I Didn‘t Mean To...
Pernahkah suatu kali kita menemui bahwa ternyata
secara tak sengaja telah tersakiti hati orang-orang lain di sekitar kita. Kita melangkah memulai hari tanpa
mengerti bahwa kemarin, dua hari lalu, atau hari-hari
sebelumnya lagi, entah berapa banyak orang yang tak
berkenan dengan apa yang telah kita lakukan. Walau
tanpa sadar, walau tak bermaksud demikian, namun hati
yang terlanjur tersakiti, sulit tuk dipulihkan lagi.
Suatu kali, saat menjalani tingkat pertama perkuliahan,
seseorang pernah berkata pada saya, "Kamu galak banget
ya?" Ups! Saat itu saya benar-benar kaget. Galak? Ya,
mungkin juga sih. Rasanya saya memang tidak pernah
seperti si A, teman saya, yang bisa dengan ramainya
berkicau menyapa setiap orang yang ia lewati di lorong
kampus. Kemudian saya pun bertanya lebih lanjut,
mencoba memahami "complain" yang saya terima hari
itu.
Teringat waktu kelas dua SMU dulu. Saat saya dan
teman-teman lain menjadi pengurus Rohis SMU.
Berkutat dengan pelajaran, sekaligus aktivitas
kepengurusan, setiap hari rasanya ada saja bahan rapat
sepulang sekolah. Capek? Sudah pasti. Tapi entah
kenapa saya menyukai semua aktifitas itu. Sepertinya
bila hari belum gelap, belum waktunya untuk pulang ke
rumah. Tanpa sadar, aktifitas ini itu di sekolah serta
tuntutan harus mencapai nilai-nilai yang baik, plus
beberapa permasalahan yang juga saya hadapi di rumah,
membuat sedikit tekanan yang akhirnya terbawa pada
perilaku. Saya mungkin tak menyadari, tapi tidak dengan
yang lain.
Hari itu, saya dan teman-teman sedang duduk-duduk di
depan mushola sekolah. Tiba-tiba teman saya
memanggil, "Kamu dicariin tuh, sama anak kelas 1-5."
Saya menoleh ke belakang, rupanya sedari tadi sudah
berdiri dua orang anak kelas satu. Dua-duanya saya
kenal, mereka anak-anak kelas satu yang rajin
menghadiri acara Rohis tiap Jumat. "Kenapa, dek?" tegur
saya. Mereka mendekat, salah satunya menyodorkan
sebuah buku, "Ng... ini kak, mau kembaliin bukunya.
Maaf kelamaan minjemnya," katanya dengan suara
sangat pelan.
Saya mengangguk sambil tersenyum kecil,
dan mengambil buku tersebut. Mereka lantas lekas pergi
setelah mengucapkan salam. Kemudian seorang teman
saya yang lain berkata, "Eh, kemarin mereka nanya ke
aku, tentang kamu." Saya menatapnya heran, "Tanya
apa?" "mereka tanya, "Kakak yang itu, maksudnya
kamu, galak nggak sih?" Saya terhenyak. Pantas, tadi
tampaknya mereka menghampiri dengan raut takut-takut
dan suara nyaris tak terdengar. Saya berusaha keras
mengingat-ingat, apa sih yang sudah saya lakukan
sampai-sampai adik kelas takut kepada saya. Lalu saya
hanya bisa nyengir pahit, karena saya
tak berhasil mengingat apapun.
Pernahkah kita menyadari bahwa bisa jadi hari ini kita
telah mengecewakan banyak orang? Kita mengira bahwa
hari ini telah dilewati dengan lancar tanpa gangguan dan
kita akhiri hari dengan tidur nyenyak. Namun ternyata
tadi pagi, saat kita lupa mencium tangan orang tua untuk
pamit, terbersit sedikit kecewa di hati mereka. Tadi pagi,
saat membayar ongkos bis, kita memberikannya dengan
sodoran yang kasar hingga pak kondektur bis bertambah
lelah dan penatnya bahkan merasa terhina. Tadi pagi,
saat masuk ruangan kantor, kita lupa menyapa dan
memberi salam dan senyum pada pak satpam dan
beberapa teman yang sudah datang, hingga yang kita
suguhkan hanyalah wajah lelah sehabis turun naik bis
dan kerut kening pertanda banyak kerjaan kantor yang
harus diselesaikan hari itu.
Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa sedikit kesan tak
enak yang orang lain tangkap dari tingkah laku kita,
dapat membekas begitu dalam tanpa kita menyadarinya.
Membuat mereka merasa sedih, kecewa, kesal, atau
bahkan marah pada kita. Tanpa kita menyadari, bahwa
hari itu telah kita lewati dengan menyakiti hati begitu
banyak orang. Dan saat hati-hati mereka telah luka,
rasanya tak lagi berarti permohonan maaf kita saat kita
ucapkan, "I didn't mean to..."
Seorang sahabat pada jaman Rasulullah SAW pernah
dijamin masuk surga sebab ia memiliki kebiasaan selalu
memaafkan dan melapangkan hati bagi setiap orang yang
mungkin telah menyakiti hatinya hari itu. Namun kita tak
pernah bisa memastikan, apakah memang kesalahan-
kesalahan kita -yang tak disadari itu- telah dimaafkan
oleh orang-orang yang telah sedih, kecewa, kesal, dan
marah pada kita. Kita tak pernah bisa memastikan,
sampai kita harus memohon pada mereka untuk memberi
maaf. Hingga tak lagi kesalahan-kesalahan itu
memberatkan diri kita di akhirat kelak. Walau kita pikir
itu kecil, walau sepertinya itu tak berarti banyak buat diri
kita.
Kesalahan yang tak disengaja, terkadang membuat kita
sendiri heran. Kapan ya saya melakukan hal itu? Benar
tidak ya, saya telah bersikap kasar padanya?
Ah, saya kan tidak bermaksud begitu.
I didn't mean to. Dan sekian
banyak pemaafan yang kita ukir untuk diri kita sendiri,
tanpa peduli apakah orang tersebut masih merasakan
sakitnya hingga kini.
Tak usahlah lagi alasan itu dicari. Mari mulai
memperbaiki, mulai saat ini. Sebab kita tak pernah
tahu kapan diri kita pernah menyakiti
Selasa, 08 September 2009
Senin, 07 September 2009
AIR MATA RASULULLAH SAW ...
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru
mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimahlembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan
yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian
wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah
yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,
" kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama
menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah
dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di
hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang
amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak
membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril
lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku
kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan
syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh
Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut
ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan
Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak
bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali
segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati,
wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan
peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat
saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii,
ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa
salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita
mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimahlembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan
yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian
wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah
yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,
" kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama
menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah
dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di
hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang
amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak
membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril
lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku
kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan
syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh
Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut
ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan
Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak
bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali
segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati,
wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan
peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat
saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii,
ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa
salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita
Minggu, 06 September 2009
Poligami Dari Berbagai Sisi
"Dan jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil kepada anak-anak
(perempuan) yatim maka kawinlah dengan perempuan yang
menyenangkan hatimu dua dan tiga dan empat. Jika kamu khawatir
tidak dapat berbuat adil, maka kawinilah seorang saja, atau ambillah
budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat agar
tidak melanggar yang benar." (QS. 4:3).
