja, rumah kita telahberubah. Bukan bentuk dan struktur bangunannya.Bukan. Perubahan itu mungkin teramat kecil; tapihampir setiap kita sepulang dari bepergian danrumah tiada berpenghuni seorang pun, kita akanmerasakannya. Rumah kita menjadi terasa berebu.Baru saja kaki memasuki teras, debu itu telah terasamenempel tebal. Risih dan tidak nyaman. Begitulahtabiat rumah yang jarang disambangi dan tiadaberpenghuni, debu-debu akan tertimbun danmengotori. Anehnya, rumah juga akan gampangrusak. Padahal, ketika kita tempati, seingat kita takjuga dirawat ekstra ketat. Tapi begitulahkenyataannya.Di samping rumah saya yang sederhana, ada rumahyang lama ditinggalkan penghuninya. Terkunci. Daricelah pagarnya yang rapat saya bisa tahu bahwabelukar rimbun menumbuhi. Kata beberapa jamaahmasjid, "Bagian belakangnya telah ambrol, Mas." Ya,rumah itu jadi terlihat kotor dan rusak.Begitulah tabiat rumah. Jika bangunan fisik sajabutuh disambangi, butuh dibersihkan, dirawat,bahkan dimanfaatkan untuk aktivitas, bagaimanahalnya dengan "rumah jiwa" kita? Tentu ia butuhlebih banyak lagi perawatan. Sayangnya, rumah jiwakita debu-debunya tidak mudah diraba; mungkinkarena wujudnya saja yang beda. Debu-debu itu bisaberupa kegelisahan, 'kemrungsung' menghadapihidup, mudah sakit hati, gampang mendendam,hampa, dan sebagainya.Rumah yang dibersihkan tiap hari, perabotan danbarang-barangnya dirapikan setiap saat, akan terasabersih dan lapang. Demikian pula dengan rumah jiwakita. Jika kita rajin mengunjungi, membersihkan,merawat, dan menatanya, ia akan jernih, tajam, dancemerlang. Rumah jiwa itu akan berkilauan. Denganapa kita melakukannya? Kita merawat rumah jiwa kitadengan ketaatan kepada-Nya; ibadah, dzikir, istighfar,menolong sesama dan sebagainya.Semakin lama rumah ditinggalkan, semakin banyakpula yang harus dibersihkan. Demikian pula halnyaketika kita lama tidak menyambangi rumah jiwa kita,lama tidak berketaatan kepada-Nya, lama bermaksiatkepada-Nya, tak perlu khawatir. Hanya diperlukankerja ekstra untuk benar-benar membersihkannya;jalan itu telah ada, yaitu taubat. Banyak istighfar danmemperbaiki diri.Demikian bincang kita tentang rumah dan debu,semoga bermanfaat. Kini, mari kita jaga dan rawat'rumah' kita.
Rabu, 31 Juli 2013
Kamis, 20 Juni 2013
Kisah tsa la bah, benarkah?
Kisah Tsa’labah bin Haathib Al Anshari
Radhiallahu ‘Anhu, Shahihkah?
Sewaktu kami kecil, sering para penceramah
mengkisahkan sahabat nabi bernama Tsa’labah.
Mereka menceritakan bahwa Tsa’labah dulunya
seorang yang miskin dan taat ibadah, tapi ketika
Allah Ta’ala memberikannya kekayaaan dengan
banyaknya ternak peliharaannya akhirnya dia
durhaka kepada Allah Ta’ala hingga wafatnya.
Banyak orang menceritakan dari mulut ke mulut,
juga disebarkan dalam buku-buku, dan situs-
situs Islam. Tetapi, benarkah kisah ini?
Berikut ini selengkapnya kisah Tsa’labah bin
Haathib:
ﺎﻨﺛﺩ ﻮﺑﺃ ﺪﻳﺰﻳ ﻲﺴﻴﻃﺍﺮﻘﻟﺍ ﺎﻨﺛ ﺪﺳﺃ ﻦﺑ ﻰﺳﻮﻣ ﺎﻨﺛ ﺪﻴﻟﻮﻟﺍ ﻦﺑ
ﺎﻨﺛ ﻢﻠﺴﻣ ﻥﺎﻌﻣ ﻦﺑ ﺔﻋﺎﻓﺭ ﻦﻋ ﻲﻠﻋ ﻦﺑ ﺪﻳﺰﻳ ﻦﻋ ﻢﺳﺎﻘﻟﺍ ﻦﻋ
ﻲﺑﺃ ﺔﻣﺎﻣﺃ ﻥﺃ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻦﺑ ﺐﻃﺎﺣ ﻱﺭﺎﺼﻧﻷﺍ : ﻰﺗﺃ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ
ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻝﺎﻘﻓ ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻉﺩﺃ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺃ
ﻲﻨﻗﺯﺮﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻝﺎﻗ : ﻚﺤﻳﻭ ﺎﻳ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻞﻴﻠﻗ ﻱﺩﺆﺗ ﻩﺮﻜﺷ ﺮﻴﺧ ﻦﻣ
ﺮﻴﺜﻛ ﻻ ﻪﻘﻴﻄﺗ ﻢﺛ ﻊﺟﺭ ﻪﻴﻟﺇ ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻉﺩﺃ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺃ
ﻲﻨﻗﺯﺮﻳ ﻻﺎﻣ ﻝﺎﻗ ﻚﺤﻳﻭ ﺎﻳ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﺎﻣﺃ ﺪﻳﺮﺗ ﻥﺃ ﻥﻮﻜﺗ ﻞﺜﻣ ﻝﻮﺳﺭ
ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ؟ ﻪﻠﻟﺍﻭ ﺖﻟﺄﺳ ﻮﻟ ﻥﺃ ﻞﻴﺴﻳ ﻲﻟ
ﻝﺎﺒﺠﻟﺍ ﺎﺒﻫﺫ ﺔﻀﻓﻭ ﺖﻟﺎﺴﻟ ﻢﺛ ﻊﺟﺭ ﻪﻴﻟﺇ ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ
