Senin, 05 Maret 2012

MENGAPA NABI DILAHIRKAN DI ARAB? (hikmah maulid)


Musim maulid seperti ini banyak sekali ceramah yang
mengupas tentang kisah lahirnya Nabi Muhammad
SAW. Ada satu pertanyaan menggelitik saat
membahas tentang kelahiran beliau, yaitu apa
rahasia dan hikmah dibalik takdir Allah SWT
menetapkan bahwa Nabi dan Rasul terakhir yang
risalahnya berlaku untuk seluruh umat manusia,
harus beruwujud seorang Arab, yaikni berbangsa dan
juga berbahasa Arab. Kenapa bukan orang Eropa saja,
atau Cina, atau Afrika, atau juga orang Betawi?
Kenapa Allah SWT memilih untuk menurunkan
risalah abadi dan universal itu di tanah Arab?
Memangnya apa sih keistimewaan Jazirah Arabia
itu?
Pernyataan ini cukup menggeletik rasa ingin tahu
kita, mengingat saat ini negeri Arab justru menjadi
pusat konflik bersenjata international. Negeri yang
tidak pernah sepi dari huru-hara dan kerusuhan.
Kalau kita kaitkan dengan visi misi Islam yang salah
satunya adalah rahmatan llil-alamin, rasanya kok
rada kehilangan makna.
Sesungguhnya sudah ada banyak kajian tentang hal
ini, salah satu apa yang ditulis oleh Dr. Said
Ramadhan Al-Buthi dan beberapa ulama lainnya.
Al-Buthi menegaskan bahwa turunnya Islam pertama
di negeri arab bukan sekedar kebetulan. Juga bukan
semata karena di sana ada tokoh paling jahat
semacam Abu Jahal cs. Namun ada sekian banyak
skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak.
Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa
rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang,
sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-
Nya memang negeri Arabia.
Apa yang disebutkan Al-Buthi itu benar. Negeri Arab
yang meski tandus, tidak ada pohon dan air, namun
negeri ini menyimpan banyak alasan untuk
mendapatkan kehormatan itu. Saya mencoba
menuliskan beberapa alasan rabbani dan hikmah itu,
di antaranya yang bisa kita gali adalah:
1. Di Jazirah Arab Ada Rumah Ibadah
Pertama
Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi
dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah ada di
tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan
di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama
besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di
negeri Syam.
Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di
muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah
Arabia. Yaitu dengan dibangunnya rumah Allah
(Baitullah) yang pertama kali di tengah gurun pasir
jazirah arabia.
Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat
dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia.
Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas
izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka
bertawaf di sekeliling ka`bah itu sebagai upaya
pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat
peribadatan umat manusia hingga hari kiamat
menjelang.
Ketika Adam as diturunkan ke muka bumi, beliau
diturunkan di negeri yang sekarang dikenal dengan
India. Sedangkan isterinya diturunkan di dekat
ka`bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan
di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat
dibangunnya ka`bah.
Maka jadilah wilayah sekitar ka`bah itu sebagai
tempat tinggal mereka dan ka`bah sebagai tempat
pusat peribadatan umat manusia. Dan di situlah
seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula
manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah
ibadah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun
untuk manusia beribadah adalah rumah yang di
Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi
petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)
2. Jazirah Arabia Adalah Posisi Strategis
Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati
adanya banyak benua yang menjadi titik pusat
peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di
antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah
menjadi pusat peradaban manusia.
Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia
adalh posisi yang strategis dan tepat berada di
tengah-tengah dari pusat peradaban dunia.
Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis
mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar
adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat
yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata
uang perak yang dikenal di negeri timur seperti
Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar
maupun dirham sama-sama diakui dan dipakai
sebagai mata uang yang berlaku.
Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses
yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan
ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan
Yaman di Selatan.
Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat
menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya
kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu
dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat
strategis dan tepat berada di pertemuan semua
peradaban.
Kita tidak bisa membayangkan bila Islam diturunkan
di wilayah kutub utara yang dingin dan jauh dari
mana-mana. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal
di berbagai peradaban dunia.
Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan
di kepulauan Irian yang jauh dari peradaban
manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih
mengalami kendala dalam penyebaran.
Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan
darat dan laut yang sama-sama bermanfaat.
Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur
itu dengan mudah.
Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam
sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia.
Bahkan munurut HAMKA, di abad itu Islam sudah
sampai ke negeri nusantara ini. Dan bahkan
salahseorang shahabat yaitu Yazid bin Mu`awiyah
ikut dalam rombongan para dai itu ke negeri ini
dengan menyamar.
3. Kesucian Bangsa Arab
Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang
adalah bahwa orang arab di masa Rasulullah SAW itu
jahiliyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu
pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk
menjelaskan makna jahiliyah.
Padahal yang dimaksud dengan jahiliyah
sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga
bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa.
Jahiliyah dalam pandangan Quran adalah lawan dari
Islam. Maka hukum jahiliyah adalah lawan dari
hukum Islam. Kosmetik jahiliyah adalah lawan dari
kosmetik Islam. Semangat jahiliyah adalah lawan dari
semangat Islam.
Bangsa arab memang sedikit terbelakang secara
teknologi dibandingkan peradaban lainnya di masa
yang sama. Mereka hidup di gurun pasir yang masih
murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda
dengan moralitas maknawiyah bangsa lain yang
sudah semakin terkotori oleh budaya kota, maka
bangsa arab hidup dengan kemurnian niloai
kemanusiaan yang masih asli.
Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati dan
keadilan adalah ciri mendasar dari watak bangsa yang
hidup dekat dengan alam. Sesuatu yang telah sulit
didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk
pikuk kota.
Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq
mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada
seorang tamu yang meski belum dikenal merupakan
bagian dari harga diri seorang arab sejati. Pantang
bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang.
Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka
miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang bagi
bangsa arab menolak permintaan orang yang
kesusahan. Mereka amat menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan yang paling dasar.
Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti
minum khamar dan menyembah berhala, bangsa
arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan
mereka. 360 berhala yang ada di sekeliling ka`bah
tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan
peradaban barat yang amat menggemari patung.
Bahkan sebuah berhala yang paling besar yaitu
Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang
diimpor oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka
budaya paganisme yang ada di arab tidak lain
hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai
imbas dari pergaulan mereka dengan budaya
romawi, yunani dan yaman.
Termasuk juga minum khamar yang memabukkan,
adalah budaya yang mereka import dari luar
peradaban mereka.
Namun sifat jujur, amanah, terbuka dan
menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak
dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak
dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai,
apalagi generasi dai pertama.
Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar
balik ayat Allah sebagaimana Yahudi dan Nasrani
melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang
sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan
adalah taat, tunduk dan patuh kepada apa yang Allah
perintahkan. Begitu cahaya iman masuk ke dalam
dada yang masih bersih dan suci, maka sinar itu
membentuk proyeksi iman yang amal yang luar
biasa. Berbeda dengan bani Israil yang dadanya sesat
dengan noda jahiliyah, tak satu pun ayat turun
kecuali ditolaknya. Dan tak satu pun nabi yang
datang kecuali didustainya.
Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah
masuk ke dalam dada. Maka ending sirah nabawiyah
adalah ending yang paling indah dibandingkan
dengan nabi lainnya. Sebab pemandangannya adalah
sebuah lembah di tanah Arafah di mana ratusan ribu
bangsa arab berkumpul melakukan ibadah haji dan
mendengarkan khutbah seorang nabi terakhir.
Sejarah rasulullah berakhir dengan masuk Islamnya
semua bangsa arab. Bandingkan dengan sejarah
kristen yang berakhir dengan terbunuhnya (diangkat)
sang nabi. Atau yahudi yang berakhir dengan
pengingkaran atas ajaran nabinya.
Hanya bangsa yang hatinya masih bersih saja yang
mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia
dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh
penjuru dunia.
4. Faktor Bahasa
Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim
nabi dengan bahasa umatnya. Agar tidak terjadi
kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan
umatnya.
Namun ketika semua nabi telah terutus untuk semua
elemen umat manusia, maka Allah menetapkan
adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat
manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah
yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi terus
hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.
Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa
menampung informasi risalah secara abadi. Sebab
para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap
bahasa itu punya masa eksis yang terbatas. Lewat
dari masanya, maka bahasa itu akan tidak lagi dikenal
orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.
Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi
dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat
manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata oleh
pakar bahasa adalah bahasa arab, sebagai satu-
satunya bahasa yang pernah ada dimuka bumi yang
sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini
masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.
Dan itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di arab
dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa
arab. Ternyata bahasa arab itu adalah bahasa tertua
di dunia. Sejak zaman nabi Ibrahim as bahasa itu
sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama
berpendapat bahwa bahasa arab adalah bahasa umat
manusia yang pertama.
Logikanya sederhana, karena ada sebuah hadits yang
menyebutkan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa
arab. Dan asal-usul manusia juga dari surga, yaitu
nabi Adam dan isterinya Hawwa yang keduanya
pernah tinggal di surga. Wajar bila keduanya
berbicara dengan bahasa ahli surga. Ketika keduanya
turun ke bumi, maka bahasa kedua `alien` itu
adalah bahasa arab, sebagai bahasa tempat asal
mereka. Dan ketika mereka berdua beranak pinak,
sangat besar kemungkinannya mereka mengajarkan
bahasa surga itu kepada nenek moyang manusia,
yaitu bahasa arab.
Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila
bahasa arab memiliki jumlah kosa kata yang paling
besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan
penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa arab
memiliki sinonim yang paling banyak dalam
penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk
seekor unta, orang arab punya sekitar 800 kata yang
identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan
anjing ada sekitar 100 kata.
Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa
menyamai bahasa arab dalam hal kekayaan
perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang
lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam
disampaoikan dan Al-Quran diturunkan.
5. Arab Adalah Negeri Tanpa Kemajuan
Material Sebelumnya
Seandainya sebelum turunnya Muhammad SAW
bangsa arab sudah maju dari sisi peradaban
materialis, maka bisa jadi orang akan menganggap
bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral saja.
Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam
hanya peradaban spritualis yang hanya mengacu
kepada sisi ruhaniyah seseorang.
Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang
tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba
berhasil membangun peradana materialis itu di
seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa
Islam itu bukanlah makhluq sepotong-sepotong.
Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang
multi dimensi. Islam mengandung masalah materi
dan rohani.
Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah
tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian
mengajak mereka membangun peradaban materialis
yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia.
Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-
bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban
mereka semakin maju.
Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa
dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran
Islam, maka tentu membangun peradaban yang
sudah ada bukan hal sulit.

Ketegasan sang Nabi


“Wahai manusia sesungguhnya yang
membinasakan umat sebelum kalian adalah,
apabila seorang bangsawan mencuri, mereka
biarkan. Akan tetapi apabila seorang yang lemah
mencuri, mereka jalankan hukuman
kepadanya..."
Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW pada masa
‘Fathul Makah’ (pembebasan kota Mekah), ada
seorang wanita Quraisy yang mencuri. Wanita
tersebut seorang bangsawan dari Bani Makhzum.
Mereka bingung dalam memutuskan perkara
tersebut.
Dalam perundingan salah seorang dari mereka
mengusulkan untuk membicarakannya kepada
Usamah. Melalui Usamah mereka berniat untuk
memintakan syafa’at atau ampunan dari Rasulullah
SAW atas wanita tersebut. Mereka tahu bahwa
Usamah adalah salah seorang yang dicintai oleh
Rasulullah SAW. Berharap Rasulullah mengabulkan
permintaan Usamah.
Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah
SAW perihal keinginan mereka. Rasulullah SAW
menjawab, “Apakah engkau hendak membela
seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah
ditetapkan oleh Allah SWT?”
Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah,
“Wahai manusia sesungguhnya yang membinasakan
umat sebelum kalian adalah, apabila seorang
bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi
apabila seorang yang lemah mencuri, mereka
jalankan hukuman kepadanya. Demi Dzat yang
Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Kalau
seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri.
Niscaya aku akan memotong tangannya.”
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar
memotong tangan wanita tersebut. Setelah itu
wanita tersebut bertaubat dan menikah. (HR Bukhari
Muslim)
Di sini sangat jelas sekali bagaimana ketegasan
Rasulullah SAW dalam menjalankan perintah Allah
swt. Bagaimana Rasulullah saw bersikap terhadap
yang hak dan yang bathil. Rasulullah SAW tidak
mengenal istilah kolusi, korupsi dan nepotisme.
Dalam menegakan hukum yang bertujuan
tercapainya keadilan serta kemashlatan bersama.
Rasulullah SAW tidak pandang bulu, tidak melihat
latar belakang. Tidak melihat apakah ia pejabat, atau
bangsawan. Orang yang dekat dan dicintai Rasulullah
saw tidak menjadi jaminan untuk lolos dari hukuman.
Fatimah binti Muhammad, putri tercinta Rasulullah
SAW pun tak luput dari hukuman jikalau ia mencuri.
Bahkan beliau sendiri yang akan menghukumnya.
Terlihat bagiamana Rasulullah SAW bersikap
profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaan pada dirinya
tidak digunakan secara semena-mena. Beliau tidak
melebihkan satu dengan yang lainnya jika sudah
memasuki ranah hukum. Termasuk darah dagingnya
sendiri yang beliau cintai.
Inilah sosok pemimpin sejati dan profesional;
mempunyai sikap tegas dalam memutuskan suatu
perkara. Bukan saja istikqomah serta memegang
teguh aturan-aturan Illahi.
Rasulullah SAW juga bersikap adil terhadap umatnya.
Semoga di kemudian hari kita dapat menemukan
pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan
seperti Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.

Negarawan teladan sepanjang masa. .


"Ia satu-satunya orang yang berhasil meraih
kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama
maupun duniawi," -Michael H Hart-
12 Rabiul Awal merupakan tanggal yang penting
bagi umat Islam di seantero dunia. Pada tanggal
itulah, manusia termulia dan teragung sepanjang
masa terlahir ke muka bumi. Manusia terhebat itu
bernama Muhammad SAW – utusan Allah SWT –
yang membawa ajaran Islam.
Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford,
Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan Rasul
Allah yang telah membangkitkan salah satu
peradaban besar di dunia. Tak heran jika Michael H
Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan
Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh
sepanjang sejarah manusia.
‘’Ia satu-satunya orang yang berhasil meraih
kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun
duniawi,’’ ujar Hart. Muhammad SAW tak hanya
dikenal sebagai pemimpin umat Islam, beliau juga
dikenal sebagai seorang negarawan teragung, hakim
teradil, pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat
dan pejuang kemanusiaan tergigih.
Rasulullah SAW terbukti telah mampu memimpin
sebuah bangsa yang awalnya terbelakang dan
terpecah belah, menjadi bangsa yang maju yang
bahkan sanggup menggalahkan bangsa-bangsa lain di
dunia pada masa itu. Afzalur Rahman dalam
Ensiklopedi Muhammad Sebagai Negarawan,
mengungkapkan, dalam tempo kurang lebih satu
dekade, Muhammad SAW berhasil meraih berbagai
prestasi yang tak mampu disamai pemimpin negara
mana pun.
***
Sebagai seorang penguasa, Muhammad SAW telah
memberi sumbangan luar biasa terhadap bangunan
filsafat politik dan praktik pemerintahan.
Kontribusinya ini menjadi saksi hidup yang
membuktikan kebesarannya sebagai negarawan yang
jenius dengan kecakapan yang luar biasa.
Kualitas kepemimpinan Muhammad terlihat sejak
belia, sebelum menjadi nabi. Sikap dan perilakunya
yang jujur dan adil dalam berinteraksi membuat
penduduk Makkah menghormatinya. Masyarakat
Makkah pun menyebutnya sebagai Al-Amin (orang
yang terpercaya) dan Shadiq (orang yang benar).
Di usia belia, Muhammad SAW mampu
menyelesaikan perselisihan di antara suku-suku
Quraisy terkait dengan masalah pengembalian Hajar
Aswad ke tempatnya semula. Di tengah perdebatan
yang alot, Muhammad mengambil keputusan yang
sangat cerdik untuk menyelesaikan situasi pelik itu.
