Sabtu, 06 Februari 2010

Tuntutlah Ilmu Wahai Pemuda !

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata:
“Ilmuku selalu bersamaku mengikuti
hatikulah wadahnya, bukan perut tempatnya
Jika aku di rumah, ia pun tinggal di rumah
Jika aku ke pasar, ilmuku juga ikut bersamaku”

Imam Ar Razi rahimahullah berkata:
“Ilmu adalah milik Yang Maha Rahman
SelainNya tenggelam dalam kebodohan
Tanah dan ilmu tidak lain hanyalah
Berusaha mengetahui bahwa ia tidak mengetahui”

Begitulah para Imam umat ini menggambarkan kemuliaan ilmu. Memang demikian, bahkan lebih dari itu. Jika ditanya apa yang paling manusia butuhkan setelah taqwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala, maka jawabnya adalah ilmu. Karena ilmu adalah petunjuk jalan dan motor penggerak generasi. Obat bagi kebodohan dan kebuntuan. Ia membuat mulia yang tadinya hina, memudahkan yang sulit, memberdayakan yang lemah, membuat berani yang penakut. Tidak boleh serakah kecuali pada masalah ilmu. Tidak ada kemuliaan kecuali bagi orang berilmu.

“Dan katakanlah, ‘Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.’ ” (QS. Thaha: 114)
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?’ “ (QS. Az Zumar: 9)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. “ (QS. Al Mujadilah: 11)

Dalam Shahihain diriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan bagi dirinya, Allah akan memberinya pemahaman yang baik dalam urusan agama.” (HR. Bukhari (71,3048, 7148) dan Muslim (2345,4912))

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan barangsiapa yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya ke surga.” (HR. Muslim dan lainnya)

“Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu, kecuali para malaikat meletakkan sayap-sayapnya kepedanya karena ridha terhadap apa yang ia perbuat.” (HR. Tirmidzi, menurutnya shahih, Ibnu Majah dan lafaz hadits ini adalah riwayatnya, Ibnu Hibban, dan Al Hakim berkata: shahih sanadnya, dan disepakati Adz Dzahabi. Syaikh al Albany menghasankannya)

Dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api neraka.” (QS. At Tahrim: 6), Ia berkata: “Ajarkanlah kebaikan kepada keluarga kalian.” (HR. Al Hakim, mauquf /hadits yang sanadnya terhenti sampai sahabat, Al Hakim berkata: shahih menurut standar Bukhari dan Muslim. Adz dzahabi menyepakatinya) Imam Nawawi al Bantani berkata, “jagalah dirimu dan keluargamu dengan ilmu.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Anak Adam wafat maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; ‘sedekah jariah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya.’ “ (HR. Muslim)

Imam al Mundziri berkata, “Penulis ilmu yang bermanfaat mendapatkan pahalanya dari pahala orang-orang yang membacanya atau menyalinnya atau mengamalkannya sesudahnya selama tulisannya masih ada dan diamalkannya, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang serupa. Sedangkan penulis ilmu yang tidak bermanfaat yang mengakibatkan dosa, maka baginya dosa, dari dosa yang membaca, menyalin, dan mengamalkan sesudahnya, selama tulisannya masih ada dan diamalkan.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu terlaknat, terlaknat apa yang ada padanya, kecuali mengingat Allah dan apa yang mendukungnya, dan orang berilmu dan orang yang menuntut ilmu.” (HR. Tirmidzi, katanya hasan. Juga Ibnu Majah dan al Baihaqy. Syaikh al Albany menghasankannya)

Berkata Syaikh al Qaradhawy, “Maksud terlaknatnya dunia adalah celanya, bukan tercela dzatnya, sebab ia merupakan ladang akhirat, tetapi dari segi bahwa dunia bisa melupakan seseorang dari Allah dan akhirat. Oleh sebab itu dikecualikan dari cela setiap hal yang mengingat kepada Allah, apa yang mendukungnya dan mencintainya seperti ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”

Utamakan Al Qur’an dan As Sunnah
Wahai pemuda! Jadilah kita para keluarga Allah (ahlullah). Apakah menjadi ‘Keluarga Allah’ tidak menggiurkanmu? Allah Maha Bijaksana perbuatanNya terhadap keluargaNya.

