Rabu, 22 Februari 2012

Mencapai potensi hidup yg maksimal

etiap orang mendambakan masa depan
yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial,
namun seringkali kita terbentur oleh
berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada
pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang
kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan
paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai
potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas
wawasan. Anda harus memandang
kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu
sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental
yang jelas tentang apa yang akan Anda
raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari
dirimu, didalam benakmu, dalam
percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah
sadarmu, dalam perbuatanmu dan
dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah
mengembangkan gambar diri yang
sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa
yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat
tergantung pada bagaimana Anda
memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda
rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu
akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam
bertindak. Fakta menyatakan bahwa
Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa
yang Anda bayangkan mengenai dirimu
sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan
kekuatan dibalik pikiran dan
perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah
pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan
memanipulasi apa yang Anda pikirkan,
maka ia
akan berhasil mengendalikan dan
memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan
gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk
senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan
masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan
segala yang tidak seorangpun patut
mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup
berkemenangan , Anda tidak boleh
memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk
membuat pilihan-pilihan yang buruk
saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan
masa lalu sebagai alasan atas sikap
burukmu
selama ini, atau membenarkan
tindakanmu untuk tidak mengampuni
seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan
kekuatan di dalam keadaan yang paling
buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja
terjatuh beberapa kali dalam hidup ini,
tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal
dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua
pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja
dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk
hidup
berkemenangan adalah belajar
bagaimana untuk bangkit lagi dari
dalam.
* Langkah ke enam adalah memberi
dengan sukacita. Salah satu tantangan
terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk
hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang
menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati
kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia
sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak
dalam prilaku mementingkan diri
sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami
lebih banyak sukacita dari yang pernah
dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan
orang lain.
* Langkah ke tujuh adalah memilih
untuk berbahagia hari ini. Anda tidak
harus menunggu
sampai semua persoalanmu
terselesaikan. Anda tidak harus
menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua
sasaranmu. Tuhan ingin Anda
berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !

( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup
yang maksimal by Joel Osteen)

Busuknya kebencian

Seorang Ibu Guru Taman Kanak-Kanak
(TK) mengadakan "permainan".
Ibu Guru menyuruh setiap muridnya
membawa kantong plastik transparan 1
buah dan kentang. Masing-masing
kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang
yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak
ditentukan berapa banyaknya... tergantung jumlah orang²
yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing² murid membawa
kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2,
ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru
mereka tiap² kentang diberi nama sesuai nama orang
yang dibenci. Murid² harus membawa kantong plastik
berisi kentang tersebut, kemana saja mereka pergi,
bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang² pun mulai membusuk,murid²
mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang,
selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu
murid² TK tersebut merasa lega karena penderitaan
mereka akan segera berakhir.
Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang
selama 1minggu ?"
Keluarlah keluhan dari murid² TK tersebut, pada
umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa
kentang² busuk tersebut kemana pun mereka pergi. Guru
pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka
lakukan.
Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kitabawa²
apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh
sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk
kemana pun kita pergi. Itu hanya 1minggu. Bagaimana
jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya ..."
Sumber : Artikel-motiva.blogspot.com