ﻉﺩﺃ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺃ ﻲﻨﻗﺯﺮﻳ ﻻﺎﻣ ﻪﻠﻟﺍﻭ ﻦﺌﻟ ﻲﻧﺎﺗﺃ ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺎﻣ ﻦﻴﺗﻭﻷ ﻞﻛ
ﻱﺫ ﻖﺣ ﻪﻘﺣ ﻝﺎﻘﻓ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ :
ﻢﻬﻠﻟﺍ ﻕﺯﺭﺍ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻻﺎﻣ ﺬﺨﺗﺎﻓ ﺎﻤﻨﻏ ﺖﻤﻨﻓ ﺎﻤﻛ ﻮﻤﻨﻳ ﺩﻭﺪﻟﺍ
ﻰﺘﺣ ﺖﻗﺎﺿ ﺎﻬﻨﻋ ﺔﻗﺯﺃ ﺔﻨﻳﺪﻤﻟﺍ ﻰﺤﻨﺘﻓ ﺎﻬﺑ ﻥﺎﻛﻭ ﺪﻬﺸﻳ
ﺓﻼﺼﻟﺍ ﻊﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻢﺛ ﺝﺮﺨﻳ ﺎﻬﻴﻟﺇ
ﻢﺛ ﺖﻤﻧ ﻰﺘﺣ ﺕﺭﺬﻌﺗ ﻪﻴﻠﻋ ﻲﻋﺍﺮﻣ ﺔﻨﻳﺪﻤﻟﺍ ﻰﺤﻨﺘﻓ ﺎﻬﺑ ﻥﺎﻜﻓ
ﺪﻬﺸﻳ ﺔﻌﻤﺠﻟﺍ ﻊﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻢﺛ
ﺝﺮﺨﻳ ﺎﻬﻴﻟﺇ ﻢﺛ ﺖﻤﻧ ﻰﺤﻨﺘﻓ ﺎﻬﺑ ﻙﺮﺘﻓ ﺔﻌﻤﺠﻟﺍ ﺕﺎﻋﺎﻤﺠﻟﺍﻭ
ﻰﻘﻠﺘﻴﻓ ﻥﺎﺒﻛﺮﻟﺍ ﻝﻮﻘﻳﻭ ﺍﺫﺎﻣ ﻢﻛﺪﻨﻋ ﻦﻣ ﺮﺒﺨﻟﺍ ؟ ﺎﻣﻭ ﻥﺎﻛ ﻦﻣ
ﺮﻣﺃ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻝﺰﻧﺄﻓ ؟ ﻪﻠﻟﺍ ﺰﻋ ﻭ ﻞﺟ ﻰﻠﻋ ﻪﻟﻮﺳﺭ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
ﻭ ﻢﻠﺳ } ﺬﺧ ﻦﻣ ﻢﻬﻟﺍﻮﻣﺃ ﺔﻗﺪﺻ ﻢﻫﺮﻬﻄﺗ ﻢﻬﻴﻛﺰﺗﻭ ﺎﻬﺑ {
ﻝﺎﻗ : ﻞﻤﻌﺘﺳﺎﻓ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻰﻠﻋ
ﺕﺎﻗﺪﺼﻟﺍ ﻦﻴﻠﺟﺭ ﻞﺟﺭ ﻦﻣ ﺭﺎﺼﻧﻷﺍ ﻞﺟﺭﻭ ﻦﻣ ﻲﻨﺑ ﻢﻴﻠﺳ ﺐﺘﻛﻭ
ﺎﻤﻬﻟ ﺔﻨﺳ ﺔﻗﺪﺼﻟﺍ ﺎﻬﻧﺎﻨﺳﺃﻭ ﺎﻤﻫﺮﻣﺃﻭ ﻥﺃ ﺎﻗﺪﺼﻳ ﻥﺇﻭ ﺱﺎﻨﻟﺍ
ﺍﺮﻤﻳ ﺔﺒﻠﻌﺜﺑ ﺍﺬﺧﺄﻴﻓ ﻦﻣ ﺔﻗﺪﺻ ﻪﻟﺎﻣ ﻼﻌﻔﻓ ﻰﺘﺣ ﺎﺒﻫﺫ ﻰﻟﺇ
ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻩﺁﺮﻗﺄﻓ ﺏﺎﺘﻛ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ
ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻗﺪﺻ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﺍﺫﺈﻓ ﺎﻤﺘﻏﺮﻓ ﺍﺮﻤﻓ ﻲﺑ ﻼﻌﻔﻓ ﻝﺎﻘﻓ :
ﻪﻠﻟﺍﻭ ﺎﻣ ﻩﺬﻫ ﻻﺇ ﺔﻴﺧﺃ ﺔﻳﺰﺠﻟﺍ ﺎﻘﻠﻄﻧﺎﻓ ﻰﺘﺣ ﺎﻘﺤﻟ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ
ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻝﺰﻧﺃﻭ ﻪﻠﻟﺍ ﺰﻋ ﻭ ﻞﺟ ﻰﻠﻋ ﻪﻟﻮﺳﺭ
ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ } ﻢﻬﻨﻣﻭ ﻦﻣ ﺪﻫﺎﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﺌﻟ ﺎﻧﺎﺗﺁ ﻦﻣ
ﻪﻠﻀﻓ { ﻰﻟﺇ ﻪﻟﻮﻗ } ﻥﻮﺑﺬﻜﻳ { ﻝﺎﻗ : ﺐﻛﺮﻓ ﻞﺟﺭ ﻦﻣ ﺭﺎﺼﻧﻷﺍ
ﺐﻳﺮﻗ ﺔﺒﻠﻌﺜﻟ ﺔﻠﺣﺍﺭ ﻰﺘﺣ ﻰﺗﺃ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻝﺎﻘﻓ ﻚﺤﻳﻭ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﺎﻳ
ﺖﻜﻠﻫ ﻝﺰﻧﺃ ﻪﻠﻟﺍ ﺰﻋ ﻭ ﻞﺟ ﻚﻴﻓ ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﺍﺬﻛ ﻞﺒﻗﺄﻓ ﻊﺿﻭﻭ ﺔﺒﻠﻌﺛ
ﺏﺍﺮﺘﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻪﺳﺃﺭ ﻮﻫﻭ ﻲﻜﺒﻳ ﻝﻮﻘﻳﻭ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ
ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﻓ ﻞﺒﻘﻳ ﻪﻨﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ
ﻪﺘﻗﺪﺻ ﻰﺘﺣ ﺾﺒﻗ ﻪﻠﻟﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ
ﻢﺛ ﻰﺗﺃ ﺎﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﻲﺿﺭ ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﺪﻌﺑ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
ﻭ ﻢﻠﺳ ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﺎﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﺪﻗ ﺖﻓﺮﻋ ﻲﻌﻗﻮﻣ ﻦﻣ ﻲﻣﻮﻗ
ﻲﻧﺎﻜﻣﻭ ﻦﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻞﺒﻗﺎﻓ ﻲﻨﻣ
ﻰﺑﺄﻓ ﻥﺃ ﻪﻠﺒﻘﻳ ﻢﺛ ﻰﺗﺃ ﺮﻤﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﺑﺄﻓ ﻥﺃ ﻞﺒﻘﻳ
ﻪﻨﻣ ﻢﺛ ﻰﺗﺃ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ ﻰﺑﺄﻓ ﻥﺃ ﻞﺒﻘﻳ ﻪﻨﻣ ﻢﺛ
ﺕﺎﻣ ﺔﺒﻠﻌﺛ ﻲﻓ ﺔﻓﻼﺧ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ
Telah bercerita kepada kami Abu Yazid Al
Qarathisy, bercerita kepada kami Asad bin Musa,
bercerita kepada kami Al Walid bin Muslim,
bercerita kepada kami Mu’aan bin Rifa’ah, dari Ali
bin Yazid, dari Al Qasim, dari Abu Umamah,
bahwa Tsa’labah bin Hathib Al Anshari mendatangi
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata:
“Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku
diberikan harta.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alahi
wa Sallam bersabda: “Celaka engkau wahai
Tsa’labah! Sedikit yang engkau syukuri itu lebih
baik dari harta banyak yang engkau tidak sanggup
mensyukurinya.” Kemudian Tsa’labah kembali
kepadanya, dan berkata: “Wahai Rasulullah,
berdoalah kepada Allah agar saya diberikan harta.”
Nabi bersabda: “Apakah engkau tidak suka menjadi
seperti Nabi Allah? Demi yang diriku di tangan-
Nya, seandainya aku mau gunung-gunung
mengalirkan perak dan emas, niscaya akan
mengalir untukku. ” Kemudian ia (Tsa’labah)
berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan
benar, seandainya engkau meminta kepada Allah
agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh
aku akan memberikan haknya kepada yang berhak
menerimanya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam berdo’a: “Ya Allah, berikankanlah harta
kepada Tsa’labah.” Kemudian ia mendapatkan
seekor kambing, lalu kambing itu tumbuh beranak,
sebagaimana tumbuhnya ulat. Kota Madinah
terasa sempit baginya. Sesudah itu, Tsa’labah
menjauh dari Madinah dan tinggal di satu lembah.
Karena kesibukannya, ia hanya berjama’ah pada
shalat zhuhur dan ‘ashar saja, dan tidak pada
shalat-shalat lainnya. Kemudian kambing itu
semakin banyak, maka mulailah ia meninggalkan
shalat berjama’ah sampai shalat Jum’at juga ia
tinggalkan. Suatu saat Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para Shahabat:
“Apa yang dilakukan Tsa’labah?” Mereka
menjawab: “Ia mendapatkan seekor kambing, lalu
kambingnya bertambah banyak sehingga kota
Madinah terasa sempit baginya.” Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alahi wa Sallam mengutus dua orang
untuk mengambil zakatnya seraya bersabda:
“Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat
fulan dari Bani Sulaiman, ambillah zakat mereka
berdua.” Lalu keduanya pergi mendatangi
Tsa’labah untuk meminta zakatnya. Sesampainya
disana dibacakan surat dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Dengan serta merta Tsa’labah
berkata: “Apakah yang kalian minta dari saya ini,
pajak atau semisalnya? Aku mengerti apa
sebenarnya yang kalian minta ini!” Lalu keduanya
pulang dan menghadap Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Tatkala beliau melihat kedua-
nya (pulang tidak membawa hasil), sebelum
mereka berbicara, beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Celaka engkau, wahai Tsa’labah!
Lalu turun ayat: “Dan di antara mereka ada yang
telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika
Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada
kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah
kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka,
setelah Allah mem-berikan kepada mereka
sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan
karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah
orang-orang yang selalu membelakangi
(kebenaran).” (QS. At Taubah (9): 75-76) Setelah
ayat ini turun, Tsa’labah datang kepada Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia mohon agar
diterima zakatnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam langsung menjawab: “Allah telah
melarangku menerima zakatmu.” Hingga Rasul
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, beliau tidak
mau menerima sedikit pun dari zakatnya. Dan Abu
Bakar, ‘Umar, serta ‘Utsman pun tidak menerima
zakatnya di masa kekhilafahan mereka. Tsa’labah
wafat pada masa kekhilafahan Utsman bin ‘Affan.
* * * * *
Kisah ini diriwayatkan oleh:
- Imam Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah
No. 1310
- Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 4357
- Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir
No. 7873
- Imam Abu Bakar Asy Syaibani dalam Al Aahad
wal Matsani No. 687
- Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jami’ul
Bayan, No. 16987
- Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi dalam Tafsirnya
No. 10638
- Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ Li Ahkam Al
Quran, 8/208
- Imam Al Baghawi dalam Ma’alim At Tanzil, 4/76
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Quran Al
‘Azhim, 4/183-184
- Imam Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 11/207-208
- Imam Abul Husein Abdul Baqi bin Qani’,
Mu’jam Ash Shahabah, No. 127
- Dan lainnya.
Kisah ini tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Sebab diriwayatkan oleh beberapa
rawi yang dhaif, yakni:
1. Mu’aan bin Rifa’ah As Sulami
Mayoritas imam jarh wa ta’dil mendhaifkannya.