Sebab Turunnya Ayat
Bukhari, Abu Daud, Nasa'i dan Tirmizi dari Urwah bin
Zubair, bahwa ia bertanya kepada Aisyah, istri Nabi Saw
tentang ayat-ayat tersebut lalu jawabnya: "Wahai anak
saudara perempuanku, yatim disini maksudnya adalah
anak perempuan yatim yang ada dibawah asuhan
walinya punya harta kekayaan bercampur dengan harta
kekayaannya, dan hartanya serta kecantikannya membuat
pengasuh anak yatim ini senang padanya lalu ia ingin
menjadikan perempuan yatim ini sebagai istrinya, tapi
tidak mau memberi mas kawin kepadanya dengan adil,
yaitu memberikan mas kawin yang sama dengan mas
kawin yang diberikan kepada perempuan lain. Maka
pengasuh anak yatim seperti ini dilarang mengawini
mereka kecuali mau berlaku adil. Jika tidak dapat
berlaku adil, mereka disuruh kawin dengan perempuan
lain yang disenanginya. (Sabiq, Sayyid, 1978:166).
Tentang Adil
Allah Ta'ala MEMBOLEHKAN poligami dengan
batasan sampai 4 orang istri saja dan MEWAJIBKAN
berlaku adil kepada mereka dalam urusan makan, tempat
tinggal, pakaian, atau segala sesuatu yang bersifat
kebendaan tanpa membedakan antara istri yang kaya
atau miskin dari asal keturunan tinggi maupun rendah.
Bila suami khawatir berbuat zalim dan tidak dapat
memenuhi semua hak-hak mereka, maka diharamkan
berpoligami. Bila yang sanggup dipenuhinya hanya tiga
orang istri, maka haram beristri empat. Jika ia hanya
sanggup beristri dua, maka haram baginya mempunyai
tiga istri. Demikian seterusnya. (Sabiq, Sayyid,
1978:171)
Dari Abu Hurairah Nabi Saw bersabda: "Barang siapa
punya dua istri lalu memberatkan salah satunya, maka ia
akan datang di hari kiamat dengan bahunya miring".
(HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i dan Ibnu Majah)
Firman Allah: "Dan tidaklah kamu sanggup berlaku adil
kepada istri-istrimu sekalipun kamu sangat
menghendakinya. Karena itu janganlah kamu miring
semiring-miringnya kepada salah seorang istrimu,
sedangkan yang lain kau biarkan ibarat barang
tergantung." (QS 4:129)
Muhammad bin Sirrin berkata: Saya telah menanyakan
soal ayat ini kepada Ubaidah. Jawabnya: Yaitu dalam
cinta dan bersetubuh. (Sabiq, Sayyid, 1978:173).
Aisyah berkata: Rasulullah selalu membagi giliran sesama istrinya dengan adil. Dan beliau pernah berdoa:
"Ya Allah, Ini bagianku yang dapat kukerjakan. Karena
itu janganlah Engkau mencelaku tentang apa yang
Engkau kuasai sedang aku tidak menguasainya." Kata
Abu Daud: Yang dimaksud dengan Engkau kuasai tetapi
aku tidak kuasai yaitu "hati". (HR. Abu Daud, Tirmizi,
Nasa'i dan Ibnu Majah)
Hak Perempuan
Islam juga memberikan perempuan atau walinya untuk
mensyaratkan kepada suaminya agar dia tidak dimadu.
Jika syarat yang diberikan oleh istri ini dilakukan ketika
ijab qabul maka syarat ini sah dan mengikat, sehingga ia
berhak membatalkan perkawinannya jika syarat ini tidak
dipenuhi suaminya. Namun hak membatalkan
perkawinan ini hilang jika ia rela akan pelanggaran
suaminya. Demikian pendapat Imam Ahmad dan
dikuatkan Ibnu Taimiyah dan Ibul Qayyim. (Sabiq,
Sayyid, 1978:175)
Fakta-fakta yang patut dipertimbangkan:
1. Ketimpangan jumlah antara perempuan dan laki-laki
Di AS jumlah perempuan 8x lebih banyak dari laki-laki.
Di Guinea ada 122 perempuan untuk 100 laki-laki.
Setelah PD II, di Jerman jumlah perempuan adalah 7,3
juta lebih banyak dari laki-laki (3,3 jutanya adalah
janda). Banyak dari perempuan-perempuan itu yang
membutuhkan laki-laki bukan hanya sebagai
pendamping tapi juga sebagai pemberi nafkah keluarga.
Pasukan Sekutu (AS-Inggris) banyak yang memberikan
perempuan-perempuan itu rokok, cokelat dan roti
sebagai imbalan dari hubungan intim yang diberikan.
Seorang anak berumur 10 tahun pada saat mendengar
adanya pemberian semacam itu berharap ibunya bisa
mendapatkan laki-laki diantara pasukan sekutu itu
supaya mereka tidak kelaparan lagi (Frevert, 1998:263-
264).
Di AS ada krisis gender pada masyarakat kulit hitam. 1
dari 20 pria kulit hitam meninggal dunia sebelum
berumur 21 tahun. Bagi yang berumur 20-35, penyebab
kematian utama adalah pembunuhan. (Hare dan Here,
1989:25). Disamping itu banyak laki-laki kulit hitam
yang tidak punya pekerjaan, dipenjara atau kecanduan
obat (Harrre dan Here, 1989:26). Akibatnya 1 dari 4
perempuan kulit hitam, pada umur 40 tidak pernah
menikah, dan pada perempuan kulit putih terdapat 1 dari
10 perempuan tidak pernah menikah pada usia yang
sama (Kilbridge, 1994:94). Banyak perempuan kulit
hitam menjadi single mother sebelum usia 20 th. Akibat
ketimpangan dalam man-sharing, perempuan-perempuan
ini banyak yang kemudian menjalin hubungan selingkuh
dengan laki-laki yang sudah menikah (Kilbridge,
1994:95).
Jadi, sebetulnya mana yang lebih baik menjadi istri
kedua (ketiga atau keempat) yang sah dimata manusia
dan Allah, atau "prostitusi terselubung" seperti yang
dilakukan pasukan Sekutu (yang sebetulnya di
masyarakat kita juga mulai 'membudaya'?)
2. Praktek poligami
Sejak zaman dahulu pria ber-poligami. Para nabi juga,
contohnya nabi Ibrahim. Para Raja, contoh terdekat raja-
raja di Jawa. Jadi sebetulnya poligami itu bukan hal yang
aneh, tapi memang tidak semua laki-laki mampu untuk
poligami.
Banyak perempuan muda Afrika, baik Islam maupun
Kristen, lebih suka dinikahi laki-laki yang sudah
menikah karena telah terbukti dapat bertanggung jawab.
Sebuah penelitian terhadap perempuan berumur 15-59
tahun, yang dilakukan di kota terbesar kedua di Nigeria
menunjukkan bahwa 60% perempuan akan senang kalau
suami mereka beristri lagi. Hanya 23% yang
mengungkapkan tidak suka ide poligami. Penelitian di
Kenya menyatakan 76% perempuan melihat poligami itu
positif. Penelitian di pedesaan Kenya menunjukkan 25
dari 27 perempuan menganggap poligami lebih baik dari
monogamy. Perempuan-perempuan itu menganggap
poligami dapat menguntungkan jika istri-istri itu
bekerjasama satu sama lain (Kilbridge 1994:108-109).