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga dari kalangan manusia. “ Kata Anas selanjutnya, “Lalu Rasulullah ditanya, ‘Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ “ Beliau menjawab, “Yaitu ahlul qur’an (orang yang membaca, menghafal, mengkaji, dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagiNya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi, Al Hakim dan An Nasa’i, dengan sanad shahih)

Wahai Ikhwah! Jadilah kita sebagai ‘keluarga Rasulullah’. Menjadi sekelompok umat (thaifah) yang senantiasa bersama kebenaran hingga datang kiamat, tidak goyah sedikitpun. Rasulullah ‘Alaihi shallatu was salam bersabda: “Akan senantiasa ada di antara umatku sekelompok (thaifah) yang selalu menegakkan perintah Allah –dalam riwayat lain ‘selalu di atas kebenaran’-, tidak merugikan mereka orang yang membiarkan dan menyelisihi mereka, hingga datang urusan Allah (kiamat) mereka tetap demikian.” (HR. Bukhari, lafaz ini dari jalur Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu (IV/187), dan Muslim (III/1523) )

Siapakah thaifah yang dimaksud? Berkata Imam Abdullah bin Mubarak, “Mereka adalah para pembawa hadits (ahli hadits).” Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Bukhari, Imam Ali al Madini, Imam Ahmad bin Sinan dan Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Seandainya bukan ahli hadits, aku tidak tahu siapakah mereka?” (Lihat dalam Silsilah ash Shahihah-nya Syaikh al Albany pembahasan hadits no. 270)

Berkata seorang penyair Islam –jika tidak salah, Ahmad Syauqi:
Ahlul hadits … hum Ahlun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fa in lam yash-habu nafsahu, anfasahu shahibuu
Ahli Hadits … mereka adalah keluarga Nabi. Walaupun mereka tidak bersahabat dengannya, namun mereka bersahabat dengan nafas-nafasnya.

Berkata Imam Sufyan ats Tsauri, “Saya tidak mengenal ilmu yang lebih utama bagi orang yang berhasrat menundukan wajahnya di hadapan Allah, selain dari pada ilmu hadits. Orang-orang sangat memerlukan ilmu ini, hingga soal-soal kecil sekalipun, seperti makan dan minum, memerlukan petunjuk dari hadits. Mempelajari hadits lebih utama dari shalat sunah dan puasa sunah, karena mempelajari ilmu ini adalah fardhu kifayah, sedangkan shalat sunah dan puasa sunah adalah sunah.”

Berkata Imam asy Syafi’I, “Demi umurku, ilmu hadits termasuk tiang agama yang paling pokok dan keyakinan yang paling kokoh. Tidak dianjurkan untuk menyiarkannya kecuali orang-orang jujur lagi bertaqwa, dan tidak dibenci untuk menyiarkannya kecuali orang munafik lagi celaka.”

Berkata Imam al Hakim, “Andai tidak banyak orang yang menghafal sanad hadits, niscaya menara Islam roboh dan para ahli bid’ah berkiprah membuat hadits-hadits palsu dan memutarbalikkan sanad.”

Berkata Imam Abdullah bin Mubarak, “Sanad itu bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka setiap manusia akan bicara seenaknya saja.”

Ikhwah…, demikianlah keutamaan mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah. Namun, hal ini tidak berarti mengkaji selain keduanya adalah kehinaan. mengkaji apapun yang bermanfaat bagi kehidupan agama dan dunia manusia adalah mulia. Bahkan diriwayatkan dari Imam asy Syafi’i bahwa ia mengatakan ilmu yang paling utama setelah ilmu agama adalah kedokteran! Kenapa? Wallahu A’lam. Imam mulia ini lebih tahu dari kita tentang ucapannya. Barangkali, karena ilmu agama adalah penyelamat hidup manusia di akhirat, sedangkan ilmu kedokteran adalah penyelamat hidup manusia di dunia. Hujjatul Islam Imam al Ghazaly mengkategorikan kedokteran sebagai fardhu kifayah, bahkan ia pernah mengkrirtik ulama masanya yang semuanya terjun dalam bidang fiqih dan perdebatannya. Mengerjakan fardhu kifayah, namun melupakan fardhu kifayah lainnya. Akhirnya, ilmu kedokteran dikuasai dan direbut orang-orang kafir, padahal dokter kafir tidak bisa diminta kesaksiannya ketika ada hal yang berkaitan dengan umat Islam. Allahu musta’an !

Setiap manusia punya kecenderungannya sendiri. Maka galilah dengan optimal. Mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah membunuh potensi lainnya. Biarlah ulama tetap menjadi ulama, jangan paksakan menjadi dokter. Dokter tetaplah jadi dokter, jangan paksakan menjadi ulama. Dan seterusnya. Paling tidak masing-masing spesialis mengetahui kewajiban dan larangan dalam agama, khususnya yang berkaitan dengan bidang dan profesinya.

Dengan cara inilah strategi kaum kuffar dalam menghancurkan kita. Mereka mendidik kader-kadernya secara khusus pada bidang tertentu agar mencapai puncak ilmu pengetahuan dan peradaban. Kita seharusnya demikian, bahkan umat ini lebih berhak demikian dibanding mereka. Masa kini adalah masanya spesialisasi dan pendalaman, bukan masa ensiklopedi. Masa kini bukanlah masanya Imam asy Syafi’i yang faqih, muhaddits, mufassir, dan penyair. Bukan pula masa Imam al Ghazaly yang faqih, sufi, sosiolog, dan ushuly. Rasulullah bersabda, “Jika urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya (spesialis), maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari). Ya, ide spesialisasi memang dari Islam, bukan dari luar.