Yahya mengatakan: dhaif. Ar Razi dan As Sa’di
mengatakan: laisa bihujjah (bukan hujjah). Ibnu
Hibban mengatakan: “haditsnya tidak serupa
dengan hadits-hadits yang kuat maka mesti
ditinggalkan.” Al Azdi mengatakan: “haditsnya
tidak bisa dijadikan hujjah.” (Imam Ibnul Jauzi,
Adh Dhu’afa wal Matrukin, No. 3353. Lihat juga
Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 3/36)
Al Jauzajaani mengatakan: bukan hujjah. Ya’qub
bin Sufyan mengatakan: layyinul hadits – lemah
haditsnya. Imam Ibnu Hibban mengatakan:
munkarul hadits. Ibnu ‘Adi mengatakan:
“kebanyakan hadits darinya tidak bisa
diikuti.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib,
10/182)
Imam Ibnu Hajar mengatakan: “Saya telah
membaca tulisan Adz Dzahabi, bahwa Mu’aan
wafat sekitar bersamaan dengan Al Auza’i, dan
dia (Mu’aan) adalah pemilik hadits yang tidak
teliti (mutqin).” (Ibid. Lihat juga Imam Adz
Dzahabi, Mizanul I’tidal, No. 8619)
Abu Hatim mengatakan: haditsnya boleh ditulis
tapi tidak bisa dijadikan hujjah. Yahya
mengatakan: dhaif. (Imam Adz Dzahabi, Al
Kasyif No. 5513)
Hanya sedikit yang mentsiqahkan, Duhaim
mengatakan: tsiqah. (Ibid), begitu pula Ali bin Al
Madini. (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh
Dhuafa, No. 6309), Imam Ahmad mengatakan:
laa ba’sa bihi – tidak apa-apa. (Imam Ibnu Al
Mubarrad, Bahr Ad Dam, Hal. 152), Muhammad
bin ‘Auf dan Abu Daud mengatakan: tidak apa-
apa. (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahzib,
10/182)
Lalu bagaimana menilai Mu’aan bin Rifa’ah ini?
Di tengah badai kritikan baginya namun ada pula
yang memujinya. Kaidahnya adalah: jarh
mufassar muqaddamun ‘ala ta’dilil ‘aam –
kritikan yang terperinci lebih diutamakan
dibanding pujian yang masih umum. Maka, dia
tetap seorang perawi yang dhaif, sebab kritikan
(jarh) yang diterimanya telah dirinci
sebagaimana rincian Ibnu Hibban,ada pun
pujiannya (ta’dil) masih bersifat umum. Wallahu
A’lam
2. Ali bin Yazid Abu Abdul Malik
Imam An Nasa’i mengatakan: matrul hadits –
haditsnya ditinggalkan. Imam Bukhari
mengatakan: munkarul hadits – haditsnya
munkar. (Imam Al Muqrizi, Al Mukhtashar Al
Kamil fi Adh Dhuafa, No. 1338, Lihat juga Al
‘Uqaili dalam Adh Dhuafa, No. 1259)
Imam Ad Daruquthni memasukannya dalam
kitabnya Adh Dhuafa wa Matrukin. (No. 408),
selain itu beliau juga didhaifkan oleh Imam
Ahmad, Imam Abu Hatim, dan Imam Abu
Zur’ah. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al
Jarh wa At Ta’dil, No. 1142)
Imam Ibnu Hazm mengatakan: “Mu’aan bin
Rifa’ah, Al Qasim bin Abdurrahman, dan Ali bin
Yazid, semuanya adalah dhaif.” (Al Muhalla,
11/208)
Oleh karena itu, segenap para ulama pun telah
mendhaifkan hadits ini.
Imam Ibnu Hazm mengatakan: “Hadza Baathil, li
anna tsa’labah badriy ma’ruuf- hadits ini batil,
karena Tsa’labah adalah dikenal sebagai Ahli
Badar. ” (Lihat Al Muhalla, 11/208)
Imam Ibnu Hajar mengatakan: “Dhaif jiddan –
lemah sekali.” (Takhrij Ahadits Al Kasyaaf, Hal.
77), juga didhaifkan oleh Imam As Suyuthi.
(Asbabun Nuzul, Hal. 121), Imam Al ‘Iraqi.
(Takhrij Ahadits Al Ihya’, 3/338), Imam Al
Qurthubi. (Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 8/210)
Syaikh Ali Hasyisy mengatakan dhaif jiddan.
(Lihat Silsilah Al Ahadits Al Wahiyah, Hal. 248,
No. 158), Syaikh Al Albani juga mengatakan:
dhaif jiddan. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 1607)
Catatan:
Hadits ini selain dhaif riwayatnya, tapi juga
buruk secara makna, yakni telah menjadikan
salah satu sahabat nabi yang mulia, bernama
Tsa’labah bin Haathib seorang Ahli Badar dan
golongan Anshar, sebagai sosok yang durhaka.
Hal ini merupakan tuduhan yang berat
kepadanya, dan dusta terhadapnya. Padahal Ahli
Badar telah Allah Ta’ala maafkan dan diampuni
dosa-dosanya, dan dijamin masuk surga,
sebagaimana diriwayatkan oleh hadits-hadits
shahih.
Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ْﻦَﻟ َﻞُﺧْﺪَﻳ َﺭﺎَّﻨﻟﺍ ٌﻞُﺟَﺭ َﺪِﻬَﺷ ﺍًﺭْﺪَﺑ َﺔَﻴِﺒْﻳَﺪُﺤْﻟﺍَﻭ
Tidak akan pernah masuk ke neraka seorang
yang ikut perang Badar dan Hudaibiyah. (HR.