Jilbab atau Akhlak

Dalam pandangan masyarakat kita,
bahwa wanita berjilbab, adalah wanita
yang identik memiliki tatakrama baik,
wanita yang santun, yang kalem, rajin
shalat, rajin berderma, sering hadir
majlis pengajian dan berbagai predikat
keshalihahan lainnya.
Oke, boleh jadi sebagian besar wanita
berkerudung seperti itu. Sebaliknya,
muslimah yang tak berke...rudung, meski akhlaknya baik,
tentu saja dipandang tak sebaik muslimah berkerudung,
hal yang lumrah dan spontanitas terlintas dalam benak.
Akibatnya, jika ada kebetulan wanita berjilbab melakukan
sesuatu yang kontradiktif dengan jilbabnya itu, seketika
penilaian masyarakat menjadi njomplang sangat negatif
sekali. Dan tentu saja jilbabnya seketika menjadi objek
atas tindakan yang tak sesuai dengan moral pemakai
jilbab. "Jilbaban tapi kok gitu".
Akhirnya, sebagian muslimah yang tidak berjilbab pun,
memilih tetap bertahan pada pilihannya, dengan pikiran
sangat sederhana sekali, daripada aku tidak bisa menjaga
sikapku saat mengenakan jilbab, lebih baik aku tidak
mengenakannya sekalian, biarlah aku menjilbabi hatiku
terlebih dahulu. Ntar aja jilbaban kalau udah mau wafat.
Menjilbabi hati, kalimat yang mendadak populer setelah
boomingnya film ayat-ayat cinta, kalimat yang bisa jadi
sudah lama berdengung tetapi dipopulerkan oleh Rianti
Cartwright, ini setahuku.
Sebenarnya, fenomena di atas (pengidentikan jilbab
dengan keshalihahan) adalah kesalahan pemahaman
umum (salah kaprah) dalam masyarakat kita soal
hubungan jilbab dengan akhlak. Oke, memang wanita
yang shalihah, yang menjalankan agamanya dengan baik,
tentu saja mengaplikasikan segenap perintah agamanya
terhadap dirinya semampu dia, salah satunya adalah
berjilbab ini.
Tetapi aku berani mengatakan, bahwa sebenarnya tak ada
hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik.
Lhoh kok bisa?
Berjilbab, adalah murni perintah agama yang
berhubungan dengan pribadi muslimah itu. Yakni, jilbab
adalah kewajiban baginya dengan tanpa melihat apakah
moralnya baik ataupun buruk. Jadi selama dia muslimah,
maka berjilbab adalah kewajiban.
Tentu saja, jika ada muslimah tak berjilbab, itu pilihan dia,
tetapi tentu sebuah konsekwensi dan merupakan
kebijakan, apabila seseorang tidak menjalankan perintah,
maka resikonya adalah sanksi. Dan sanksi syariat tentu
saja adalah dosa.
Memang, bermoral baik adalah tuntutan sosial, di
samping tentu ajaran agama. Akan tetapi semua
kewajiban dalam agama, sekaligus larangan-larangannya,
adalah tidak berhubungan dengan akhlak itu. Salah
satunya ya masalah jilbab ini.
So, okelah seorang muslimah bilang, cukup aku jilbabi
hati. Tetapi dia tetap harus mengakui bahwa berjilbab
adalah wajib baginya. Siap tidak siap, baik tidak baik,
kewajiban muslimah adalah berjilbab (dalam konteks
bahasa umum, menutup aurat)
Catatan ini tidak menyoroti dan tidak mengangkat soal
pendapat lucu yang menyatakan bahwa jilbab itu tidak
wajib sebab hanya budaya arab. Komentar pendek saja, orang yang bilang seperti ini, tidak memahami sejarah
dan tidak memahami teks syariat itu dengan baik.
Argumen bertele-telenya dengan berusaha melogikakan ayat melalui permainan nahwu, ushul fiqh, mantiq, hanya membuat bahan tertawaan saja.
Kan ada tuh profesor besar lulusan timur tengah yang
juga berpendapat gitu sehingga anak perempuannya tidak berjilbab. Catat, agama ini tidak melihat sosok, tidak mlihat label seseorang. Meski besarnya pangkat
seseorang itu seperti apa, kalau salah dalam tata cara
memandang, maka tetaplah salah.
Karena sekali lagi, moralitas tak ada hubungan dengan
jilbab, meski tentu saja dituntut dari gadis berjilbab untuk bermoral sesuai dengan jilbabnya.
Jadi, kesimpulannya, jilbab adalah wajib dikenakan tiap muslimah yang telah memasuki usia baligh, tanpa
melihat apakah moralnya baik atau jelek. Dan moral
adalah sesuatu yang dituntut dalam kehidupan sosial.
Maka, itu yang harus diketahui setiap muslimah terlebih dahulu. Adapun setelahnya jika dia tidak mengenakan, maka tentu saja berkonsekwensi dosa dan ada keharusan dari yang lain mengingatkannya untuk mengenakan, kalaupun tidak mau, yang menasehati bebas tugas.
tentu saja sebaliknya, jika dia mengenakan, maka pahala akan terus mengalir padanya selama jilbab itu bertengger di kepalanya, sebagai bentuk balasan atas ketaatan mnjalankan perintah.
Tapi ingat, jangan punya pikiran "wah kalau gitu, aku
urakan saja deh, kan dosaku pasti dikurangi pahala
jilbab", Kalau yang jenis seperti ini, sudah tahu begini,
justru dosanya berlipat sebab menyalah gunakan syariat.
Akhir catatan, semoga kita selalu diberi taufiq untuk
kebaikan, dan menjalankan kewajiban agama kita sebaik-baiknya. Aamiin...
DI KUTIF DARI : ctatatan sebuah seminar.

Kerena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".