3. Setuju pada poligami
Dr. M. Yusuf Musa berkata: Saya mengikuti Konferensi
Pemuda Internasional di Munich, Jerman Barat, 1948
dan membahas persoalan ketidakseimbangan jumlah
perempuan dan laki-laki. Usulan poligami pada awalnya
tidak disetujui. Namun setelah dikaji lebih mendalam,
peserta sependapat bahwa poigami adalah solusi.
Akhirnya poligami dimasukkan sebagai salah satu
rekomendasi peserta konferensi. Tahun 1949 saya
mendengar bahwa penduduk kota Bonn ibukota Jerman
Barat menuntut agar dalam undang-undang negara
dituangkan ketentuan yang membolehkan poligami.
(Sabiq, 1978:191)
Pada diskusi panel di Temple University, Philadelphia,
27 Januari 1993, dibicarakan tentang man-sharing/satu
laki-laki untuk beberapa wanita (Kilbridge, 1994:95-99).
Sebagian pembicara menganjurkan poligami sebagai
pemecahan masalah.
Tahun 1987, sebuah polling yang dilakukan koran
mahasiswa Universitas California di Berkeley
menanyakan para mahasiswa apakah setuju jika laki-laki
diperbolehkan secara hukum untuk memiliki lebih dari 1
istri untuk mengatasi keterbatasan jumlah calon
pengantin laki-laki di California. Hampir seluruh
mahasiswa yang mengikuti polling setuju. Salah seorang
mahasiswa perempuan mengatakan bahwa perkawinan
poligami akan memenuhi kebutuhan emosi dan fisiknya
di samping memberikan kebebasan yang lebih besar
daripada perkawinan monogamy (Lang, 1994:172).
Argumen yang sama dikemukakan perempuan Mormon
fundamentalis yang menjalani poligami di AS. Mereka
yakin poligami cara yang ideal bagi perempuan untuk
memiliki karir dan anak-anak karena istri-istri itu dapat
saling membantu dalam mengurus anak-anak (Kilbridge,
1994:72-73).
Poligami dalam Islam adalah persoalan kesepakatan
bersama. Tidak seorang pun yang dapat memaksa
perempuan untuk menikah dengan orang yang sudah
menikah. Seorang istri juga berhak untuk membuat
persyaratan bahwa suaminya tidak boleh memiliki
perempuan lain sebagai istri kedua (Sabiq, 1994:187-
188).
Ada hal yang patut kita cermati dari kata-kata Billy
Graham, seorang penginjil Kristen: "Ajaran Kristen tidak
kompromi pada persoalan poligami. Islam telah
mengijinkan poligami sebagai jalan keluar untuk
mengatasi penyakit-penyakit masyarakat dan telah
membolehkan dengan sewajarnya pada naluri manusia,
tetapi dalam kerangka hukum yang diatur ketat. Negara-
negara Kristen mempromosikan monogami besar-
besaran, tapi kenyataannya mereka sebetulnya poligami.
Setiap orang tahu permainan 'wanita simpanan' dalam
masyarakat Barat. Islam merupakan agama yang sangat
jujur dan memperbolehkan muslim untuk menikahi
perempuan lain jika dia terpaksa, tapi Islam melarang
dengan ketat semua bentuk percintaan terselubung untuk
menyelamatkan integritas moral masyarakat". (Doi,
1994:76).
Kalau nonmuslim saja bisa melihat ke-tawadzun-an
dalam masalah poligami ini, kenapa kita masih ribut?
Bukankah ini bukti luarbiasanya dan sempurnanya
Islam? Islam MEMBOLEHKAN poligami, dalam
beberapa kasus diatas bahkan bisa jadi SOLUSI. Hukum
menikah ada beberapa, bisa jadi WAJIB, MUBAH,
MAKRUH, bahkan HARAM. Dilihat kasus per kasus.
Poligami juga, tergantung setiap keluarga yang
menjalaninya.
4. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan
a. Adakalanya istri mandul atau menderita sakit yang tak
ada harapan sembuh, padahal suami ingin mempunyai
anak. Dengan keadaan seperti ini apakah lebih baik
suaminya dibiarkan menderita karena kondisi istrinya
dan ditimpakan seluruh penderitaan tadi kepada
suaminya seorang, atau dipandang lebih baik istrinya
diceraikan saja dan menderita dengan perceraian itu,
padahal ia masih menginginkan hidup berdampingan
dengan suaminya? Ataukah lebih baik poligami sebagai
suatu alternatif yang cukup win-win solution?
b. Kesanggupan laki-laki untuk berketurunan lebih besar
dari perempuan. Kesanggupan perempuan untuk
mempuanyai anak berakhir sekitar usia 45-50 tahun, sedang laki-laki sampai dengan lebih dari 60 tahun.
c. Ada segolongan laki-laki yang mempunyai dorongan
seksual sangat besar sehingga tidak puas dengan seorang
istri saja. Maka itu poligami bisa menjadi alternatif
pemecahan.
d. Terhindar dari lahirnya anak-anak di luar pernikahan.
Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Sosial Amerika
Serikat mencatat biaya yang ditanggung pembayar pajak
untuk anak-anak tidak sah adalah US $ 210 juta di tahun
1959 untuk sekitar 205 ribu anak. (Sabiq, Sayyid
1978:185-186)
Sebagai penegasan dan kesimpulan semoga kita sepakat
bahwa: Merupakan karunia dan rahmat Allah yang
menjadikan poligami bukan wajib dan bukan sunnat, tapi
DIBOLEHKAN dan dibatasi hingga empat saja. (Sabiq,
Sayyid 1978:179). Selain hak suami untuk beristri
sampai empat, istri juga berhak saat ijab qobul meminta
untuk tidak dimadu. Subhanallah, betapa luar biasa
adilnya Allah dalam mengatur masalah ini.
Dengan paparan ini, harapan kecil saya adalah adalah:
1. Yang sekaum dengan saya jangan langsung alergi
ketika berbicara poligami atau berkata
"Tidaaaaakkkkkkkkkk!!!" kepada suami saat suami
mengutarakan keinginannya untuk poligami.
2. Bagi kaum Adam, tolong jangan mengatakan ini
sunnah Nabi, dengan demikian harus diikuti, seperti
sunnah-sunnah Nabi yang lain. Tolong jangan mengikuti
hawa nafsu dan berlindung dibalik ayat.
3. Tidak perlu berbeda pendapat tentang poligami,
karena ini adalah hak masing-masing pasangan, yang
kondisinya bisa berbeda-beda. Bisa jadi bagi seseorang
poligami adalah suatu solusi, dan bagi orang yang lain
adalah petaka.
Literatur:
Doi, Abdul Rahman. 1994. Woman in Shari'ah. London : Ta-Ha
Publishers.
Frevert, Ute. 1988. Woman in Germany History : From Bourgeois
Emancipation to Sexual Liberation. New York: Berg Publishers.
Hare, Nathan and Julie Here (ed.). 1989. Crisis in Black Sexual
Politics. San Francisco : Black Think Thank.
Kilbridge, Philip L. 1994. Plural Marriage For Our Times. Westport
Conn : Brgin & Garvey.
Sabiq, Sayyid, 1978. Fiqhussunnah Jilid 6. Bandung : PT Alma'rif.
(perempuan) yatim maka kawinlah dengan perempuan yang
menyenangkan hatimu dua dan tiga dan empat. Jika kamu khawatir
tidak dapat berbuat adil, maka kawinilah seorang saja, atau ambillah
budak perempuan kamu. Demikian ini agar kamu lebih dekat agar
tidak melanggar yang benar." (QS. 4:3).