Meneladani Semangat Salafus shalih
Mereka adalah generasi paling mengagumkan yang pernah ada di muka bumi. Segalanya mengagumkan, termasuk semangat mereka dalam mengejar dan menuntut ilmu. Padahal masa itu, belum ada kemudahan dan kecanggihan hidup seperti sekarang. Jarak jauh, mendaki gunung, menyeberang laut, dan melintasi gurun, berbulan-bulan, bukanlah apa-apa bagi mereka ketika berhasil mendapatkan satu buah hadits! Adapun saat ini, semua telah tersedia, tapi bagaimana kondisinya? Tanyakan dirimu!

Pada masa Abdul malik bin Marwan, khalifah umawy, masjidil haram sesak oleh para penuntut ilmu. Sampai khalifah meresa kagum. Tatkala beliau datang, beliau melihat jumlah yang tak terhitung, terdiri atas anak-anak dan penuntut ilmu umumnya. Beliau bertanya kepada guru-guru kelompok-kelompok kajian itu, di dalamnya ada Said bin Jubeir, ‘Atha’, Maimun bin Mihran, Mak-hul, Mujahid, dan lain-lain. Kemudian beliau menganjurkan kepada anak-anak quraisy untuk menuntut dan mempertahankan ilmu.

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Abu Yusuf (murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah) berada dalam majelis pengajaran Imam Abu Hanifah, ia didatangi utusan keluarganya yang memberitakan bahwa puteranya meninggal dunia. Tetapi Abu Yusuf tidak beranjak pulang, ia tetap di majelis itu lantaran merasa rugi meninggalkannya walau sesaat!

Sufyan bin ‘Uyainah (seorang ulama hadits masa tabi’ut tabi’in, pernah berguru kepada Imam Malik) bersama ayahnya pergi ke Mekkah. Tatkala mereka istirahat di Mesjid dan shalat zhuhur, tiba-tiba ada seorang guru yang mengendarai himar, dan berkata kepadanya: “Hai anak muda, tolong pegangkan himar ini, agar aku bisa masuk mesjid dan shalat zhuhur.” Sufyan berkata, “Aku tidak akan melakukannya, kecuali engkau berkenan meriwayatkan hadits kepadaku.” Sang guru bertanya, “Buat apa hadits itu untukmu?” Nampak ia meremehkan Sufyan muda. Sufyan berkata lagi, “Tolong riwayatkan hadits kepadaku.” Akhirnya guru itu berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Jabir bin Abdullah dan telah meriwayatkan kepada kami Ibnu Abbas …”, ia meriwayatkan delapan hadits kepada Sufyan, sementara Sufyan masih memegang himarnya sambil menghafalkan hadits-hadits tersebut. Seusai shalat dan keluar mesjid, guru itu berkata, “Tak ada gunanya hadits yang aku berikan kepadamu, apakah kamu masih menghalangiku?” Sufyan menjawab, “Engkau telah meriwayatkan kepadaku begini dan engkau telah meriwayatkan kepadaku begitu.“ Sufyan terus mengulang semua riwayat tersebut. Lalu Guru itu berkata, “Semoga Allah memberkatimu, besok datanglah ke majelisku. “ Ternyata beliau adalah ‘Amr bin Dinar (48-126H).

Demikianlah salaf. Maka, wahai ikhwah, mari kita kejar majelis-majelis ilmu, berkumpul bersama orang shalih dan alim, jika hal itu sulit bagi kita, carilah sumber mata air lain seperti buku-buku bermutu dari para ulama salaf atau kontemporer yang bisa dipercaya. Jauhkan sebisa mungkin apa-apa yang melalaikan dari dzikir dan ilmu. Nyanyian tak berguna (bahkan nasyid-nasyid ‘kosong ruh’ yang tengah menjamur) sebab hiburan bagi orang mu’min adalah Al Qur’an, majelis ghibah, buku-buku tidak bermanfaat yang hanya buang waktu, dan lain-lain. Wallahu A’lam bish Shawwab. Farid Nu’man