Suami saya adalah seorang
insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya
menyukai perasaan hangat
yang muncul di perasaan saya,
ketika saya bersandar di
bahunya yang bidang. Tiga
tahun dalam masa perkenalan,
dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui,
bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya
mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-
saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan
permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam
menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan
kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta
yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan
perceraian.
"Mengapa?" tanya suami saya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya inginkan" jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di
depan komputernya, tampak seolah-olah sedang
mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang
bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya
lakukan untuk mengubah pikiran kamu?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab
dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat
menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya
akan mengubah pikiran saya. Seandainya, saya menyukai
setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung. Kita
berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan
mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
memberikan jawabannya besok."
Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan coret-coretan
tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
yang bertuliskan...
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya
melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu'
datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan
tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu khawatir
kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan
sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau
meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu
yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu
dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan
mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika
kita tua nanti, saya masih dapat menolong
mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."
"Tangan saya akan memegang tangan kamu,
membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-
warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya
wajah kamu."
"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah
yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena,
saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir
menangisi kematian saya."
"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai
kamu lebih daripada saya mencintai kamu. Untuk itu
Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki
saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa
menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata
lain yang dapat membahagiakan kamu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk
terus membacanya.
"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang,
biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang
saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu.
Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil
tangannya memegang segelas susu dan roti kesukaan
saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai
saya lebih daripada dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-
angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia
tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita
inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam
wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud
"bunga".
(sumber:http://www.invisibleman0595.co.cc/2010/02/tidak-selalu-harus-berwujud-bunga.htm

Terlanjur bangga. . .

Saya yakin semua kita kenal
dengan sebuah permainan yang
pemenangnya hanya ditentukan
nasib oleh enam sisi dadu. Ya
permainan ular tangga kawan!!
untuk memenangkan
permainan ini anda tak perlu
punya keahlian apa-apa, tak
perlu punya keterampilan apa-
apa, kecuali mampu mengocok
dadu dan melemparkannya,
anda bisa menang, atau juga kalah. Ini benar-benar hanya
untung-untungan. Kadang hanya dengan tiga empat kali
naik tangga, anda sudah ada di lajur teratas, selangkah
menuju finish. Tapi lebih sering kita telah jauh berjalan,
telah lama berputar-putar, bahkan sudah malas rasanya
tangan ini melemparkan dadu, tapi tetap saja kita di situ,
progres kita seperti jalan di tempat, kerja kita hanya naik
tangga dan dan kemudian menuruni badan ular dari ekor
ke kepalanya, tanpa jelas kapan kita akan finish.
Kawan, tanpa kita sadari kadang hidup kita layaknya
seperti permainan ular tangga. Kadang kita merasa sudah
berjalan begitu jauh, sudah menghabiskan begitu banyak
bekal, sudah menguras sekian banyak energi, tapi kita
sebenarnya masih ada di situ atau bahkan kita kembali
mundur. Jalan yang kita tempuh serasa belum mengantar
kita kemana-mana. Kerja yang sudah kita lakukan belum
sedikit jua membawa perubahan.
Tapi yang paling mengenaskan dan perlu dikasihani
adalah mereka yang sudah berjalan jauh, yang sudah
menghabiskan sekian banyak bekal, yang sudah
mengeluarkan sekian besar tenaga, tak pernah sadar
kalau mereka sebenarnya belum kemana-mana. Yang
mereka tahu mereka hanya berjalan dan berjalan.
Layaknya permainan ular tangga tadi, tak sedikitpun
sadar kalau sebenarnya mereka lebih sering menuruni
badan ular daripada meniti anak tangga.
Kawan, jika anda berjalan di suatu medan terbuka dan
anda dipandu oleh peta, maka perhatikan selalu peta
anda untuk memastikan anda tetap laju ke tujuan dan
tidak “mbulet” di tempat yang sama. dalam kenyataannya,
jika anda melenceng satu derajat saja, dan anda telah
berjalan sejauh 10 kilometer, maka dipastikan anda sudah
tersesat sangat jauh. Apa lagi kalau anda berjalan tanpa
peta, tanpa panduan.
Mereka layaknya para pengecut zionis yang merampas
tanah palestina. Sejauh ini mereka merasa masih terus
berjalan, meneruskan perampokan tanah Palestina,
mereka masih merasa terus maju. Tapi sebenarnya
mereka tak pernah sadar, bahwa sebenarnya mereka
mundur, jauh. Kesakitan mental warganya yang kian hari
kian parah namun bersamaan dengan itu mereka sedang
membangun mental-mental yang kian garang pada
warga palestina dan umat islam.
Atau mereka layaknya para islamofobia di Eropa sana.
Yang sampai saat ini mereka masih merasa berjalan maju
untuk mematikan islam di Eropa. melarang adzan,
melarang muslimah berjilbab, melarang mendirikan
masjid, dan makar-makar lainnya. Tapi apa kenyataannya,
mereka sebenarnya mundur, jumlah muslim di Eropa
berlipat-lipat bertambah tiap tahunnya.
Kawan, mari berhenti sejenak, ambil waktu untuk
beristirahat, memeriksa peta kita, mengisi bekal minum
kita. Periksa lagi perjalanan, sudah sampai di mana kita.
Sudah sejauh apa kita berjalan. Sudah sedekat apa kita
dengan tujuan kita. Sudah sebesar apa perubahan yang
pernah kita torehkan. Jangan sampai kita termasuk
orang-orang “yang merasa telah melakukan banyak hal,
tapi sebenarnya belum melakukan apa-apa.” Atau lebih
parah lagi orang-orang “membanggakan kerja yang
dilakukan oleh orang lain“.
Kawan, jangan terlalu lama beristirahat, mari kita
berjalan lagi, mari kita beramal lagi. Jalan kita masih
panjang, samudera tugas membangun peradaban masih
membentang dan HARAPAN ITU MASIH SANGAT ADA sumber: dakwatuna.com.