Sebab Turunnya Ayat
Bukhari, Abu Daud, Nasa'i dan Tirmizi dari Urwah bin
Zubair, bahwa ia bertanya kepada Aisyah, istri Nabi Saw
tentang ayat-ayat tersebut lalu jawabnya: "Wahai anak
saudara perempuanku, yatim disini maksudnya adalah
anak perempuan yatim yang ada dibawah asuhan
walinya punya harta kekayaan bercampur dengan harta
kekayaannya, dan hartanya serta kecantikannya membuat
pengasuh anak yatim ini senang padanya lalu ia ingin
menjadikan perempuan yatim ini sebagai istrinya, tapi
tidak mau memberi mas kawin kepadanya dengan adil,
yaitu memberikan mas kawin yang sama dengan mas
kawin yang diberikan kepada perempuan lain. Maka
pengasuh anak yatim seperti ini dilarang mengawini
mereka kecuali mau berlaku adil. Jika tidak dapat
berlaku adil, mereka disuruh kawin dengan perempuan
lain yang disenanginya. (Sabiq, Sayyid, 1978:166).
Tentang Adil
Allah Ta'ala MEMBOLEHKAN poligami dengan
batasan sampai 4 orang istri saja dan MEWAJIBKAN
berlaku adil kepada mereka dalam urusan makan, tempat
tinggal, pakaian, atau segala sesuatu yang bersifat
kebendaan tanpa membedakan antara istri yang kaya
atau miskin dari asal keturunan tinggi maupun rendah.
Bila suami khawatir berbuat zalim dan tidak dapat
memenuhi semua hak-hak mereka, maka diharamkan
berpoligami. Bila yang sanggup dipenuhinya hanya tiga
orang istri, maka haram beristri empat. Jika ia hanya
sanggup beristri dua, maka haram baginya mempunyai
tiga istri. Demikian seterusnya. (Sabiq, Sayyid,
1978:171)
Dari Abu Hurairah Nabi Saw bersabda: "Barang siapa
punya dua istri lalu memberatkan salah satunya, maka ia
akan datang di hari kiamat dengan bahunya miring".
(HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i dan Ibnu Majah)
Firman Allah: "Dan tidaklah kamu sanggup berlaku adil
kepada istri-istrimu sekalipun kamu sangat
menghendakinya. Karena itu janganlah kamu miring
semiring-miringnya kepada salah seorang istrimu,
sedangkan yang lain kau biarkan ibarat barang
tergantung." (QS 4:129)
Muhammad bin Sirrin berkata: Saya telah menanyakan
soal ayat ini kepada Ubaidah. Jawabnya: Yaitu dalam
cinta dan bersetubuh. (Sabiq, Sayyid, 1978:173).
Aisyah berkata: Rasulullah selalu membagi giliran sesama istrinya dengan adil. Dan beliau pernah berdoa:
"Ya Allah, Ini bagianku yang dapat kukerjakan. Karena
itu janganlah Engkau mencelaku tentang apa yang
Engkau kuasai sedang aku tidak menguasainya." Kata
Abu Daud: Yang dimaksud dengan Engkau kuasai tetapi
aku tidak kuasai yaitu "hati". (HR. Abu Daud, Tirmizi,
Nasa'i dan Ibnu Majah)
Hak Perempuan
Islam juga memberikan perempuan atau walinya untuk
mensyaratkan kepada suaminya agar dia tidak dimadu.
Jika syarat yang diberikan oleh istri ini dilakukan ketika
ijab qabul maka syarat ini sah dan mengikat, sehingga ia
berhak membatalkan perkawinannya jika syarat ini tidak
dipenuhi suaminya. Namun hak membatalkan
perkawinan ini hilang jika ia rela akan pelanggaran
suaminya. Demikian pendapat Imam Ahmad dan
dikuatkan Ibnu Taimiyah dan Ibul Qayyim. (Sabiq,
Sayyid, 1978:175)
Fakta-fakta yang patut dipertimbangkan:
1. Ketimpangan jumlah antara perempuan dan laki-laki
Di AS jumlah perempuan 8x lebih banyak dari laki-laki.
Di Guinea ada 122 perempuan untuk 100 laki-laki.
Setelah PD II, di Jerman jumlah perempuan adalah 7,3
juta lebih banyak dari laki-laki (3,3 jutanya adalah
janda). Banyak dari perempuan-perempuan itu yang
membutuhkan laki-laki bukan hanya sebagai
pendamping tapi juga sebagai pemberi nafkah keluarga.
Pasukan Sekutu (AS-Inggris) banyak yang memberikan
perempuan-perempuan itu rokok, cokelat dan roti
sebagai imbalan dari hubungan intim yang diberikan.
Seorang anak berumur 10 tahun pada saat mendengar
adanya pemberian semacam itu berharap ibunya bisa
mendapatkan laki-laki diantara pasukan sekutu itu
supaya mereka tidak kelaparan lagi (Frevert, 1998:263-
264).
Di AS ada krisis gender pada masyarakat kulit hitam. 1
dari 20 pria kulit hitam meninggal dunia sebelum
berumur 21 tahun. Bagi yang berumur 20-35, penyebab
kematian utama adalah pembunuhan. (Hare dan Here,
1989:25). Disamping itu banyak laki-laki kulit hitam
yang tidak punya pekerjaan, dipenjara atau kecanduan
obat (Harrre dan Here, 1989:26). Akibatnya 1 dari 4
perempuan kulit hitam, pada umur 40 tidak pernah
menikah, dan pada perempuan kulit putih terdapat 1 dari
10 perempuan tidak pernah menikah pada usia yang
sama (Kilbridge, 1994:94). Banyak perempuan kulit
hitam menjadi single mother sebelum usia 20 th. Akibat
ketimpangan dalam man-sharing, perempuan-perempuan
ini banyak yang kemudian menjalin hubungan selingkuh
dengan laki-laki yang sudah menikah (Kilbridge,
1994:95).
Jadi, sebetulnya mana yang lebih baik menjadi istri
kedua (ketiga atau keempat) yang sah dimata manusia
dan Allah, atau "prostitusi terselubung" seperti yang
dilakukan pasukan Sekutu (yang sebetulnya di
masyarakat kita juga mulai 'membudaya'?)
2. Praktek poligami
Sejak zaman dahulu pria ber-poligami. Para nabi juga,
contohnya nabi Ibrahim. Para Raja, contoh terdekat raja-
raja di Jawa. Jadi sebetulnya poligami itu bukan hal yang
aneh, tapi memang tidak semua laki-laki mampu untuk
poligami.
Banyak perempuan muda Afrika, baik Islam maupun
Kristen, lebih suka dinikahi laki-laki yang sudah
menikah karena telah terbukti dapat bertanggung jawab.
Sebuah penelitian terhadap perempuan berumur 15-59
tahun, yang dilakukan di kota terbesar kedua di Nigeria
menunjukkan bahwa 60% perempuan akan senang kalau
suami mereka beristri lagi. Hanya 23% yang
mengungkapkan tidak suka ide poligami. Penelitian di
Kenya menyatakan 76% perempuan melihat poligami itu
positif. Penelitian di pedesaan Kenya menunjukkan 25
dari 27 perempuan menganggap poligami lebih baik dari
monogamy. Perempuan-perempuan itu menganggap
poligami dapat menguntungkan jika istri-istri itu
bekerjasama satu sama lain (Kilbridge 1994:108-109).