ilmuwan Barat bercerita tentang Islam

Seorang ilmuwan dari Italia Kenneth Edward George berkata,
“Saya sudah mengkaji dengan sangat teliti agama-agama terdulu dan agama modern dewasa ini. Kesimpulannya adalah bahwa Islam agama langit yang yang benar. Kitab Suci ini mencakup kebutuhan materi dan immateri bagi manusia. Agama ini membentuk akhlak yang baik dan menjaga rohani agar tetap sehat.”
Profesor Inggris Mountaghmiri Watts berkata,
“Apa yang dipaparkan Al Qur’an tentang realitas dan fenomena alam yang sempurna menurut saya adalah di antara kelebihan dan keistimewaan Kitab ini. Yang jelas semua temuan dan ilmu pengatahuan yang didokumentasikan dewasa ini, tidak mampu menandingi Al Qur’an.”
Sejarawan Italia, Brands Johny Burkz mengatakan,
“Kesejahteraan dan kepemimpinan menjauh dari umat Islam dikarenakan mereka tidak mau mengikuti petunjuk Al Qur’an dan mengamalkan hukum dan undang-undang-nya. Padahal sebelumnya sejarah telah mencatat bahwa generasi awal Islam meraih kejayaan, kemenangan, dan kebesaran. Mmusuh-musuh Islam tau rahasia ini, sehingga mereka menyerang dari sisi ini. Ya, kondisi kehidupan umat Islam sekarang ini suram, karena tidak pedulinya umat ini terhadap Kitabnya, bukan karena ada kekurangan dalam Al Qur’an atau Islam secara umum. Yang obyektif adalah tidak benar menganggat sisi negatif dengan menghakimi ajaran Islam yang suci.”
Peneliti Prancis Gul Labum menyeru orang Eropa,
“Wahai manusia, kajilah Al Qur’an secara mendalam, sampai kalian menemukan hakekat kebenarannya, karena setiap ilmu pengetahuan dan seni-budaya yang pernah dicapai oleh bangsa Arab, pondasinya adalah Al Qur’an. Hendaknya setiap penduduk dunia, dari beragam warna dan bahasa mau melihat secara obyektif kondisi dunia zaman awal. Mengkaji lembaran-lembaran ilmu pengetahuan dan penemuan sebelum Islam. Maka kalian akan tahu bahwa ilmu pengetahuan dan penemuan tidak pernah sampai pada penduduk bumi kecuali setelah ditemukan dan disebarluaskan oleh kaum muslimin yang mereka eksplorasi dari Al Qur’an. Ia laksana lautan pengetahuan yang mengalir di jutaan anak sungai. Al Qur’an tetap hidup, dan setiap orang mampu meneguk sejuknya sesuai dengan kesungguhan dan kemampuannya.”
Ahli filsafat dari Prancis, Pranco Mari Pulter, menjelaskan perbedaan antara Injil dan Al Qur’an,
”Kami yakin, jika disodorkan Al Qur’an dan Injil kepada seseorang yang tidak beragama, pasti orang tersebut akan memilih yang pertama, karena Al Qur’an mengetengahkan pemikiran yang cocok dengan akal sehat. Boleh jadi tidak ada undang-undang yang lebih detail tentang masalah perceraian, kecuali undang-undang dan hukum yang telah di gariskan Al Qur’an tentang masalah ini.”
Seorang ilmuwan dari Inggris Fard Ghayum, Guru Besar Universitas London mengatakan,
”Al Qur’an adalah kitab mendunia yang memiliki keistimewaan sastra yang tinggi, yang terjemahnya saja tidak bisa mewakili tingginya sastra aslinya. Karena lagunya berirama khusus, keindahannya mengagumkan, dan pengaruhnya yang luar bisa terhadap yang mendengarkan. Banyak kaum nashrani Arab yang terpengaruh gaya bahasa dan sastranya. Begitu juga kaum orientalis, banyak di antara mereka yang menerima Al Qur’an. Ketika dibacakan Al Qur’an, kami orang-orang Nashrani terpengaruh, laksana sihir yang menembus jiwa kami, kami merasakan ungakapnnya yang indah, hukumnya yang orisinil. Keistimewaan seperti ini yang menjadikan seseorang merasa terpuaskan, dan bahwa Al Qur’an tidak mungkin ada yang mampu menandinginya.”
Knett Grigh, Guru Besar Universitas Cambridge memberi kesaksian,
”Tidak akan mampu seseorang sepanjang empat belas abad yang lalu, sejak diturunkannya Al Qu’ran sampai sekarang ini, yang mampu membuat seperti ayat Al Qur’an, satu ayat sekalipun. Karena Al Qur’an bukan kitab yang dikhususkan untuk zaman tertentu, bahkan Al Qur’an ini alami yang akan terus berlangusng sepanjang zaman. Meskipun dunia dan kehidupan ini berubah, namun setiap manusia memungkinkan menjadikan al Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Mengapa Al qur’an lebih unggul dan menjadi pedoman hidup manusia sepanjang masa? Karena Al qur’an mencakup hal-hal yang kecil maupun urusan yang besar. Tidak ada sesuatu yang tidak diatur oleh Al qur’an. Saya yakin, bahwa Al Qur’an mampu mempengaruhi orang Barat, dengan syarat, Al Qur’an dibacakan dengan bahasa aslinya, karena terjemahnya tidak mampu memberi pengaruh kejiwaan dan rohani, berbeda dengan bacaan aslinya yang menggetarkan jiwa, meluluhkan qalbu.” Safnegari

90% uang Amerika berbau Kokain !!!