Beliau menghamparkan jubah di atas tanah dan
meminta agar Hajar Aswad diletakkan di tengah-
tengah hamparan jubah itu. Beliau kemudian
meminta masing-masing suku memegang ujung
jubah itu dan bersama-sama mengangkat Hajar
Aswad dan meletakkannya kembali ke tempat semula.
Persengketaan pun diselesaikan secara damai.
***
Kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai seorang
kepala negara dimulai ketika kaum Muslim hijrah dari
Makkah ke Madinah. Di kota suci kedua bagi umat
Islam itulah, komunitas kecil kaum Muslim di bawah
kepemimpinan Muhammad SAW berhimpun.
Pada masa-masa awal kehidupan di Madinah,
Rasulullah SAW dihadapkan pada situasi sulit. Kaum
muhajirin hidup miskin, tidak berdaya, dan tidak
mempunyai berbagai sarana kehidupan. Sementara
itu, kaum Quraisy Makkah mengancam untuk
menyerang Madinah, menghancurkan komunitas
Muslim yang masih kecil.
Kaum Yahudi-Madinah juga bersekongkol dengan
orang-orang musyrik Makkah untuk memusuhi kaum
Muslim. Tak hanya itu, sejumlah suku Arab di sekitar
Madinah juga menunjukkan sikap permusuhan
terhadap keyakinan baru ini, dan pada saat yang
bersamaan mulai berkembang kelompok munafik di
antara kaum Muslim Madinah sendiri
Siapa pun, yang kuat dan kaya sekalipun, pasti
kewalahan menghadapi tekanan dan beban ini.
Namun, Muhammad dapat menyelesaikan situasi
sulit dan tak terduga ini dengan efektif dan berhasil.
Ini membuktikan kenegarawanan dan kecakapannya
dalam bidang politik.
***
Menghadapi kenyataan yang sangat sulit itu,
Muhammad SAW mengambil serangkaian langkah
untuk mengukuhkan Negara Islam yang baru
didirikan itu secara sosial, politik dan ekonomi. Ia
mampu menegakkan otoritas politik dan memelihara
hukum serta ketertiban di seluruh wilayah suku-suku
di dalam dan di sekitar Madinah.
Lalu, Muhammad membuat berbagai perjanjian
dengan kepala-kepala suku Arab dan suku-suku
Yahudi di sekitar Madinah. Melalui serangkaian
langkah itulah Nabi Muhammad mampu membawa
Negara Islam Madinah sebagai sebuah negara yang
aktif memainkan berbagai peran politik di seluruh
penjuru wilayah.
Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk
The Venture of Islam, mengungkapkan, "Masyarakat
Muhammad terdiri dari kaum Muslim dan non-
Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan."
Sejak saat itu, tulis Hodgson, komunitas itu tak lagi
sekadar sebuah suku baru yang terdiri dari orang-
orang beriman atau bahkan sekedar perkumpulan
revolusioner lokal. ‘’Masyarakatnya terdiri dari
berbagai unsur heterogen yang diorganisasi secara
lebih baik dibandingkan sistem organisasi masyarakat
Makkah, baik secara religius maupun politik,’’ papar
Hodgson.
***
Struktur politik yang dibangun Muhammad, papar
Hodgson, merupakan bangunan yang kini dikenal
dengan sebutan negara, seperti negara-negara lain
yang ada di sekeliling Jazirah Arab, lengkap dengan
otoritas tata pemerintahan yang berdasarkan aturan
hukum.
Untuk menjalankan roda pemerintahannya, ungkap
Hodgson, Muhammad mengirim sejumlah utusan
yang bertugas mengajarkan Alquran dan prinsip-
prinsip Islam, mengumpulkan zakat, dan menengahi
berbagai perselisihan demi menjaga perdamaian dan
mencegah permusuhan.
Sehingga, kaum Muslim Madinah melahirkan dan
menciptakan suatu jalan hidup yang adil dan bernilai
ketuhanan di seluruh wilayah Hijaz, bahkan juga
pada wilayah-wilayah di luarnya.

*)REPUBLIKA

Ruhiyah seorang Istri

Seorang personil elemen tarbiyah daerah, sempat
membacakan SMS yang dikirimkan oleh seorang ibu.
Begini kira-kira bunyinya, "Tolong bapak cek,
bagaimana keadaan ruhiyah bapak-bapak lewat
pengajiannya. Karena saya merasa, suami saya sudah
kehilangan sholat malam, tilawah Al Qur’an, sholat
dhuha dan ma’tsurat. Yang tersisa hanya yang wajib
saja!"
....
Seorang istri, bagaimanapun, adalah teman setia
suami. Ia ibarat teman seiring sejalan yang harus
siap mendampingi dalam kondisi suka dan duka,
dalam keadaan suami sedang stabil atau labil.
Termasuk siap pula menghadapi kondisi keimanan
dan kekuatan ruhiyah yang naik dan turun.
Memang, Dr. Yusuf Qorodhowi dalam salah satu
tulisannya memuji kita, para wanita. "Menurut
pengalaman saya dalam dakwah, dari pertanyaan-
pertanyaan para wanita, baik tertulis atau lisan atau
melalui telepon; wanita itu lebih berhati lembut,
lebih taat beragama dan tunduk terhadap laki-laki."
Itu sebabnya, seorang ummahat, sempat bercerita.
"Setiap kali ada seorang akhwat yang hendak
menikah dan minta nasehat, yang sering saya ungkap
adalah, jangan kaget dengan kondisi ruhiyah suami.