3. Setuju pada poligami
Dr. M. Yusuf Musa berkata: Saya mengikuti Konferensi
Pemuda Internasional di Munich, Jerman Barat, 1948
dan membahas persoalan ketidakseimbangan jumlah
perempuan dan laki-laki. Usulan poligami pada awalnya
tidak disetujui. Namun setelah dikaji lebih mendalam,
peserta sependapat bahwa poigami adalah solusi.
Akhirnya poligami dimasukkan sebagai salah satu
rekomendasi peserta konferensi. Tahun 1949 saya
mendengar bahwa penduduk kota Bonn ibukota Jerman
Barat menuntut agar dalam undang-undang negara
dituangkan ketentuan yang membolehkan poligami.
(Sabiq, 1978:191)
Pada diskusi panel di Temple University, Philadelphia,
27 Januari 1993, dibicarakan tentang man-sharing/satu
laki-laki untuk beberapa wanita (Kilbridge, 1994:95-99).
Sebagian pembicara menganjurkan poligami sebagai
pemecahan masalah.
Tahun 1987, sebuah polling yang dilakukan koran
mahasiswa Universitas California di Berkeley
menanyakan para mahasiswa apakah setuju jika laki-laki
diperbolehkan secara hukum untuk memiliki lebih dari 1
istri untuk mengatasi keterbatasan jumlah calon
pengantin laki-laki di California. Hampir seluruh
mahasiswa yang mengikuti polling setuju. Salah seorang
mahasiswa perempuan mengatakan bahwa perkawinan
poligami akan memenuhi kebutuhan emosi dan fisiknya
di samping memberikan kebebasan yang lebih besar
daripada perkawinan monogamy (Lang, 1994:172).
Argumen yang sama dikemukakan perempuan Mormon
fundamentalis yang menjalani poligami di AS. Mereka
yakin poligami cara yang ideal bagi perempuan untuk
memiliki karir dan anak-anak karena istri-istri itu dapat
saling membantu dalam mengurus anak-anak (Kilbridge,
1994:72-73).
Poligami dalam Islam adalah persoalan kesepakatan
bersama. Tidak seorang pun yang dapat memaksa
perempuan untuk menikah dengan orang yang sudah
menikah. Seorang istri juga berhak untuk membuat
persyaratan bahwa suaminya tidak boleh memiliki
perempuan lain sebagai istri kedua (Sabiq, 1994:187-
188).
Ada hal yang patut kita cermati dari kata-kata Billy
Graham, seorang penginjil Kristen: "Ajaran Kristen tidak
kompromi pada persoalan poligami. Islam telah
mengijinkan poligami sebagai jalan keluar untuk
mengatasi penyakit-penyakit masyarakat dan telah
membolehkan dengan sewajarnya pada naluri manusia,
tetapi dalam kerangka hukum yang diatur ketat. Negara-
negara Kristen mempromosikan monogami besar-
besaran, tapi kenyataannya mereka sebetulnya poligami.
Setiap orang tahu permainan 'wanita simpanan' dalam
masyarakat Barat. Islam merupakan agama yang sangat
jujur dan memperbolehkan muslim untuk menikahi
perempuan lain jika dia terpaksa, tapi Islam melarang
dengan ketat semua bentuk percintaan terselubung untuk
menyelamatkan integritas moral masyarakat". (Doi,
1994:76).
Kalau nonmuslim saja bisa melihat ke-tawadzun-an
dalam masalah poligami ini, kenapa kita masih ribut?
Bukankah ini bukti luarbiasanya dan sempurnanya
Islam? Islam MEMBOLEHKAN poligami, dalam
beberapa kasus diatas bahkan bisa jadi SOLUSI. Hukum
menikah ada beberapa, bisa jadi WAJIB, MUBAH,
MAKRUH, bahkan HARAM. Dilihat kasus per kasus.
Poligami juga, tergantung setiap keluarga yang
menjalaninya.
4. Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan
a. Adakalanya istri mandul atau menderita sakit yang tak
ada harapan sembuh, padahal suami ingin mempunyai
anak. Dengan keadaan seperti ini apakah lebih baik
suaminya dibiarkan menderita karena kondisi istrinya
dan ditimpakan seluruh penderitaan tadi kepada
suaminya seorang, atau dipandang lebih baik istrinya
diceraikan saja dan menderita dengan perceraian itu,
padahal ia masih menginginkan hidup berdampingan
dengan suaminya? Ataukah lebih baik poligami sebagai
suatu alternatif yang cukup win-win solution?
b. Kesanggupan laki-laki untuk berketurunan lebih besar
dari perempuan. Kesanggupan perempuan untuk
mempuanyai anak berakhir sekitar usia 45-50 tahun, sedang laki-laki sampai dengan lebih dari 60 tahun.
c. Ada segolongan laki-laki yang mempunyai dorongan
seksual sangat besar sehingga tidak puas dengan seorang
istri saja. Maka itu poligami bisa menjadi alternatif
pemecahan.
d. Terhindar dari lahirnya anak-anak di luar pernikahan.
Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Sosial Amerika
Serikat mencatat biaya yang ditanggung pembayar pajak
untuk anak-anak tidak sah adalah US $ 210 juta di tahun
1959 untuk sekitar 205 ribu anak. (Sabiq, Sayyid
1978:185-186)
Sebagai penegasan dan kesimpulan semoga kita sepakat
bahwa: Merupakan karunia dan rahmat Allah yang
menjadikan poligami bukan wajib dan bukan sunnat, tapi
DIBOLEHKAN dan dibatasi hingga empat saja. (Sabiq,
Sayyid 1978:179). Selain hak suami untuk beristri
sampai empat, istri juga berhak saat ijab qobul meminta
untuk tidak dimadu. Subhanallah, betapa luar biasa
adilnya Allah dalam mengatur masalah ini.
Dengan paparan ini, harapan kecil saya adalah adalah:
1. Yang sekaum dengan saya jangan langsung alergi
ketika berbicara poligami atau berkata
"Tidaaaaakkkkkkkkkk!!!" kepada suami saat suami
mengutarakan keinginannya untuk poligami.
2. Bagi kaum Adam, tolong jangan mengatakan ini
sunnah Nabi, dengan demikian harus diikuti, seperti
sunnah-sunnah Nabi yang lain. Tolong jangan mengikuti
hawa nafsu dan berlindung dibalik ayat.
3. Tidak perlu berbeda pendapat tentang poligami,
karena ini adalah hak masing-masing pasangan, yang
kondisinya bisa berbeda-beda. Bisa jadi bagi seseorang
poligami adalah suatu solusi, dan bagi orang yang lain
adalah petaka.
Literatur:
Doi, Abdul Rahman. 1994. Woman in Shari'ah. London : Ta-Ha
Publishers.
Frevert, Ute. 1988. Woman in Germany History : From Bourgeois
Emancipation to Sexual Liberation. New York: Berg Publishers.
Hare, Nathan and Julie Here (ed.). 1989. Crisis in Black Sexual
Politics. San Francisco : Black Think Thank.
Kilbridge, Philip L. 1994. Plural Marriage For Our Times. Westport
Conn : Brgin & Garvey.
Sabiq, Sayyid, 1978. Fiqhussunnah Jilid 6. Bandung : PT Alma'rif.
Jumat, 04 September 2009
Nasruddin dan Profesor
Pada suatu hari, seorang profesor berkunjung ke Desa
Hortu. Profesor itu sangat terkenal diseluruh negeri,
Konon, dia menguasai berbagai ilmu dengan sempurna.