Washington DC – Coba cek dolar AS Anda. Cium sekilas. Siapa tahu dolar Anda tercium bau kokain. Sebab 90% uang kertas Amerika terbukti berbau obat haram itu.
“Mengejutkan saya, kami menemukan (jejak) banyak kokain di uang kertas,”ujar ketua peneliti di University Massachusetts, Yuegang Zuo, seperti dilansir AFP, Selasa (18/8/2009).
Yuegang menyatakan banyaknya jejak kokain pada uang kertas tersebut bisa jadi disebabkan oleh krisis ekonomi yang tengah melanda AS. “Dengan stres, orang bisa berpindah ke kokain,” ujarnya.
Uang kertas tersebut diyakini terkontaminasi dengan kokain ketika berlangsung transaksi penjual obat-obatan. Tidak hanya itu, kontaminasi juga dapat terjadi ketika seorang pengguna obat menjadikan uang kertasnya sebagai sarana untuk menghirup obat-obatan. Dan sebagai penyebab utama, menurut hasil penelitian tersebut, kontaminasi cukup besar terjadi ketika kertas dihitung menggunakan mesin penghitung.
“Untuk kebanyakan bagian, Anda tidak akan terpengaruh (teler) bila hanya mencium uang kertasnya, kecuali uang tersebut pernah secara langsung dipakai dalam penggunaan obat-obatan,” ujar Yuegang.
Riset ini dilakukan di 30 kota besar di 5 negara yaitu AS, Kanada, Brasil, China dan Jepang. Berdasarkan penelitian, uang kertas dengan jejak kokain paling banyak ditemukan dari kota-kota besar, seperti Baltimore, Boston dan Detroit. Sementara kota dengan uang kertas yang bersih dari kokain adalah Salt Lake City, Utah, dan Mormon.
Penelitian menggunakan instrumen laboratorium gas chromatograph-mass spectrometer untuk mengukur tingkatan kandungan kokain. Berdasarkan penelitian tersebut, mereka menemukan tingkatan kokain yang cukup menakutkan di beberapa area.
Kokain adalah obat terlarang yang paling banyak digunakan di dunia. Di AS, sekitar 6 juta orang mengonsumsinya per tahun sebanyak 259 hingga 447 ton senilai 35 miliar-75 miliar dolar (Rp 350 triliun – 750 triliun).

InsyaAlloh kalo uang Dinar aman yuk beli hub. 081398976461

Ingat.... APEL HARAM !!!!

Cerita ini dari Mesir. Pencerita bilang dia lagi shalat tahiyatul masjid, khusu’nya keganggu oleh bau asep rokok yang kuat banget, setelah salam dia tahu dimana asal bau itu, dari orang yang bibirnya saja item karena rokok. Dia ngomong ke dirinya, “nanti selesai solat gue mao ngomong ama tuh orang.” Tapi ngedadak ada anak kecil sembilan taunan umurnya masuk mesjid, duduk disamping perokok itu. Dan si anak itu mencium bau asap rokok juga, kemudian mereka terdengar ngobrol.
Anak: Assalamu’alaikum paman, paman orang mesir?
Perokok: ya betul aku orang mesir.
Anak : Paman kenal Syeikh Abdul Hamid Kisyk?
Perokok: ya kenal.
Anak : Paman juga kenal Syeikh Jaad al-Haq?
Perokok: ya kenal juga.
Anak : Paman juga kenal Syeikh Muhammad al-Ghazali?
Perokok: ya aku juga kenal.
Anak : Paman pernah dong mendengar pendapat dan fatwa-fatwa mereka?
Perokok: ya dengar juga.
Anak : Mereka itu ulama dan syeikh yang berkata bahwa rokok itu haram, kenapa paman menghisapnya??
Perokok: Ngga, rokok ngga haram.
Anak : Haram paman, bukankah Allah mengharamkannya: وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الخَبَائِثِ (Allah mengharamkan yang buruk-buruk bagi kalian) apakah paman waktu ngerokok baca bismillah dan baca alhamdulillah waktu selesainya??
Perokok: Ngga, rokok ngga haram, mana ada ayat al-Quran yang berbunyi وَيُحَرِّمُ عَلَيْكُمُ الدُخَانَ (Allah mengharamkan rokok bagimu).
Anak : Paman, rokok itu haram seperti haramnya apel!!!
Perokok: (sambil marah) Apel haram!!! Bagaimana kamu bisa menghalalkan dan mengharamkan itu.
Anak : Coba paman tunjukkan ayat وَيُحِلُّ لَكُمُ التُّفَاحَ (Allah menghalalkan apel)!
Perokok itu sadar diri dan diam, ngga keluar lagi kata-katanya, seterusnya dia nangis dan waktu solat juga dia nangis. Sehabis solat perokok itu deketin si anak kecil, sang da’i yang nyadarin dirinya, terus janji, “nak, paman berjanji kepada Allah tidak akan ngerokok lagi sampai akhir hidup paman.”

Subhanalloh, Alhamdulillah teriring doa untuk Abah yg milad k3 4 tidak merokok lagi, Amiin.Trimk's Tuhan...

Senin, 25 Januari 2010

RAHASI@ DIBALIK SAKITT !!?