Barangkali ia sulit dibangunkan untuk shalat malam,
tilawahnya tak melampaui target satu juz sehari atau
hal-hal lain yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Inilah lahan baru dakwah anti."
Sekali lagi, ini hanyalah kasus, tak semuanya mesti
begini. Saya yakin banyak di antara ikhwah yang
ibadah kesehariannya jauh melampaui target. Tapi,
bila ternyata yang kita hadapi hampir mirip dengan
ini, jangan menyerah! Pengalaman seorang ibu
mungkin bisa kita jadikan masukan. Setiap kali
suaminya menonton TV usai pulang kerja, ia duduk
di sampingnya, seraya tilawah Al Qur’an. Atau
pengalaman yang lain, tentang seorang bapak yang
gemar menonton bola. Sang ibu dengan setia
mendampinginya, tidak ikut mensuporteri tim
kesayangan suami, tapi ia menggelar sajadah dan
melakukan shalat malam di dekat TV sang bapak.
Mereka memilih untuk melakukan aksi nyata daripada
memperbanyak percakapan.
Banyak sebab mengapa seorang bapak, tak setekun
ibu melakukan amal ruhiyah. Mungkin ia terlalu
banyak melakukan aktivitas: pagi mencari nafkah,
malam untuk kepentingan dakwah. Belum lagi kalau
atas kesadarannya membantu istrinya menangani
pekerjaan rumah tangga. Ia merasa lelah. Atau
memang tak ada asupan yang mengingatkannya
bahwa kedekatannya dengan Allah dibantu oleh
kualitas sekaligus kuantitasnya melakukan ibadah.
Bagaimanapun, menjadi istri dan sekaligus ibu,
adalah pekerjaan yang sambung menyambung.
Tak ada berhentinya, baik fisik maupun psikis.
Tentu saja ia memerlukan ruhaniyah yang kuat,
karena tanpa itu, kita hanya akan dapat capek,
lelah, jenuh dan bosan. Jadi, bila suami yang kita
hadapi kebetulan sedang mengalami kefuturan
ruhiyah, jangan sekali-kali tertular meski
kemungkinan itu terbuka lebar. Kebangkitan
ruhiyah kita, insyaallah, akan menimbulkan
kondisi yang menentramkan dalam rumah
tangga kita. Sesuatu yang sangat kita idam-
idamkan.
Ibu yang lain pernah menyampaikan
permasalahannya. Suaminya sama sekali tak mau
menerima amplop seusai ia mengisi dauroh, khutbah
Jum’at atau kajian internal yang sering diisinya dari
masjid ke masjid atau kampus ke kampus. "Kapan
saya berinfaq kalau saya menerima amplop itu.
Biarlah itu menjadi infaq dakwah saya," begitu alasan
sang suami. Menurut istrinya, mereka sendiri dalam
kondisi kekurangan, "Sudah lebih dari sebulan anak-
anak tak minum susu, tak makan ikan apalagi daging.
Kami benar-benar mengetatkan ikat pinggang."
Tetapi begitulah, itu pilihan hidup yang mereka
jalani, dan Allah selalu tahu kepada siapa barokahNya
diletakkanNya. Tanpa kekuatan ruhiyah sang istri,
rumah tangga mereka akan berjalan dengan
timpang, karena pilihan hidup sang suami mendapat
penentangan dari istrinya.
Memang komunikasi suami istri dalam masalah ini
adalah sesuatu yang harus dan wajib diusahakan dan
dibuat seefektif mungkin. Tetapi, tanpa back up
ruhiyah, kondisi ini akan membuat kita manja,
kehilangan orientasi dan menuntut ganti rugi dari
kesibukan suami.
Para ibunda yang dicintai Allah, di luar kita banyak
sekali tantangan serta ancaman yang akan
menggerogoti keistiqomahan kita, baik secara halus
maupun terang-terangan. Baik melalui sindiran,
ajakan atau paksaan agar kita condong menjauhi
pilihan dakwah yang sudah kita azzamkan dari awal.
Mestilah kita sadari bekalan kita tak mungkin
selamanya terisi penuh. Adakalanya ia menetes pelan
tanpa kita sadari bahwa gentong kita sudah harus
diisi.
Oleh karenanya, berkhalwat dan menyambung
hubungan yang kuat dengan Allah adalah sesuatu
yang paling utama dalam mengawal langkah-langkah
kecil kita menapaki jalan dakwah. Semoga kekuatan
ruhiyah itu senantiasa menyertai langkah kita,
amiin…

Kontribusikan semua Potensi untuk dakwah n jamaah


Oleh: Cahyadi Takariawan
“Semua yang dimiliki kader harus bisa
dikontribusikan untuk dakwah dan jama’ah. Jika kita
punya rumah, harus ada kontribusi rumah untuk
kegiatan dakwah dan jama’ah. Jika punya mobil,
harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah.
Jika punya motor, harus ada kontribusinya untuk
dakwah dan jama’ah. Dengan cara itulah kegiatan
dakwah akan terus berjalan dengan lancar dan
berkesinambungan”, demikian tausiyah dari ustadz
Subaryanto, dalam acara Forum Silaturahmi Kader
Dakwah Banguntapan, Bantul, DIY, Senin 13 Februari
2012.
Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada
pertanyaan besar yang sering disampaikan orang,
mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan,
bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan
berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan
istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa
banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai
kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak
pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja,
bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah
menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.
Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita
bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah
ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah.
Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan
mengendarai motor, mobil, atau menggunakan
angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti
atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi
kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara
untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita
miliki untuk dakwah dan jama’ah.
