Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang
indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan
muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-
masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup
mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang
kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan
cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai
menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir
sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba
di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi
sama aku!"
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan
secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita
menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk
beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka,
seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan.
Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu
tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan
mengambil barang-barangnya, bertekad untuk
berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan
aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan
sejati masing-masing."
Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu
akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri,
menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali
ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi
tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah
diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak
menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum
kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi
dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan
Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di
airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan
perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah
dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan
rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan
berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku
kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita,
belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara
mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi,
Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di
dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah
karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah
dengan bodohnya dia patahkan.
point of view :
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada
orang yang paling kita cintai (istri, ibu, ayah, anak). Dan
akibatnya seringkali adalah fatal"
Jumat, 08 Juni 2012
Engkau tulang rusukku
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang
indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan
muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-
masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup
mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang
kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan
cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai
menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir
sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba
di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi
sama aku!"
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan
secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita
menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk
beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka,
seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan.
Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu
tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan
mengambil barang-barangnya, bertekad untuk
berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan
aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan
sejati masing-masing."
Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu
akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri,
menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali
ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi
tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah
diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak
menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum
kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi
dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan
Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di
airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan
perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah
dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan
rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan
berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku
kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita,
belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara
mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi,
Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di
dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah
karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah
dengan bodohnya dia patahkan.
point of view :
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada
orang yang paling kita cintai (istri, ibu, ayah, anak). Dan
akibatnya seringkali adalah fatal"
indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan
muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-
masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup
mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang
kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan
cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai
menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir
sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba
di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi
sama aku!"
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan
secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita
menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk
beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka,
seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan.
Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu
tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan
mengambil barang-barangnya, bertekad untuk
berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan
aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan
sejati masing-masing."
Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu
akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri,
menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali
ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi
tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah
diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak
menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum
kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi
dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan
Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di
airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan
perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah
dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan
rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan
berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku
kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita,
belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara
mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi,
Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di
dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah
karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah
dengan bodohnya dia patahkan.
point of view :
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada
orang yang paling kita cintai (istri, ibu, ayah, anak). Dan
akibatnya seringkali adalah fatal"
masih punya ayah ibu?
Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya
masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar
yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja
keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6
tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu
kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.
Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari
kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung,
saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap
kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya
mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.
"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu
yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya
pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau
menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia
minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.
Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala
Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-
anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan
kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta
pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang
diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti.
Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan
antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk
kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu
sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang
membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah
berkali-kali pulang naik bus sendirian.
"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam.
Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-
cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke
kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk
membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak
mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!"
balas saya terus keluar menghidupkan mobil.
Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati
saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu
berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah?
Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus
membisu.
Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia
berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan
lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di
kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta
ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.
Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah
untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya
singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar
karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala
ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah.
Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami
berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak
berbicara sepatah kata pun.
Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun
enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu
mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus
turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya
memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat,
saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman
stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja
dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan
teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali
ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu.
Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.
Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan
menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat
ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang
berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya
mempertahankan ego saya saat istri meminta saya
menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya
lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam
berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya
hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya
sambil meninggikan suara.
oOo
Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit
Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya
disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah
mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu
meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh
terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di
tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa,
bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah
agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"
Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya
menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa
berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang,
kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di
rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti
menyerbu pikiran.
Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika
teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah
yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan
perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan
ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya.
Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang
tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-
anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-
lamanya.
Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke
kampung, hati saya bagai terobek-robek saat
memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa
pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa
sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.
oOo
Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya
sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada,
menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.
Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua,
jagalah perasaan mereka.Kasihilah mereka
sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu
masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar
yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja
keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6
tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu
kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.
Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari
kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung,
saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap
kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya
mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.
"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu
yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya
pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau
menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia
minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.
Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala
Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-
anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan
kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta
pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang
diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti.
Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan
antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk
kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu
sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang
membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah
berkali-kali pulang naik bus sendirian.
"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam.
Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-
cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke
kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk
membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak
mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!"
balas saya terus keluar menghidupkan mobil.
Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati
saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu
berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah?
Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus
membisu.
Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia
berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan
lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di
kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta
ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.
Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah
untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya
singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar
karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala
ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah.
Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami
berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak
berbicara sepatah kata pun.
Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun
enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu
mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus
turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya
memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat,
saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman
stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja
dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan
teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali
ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu.
Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.
Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan
menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat
ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang
berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya
mempertahankan ego saya saat istri meminta saya
menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya
lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam
berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya
hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya
sambil meninggikan suara.
oOo
Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit
Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya
disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah
mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu
meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh
terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di
tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa,
bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah
agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"
Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya
menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa
berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang,
kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di
rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti
menyerbu pikiran.
Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika
teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah
yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan
perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan
ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya.
Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang
tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-
anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-
lamanya.
Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke
kampung, hati saya bagai terobek-robek saat
memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa
pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa
sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.
oOo
Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya
sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada,
menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.
Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua,
jagalah perasaan mereka.Kasihilah mereka
sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu
Kamis, 07 Juni 2012
Menikmati pernikahan
Kepada Suami
jangan beri aku bunga
lalai aku nanti
memandanginya dan menciumi
wanginya
jangan pula kau beri aku
setumpuk busa berwarna biru
sibuk nanti aku
membaca novel seraya menikmati empuknya
tak usah pula kau hadiahi aku
dengan sebatang coklat
yang rasanya memabukkan
karena akan rusak gigiku
dan mencuri waktuku
biarkan aku bercanda dengan mautku
karena aku tak tahu lagi
kapan ia hendak menjemputku
Menjadi istri, dan juga menjadi suami, adalah
proses pembelajaran yang terus menerus. Ia tak
sekedar membutuhkan naluri, insting atau
apapun namanya, tetapi ia membutuhkan banyak
hal yang mendukungnya untuk senantiasa siap
dalam kondisi belajar. Belajar tentang apapun
juga, agar pernikahan sebagai sebuah tangga
pendakian menjadi pengantar yang mengasyikkan
untuk mencapai ridhaNya.
Bukan lagi sebagai sebuah siksaan, rutinitas yang
menjenuhkan atau kebosanan yang dipelihara
karena tak ada lagi yang lainnya. Tak ada satu
orang yang berhak lebih dominan dibanding yang
lainnya, atau tak ada yang boleh merasa
terzhalimi oleh pasangannya. Ia adalah bejana
bening yang ditentukan warna dan isinya oleh
suami dan istri secara bersama-sama.
Itu sebabnya, pernikahan sebagai sebuah ibadah
yang “unik”, karena tak semata-mata menyangkut
keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi,
mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan
harapan, setidaknya, dua orang, dinamai
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai
nisfud din , setengah agama.
Tak mudah dan tak bisa begitu saja memulas
warna pernikahan itu menjadi warna harmonis
yang layak dipamerkan di sebuah galeri sebagai al
usroh al mitsaliyah , rumah tangga percontohan.
Orang–orang di luar mereka memandangnya
dengan keinginan untuk meneladaninya,
tetangga-tetangga mereka merasa nyaman
dengan kehadirannya, anak-anak di sekitarnya
menjadikan mereka sebagai guru yang layak
didengar. Duhai, alangkah indahnya kotak cantik
yang bernama pernikahan itu.
Banyak akhwat , dan mungkin juga ikhwan ,
membayangkan bahwa pernikahan itu ibarat
melewati jalan tol dengan mobil keluaran terbaru
dan di pinggir-pinggir jalan dihiasi rumpun-
rumpun mawar yang baunya semerbak dan
warnanya meneduhkan mata. Mereka tak
sepenuhnya salah. Asal mereka tahu, setelah jalan
tol itu berlalu, mungkin mereka harus berbelok di
jalan becek atau mobilnya ditilang oleh polisi,
atau terbentang sungai tanpa jembatan, atau
yang lain.