Ahmad No. 15297, Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan: hasan. Lihat Tahqiq Musnad
Ahmad No. 15297. Alauddin Al Muttaqi Al Hindi
dalam Kanzul ‘Ummal No. 33894, Syaikh Al
Albani mengatakan: shahih. Lihat As Silsilah Ash
Shahihah No. 2160)
Dahulu ada sahabat nabi, Hatib bin Abi Baltha’ah
Radhiallahu ‘Anhu dan dia seorang Ahli Badar,
yang telah membocorkan rahasia negara ketika
menjelang penaklukan kota Mekkah (Fathul
Makkah). Beliau mengirim utusan seorang
wanita untuk membawa surat ke Mekkah kepada
sanak familinya perihal penaklukan itu. Namun
Rasulullah mengetahui rencana Hatib ini, Beliau
mengutus Ali, Az Zubeir, dan Miqdad untuk
mengejar utusan tersebut, dan akhirnya terkejar.
Para sahabat pun marah kepada Hatib bin Abi
Baltha’ah, bahkan Umar mengatakan: “Ya
Rasulullah, Da’ni adhribu ‘unuqa haadzal
munaafiq – Ya Rasulullah, biarkan saya
memenggal leher si munafiq ini.”
Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
ُﻪَّﻧِﺇ ْﺪَﻗ ﺍًﺭْﺪَﺑ َﺪِﻬَﺷ ﺎَﻣَﻭ َﻚﻳِﺭْﺪُﻳ َّﻞَﻌَﻟ َﻪَّﻠﻟﺍ ْﻥَﺃ َﻥﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ َﻊَﻠَّﻃﺍ
ﻰَﻠَﻋ ِﻞْﻫَﺃ ٍﺭْﺪَﺑ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺍﻮُﻠَﻤْﻋﺍ ﺎَﻣ ْﻢُﺘْﺌِﺷ ْﺪَﻘَﻓ ُﺕْﺮَﻔَﻏ
Dia telah ikut perang Badar, apakah engkau tidak
tahu bahwa barang kali Allah Ta’ala telah
memandang Ahli Badar, lalu Dia berkata:
lakukan apa yang kalian mau, kalian telah Aku
ampuni. (HR. Bukhari No. 3007 dan Muslim No.
2494)
Demikian mulia kedudukan Ahli Badar, dan
Tsa’labah bin Haathib juga termasuk Ahli Badar.
Selain itu, kisah dalam riwayat ini menunjukkan
bahwa Allah Ta’ala menolak amal shalih dan
maaf hambaNya. Ini juga bertentangan dengan
sifat Allah Ta’ala sebagai Al Ghafur (Maha
Pengampun) dan Ar Rahim (Maha Penyayang).
Kemudian riwayat ini juga mengandung makna
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
tidak memaafkan Tsa’labah sampai dirinya
wafat. Ini jelas bertentangan dengan akhlak
Beliau yang asyidda’u ‘alal kuffar wa ruhama’u
bainahum – keras terhadap orang kafir dan
berkasih sayang terhadap mereka (orang-orang
mukmin/para sahabatnya).
Maka, hendaknya kita –khususnya para
penceramah- hati-hati menyebarkan kisah ini,
sebab akan membawa dampak pembunuhan
karakter terhadap sahabat Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, dan itu pun menjadi dusta
atas nama sahabat nabi dan merupakan celaan
terhadap mereka. Dan, mencela sahabat nabi
tidaklah sama dengan mencela manusia
kebanyakan. Wal ‘Iyadzu billah.
Wallahu A’lam
Kisah anak Durhaka Alqomah, benarkah?
Kisah ini sering kita dengar disampaikan oleh
guru-guru agama di surau dan di sekolah, untuk
mendidik anak-anak agar mereka tidak
berdurhaka kepada kedua orang tua.
Demikian ini bunyi haditsnya:
ﻦﻋﻭ ﺪﺒﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﺑ ﻲﺑﺃ ﻰﻓﻭﺃ ، ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ ، ﻝﺎﻗ : ﺎﻨﻛ
ﺪﻨﻋ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠَﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴَﻠَﻋ ﻢَّﻠَﺳﻭ ﻩﺎﺗﺄﻓ ﺕﺁ ، ﻝﺎﻘﻓ : ﺏﺎﺷ
ﺩﻮﺠﻳ ﻪﺴﻔﻨﺑ ، ﻞﻴﻗ ﻪﻟ : ﻞﻗ : ﻻ ﻪﻟﺇ ﻻﺇ .ﻪّﻠﻟﺍ ﻢﻠﻓ .ﻊﻄﺘﺴﻳ
ﻝﺎﻘﻓ : ﻥﺎﻛ ﻲﻠﺼﻳ ؟ ﻝﺎﻗ : .ﻢﻌﻧ ﺾﻬﻨﻓ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠَﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴَﻠَﻋ ﻢَّﻠَﺳﻭ ﺎﻨﻀﻬﻧﻭ ﻞﺧﺪﻓ ﻪﻌﻣ ﻰﻠﻋ ﺏﺎﺸﻟﺍ ، ﻝﺎﻘﻓ
ﻪﻟ : ﻞﻗ : ﻻ ﻪﻟﺇ ﻻﺇ ﻪّﻠﻟﺍ , ﻝﺎﻘﻓ : ﻻ ﻊﻴﻄﺘﺳﺃ ، ﻝﺎﻗ : ﻢﻟ ؟
ﻝﺎﻗ : ﻥﺎﻛ ﻖﻌﻳ .ﻪﺗﺪﻟﺍﻭ ﻝﺎﻘﻓ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠَﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴَﻠَﻋ ﻢَّﻠَﺳﻭ :
ﺔﻴﺣﺃ ﻪﺗﺪﻟﺍﻭ ؟ ﺍﻮﻟﺎﻗ : ﻢﻌﻧ ، ﻝﺎﻗ : ﺎﻫﻮﻋﺩﺍ , ﺕﺀﺎﺠﻓ ، ﻝﺎﻘﻓ :
ﺍﺬﻫ ﻚﻨﺑﺍ ؟ ﻝﺎﻘﻓ : ﻢﻌﻧ , ﻝﺎﻘﻓ ﺎﻬﻟ : ﺖﻳﺃﺭﺃ ﻮﻟ ﺭﺎﻧ ﺖﺠﺟﺃ
ﺔﻤﺨﺿ ، ﻞﻴﻘﻓ ﻚﻟ : ﻥﺇ ﺖﻌﻔﺷ ﻪﻟ ﺎﻨﻴﻠﺧ ﻪﻨﻋ ﻻﺇﻭ ﻩﺎﻨﻗﺮﺣ