Coba jika dihitung dengan teliti, berapa banyak
dana yang telah kita keluarkan untuk satu
pertemuan. Tempat pertemuan gratis, karena
tidak perlu menyewa. Rumah kader bisa kita
gunakan sebagai tempat pertemuan, bahkan di
garasi atau di halaman belakang rumah pun
bisa. Tuan rumah dengan suka rela
menyediakan minuman dan makanan,
sebagaimana tradisi menjamu tamu pada
umumnya. Masih ditambah berbagai sarana
seperti tikar, karpet, atau kursi dan meja, serta
fasilitas pertemuan ala kadarnya yang dimiliki
tuan rumah. Tempat pertemuan gratis, jamuan
gratis, fasilitas gratis.
Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti
ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos
transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup
besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang
berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah
pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan
dengan ongkos transport, karena sudah menjadi
tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang
dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan
harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan,
hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena
semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader
yang menjadi peserta.
Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional,
memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena
ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang
ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak
agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini,
menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada
“hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti
akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam
jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang
mereka kontribusikan.
Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami
masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak
agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik
dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi.
Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap
agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran.
Semakin banyak kegiatan, semakin besar pula
anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya,
ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa
berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah.
Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan
tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.
Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan
kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah
terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi
mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran
dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi
akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian.
Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan
ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan
apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan
dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan
fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan
jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya,
tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.
Setiap kader dakwah tidak pernah mengingat
dan tidak memiliki catatan pribadi, berapa ratus
ribu liter bensin telah dikeluarkan untuk
kegiatan dakwah dan jamaah. Berapa juta
kilometer jalan pernah ditempuh dalam
menunaikan amanah dakwah. Berapa ribu kali
meminjamkan motor atau mobil untuk
kepentingan dakwah dan jama’ah. Berapa ribu
kali menyediakan rumahnya untuk tempat
kegiatan dakwah dan jama’ah. Berapa banyak
uang telah dikeluarkan untuk kelancaran
dakwah. Berapa banyak tenaga telah dikeluarkan
guna menunaikan amanah dakwah.
Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua
tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan,
sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua
dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan
balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan
tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena
kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci
keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah
jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah
kekuatan.
Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.

Fiqh Qunut Nazilah

Oleh: H. Abdullah Haidir, Lc
Ketua MPW PKS Arab Saudi
Di masjid-masjid Arab Saudi kini dibacakan Qunut
Nazilah dalam shalat Fardhu untuk mendoakan
rakyat Suriah yang sedang mengalami penderitaan
menghadapi rezim diktator Suriah. Apa dan
bagaimana Qunut Nazilah? Berikut sedikit uraiannya,
semoga bermanfaat.
Definisi:
Qunut (ﺕﻮﻨﻗ) memilik banyak makna, namun dalam
hal ini, yang dimaksud adalah berdoa kala berdiri
dalam shalat.
Nazilah (ﺔﻟﺯﺎﻧ) artinya: Bencana yang sangat berat.
Jamaknya adalah nawazil (ﻝﺯﺍﻮﻧ)
Maka, yang dimaksud Qunut Nazilah secara umum
adalah doa yang dipanjatkan saat berdiri dalam shalat
apabila terjadi bencana bencana besar yang menimpa
kaum muslimin secara masal. Seperti adanya pihak
yang memerangi kaum muslimin, kelaparan masal,
wabah penyakit atau sebagainya.
Qunut nazilah merupakan bentuk perhatian dan
empati seorang muslim terhadap nasib yang
menimpa saudara-saudaranya walau di kejauhan.
Yaitu dalam bentuk memanjatkan doa kepada Allah
Ta'ala. Di dalamnya terdapat ketergantungan kepada
Allah dan persaudaraan terhadap sesama muslim.
Landasan Hukum
Banyak riwayat yang menunjukkan pelaksanaan
qunut nazilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam. Di antaranya diriwayatkan oleh Anas
bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata,
َّﻥَﺃ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺖَﻨَﻗ ﺍًﺮْﻬَﺷ ُﻦَﻌْﻠَﻳ ًﻼْﻋِﺭ
َﻥﺍَﻮْﻛَﺫَﻭ َﺔَّﻴَﺼُﻋَﻭ ﺍُﻮَﺼَﻋ ُﻪَﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ
"Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam
melaksanakan qunut selama sebulan. Beliau
melaknat (suku) Ri'l, Dzakwan dan Ushayyah. Mereka
telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-
Nya." (Muttafa alaih)
Latar belakangnya adalah karena suku-suku tersebut
membunuh para shahabat Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam yang dikirim untuk mengajarkan
Islam kepada mereka atas permintaan mereka
sebelumnya. Diriwayatkan pula bahwa beliau
melakukan qunut ketika ada seorang shahabat
ditawan kaum musyrikin.
Kedudukan
Qunut Nazilah sunah dilakukan apabila ada sebab-
sebab yang melatabelakanginya. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah berkata, "Qunut ini disunahkan ketika
terjadi musibah besar. Pendapat ini merupakan
pendapat ulama fiqih dari kalangan Ahli Hadits. Hal
ini juga dinyatakan para Khulafa Rasyidin." (Majmu
Fatawa, 23/108)
Waktu Pelaksanaan
Dilakukan atau tidak dilakukan qunut tergantung
sebabnya. Jika ada sebabnya, maka qunut hendaknya
dilakukan. Jika sebabnya telah hilang, maka qunut
hendaknya dihentikan. Adapun qunut Rasulullah
shallallahu shallallau alaihi wa sallam selama
sebulan, itu terkait sebab yang melatarbelakanginya,
bukan patokan masa atau waktu pelaksanannya.