Namun, Nasruddin meragukan hal itu. Dia ingin menguji
kehebatan profesor.
Ditemuinya profesor itu, katanya, "Tuan profesor, saya
akan mengajukan satu pertanyaan kepada Tuan. Kalau
tuan tidak menjawab, Tuan membayar saya sepuluh
dirham. Kemudian Tuan boleh mengajukan satu
pertanyaan kepada saya. Kalau saya tidak bisa
menjawab, saya akan membayar Tuan satu dirham.
Syarat itu cukup adil, mengingat Tuan seorang yang
terpelajar dan ahli berbagai hal, sedangkan pendidikan
saya tidak setinggi Tuan".
Sang profesor berpikir sejenak, lalu menyetujui usul itu.
Nasruddin tersenyum dan mengajukan pertanyaan,..
"Mahluk apakah yang mempunyai tiga kaki?"
Kembali sang Profesor berpikir, kali ini agak lama.
Akhirnya dia menyerah. Katanya. "Aku tidak tahu."
Lalu, dia memberi uang sepuluh dirham kepada
Nasruddin. Orang-orang yang berkerumun menonton
pertandingan itupun ikut berpikir, namun mereka tidak
bisa menemukan jawabannya.
Selanjutnya Profesor itu bertanya, "Nah, sekarang
giliranku bertanya. Makhluk apa yang berkaki tiga?"
"Saya pun tidak tahu, Profesor", kata Nasruddin sambil
segera menyerahkan kembali uang satu dirham, sedang
yang sembilan dirham sesisanya dia masukan
kekantongnya
Hortu. Profesor itu sangat terkenal diseluruh negeri,
Konon, dia menguasai berbagai ilmu dengan sempurna.
Namun, Nasruddin meragukan hal itu. Dia ingin menguji
kehebatan profesor.
Ditemuinya profesor itu, katanya, "Tuan profesor, saya
akan mengajukan satu pertanyaan kepada Tuan. Kalau
tuan tidak menjawab, Tuan membayar saya sepuluh
dirham. Kemudian Tuan boleh mengajukan satu
pertanyaan kepada saya. Kalau saya tidak bisa
menjawab, saya akan membayar Tuan satu dirham.
Syarat itu cukup adil, mengingat Tuan seorang yang
terpelajar dan ahli berbagai hal, sedangkan pendidikan
saya tidak setinggi Tuan".
Sang profesor berpikir sejenak, lalu menyetujui usul itu.
Nasruddin tersenyum dan mengajukan pertanyaan,..
"Mahluk apakah yang mempunyai tiga kaki?"
Kembali sang Profesor berpikir, kali ini agak lama.
Akhirnya dia menyerah. Katanya. "Aku tidak tahu."
Lalu, dia memberi uang sepuluh dirham kepada
Nasruddin. Orang-orang yang berkerumun menonton
pertandingan itupun ikut berpikir, namun mereka tidak
bisa menemukan jawabannya.
Selanjutnya Profesor itu bertanya, "Nah, sekarang
giliranku bertanya. Makhluk apa yang berkaki tiga?"
"Saya pun tidak tahu, Profesor", kata Nasruddin sambil
segera menyerahkan kembali uang satu dirham, sedang
yang sembilan dirham sesisanya dia masukan
kekantongnya
Kamis, 03 September 2009
Merindukan Sosok Umar bin Abdul Aziz
Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz
mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasehat.
Salah satu ulama tersebut, Hasan Al Bashri,
menasehatinya seperti ini : Anggaplah rakyat seperti
ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada
mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu,
peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan
saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau
menyayangi anakmu" Nasehat ini diingat dan dijalankan
dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul khalifah yang kita kenal dengan
kezuhudannya, yang terkenal dengan kehati-hatiannya
dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-
sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di
Baitul Mal yang kala itu sedang merebak bau harum
kesturi di sana.
Seorang petugas Baitul Mal terheran-heran dan bertanya,
"Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?"
Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau
memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya
dengan menghirup harum kesturi ini"
Ialah khalifah yang dijuluki oleh para ulama sebagai
Khulafaur Rasyidin ke-5, saking akhlaknya yang
mendekati para Khulafaur Rasyidin yang empat itu.
Sekarang? susah rasanya berharap, hanya sekedar
berharap pemimpin-pemimpin kita mau meniru Khalifah
Umar bin Abdul Aziz apalagi kita selalu mengingat dan
menjalankan nasehat dari Hasan Al Bashri. Kita, rakyat,
seperti kata Goenawan Muhamad, bahkan cuma
dianggap ada 5 tahun sekali, ketika masa pemilu tiba dan
masa kampanye mulai digelar. Kita, rakyat, cuma
diingat, diperhatikan, didatangi, dan didengarkan 5 tahun
sekali. Kita, rakyat, cuma dianggap sebagai ayah,
saudara, dan anak 5 tahun sekali.
Dan jika masa pemilu lewat, lewat pulalah masa-masa
'bulan madu' antara rakyat dan pemimpin itu. Lupalah
para pemimpin kita dengan janji-janjinya, dengan
program-programnya, Kalau orang Jawa bilang, "Masih
untung bisa ingat rakyat 5 tahun sekali, daripada tidak
sama sekali" Ya, memang masih untung bisa ingat rakyat
5 tahun sekali, tapi sayangnya dalam 'masa ingat rakyat'
yang cuma sekali-kalinya dalam 5 tahun itu pun, masih
saja pemimpin-pemimpin kita tega merendahkan dan
menghina harga diri rakyatnya.
Suara kita, hak pilih kita yang tak ternilai itu, konon
dalam demokrasi kedudukannya setara dengan suara
Tuhan, tega mereka beli dan hargai hanya dengan
beberapa ratus atau bahkan puluh ribu rupiah. Dan kita,
yang lebih sering berpikir pendek dan hanya bisa
berpikir besok makan apa dengan senang hati
menggadaikan masa depan negeri ini yang sebenarnya
adalah juga masa depan kita bersama di tangan
pemimpin-pemimpin yang sebenarnya tak lebih dari
sekedar tukang sogok, demi uang yang tak seberapa itu.
Sungguh luar biasa negeri ini. Yang tak pernah berkaca
dari kesalahan-kesalahan masa lalu hingga selalu
terperosok ke dalam lubang kedzaliman, yang tak pernah
mengambil teladan dari sikap orang-orang besar di masa
lalu, yang selalu salah memilih pemimpin-pemimpinnya.
Sungguh luar biasa negeri ini yang hanya untuk
menangani anak-anaknya yang protes dengan kebijakan-
kebijakan aneh yang kerap diambil ibunya, merasa perlu
untuk menurunkan puluhan bahkan ratusan aparat
bersenjata pentungan dan peluru karet, menjewer anak-
anak nakal itu dengan mendoakan mereka bahkan kalau
perlu menjebloskan mereka ke penjara dengan tuduhan
ini dan itu.
Sungguh luar biasa negeri ini, yang ketika rakyatnya di
daerah sampai harus mengorbankan nyawa demi
kehormatan dan harga diri partainya, pemimpinnya di
atas malah sibuk menjual aset-aset negara.
Sungguh, kita hidup di sebuah negeri yang luar biasa.
Sebuah negeri yang menyamakan kejujuran dengan
barang antik yang hanya pantas ditaruh di museum.