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. " (QS. al-Anbiyaa': 35). Sahabat Ibnu `Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur'an- menafsirkan ayat ini: "Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan." (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta'ala, "Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu)." (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda yang artinya," Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka." (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal `afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An'am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: "Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari." (Lihat Do'a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah ta'ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan." (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

Sabtu, 16 Januari 2010

Sifat-sifat Suami yang Tidak Disukai Istri

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita :
Pertama, Tidak Punya Visi
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan QS. An Nisaa’ ayat 1, Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”
Kedua, Kasar
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah dalam QS. An Nisaa’ ayat 19 memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang ma’ruf). Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.
Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat, lalu memukul istri seenaknya.
Ingat ! Istri juga manusia. Ia ciptaan Allah yang dilebihkanNya atas makhluq selainnya. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka hanya karena menyiksa seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.
Ingat ! Istri adalah istri. Ia adalah wanita yang kita (suami) miliki dan Allah halalkan farjinya untuk kita lantaran sebuah akad (ijab-qabul) yang – Nabi SAW gambarkan bobotnya - seorang malaikat angkat bukit sebesar Bukit Uhud di atas kepala kita, saat kita melafadzkannya.
Ingat ! Istri adalah amanah yang Allah Ta’ala kuasakan kepada kita para suami. Amanah keselamatannya di dunia maupun di akhiratnya. Semenjak kita menikahinya, semenjak itulah kita tidak akan bisa aman dari ancaman Neraka sebelum istri kita ‘terbebas’ dari Neraka :
        ••              
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahriim/66 : 6).
Ketiga, Sombong
Sombong (kibir) adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kibir-nya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak prerogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.”
Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.
Sayangnya, dalam keseharian, sering terjadi banyak suami merasa ‘lebih dalam segalanya’. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Wahai suami, ingatkah kita bahwa anak-anak kita lahir dan tumbuh besar karena jasa keshabaran para istri : shabar dalam lelah mengandung selama sembilan bulan, shabar dalam nestapa saat melahirkan, shabar dalam kerepotan menyusui selama dua tahun, dst..... ? Wahai suami, insyafkah kita bahwa isteri kita-lah yang menjadi ‘pengganti ibu kita’ yang senantiasa menyiapkan makanan dan meninabobokkan tidur kita Sang Bayi Besar ?
Celakanya, di alam realita, banyak para suami yang menolak kebenaran hanya lantaran seuntai nasihat itu lahir dari lisan seorang istri. Wahai suami, bukankah Baginda Rasulullaah SAW senantiasa meminta nasihat para isterinya ? Wahai suami, tahukah Anda bahwa Amiril Mu’minin Umar Al Faruq ra adalah suami yang mengherankan teman-temannya lantaran kerap dipergoki terdiam menitikkan air mata saat sang istri memarahinya ?
Naifnya, di hadapan kita, betapa banyak para suami yang gengsi meminta maaf dan keridhaan istrinya saat ia bersalah. Hal ini berbanding terbalik dengan bentakan dan cemooh kepada isteri dari suami yang menuntut maaf manakala istrinya berbuat khilaf.
Sungguh banyak para istri yang menderita karena perilaku sombong seorang suami.
Keempat, Tertutup
Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa dizhalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.
Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Isteri tidak mengatahu isi dompet suaminya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.
Kelima, Plinplan
Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi pula bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia royal bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).
Keenam, Pembohong
Banyak kejadian para istri ternista karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Dusta adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.
Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang poranda berawal dari kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu : ia ingin dihargai, dimuliakan dan dimanusiakan. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para suami pembohong.
Ketujuh, Cengeng
Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar, Abu Bakar Ash Shiddiq ra adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia bukan lelaki cengeng. Sentuhan ayat-ayat Al Qur’an-lah yang mengguncang hatinya yang lembut. Terbukti, dalam keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun ragu mengiringi 300.000 pasukannya untuk menyerbu penduduk Basrah yang enggan bertaubat dari tidak berzakat.
Suami cengeng, cenderung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan tetapi terampil mengeluh. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti enerjik, penuh semangat dan vitalitas hidup. Obsesinya selalu ‘menyala’ dan tidak kenal lelah dalam meraihnya. Lebih dari itu, tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.
Kedelapan, Pengecut
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (wa a’uudzubika minal jubni...). Mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Ketika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.
Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang. Bodoh dan berani, tidaklah sama.
Kesembilan, Pemalas
Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas (Allahumma innii a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasl). Kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bagian dari beban masalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.
Kesepuluh, Acuh dan Tidak Peka kepada Anak
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak; ayah-lah yang menghadirkan visi hidup sang anak. Baginda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada anak-anaknya hingga kepada cucunya Hasan-Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.
Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Rumus utama suami seperti ini : “Pokoknya aku cuma urusan cari duit. Masalah PR sampai ambil buku rapot, urusan kamu ya Bu !”. Sering anak ‘diusir’ ayahnya saat ingin bermain dan bergelayut manja, lantaran tumpukan pekerjaan kantor yang diusung ke rumah. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.
Kesebelas, Menang Sendiri
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.
Keduabelas, Jarang Komunikasi
Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim SMS atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.
Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan perihal kabarnya.
Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum
Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan.
Baginda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganggarkan : Perhiasan seorang lelaki adalah tampak wanginya, tetapi tidak tampak warnanya. Sebaliknya, perhiasan seorang wanita adalah tampak warnanya, tetapi tidak tampak wanginya.
Ketika seorang suami rapi dan wangi, istri bangga dan berprestise baik karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu dalam asumsi para istri, kerapian dan keharuman adalah cerminan pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembrono dalam penampilannya dan menyebarkan aroma tak sedap.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita tidak termasuk ke dalam salah satu contoh buruk suami seperti hal di atas.
Allahu a’lam