Pelaksanaan qunut dilakukan setelah bangun dari
ruku pada rakaat terakhir dalam semua shalat fardhu
yang lima seraya mengangkat kedua tangan.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata,
َﺖَﻨَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺍًﺮْﻬَﺷ ﺎًﻌِﺑﺎَﺘَﺘُﻣ ﻲِﻓ
ِﺮْﻬُّﻈﻟﺍ ِﺮْﺼَﻌْﻟﺍَﻭ ِﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍَﻭ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍَﻭ ِﺓَﻼَﺻَﻭ ِﺢْﺒُّﺼﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺮُﺑُﺩ ِّﻞُﻛ
ٍﺓﺎَﻠَﺻ ﺍَﺫِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻊِﻤَﺳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻦَﻤِﻟ ُﻩَﺪِﻤَﺣ َﻦِﻣ ِﺔَﻌْﻛَّﺮﻟﺍ ِﺓَﺮِﺧﺂْﻟﺍ ﻮُﻋْﺪَﻳ
ﻰَﻠَﻋ ٍﺀﺎَﻴْﺣَﺃ ْﻦِﻣ ﻲِﻨَﺑ ٍﻢْﻴَﻠُﺳ ﻰَﻠَﻋ ٍﻞْﻋِﺭ َﻥﺍَﻮْﻛَﺫَﻭ َﺔَّﻴَﺼُﻋَﻭ ُﻦِّﻣَﺆُﻳَﻭ
ْﻦَﻣ ُﻪَﻔْﻠَﺧ
"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan
qunut selama sebulan berturut-turut pada shalat
Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di
penghujung shalat, jika selesai membaca 'sami'allahu
liman hamidah' di rakaat terakhir. Beliau mendoakan
perkampungan Bani Sulaim, Ra'l, Zakwan, Ushayyah.
Lalu (makmum) di belakangnya mengaminkannya."
(HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim. An-Nawawi
berkata, sanadnya hasan dan shahih. Ibnu Qayim
berkata, 'Haditsnya shahih.' Al-Albany
mencantumkannya dalam Shahih Sunan Abu Daud,
no. 1443)
Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang shahih dan
masyhur bahwa apabila terjadi bencana besar, seperti
serbuan musuh, paceklik, wabah penyakit, kehausan,
dan bahaya yang tampak di kalangan kaum muslimin
atau semacamnya, mereka melakukan qunut dalam
seluruh shalat fardhu. Jika tidak ada (sebab-sebab
itu), maka tidak dilakukan qunut. (Syarah Muslim,
Nawawi, 5/176)
Namun berdasarkan riwayat yang ada, qunut yang
dilakukan Rasulullah shallallalhu alaihi wa sallam,
lebih sering dilakukan pada shalat Shubuh, kemudian
Maghrib, lalu Isya, kemudian Zuhur dan Ashar.
(Majmu Fatawa, 22/269, Zadul Ma'ad, 1/273)
Adapun qunut pada shalat Jumat, para ulama
berbeda pendapat. Sebagian membolehkan
berdasarkan keumuman dalil. Sebagian melarangnya,
karena tidak ada contohnya dari Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, disamping dalam
Khutbah Jumat sudah dipanjatkan doa untuk kaum
muslimin.
Tata Cara Qunut
· Dari segi kandungan, maka isi dari qunut nazilah
adalah mendoakan kaum muslimin yang tertimpa
bencana agar diberikan pertolongan, keselamatan
dan kesabaran. Sementara yang wafat semoga
diberikan rahmat dan diterima amalnya serta
diampuni dosanya. Selain itu mendoakan
kehancuran, turunnya azab dan laknat kepada
musuh-musuh Islam. Tidak mengapa dalam hal ini
menyebutkan nama-nama yang bersangkutan jika
jelas dia telah berbuat jahat terhadap kaum
muslimin.
· Tidak selayaknya berdoa untuk kebaikan diri sendiri
dalam Qunut Nazilah. Sebab qunut ini memang
dikhususkan untuk mendoakan kebaikan bagi
saudara-saudara muslim dan kehancuran bagi
musuh-musuh Islam. Berbeda dalam qunut shalat
witir yang dibolehkan untuk berdoa bagi kebaikan diri
sendiri.
· Dianjurkan tidak terlalu panjang dalam berdoa agar
tidak memberatkan makmum yang memiliki berbagai
keperluan. Ketika Anas bin Malik ditanya tentang
apakah dalam shalat Shubuh Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam melakukan qunut? Beliau berkata,
"Ya, beliau qunut sebentar." (HR. Muslim). Hal
tersebut juga tampak dari contoh doa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam dengan redaksi yang
pendek.
· Disunahkan bagi imam mengeraskan bacaan qunut
dan diaminkan oleh makmum seraya mengangkat
kedua tangan, bahkan termasuk dalam shalat-shalat
sirriyah (yang tidak dikeraskan bacaannya).
Ibnu Hajar berkata, "Yang tampak bagi saya tentang
hikmah dijadikannya tempat qunut saat I'tidal, bukan
saat sujud, padahal sujud adalah tempat terkabulnya
doa dan terdapat dalil yang memerintahkan hal itu,
karena yang diinginkan dari qunut nazilah adalah
agar makmum ikut mengaminkan bersama imam.