Kisah inspirTif seorang Akhwatt


Ternyata inspirasi bukan lah
sebuah hal yang sulit dicari, bahkan
seorang dosen pun dapat membuat
cerita yang begitu menginspirasi
kami...dan pepatah sebagian
orangtua yang menyatakan "
wanita tidak usah sekolah tinggi-
tinggi karena ujung-ujungnya
kembali ke dapur , sumur, dan
kasur " tidak berlaku lagi.
Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi
kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan
wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak,
beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan
hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa
diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat di luar
sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini.
Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus
donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu
merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang
membuat kamu terlihat bimbang dek."
Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak,
sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak
kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa
bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan
beasiswa ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan
saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki
ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan
hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika
saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk
menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan
ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua
menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih
baik untuk saya jalani."
Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya
adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia
tidak bisa disalahkan dengan pikirannya... Dosen itu pun
berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT
membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan
indah ini...
Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide
nya.... Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya..
"Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia
masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan
pendidikan ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi
bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua
matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat
besar ... yang saling ingin meniadakan..
Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin
bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau
berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu
darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis.
Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun
demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3
semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek
fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang
pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah
seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya
berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia
mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh
seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah
engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak
manusia yang akan kau lahirkan nanti."
Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen....
Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia
tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi
air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih
nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih,
akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun
puncak lagi yang menghalangi saya."
Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna..
Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi
rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang
hakiki,.

Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from
Physics Engineering, ITB .
*copas dari

Kisah anak yg mencorat coret mobil ayahnya


Sepasang suami isteri - seperti
pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh
pembantu rumah sewaktu
bekerja. Anak tunggal pasangan
ini, perempuan cantik berusia
tiga setengah tahun. Sendirian ia
di rumah dan kerap kali
dibiarkan pembantunya karena
sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di
halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun
mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi
karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak
kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya…
karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak
jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai
dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena
ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil
sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri
mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya
sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya
mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa
disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu
melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran
angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang
belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit,
“Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak
engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar.
Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat
wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan
keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak
tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg
kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari
keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata
“Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!”
katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja
seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran
mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan
rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak
tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa
menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas
memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang
tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah
merestui dan merasa puas dengan hukuman yang
dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu
harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul
tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.
Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu
rumah tersebut menggendong anak kecil itu,
membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang
tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu
rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya
dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu
terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak
kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur
bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua
belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah
mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak
si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu
yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah
konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari
berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya
sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya
kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab
pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab
si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk
kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam
pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar
pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan
tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti
kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata
majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah
dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke
rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah
beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan
ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut
yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong
karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini
sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka
kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata
dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar
mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar,
tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan
lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya
menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar
dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan
melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya
muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu
rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak
bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak
akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul.
Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”,
katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan
rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya
memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat
wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita
janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya
Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain
nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ”
katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu
mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat
hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia
dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya
si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua
tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya
tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun
demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan
dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak
kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis
penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan
segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap
hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan
ayahnya..
Sumber : dikutip dari milis EMBA