13 Sifat Perempuan yang Tidak Disukai Laki-Laki

Salah satu pusat kajian di Eropa telah mengadakan survei seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survei ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan. Dari gambaran survei ini, diharapkan menjadi masukan dan pertimbangan sikap para istri dan juga sikap para suami. Sekaligus menjawab pertanyaan para istri selama ini, perihal sebab mengapa para suami mereka menjauh bahkan lari dari rumah.
Survei itu menguatkan bahwa ada 13 sifat atau tipe perempuan yang tidak disukai laki-laki:
Pertama, MUSTARJALAH (perempuan yang kelaki-lakian)
Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survei itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survei dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survei ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.
Kedua, TSARTSARAH (perempuan yang tidak bisa menahan lisannya)
Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.
Ketiga, MAADDIYAH (perempuan materialistis)
Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.
Keempat, MUHMALAH (perempuan pemalas)
Tipe perempuan lamban, tidak tanggap, enggan repot, berpangku tangan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.
Kelima, GHOBIYYAH (perempuan bodoh)
Tipe perempuan ini yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif. Serba tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Biasanya, kebodohannya ini akan ditutupinya dengan ‘kelebihan’-nya yang lain : banyak cakap, mengumbar kegenitan, atau bahkan eksplorasi lekuk tubuhnya.
Keenam, KADZIBAH (perempuan pembohong)
Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, suka berbohong, tidak berkata sebenarnya, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele dan remah. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.
Ketujuh, MUTABAHIYAH (perempuan yang mengira dirinya serba hebat)
Tipe perempuan ini selalu menyangka ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, paling pintar, paling patut didengan ucapannya, paling powerfull, dibandingkan suaminya, anaknya, rekan-rekan di tempat kerjanya, dan lainnya…
Kedelapan, perempuan jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya
Tipe perempuan yang selalu unjuk kekuatan fisiknya setiap saat (!?).
Kesembilan, perempuan yang hasad dengan perempuan lainnya.
Adalah tipe perempuan yang selalu tercekam hatinya melihat orang lain mengunggulinya, yang diakhiri dengan menjelekkan orang lain itu. Mudah menyimpan ingatan dan selalu mengungkit keburukan orang kepada dirinya, lalu senantiasa berusaha melampiaskan dendamya.
Kesepuluh, MUBTADZILAH (perempuan murahan)
Tipe perempuan pasaran ini yang gemar memancing perhatian orang dengan mengumbar omongan cabul, celetukannya memancing syahwat, perilakunya ganjen, mengeksplorasi lekuk tubuhnya (eksibisionis), menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat. Seorang pria paling bajingan pun tidak akan mau memiliki anak (maupun beribukan) dari wanita jenis ini.
Kesebelas, SYADIDAH HASASIYYAH (perempuan yang serba perasa)
Tipe perempuan seperti ini serba sensitif, senewen, jutek, mudah tersinggung, acap merengek, banyak menangis, yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal pernikahan. Suami menjadi masyghul dengan sikap cengengnya.
Keduabelas, GHAYYUR GHIRA ZAIDAH (perempuan pencemburu yang berlebihan)
Lisannya penuh zhan. Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan yang tak semestinya ada, lingkaran persengketaan tak berkesudahan.
Ketigabelas, MUMILLAH (perempuan fanatik pendapatnya sendiri)
Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun hal itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau anak-anaknya, baik dalam urusan pribadi atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nrimo dengan hanya satu kata, satu cara, satu pilihan, setiap harinya selama puluhan tahun, tanpa jenuh !
Ketika Laki-Laki Memilih
Dari hasil survei di Eropa itu, dikomparasikan dengan pendapat banyak kalangan dari para pemuda lajang dan para suami seputar hasil survei itu, maka bisa kita lihat pendapatnya sebagai berikut:
 Sebut saja namanya Muhammad Yunus, 36 tahun, telah menikah sebelas tahun, ia berkomentar :
“Saya sepakat dengan hasil survei itu. Terutama sifat “banyak omong dan malas”. Tidak ada sifat yang lebih jelek dari perilaku mengumbar omongan, tidak bisa menahan lisan, siang-malam dalam setiap perbincangan, baik berbincangan serius atau canda, menjadikan suaminya dalam kondisi sempit, dan marah, apalagi suaminya telah menjalankan pekerjaan berat di luar, di mana ia membutuhkan ketenangan dan kejernihan pikiran di rumah.