Hanya bisa dilihat, dibayangkan, dan dikenang, meski
kadang bisa disentuh. Ketika seorang anggota dewan
mengembalikan uang suap yang ratusan juta jumlahnya,
ketika ada yang menolak dana kadeudeuh ia malah
dianggap sebagai pengkhianat atau pencari simpati
rakyat. Sebagian lain menganggapnya bodoh dan
munafik.
Ketika ada anggota dewan yang mengaku pada wartawan
bahwa ia disodori amplop yang tak jelas maksud
pemberiannya dan ia mengembalikannya, ia malah
dimusuhi rekan-rekannya, dituduh mengumbar aib partai
atau fraksi, dan ujung-ujungnya di-recall atau dipecat.
Dan sekarang, masa ingat rakyat itu hampir tiba.
Saksikan saja, betapa sebentar lagi (atau mungkin
sudah?) suara kita akan didengar, betapa pertanyaan-
pertanyaan kita akan dijawab meski tak jelas, dan
betapa-betapa yang lain.
Dan sekarang, ketika harus memilih wakil kita yang akan
duduk di dewan, ketika presiden dan wakil presiden akan
dipilih langsung oleh rakyat, sosok Khalifah Umar bin
Abdul Aziz menjadi sangat kita rindukan untuk menjadi
sosok yang akan kita pilih.
Sebuah kerinduan yang mungkin akan ditertawakan oleh sebagian orang, sebagai buah dari rasa pesimis yang
sebenarnya wajar karena dikecewakan terus-menerus,
kekecewaan rakyat kecil kepada pemimpinnya.
Sebuah kerinduan yang harus kita yakini akan dijawab
oleh Allah. Pasti ada, walau segelintir, orang-orang yang
dianggap aneh, bodoh, munafik, pengkhianat, atau
apalah karena keteguhan mereka memegang kebenaran
di antara berbagai kebobrokan yang menyergap tanpa
ampun, menyusup di segala lini kehidupan.
Pasti ada, segelintir orang yang ingin dan berusaha
meneladani kezuhudan, kehati-hatian, dan keberpihakan
pada rakyat kecil seperti yang telah dicontohkan oleh
Umar bin Abdul Aziz. Ya, kita semua rakyat yang bisa
memupus kerinduan ini. Kitalah yang akan memilih
Umar-Umar baru sebagai wakil kita, sebagai pemimpin
kita. Pada akhirnya, kita jualah yang menentukan masa
depan bangsa.
mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasehat.
Salah satu ulama tersebut, Hasan Al Bashri,
menasehatinya seperti ini : Anggaplah rakyat seperti
ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada
mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu,
peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan
saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau
menyayangi anakmu" Nasehat ini diingat dan dijalankan
dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul khalifah yang kita kenal dengan
kezuhudannya, yang terkenal dengan kehati-hatiannya
dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-
sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di
Baitul Mal yang kala itu sedang merebak bau harum
kesturi di sana.
Seorang petugas Baitul Mal terheran-heran dan bertanya,
"Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?"
Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau
memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya
dengan menghirup harum kesturi ini"
Ialah khalifah yang dijuluki oleh para ulama sebagai
Khulafaur Rasyidin ke-5, saking akhlaknya yang
mendekati para Khulafaur Rasyidin yang empat itu.
Sekarang? susah rasanya berharap, hanya sekedar
berharap pemimpin-pemimpin kita mau meniru Khalifah
Umar bin Abdul Aziz apalagi kita selalu mengingat dan
menjalankan nasehat dari Hasan Al Bashri. Kita, rakyat,
seperti kata Goenawan Muhamad, bahkan cuma
dianggap ada 5 tahun sekali, ketika masa pemilu tiba dan
masa kampanye mulai digelar. Kita, rakyat, cuma
diingat, diperhatikan, didatangi, dan didengarkan 5 tahun
sekali. Kita, rakyat, cuma dianggap sebagai ayah,
saudara, dan anak 5 tahun sekali.
Dan jika masa pemilu lewat, lewat pulalah masa-masa
'bulan madu' antara rakyat dan pemimpin itu. Lupalah
para pemimpin kita dengan janji-janjinya, dengan
program-programnya, Kalau orang Jawa bilang, "Masih
untung bisa ingat rakyat 5 tahun sekali, daripada tidak
sama sekali" Ya, memang masih untung bisa ingat rakyat
5 tahun sekali, tapi sayangnya dalam 'masa ingat rakyat'
yang cuma sekali-kalinya dalam 5 tahun itu pun, masih
saja pemimpin-pemimpin kita tega merendahkan dan
menghina harga diri rakyatnya.
Suara kita, hak pilih kita yang tak ternilai itu, konon
dalam demokrasi kedudukannya setara dengan suara
Tuhan, tega mereka beli dan hargai hanya dengan
beberapa ratus atau bahkan puluh ribu rupiah. Dan kita,
yang lebih sering berpikir pendek dan hanya bisa
berpikir besok makan apa dengan senang hati
menggadaikan masa depan negeri ini yang sebenarnya
adalah juga masa depan kita bersama di tangan
pemimpin-pemimpin yang sebenarnya tak lebih dari
sekedar tukang sogok, demi uang yang tak seberapa itu.
Sungguh luar biasa negeri ini. Yang tak pernah berkaca
dari kesalahan-kesalahan masa lalu hingga selalu
terperosok ke dalam lubang kedzaliman, yang tak pernah
mengambil teladan dari sikap orang-orang besar di masa
lalu, yang selalu salah memilih pemimpin-pemimpinnya.
Sungguh luar biasa negeri ini yang hanya untuk
menangani anak-anaknya yang protes dengan kebijakan-
kebijakan aneh yang kerap diambil ibunya, merasa perlu
untuk menurunkan puluhan bahkan ratusan aparat
bersenjata pentungan dan peluru karet, menjewer anak-
anak nakal itu dengan mendoakan mereka bahkan kalau
perlu menjebloskan mereka ke penjara dengan tuduhan
ini dan itu.
Sungguh luar biasa negeri ini, yang ketika rakyatnya di
daerah sampai harus mengorbankan nyawa demi
kehormatan dan harga diri partainya, pemimpinnya di
atas malah sibuk menjual aset-aset negara.
Sungguh, kita hidup di sebuah negeri yang luar biasa.
Sebuah negeri yang menyamakan kejujuran dengan
barang antik yang hanya pantas ditaruh di museum.
Hanya bisa dilihat, dibayangkan, dan dikenang, meski
kadang bisa disentuh. Ketika seorang anggota dewan
mengembalikan uang suap yang ratusan juta jumlahnya,
ketika ada yang menolak dana kadeudeuh ia malah
dianggap sebagai pengkhianat atau pencari simpati
rakyat. Sebagian lain menganggapnya bodoh dan
munafik.
Ketika ada anggota dewan yang mengaku pada wartawan
bahwa ia disodori amplop yang tak jelas maksud
pemberiannya dan ia mengembalikannya, ia malah
dimusuhi rekan-rekannya, dituduh mengumbar aib partai
atau fraksi, dan ujung-ujungnya di-recall atau dipecat.
Dan sekarang, masa ingat rakyat itu hampir tiba.
Saksikan saja, betapa sebentar lagi (atau mungkin
sudah?) suara kita akan didengar, betapa pertanyaan-
pertanyaan kita akan dijawab meski tak jelas, dan
betapa-betapa yang lain.