ﻩﺬﻬﺑ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﺖﻨﻛﺃ ﻦﻴﻌﻔﺸﺗ ﻪﻟ ؟ ﻝﺎﻗ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠَﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴَﻠَﻋ ﻢَّﻠَﺳﻭ ، ﺍًﺫﺇ ﻊﻔﺷﺃ ، ﻝﺎﻗ : ﻱﺪﻬﺷﺄﻓ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﻨﻳﺪﻬﺷﺃﻭ
ﻚﻧﺃ ﺪﻗ ﺖﻴﺿﺭ ﻪﻨﻋ ، ﻝﺎﻗ : ﻢﻬﻠﻟﺍ ﻲﻧﺇ ﻙﺪﻬﺷﺃ ﺪﻬﺷﺃﻭ
ﻚﻟﻮﺳﺭ ﻲﻧﺃ ﺪﻗ ﺖﻴﺿﺭ ﻦﻋ ﻲﻨﺑﺍ , ﻝﺎﻘﻓ ﻪﻟ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠَﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴَﻠَﻋ ﻢَّﻠَﺳﻭ : ﺎﻳ ﻡﻼﻏ ، ﻞﻗ : ﻻ ﻪﻟﺇ ﻻﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﻩﺪﺣﻭ ﻻ
ﻚﻳﺮﺷ ﻪﻟ ، ﺪﻬﺷﺃﻭ ﻥﺃ ﺍًﺪﻤﺤﻣ ﻩﺪﺒﻋ ﻪﻟﻮﺳﺭﻭ , ﺎﻬﻟﺎﻘﻓ ، ﻝﺎﻘﻓ
ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠَﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻢَّﻠَﺳﻭ ﻪﻴَﻠَﻋ : ﺪﻤﺤﻟﺍ ﻪّﻠﻟ ﺎﻤﻳﺬﻟﺍ ﻩﺬﻘﻧﺃ
ﻲﺑ ﻦﻣ ﺭﺎﻨﻟﺍ .
Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami
pernah berada bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam lalu datanglah seseorang, ia berkata,
"Ada seorang pemuda yang nafasnya hampir
putus, lalu dikatakan kepadanya, ucapkanlah
Laa ilaaha illallah,akan tetapi ia tidak sanggup
mengucapkannya." Beliau bertanya kepada
orang itu," Apakah anak muda itu masih
menjalankan shalat?" Jawab orang itu,"Ya." Lalu
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bangkit
berdiri dan kami pun berdiri besama beliau,
kemudian beliau masuk menemui anak muda
itu, beliau bersabda kepadanya,"Ucapkan Laa
ilaaha illallah." Anak muda itu menjawab, "Saya
tidak sanggup." Beliau bertanya, "Kenapa?"
Dijawab oleh orang lain, "Dia telah durhaka
kepada ibunya." Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam bertanya, "Apakah ibunya masih hidup?"
Mereka menjawab, "Ya". Beliau bersabda,
"Panggillah ibunya kemari," Lalu datanglah
ibunya, maka belaiu bersabda, "Ini anakmu?"
Jawabnya, "Ya." Beliau bersabda lagi kepadanya,
"Bagaimana pandanganmu kalau sekiranya
dibuat api unggun yang besar lalu dikatakan
kepadamu: Jika engkau memberikan syafa'atmu
(yaitu memaafkannya, pen) kepadanya niscaya
akan kami lepaskan dia, dan jika tidak pasti kami
akan membakarnya dengan api, apakah engkau
mau memberikan syafa'at kepadanya?"
Perempuan itu menjawab, "Kalau begitu, aku
akan memberikan syafa'at kepadanya." Beliau
bersabda," Maka Jadikanlah Allah sebagai
saksinya dan jadikanlah aku sebagai saksinya
sesungguhnya engkau telah meridhai anakmu."
Perempuan itu berkata, "Ya Allah sesungguhnya
aku menjadikan Engkau sebagai saksi dan aku
menjadikan RasulMu sebagai saksi sesungguhnya
aku telah meridhai anakku". Kemudia Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada
anak muda itu, "Wahai anak muda ucapkanlah
Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa
asyhadu anna muhammada 'abduhu wa
rasuluhu." Lalu anak muda itupun dapat
mengucapkannya. Maka bersabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Segala puji bagi
Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari api
neraka, lantaran diriku.”
Imam Al Bushiri Rahimahullah mengomentari
hadits ini:
ﻩﺍﻭﺭ ﺪﻤﺣﺃ ﻦﺑ ﻊﻴﻨﻣ ، ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍﻭ ﻆﻔﻠﻟﺍﻭ ﻪﻟ ، ﺪﺒﻋﻭ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﺑ
ﺪﻤﺣﺃ ﻦﺑ ﻞﺒﻨﺣ ، ﻝﺎﻗﻭ : ﻢﻟ ﺙﺪﺤﻳ ﻲﺑﺃ ﺍﺬﻬﺑ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ ، ﺏﺮﺿ
ﻪﻴﻠﻋ ﻦﻣ ﻪﺑﺎﺘﻛ ﻪﻧﻷ ﻢﻟ ﺽﺮﻳ ﺚﻳﺪﺣ ﺪﺋﺎﻓ ﻦﺑ ﺪﺒﻋ ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ،
ﻥﺎﻛﻭ ﻩﺪﻨﻋ ﻙﻭﺮﺘﻣ .ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ
ُﺖﻠﻗ : ﻪﻔﻌﺿﻭ ﻦﺑﺍ ﻦﻴﻌﻣ ﻮﺑﺃﻭ ﻢﺗﺎﺣ ، ﻮﺑﺃﻭ ﺔﻋﺭﺯ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ ،
ﻮﺑﺃﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ، ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﻢﻫﺮﻴﻏﻭ ، ﻝﺎﻗﻭ ﻢﻛﺎﺤﻟﺍ :
ﻯﻭﺭ ﻦﻋ ﻦﺑﺍ ﻲﺑﺃ ﻰﻓﻭﺃ ﺚﻳﺩﺎﺣﺃ ﺔﻋﻮﺿﻮﻣ .
Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, Ath
Thabarani –dan ini adalah lafaz miliknya-, dan
Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata:
“Ayahku (Imam Ahmad) belum pernah
membicarakan hadits ini, Beliau
menghilangkannya dari kitabnya, karena beliau
tidak ridha dengan hadits Faaid bin
Abdurrahman. Menurutnya (Imam Ahmad),
Faaid adalah matrukul hadits – haditsnya
ditinggalkan.
Aku (Al Bushiri) berkata: “Dia didhaifkan oleh
Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al Bukhari,
Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmidzi, dan selain
mereka. Al Hakim berkata: diriwayatkan dari
Ibnu Abi ‘Aufa hadits-hadits palsu.” (Imam Al
Bushiri, Az Zawaid, No. 5039)
Imam Al Haitsami juga mengatakan demikian:
ﻩﺍﻭﺭ ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ ﺪﻤﺣﺃﻭ ﺭﺎﺼﺘﺧﺄﺑ ﺮﻴﺜﻛ ﻪﻴﻓﻭ ﺪﺋﺎﻓ ﻮﺑﺃ ﺀﺎﻗﺭﻮﻟﺍ
ﻮﻫﻭ ﻙﻭﺮﺘﻣ
Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dan Ahmad
dengan banyak diringkas, dan di dalam sanadnya
terdapat Faaid bin Abdurrahman Abu Al
Waraqa’, dan dia adalah matruk. (Majma’ Az
Zawaid, 8/148)
Syaikh Al Albani mengatakan tentang hadits ini:
dhaif jiddan. (Dhaif Targhib wat Tarhib, No.
1487)
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa hadits ini
tidak sah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam. Dalam sanadnya terdapat Faaid. Imam
Ahmad bin Hambal mengatakan: matrukul
hadits. Yahya mengatakan: “Bukan apa-apa.”
Ibnu Hibban mengatakan: “tidak boleh berhujjah
dengannya.” Al ‘Uqaili mengatakan: “Tidak ada
yang menjadi mutaba’ah (penguat) hadits ini,
kecuali dari orang yang seperti dia juga.”
Dalam sanadnya juga terdapat Daud bin
Ibrahim. Imam Abu Hatim mengatakan: Dia
berdusta. (Lihat Al Maudhu’at, 3/87)
Maka jelaslah bahwa hadits ini tidak sah
disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diterangkan
para imam muhadditsin.
Catatan:
Al Qamah adalah sahabat Nabi, dan belum
pernah ada riwayat shahih yang menunjukkan
bahwa sahabat nabi durhaka kepada orang
tuanya, apalagi terhadap ibu mereka. Hadits ini
pun juga menjadi pembunuhan karakter
terhadap kepribadian sahabat nabi.
Selain itu, masih banyak cara untuk mendidik
manusia untuk berbakti kepada orang tua
mereka, yaitu dengan ayat-ayat Al Quran dan
hadits-hadits yang shahih. Maka, cukupkanlah
diri kita dengan keduanya, bukan kisah-kisah
yang tidak jelas kebenarannya.
Sekian. Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa
‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain
Farid Numan Hasan
Menghadapi Para Pendengki
Menghadapi Para Pendengki
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Menyeru manusia kepada jalan Allah Subhanahu
wa Ta’ala, ibarat perdagangan. Seorang yang
berdagang pasti memiliki pesaing. Ada pesaing
yang sehat dan ada pula yang hasud (dengki). Si
pendengki akan melakukan upaya apa saja untuk
menggembosi pedagang lain yang lebih laku. Ia
katakan kepada manusia: hati-hati dengan
pedagang itu, barang dagangannya syubhat, tidak
berkualitas, tidak orisinil, dan lain-lain, dengan
tujuan pelanggan beralih kepadanya.
Begitu pula segala macam bentuk fitnah, tuhmah
(tuduhan), tha’nah (tikaman), yang dialami
jamaah da’wah dan tokoh-tokohnya. Sayangnya
semua itu bukan hanya datang dari kaum
sekuler yang anti agama, tetapi juga sesama
pejuang Islam yang memiliki bendera dan seruan
yang sama. Lalu bagaimana para da’i
menyikapinya?
Berikut akan kami kutip nasihat Syaikh Dr. ’Aidh
Abdullah Al Qarny hafizhahullah dari buku
Silakan Terpesona, hal. 187. Cet.3, Penerbit
Sahara Publishers. Jakarta, Juni 2005. Beliau
menulis:
Bagaimanapun Anda berbuat baik kepada orang
yang hasud, misalnya membawakan makanan
dan minuman kepadanya, memakaikan
pakaiannya, membawakan air wudhunya,
menyikatkan permadaninya, membersihkan
rumahnya, dan lain-lain, Anda akan tetap
dianggapnya sebagai musuh. Mengapa
demikian? Sebab, hal-hal yang menjadi pemicu
permusuhan dengannya itu masih melekat pada
diri Anda, yaitu keutamaan, ilmu pengetahuan,
tata krama, harta, atau jabatan Anda. Bagaimana
pun Anda tidak akan dapat berdamai dengannya
selama Anda belum menanggalkan karunia-
karunia tersebut dari diri Anda. Orang yang iri
hati akan selalu menunggu-nunggu saat Anda
terpeleset, menanti-nanti kapan Anda terjatuh,
dan berangan-angan suatu saat Anda tergelincir.
Hari terbaik baginya adalah hari Anda jatuh
sakit, malam terindah baginya adalah malam
Anda jatuh miskin, dan saat-saat paling
membahagiakan baginya adalah hari Anda
tertimpa bencana, dan waktu yang paling
disukainya adalah hari Dia melihat Anda gelisah,
resah, sedih, dan rapuh.
Momen yang paling menyiksanya adalah ketika
ia melihat Anda menjadi kaya raya. Berita paling
menyedihkannya adalah ketika Anda meraih
keberuntungan dan menjadi orang terhormat.
Dan bencana paling besar baginya adalah ketika
Anda mendapat promosi.