Saya baru mengetahui dari rekan saya yang memiliki istri model ini, tidak bisa menahan lisannya di setiap pembicaraan, setiap waktu dan dengan semua orang. Suaminya telah menasehatinya berulang kali, agar bisa menahan omongan, namun ia tidak menggubris nasehatnya sehingga berakhir dengan perceraian.
Pada umumnya model istri yang banyak omong, itu lebih pemalas di rumahnya. Bagaimana ia menggunakan waktu yang cukup untuk mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, sedangkan ia sibuk ngobrol dengan para tetangga dan teman?!.
 Jamil Abdul Hadi, sebut saja namanya begitu, insinyur berumur 34 tahun, telah menikah 9 tahun, ia berkomentar :
“Tidak ada yang lebih buruk dari model perempuan yang materialistis, selalu menuntut setiap saat, meskipun suaminya menuruti permintaannya, ia terus meminta dan menuntut!!
Tipe perempuan ini, sayangnya tidak mudah menerima perubahan menuju lebih baik, tidak gampang menyesuaikan diri dalam kehidupan apa adanya. Boleh jadi kondisi demikian berangkat dari asuhan semenjak kecilnya. Saya tidak diuji Allah dengan model perempuan seperti ini, namun justru saya diuji dengan istri perasa dan cengeng.”
 Dengan tertawa Mahmud as Sayyid menerima hasil survei ini, ia berkomentar:
“Demi Allah, sungguh menarik ada lembaga atau pusat studi yang menggelar survei dengan pembahasan seputar ini. Survei ini meskipun memiki cara pandang dan penilaian yang berbeda-beda, namun terungkap bahwa cara pandang itu satu sama lain tidak saling bertentangan…”
 Lain lagi dengan Hasan, sebut saja begitu. Belum menikah, mahasiswa di sebuah universitas. Ia berujar tentang mimpinya, yaitu istri yang akan mendampinginya, ia mengharap:
“Pasti saya menginginkan tidak mendapatkan istri yang memiliki tipe sebagaimana hasil survei di atas. Tetapi mengingat tidak ada istri yang “sempurna”, karena itu saya masih mungkin menerima tipe perempuan di atas kecuali tipe perempuan pembohong. Istri pembohong akan lebih mudah mengkhianati, tidak menghormati hubungan suami-istri, tidak memelihara amanah, tidak bisa dipercaya. Setiap orang pada umumnya tidak menyenangi sifat bohong, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Karena akan berdampak negative pada anak-anaknya, karena anak-anak akan meniru dirinya!!.
Ketika ia ditanya tentang tipe perempuan “kelaki-lakian”. Perempuan yang menyerupai laki-laki dalam segala hal dan menyanginya dalam segala hal. Ia berkomentar :
“Tidak masalah berhubungan dengan istri tipe seperti ini, selagi sifat “kelaki-lakian” tidak mengalahkan dan mengibiri sifat aslinya. Selagi ia masih mengemban kerja dan tugas yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti menikah, mengandung, menyusui dan lainnya.”
“Perempuan kuat menurut saya akan mengetahui bagaimana ia mengurus kebutuhan dirinya, mengarahkan dan mengatur keluarga dan anak-anaknya. Akan tetapi segala sesuatu ada batasnya yang tidak boleh diterjangnya. Sebagaimana seorang perempuan tidak suka terhadap laki-laki yang banci, seperti berbicara dan berperilaku layaknya perempuan, maka seperti itu juga laki-laki tidak suka terhadap perempuan yang mengedepankan sifat kelaki-lakian… Segala sesuatu ada batas ma’kulnya. Jika melampaui batas sewajarnya, yang terjadi adalah kontra produktif”.
Tidak ada seorang istri yang sempurna. Dan memang ada perbedaan cara penilaian dan cara pandang antara laki-laki satu dengan laki-laki lain. Namun ada kaidah umum yang disepakati oleh semua, yaitu menolak sikap bohong, penipu, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.”
Semoga tulisan ini menambah informasi dan pengalaman buat para istri dan calon istri. Dan tentunya bermanfaat bagi laki-laki, sehingga para suami mampu bermu’asyarah bilma’ruf atau berhubungan dengan istri-istrinya dengan cara makruf, sebagaimana yang digariskan dalam Al qur’an. Allah swt. berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Al Nisa’:19
Dan karena perempuan adalah “syaqa-iqur rijal” (saudara kembar laki-laki, belahan hidup laki-laki) maka seharusnya saling mengisi dan menyempurnakan, untuk membangun “baiti jannati” sehingga keduanya mampu bersinergi untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam pengembaraan kehidupan ini. Allahu a’lam