Dan sekarang, ketika harus memilih wakil kita yang akan
duduk di dewan, ketika presiden dan wakil presiden akan
dipilih langsung oleh rakyat, sosok Khalifah Umar bin
Abdul Aziz menjadi sangat kita rindukan untuk menjadi
sosok yang akan kita pilih.
Sebuah kerinduan yang mungkin akan ditertawakan oleh sebagian orang, sebagai buah dari rasa pesimis yang
sebenarnya wajar karena dikecewakan terus-menerus,
kekecewaan rakyat kecil kepada pemimpinnya.
Sebuah kerinduan yang harus kita yakini akan dijawab
oleh Allah. Pasti ada, walau segelintir, orang-orang yang
dianggap aneh, bodoh, munafik, pengkhianat, atau
apalah karena keteguhan mereka memegang kebenaran
di antara berbagai kebobrokan yang menyergap tanpa
ampun, menyusup di segala lini kehidupan.
Pasti ada, segelintir orang yang ingin dan berusaha
meneladani kezuhudan, kehati-hatian, dan keberpihakan
pada rakyat kecil seperti yang telah dicontohkan oleh
Umar bin Abdul Aziz. Ya, kita semua rakyat yang bisa
memupus kerinduan ini. Kitalah yang akan memilih
Umar-Umar baru sebagai wakil kita, sebagai pemimpin
kita. Pada akhirnya, kita jualah yang menentukan masa
depan bangsa.
Selasa, 01 September 2009
Rumah Masa Depan
Rumah Masa Depan
Siang itu matahari bersinar cukup garang menyirami pekuburan Pondok Kelapa mengiringi jenazah
almarhumah ibunda dari pimpinan perusahaan tempat
saya bekerja. Tanah merah yang kering menjadi berdebu
diterpa angin yang bertiup kencang. Perlahan-lahan
tubuh almarhumah mulai dimasukkan ke dalam liang
lahat. Sanak famili yang datang tertunduk haru bahkan
ada yang tak tertahankan tangisnya.
Setelah jenazah diletakkan di dalam lubang dan tali
pengikat kafan dilepaskan para penggali kubur
menutupinya dengan tanah dan di atasnya ditanamkan
batu nisan. Itulah akhir episode kehidupan seorang anak
manusia yang telah habis masa hidupnya di dunia dan
mulai memasuki kehidupannya yang baru di alam kubur.
Terbayang olehku gelapnya alam kubur, Ya Allah
sanggupkah tubuh yang penuh dengan debu dosa dan
maksiat ini menghadapi kepengapan, kesempitan dan
kesunyiannya? Belum lagi mahluk-mahluk kecil yang
siap menjelajahi tubuh ini hingga perlahan-lahan
menghancurkannya dan menyisakan tulang belulang.
Tak ada lagi gemerlap kehidupan dunia, mobil mewah
yang kita miliki tidak ikut masuk ke dalam lubang
ukuran 2 x 1 m di kedalaman 2 m, deposito dollar, saham
perusahaan, tanah 1000 hektar, istri yang cantik, jabatan
semuanya kita tinggalkan.
Ya Allah jadikanlah kubur sebagai pengingat diri dari
berbuat zhalim dan melanggar perintah-Mu.
Kubur adalah rumah masa depan kita, rumah yang
seharusnya kita persiapkan jauh-jauh hari. Kalau untuk
rumah di dunia saja kita sibuk ambil kredit, mati-matian
menabung bahkan tidak jarang ada yang bela-belain
korupsi hanya untuk mendapatkan rumah. Lantas kenapa
untuk peristirahatan yang abadi kita malah lalai bahkan
lupa?
Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini menjadi usia yang
penuh manfaat dan keberkahan sehingga menjadi
penolongku nanti.
Ingatkah waktu hendak membangun rumah kita sibuk
merancang arsitektur, pondasi, bangunan fisik dan
interiornya? Begitu cermatnya kita hingga tidak segan
mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkannya. Lalu
bagaimana dengan rumah masa depan kita? Sudahkah
kita merancang arsitektur ibadah kepada Allah, lalu kita
gali diri ini dengan ilmu untuk memperkokoh pondasi
keimanan dan ketakwaan, kemudian kita bangun tiang-
tiangnya dengan shalat khusyu' nan ikhlas disertai
dinding amal sholeh serta kebaikan, dan tak lupa
menutup atap rumah kita dengan infak di jalan Allah.
Ya Allah, seandainya kau cabut nyawaku saat ini juga
jadikanlah sebagai akhir yang baik dan mudahkanlah.
Istriku ....jzk
Siang itu matahari bersinar cukup garang menyirami pekuburan Pondok Kelapa mengiringi jenazah
almarhumah ibunda dari pimpinan perusahaan tempat
saya bekerja. Tanah merah yang kering menjadi berdebu
diterpa angin yang bertiup kencang. Perlahan-lahan
tubuh almarhumah mulai dimasukkan ke dalam liang
lahat. Sanak famili yang datang tertunduk haru bahkan
ada yang tak tertahankan tangisnya.
Setelah jenazah diletakkan di dalam lubang dan tali
pengikat kafan dilepaskan para penggali kubur
menutupinya dengan tanah dan di atasnya ditanamkan
batu nisan. Itulah akhir episode kehidupan seorang anak
manusia yang telah habis masa hidupnya di dunia dan
mulai memasuki kehidupannya yang baru di alam kubur.
Terbayang olehku gelapnya alam kubur, Ya Allah
sanggupkah tubuh yang penuh dengan debu dosa dan
maksiat ini menghadapi kepengapan, kesempitan dan
kesunyiannya? Belum lagi mahluk-mahluk kecil yang
siap menjelajahi tubuh ini hingga perlahan-lahan
menghancurkannya dan menyisakan tulang belulang.
Tak ada lagi gemerlap kehidupan dunia, mobil mewah
yang kita miliki tidak ikut masuk ke dalam lubang
ukuran 2 x 1 m di kedalaman 2 m, deposito dollar, saham
perusahaan, tanah 1000 hektar, istri yang cantik, jabatan
semuanya kita tinggalkan.
Ya Allah jadikanlah kubur sebagai pengingat diri dari
berbuat zhalim dan melanggar perintah-Mu.
Kubur adalah rumah masa depan kita, rumah yang
seharusnya kita persiapkan jauh-jauh hari. Kalau untuk
rumah di dunia saja kita sibuk ambil kredit, mati-matian
menabung bahkan tidak jarang ada yang bela-belain
korupsi hanya untuk mendapatkan rumah. Lantas kenapa
untuk peristirahatan yang abadi kita malah lalai bahkan
lupa?
Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini menjadi usia yang
penuh manfaat dan keberkahan sehingga menjadi
penolongku nanti.
Ingatkah waktu hendak membangun rumah kita sibuk
merancang arsitektur, pondasi, bangunan fisik dan
interiornya? Begitu cermatnya kita hingga tidak segan
mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkannya. Lalu
bagaimana dengan rumah masa depan kita? Sudahkah
kita merancang arsitektur ibadah kepada Allah, lalu kita
gali diri ini dengan ilmu untuk memperkokoh pondasi
keimanan dan ketakwaan, kemudian kita bangun tiang-
tiangnya dengan shalat khusyu' nan ikhlas disertai
dinding amal sholeh serta kebaikan, dan tak lupa
menutup atap rumah kita dengan infak di jalan Allah.
Ya Allah, seandainya kau cabut nyawaku saat ini juga
jadikanlah sebagai akhir yang baik dan mudahkanlah.
Istriku ....jzk
Langganan:
Postingan (Atom)