Tawa Anda adalah tangisnya, pesta Anda adalah
upacara kematiannya, dan keberhasilan Anda
adalah kegagalannya.
Dia akan melupakan segala-galanya tentang diri
Anda, kecuali kesalahan-kesalahan Anda. Dia
tidak memandang apa pun kepada diri Anda,
kecuali pada kekurangan-kekurangan Anda.
Kesalahan Anda yang kecil, baginya lebih besar
daripada gunung Uhud. Dosa Anda yang sepele,
menurutnya lebih berat daripada gunung
Tsahlan. Meskipun Anda lebih fasih daripada
Sahban, baginya Anda lebih gagap daripada
Baqil. Meskipun Anda lebih dermawan daripada
Hatim, baginya Anda lebih kikir darpada Madir.
Meskipun Anda lebih cerdas daripada Asy Syafi’i,
dia memandang Anda lebih bodoh dari pada
Habnaqah.
Orang yang memuji Anda di hadapannya
dianggapnya pendusta. Orang yang menyanjung
Anda di dekatnya dianggapnya orang munafik.
Orang yang memuji Anda di majelisnya
dianggapnya orang rendah yang tak tahu etika.
Sebaliknya, dia mempercayai orang yang
mencela Anda, menyukai orang yang membenci
Anda, mendekati orang yang memusuhi Anda,
menolong orang yang tidak menyukai dan tidak
akrab dengan Anda.
Warna putih menurut pandangan mata Anda,
terlihat hitam baginya. Siang dalam penglihatan
Anda, malam dalam pandangannya.
Maka dari itu, janganlah Anda menjadikannya
sebagai hakim dalam perkara Anda dengan
orang lain, karena dia telah memvonis Anda
bersalah sebelum mendengar tuntutan dan
melihat bukti-bukti. Janganlah Anda
membocorkan rahasia kepadanya, karena dia
sangat bersemangat menyebarkan dan
menyiarkannya. Ia menyimpan kekeliruan Anda
sampai hari ia membutuhkannya dan mencatat
kesalahan Anda sampai hari ia memerlukannya.
Cara menghadapinya hanyalah menghindari dan
meninggalkannya, menghilang dari
pandangannya, menjauhi rumahnya, dan
menyingkir dari tempatnya. Sebab, dia
sebenarnya adalah sang penindas yang
berpenampilan orang yang tertindas. Tak usah
Anda membalasnya, sudah cukup baginya
kepahitan di kerongkongannya, duka nestapa
yang dialaminya, kesedihan yang
merundungnya, dan kecelakaan yang
dirasakannya.
Andalah yang membuatnya sakit dan menderita;
andalah yang membuatnya tidak bisa tidur dan
gundah gulana; andalah yang mendatangkan
kegelisahan, kesedihan, kelelahan, dan keletihan
padanya.
Aku berhasil, maka sujudlah orang yang dulu
mencela diriku
Dia tidak kucela, itulah pemaafan dan
penghinaanku baginya
Itu juga yang kualami di antara keluarga dan
orang sebangsaku
Sebab, barang yang berharga memang aneh di
mana saja berada
Orang yang iri pada kebaikanku, berdusta di
belakangku
Berghibah sembunyi-sembunyi, memuji-muji di
depan mata
Demikian nasihat dari Syaikh Dr. ’Aidh al Qarny
hafizhahullah
Sungguh, kedengkian adalah penyakit mematikan
bagi pengidapnya. Hatinya sempit, jiwanya
bergoncang, pikiran pun buram, karena semua
telah diliputi rasa khawatir terhadap kemuliaan
dan kemajuan orang lain, lalu sedih terhadap
kebahagian orang lain, dan marah terhadap
pujian yang diterima mereka.
Ia menolak dan membantah ketika ada ulama
atau tokoh yang memberi kesaksian positif
terhadap aktivis da’wah lain. Ia cari-cari alasan
agar kesaksian itu menjadi mentah dan tidak
berharga. Sungguh betapa lelah dan payahnya
orang seperti itu. Orang-orang yang disebutnya
ahli bid’ah, ternyata disebut Ahlus Sunnah oleh
para ulama, tokoh yang disebutnya sebagai
teroris dan khawarij, ternyata disebut mujahid
yang syahid oleh para ulama. Akhirnya, ia hidup
hingga matinya diliputi kebencian, angkara
murka, dan tanpa kasih sayang sesama muslim,
kecuali yang dirahmati oleh Allah ’Azza wa Jalla
untuk berubah.
Di mana saja berada, orang-orang seperti ini
menjadi kerikil dalam sepatu bagi saudaranya
sesama muslim. Kecil tetapi mengganggu, atau
seperti kutil, kecil tetapi merusak pemandangan.
Kritik yang dilakukan bukan didasari cinta dan
ilmu, tetapi amarah, dendam, dan pelampiasan
hawa nafsu. Semua akan dilakukan, semua
menjadi sarana, semua yang menjadi musuh
pada masa lalu menjadi kawan masa kini, ....
karena satu tujuan, satu target dan sasaran,
kehancuran da’wah dan tokoh-tokohnya.
Dengki tidaklah memandang usia dan tempat, ia
bisa diidap siapa saja dan hidup di mana saja.
Orang yang menjadi korban juga tidak
memandang usia dan posisi, siapa saja pernah
menjadi sasaran kedengkian. Baik itu jamaah,
ulama, da’i, politisi, tokoh negara, guru,
pedagang, dan sebagainya. Maka carilah ridha
Allah ’Azza wa Jalla dalam berda’wah, jangan
hiraukan ucapan yang melemahkan, tuduhan
yang menggoncangkan, dan fitnah yang
membingungkan, karena ketika Anda
menjadikan Allah ’Azza wa Jalla sebagai satu-
satunya tujuan dan tempat bersandar, maka
musuh-musuhmu akan tidak bisa berbuat apa-
apa kecuali celaka bagi dirinya sendiri.
Wallahu A’lam wa Lillahil ’Izzah
(Farid Nu’man, April 2007, dengan beberapa
editan. Pernah dimuat majalah Tatsqif 2007)
Langganan:
Postingan (Atom)