Karena itu, mereka (para ulama) sepakat
(berpendapat) bahwa bacaannya dikeraskan." (Fathul
Bari, 2/570)
· Tidak ada redaksi khusus dalam qunut nazilah.
Hendaknya disesuaikan dengan apa yang didoakan.
Tidak membaca Allahummahdinii fiiman hadaiit, wa
aafinii fiiman aafaiit….sebagaimana biasa dibaca
dalam qunut shalat Witir.
Contoh qunut nazilah yang disesuaikan dengan
kondisi kaum muslimin di Suriah sekarang ini:
َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ِﺞْﻧَﺃ َﻦﻴِﻔَﻌْﻀَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ َﻦِﻣ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎَﻳِﺭﻮُﺳ ،
َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻬْﻨِﻋَﺃ ْﻢُﻫْﺮُﺼْﻧﺍﻭ ﻰَﻠَﻋ ،ْﻢِﻬِﺋﺍَﺪْﻋَﺃ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻍِﺮْﻓَﺃ
ْﻢِﻬﻴَﻠَﻋ ﺍًﺮْﺒَﺻ ْﺖِّﺒَﺛَﻭ ْﻢُﻬَﻣﺍَﺪْﻗَﺃ . َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ِﻒْﺷﺍ ْﻢُﻫﺎَﺣْﺮَﺟ
ْﻞَّﺒَﻘَﺗَﻭ ْﻢُﻫﺎَﺗْﻮَﻣ ﻲِﻓ ِﺀﺍَﺪَﻬُّﺸﻟﺍ . َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻢَﺣْﺭﺍ َﺀﺎَﻜُﺑ
ِﻝﺎَﻔْﻃَﻷﺍ ﻰَﻣﺎَﺘَﻴْﻟﺍ ِﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍَﻭ َﻰﻠْﻜَّﺜﻟﺍ .
Ya Allah, selamatkan orang-orang yang lemah
dari kaum mukminin di Suriah. Ya Allah,
bantulah mereka, menangkanlah mereka atas
musuh-musuh mereka. Ya Allah, limpahkan
kesabaran pada mereka dan kuatkan kaki-kaki
mereka. Ya Allah, sembuhkan orang yang luka di
antara mereka, terimalah yang wafat di antara
mereka sebagai para syuhada. Ya Allah,
kasihanilah tangisan anak-anak yatim, wanita-
wanita yang kehilangan sanak saudara.
َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﺩُﺪْﺷﺍ َﻚَﺗَﺄْﻃَﻭ َﻰﻠَﻋ ﺭﺎَّﺸَﺑ ُﻩَﺩﻮُﻨُﺟُﻭ ، ْﻦَﻣَﻭ
ﻢُﻬَﻌَﻳﺎَﺷ ْﻢُﻬَﻧﺎْﻋَﺃَﻭ ، َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻬْﻨِﻌْﻟَﺍ ، َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ﺎَﻬْﻠَﻌْﺟﺍ
ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ َﻦﻴِﻨِﺳ ِﻦﻴِﻨِﺴَﻛ .ﻒُﺳﻮُﻳ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ َﻻ ْﻊَﻓْﺮَﺗ ْﻢُﻬَﻟ ﺔَﻳﺍَﺭ
ْﻢُﻬْﻠَﻌْﺟﺍَﻭ ْﻦَﻤِﻟ ْﻢُﻬَﻔْﻠَﺧ .ﺔَﻳﺁ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ﺎَﻧِﺭَﺃ ْﻢِﻬﻴِﻓ َﻚَﺳْﺄَﺑ
ﻱِﺬَّﻟﺍ َﺕْﺪَﻋَﻭ ، َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻬَّﻧِﺇ ﺍﻮَﻐَﺑ ﺍﻮَﺘَﻋَﻭ ﺎَﻧِﺭَﺄَﻓ ْﻢِﻬﻴِﻓ
َﺐِﺋﺎَﺠَﻋ َﻚِﺗَﺭْﺪُﻗ ﺎَﻳ ُﺰﻳِﺰَﻋ ﺎَﻳ ُﺭﺎَّﺒَﺟ َﻚَّﻧِﺇ ﻰَﻠَﻋ ِّﻞُﻛ ٍﺀْﻲَﺷ
ﺮﻳِﺪَﻗ . َّﻰﻠَﺻَﻭ ُﻪﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻨِّﻴِﺒَﻧ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَﻠَﻋَﻭ ِﻪِﻟﺁ
ِﻪِﺒْﺤَﺻَﻭ َﻦﻴِﻌَﻤْﺟَﺃ .
Ya Allah, keraskanlah injakan-Mu (azab-Mu)
kepada Basyar dan tentara-Nya serta siapa yang
berpihak dan membantu mereka. Ya Allah,
turunkanlah azab kepada mereka seperti
malapetaka yang menimpa bertahun-tahun pada
zaman Nabi Yusuf. Ya Allah, jangan tegakkan
panji mereka, jadikanlah mereka sebagai
pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka. Ya
Allah, perlihatkan kami pada mereka azab-Mu
yang Engkau janjikan. Ya Allah, mereka telah
melampaui batas dan berbuat kerusakan,
perlihatkan kami dahsyatnya kekuasaan-Mu pada
mereka, yaa rabbal aalamiin, wahai Yang Maha
Perkasa, sesungguhnya Engkau berkuasa atas
segala sesuat. Shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Nabi kita Muhamad, para
keluarga dan seluruh shahabatnya.
Riyadh, Rabiul Awal 1433 H