Pernikahan itu, tak hanya wangi seperti di
saat walimatul ursy. Mungkin ada kalanya kompor
minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga
bau minyak tanah melekat di antara jari-jari. Atau
saat sang bayi pipis dan buang air besar, ia
menjadi belepotan dengannya. Tak masalah
sebenarnya, toh setelah itu semuanya mudah
dibersihkan. Yang menjadi masalah, bila kesan
yang tertanam di benak salah satu di antara
mereka adalah kesan ketika pasangannya tak
sedang “wangi”. Adakah yang lebih bisa dijadikan
hiburan di saat gundah dengan hal ini bila
memori penuh dengan hal yang tak
mengenakkan?
Saat marah, saat tak berkenan, saat berkata
dengan nada tinggi, saat tak melepas kepergian
dengan senyum kerelaan, saat tak menyambut
pulang dengan wajah sumringah, saat akhir bulan
tak ada lagi beras yang bisa dijadikan bubur untuk
mengganjal perut yang lapar, saat rumah
berantakan oleh kertas dan sampah makanan.
Waduh! Mengapa dia menjadi suamiku? Waduh!
Wengapa pula dia menjadi istriku?
Ada yang bercerita, sesungguhnya ia sama sekali
tak bermasalah dengan suaminya. Ia menerima
dengan cinta yang datang perlahan, ia
mendapatkan kecocokan dan ia dapat tertawa
lepas bersamanya. Lalu apa masalahnya? Ia
merasa mereka tak saling menulari dalam
kebaikan tapi terkadang tertular dalam
keburukan. Satu tak tilawah yang satu ikut-ikutan.
Satu sulit (ini masalah kebiasaan sebenarnya,
bukan stempel yang tak bisa diubah!) menghafal
Al Qur’an, eh yang lainnya juga.
“Benar-benar defisit hafalan saya, dibandingkan
ketika masa gadis dulu!”
Atau kebiasaan buruk lainnya seperti menggigit
jari kuku, menaruh handuk sembarangan, lupa
meletakkan kunci. Wah…wah…wah… , inilah
kenikmatan dunia yang bernama pernikahan!
Betapa kebutuhan untuk menjadi diri sendiri
adalah keniscayaan dalam pernikahan. Siapapun
dia, dia membutuhkan ruang untuk diterima
secara utuh dan dihargai pemberiannya dengan
kelapangan dada. Tidak selamanya diharuskan
ada tadhiyyah dalam masalah- masalah tertentu,
apalagi bila masalah itu tak melanggar syar’i.
Selera, misalnya. Mengapa ia harus meniadakan
keinginannya membeli tahu pong, makanan
favoritnya, gara-gara suaminya lebih menyukai
tempe mendoan? Mengapa ia harus memaksakan
diri kalau itu menyiksanya?
Meski tak ada yang menyalahkannya ketika
akhirnya ia bisa “membuang” seleranya dan
menggantikannya dengan selera pasangannya.
Apalagi bila hal itu berdiri di atas nama cinta.
Silakan, bila tak ada yang merasa terkalahkan
hanya gara-gara tahu dan tempe! Semua itu
masalah pilihan, tak ada yang lebih benar
dibanding lainnya.
Pernikahan membutuhkan energi untuk ikhlas
memberi sekaligus menerima. Dengan energi
keikhlasan inilah sesungguhnya roda pernikahan
itu akan menggelinding mulus meski berbagai
halangan dari pasir, kerikil, lumpur becek, sampai
jalan berapit jurang akan mudah dilalui. Tak ada
yang merasa lebih berharga dan lebih berjasa satu
dengan lainnya. Juga tak boleh ada yang
menghitung mengeluarkan terlalu banyak bila
dibandingkan dengan apa yang dia terima.
Bila ternyata Allah menghadiahi kita dengan
pernikahan barakah, kita pun telah dapat
mengecap makna sakinah, mawaddah, wa
rahmah. Maka sesungguhnya ujian kita akan
berbentuk lain.
Aisyah radhiyallahu anha , istri terkasih Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam meriwayatkan sebuah
hadits panjang tentang sebelas perempuan yang
saling berjanji untuk jujur dan tidak saling
merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku
suaminya. Ada Ummu Zar yang amat disayang
oleh suaminya dan diberi berbagai macam
pemberian. Meski akhirnya ia dicerai, Ummu Zar
tahu, tak ada yang bisa menggantikan Abu Zar
dan menyamai pemberiannya.
Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
pria teragung itu, dalam sabdanya kepada Aisyah,
“Aku dan engkau ibarat Ummu Zar, tetapi Abu Zar
menceraikan Ummu Zar, sedangkan aku tidak
menceraikanmu.”
Seringkali, manusia menjadi lupa bila Allah
memberinya ujian berupa kenikmatan. Padahal
ketika ujian yang datang berupa kesedihan,
ketidaknyamanan, masalah yang datang bertubi,
ketidakcocokan dengan karakter pasangan atau
sedikit kekurangan materi, maka ia akan datang
bersimpuh kepada Allah dengan sepenuh
kerendahan hati, mengadu dan mengucurkan air
mata agar Allah senantiasa membantunya
menyelesaikan problemnya. Bila yang terjadi
sebaliknya, suami sayang istri, tidak perhitungan
(baca: tidak pelit) ketika memberi, tak pernah
saling bentak, bila marah cepat redanya dan
sayangnya bertambah setelah itu, jarang yang
menghiba-hiba kepada Allah agar amanah
keserasian itu sampai ke surgaNya.
Itu sebabnya saya mengungkap hal ini dalam puisi
kecil dan sederhana itu. Bahwa inti pernikahan,
menurut saya, sesungguhnya adalah tarbiyah.
Seorang suami men- tarbiyah istrinya dan
sebaliknya. Meski tak secara formal, mereka paling
berhak menjadi murabbi bagi lainnya. Karena
mereka adalah dua sosok individu yang
dipertemukan dan didekatkan Allah karena
rahmatNya. Tidak ada hubungan yang istimewa
dan erat sebagaimana hubungan antara suami
dan istri. Tidak ada yang bisa menggantikan satu
dengan yang lainnya. Pun, tidak ada relasi apapun
yang bisa menyamai relasi berumahtangga.
Seorang suami, karena kedekatannya itu menjadi
faham betul, kapan sang istri dalam kondisi futur.
Begitu pula, sang istrilah yang paling mengerti
sudah berapa hari, pekan bahkan bulan, sang
suami tak tilawah Al Qur’an di rumahnya. Faktor
inilah yang menjadikan tarbiyah berbasis rumah
adalah tarbiyah yang efektif. Karena sang
pengobat tahu penyakit mana yang mesti
diobatinya terlebih dahulu.
Sayangnya, banyak rumah tangga ikhwah , tak
seideal (kita berharap: mungkin sedang menuju
ideal), seperti konsep-konsep tarbiyah rumah
tangga seperti yang ditulis di banyak buku. Betapa
sibuk sang bapak men- tarbiyah sekelilingnya,
remaja masjid, mahasiswa di kampus, teman-
teman di kantornya atau taklim rutin bapak-bapak
pengurus masjid, tetapi saking sibuknya, ia lupa
bahwa istri dan anak-anaknya juga membutuhkan
sentuhan indah dari lisannya. Bahkan untuk
sekedar berbagi cerita.
Seringkali pula sang bapak beralasan, “Apapun
yang bapak lakukan itu adalah tarbiyah buat
kalian, jadi lihatlah tindakan bapak, perhatikan
bagaimana bapak mengambil keputusan atau cara
bapak menengahi perselisihan.”
“Inilah cara bapak mentarbiyah kalian. Jadi tak
usahlah diformalkan seperti forum yang
melingkar itu!”
Begitupun sang ibu. Ia adalah murabbi tangguh
bagi mutarabbinya. Teman yang enak diajak
berbagi. Empati dengan permasalahan akhwatnya.
Mau berkorban menolong kebutuhan saudaranya.
Tapi sang ibu seringkali lupa, bila ia membaca doa
rabithah, dan menyebut serta membayangkan
deretan wajah-wajah sahabatnya, nama sang
suami terlupa disebutnya.
Itulah, bila kemudian ada yang mengeluhkan,
mengapa rumah tangga dai tak berbeda jauh
dengan rumah tangga pada umumnya, barangkali
faktor tarbiyah ini tak menemukan titik penting
yang bisa menyentuh kebutuhan para
penghuninya. Biarlah tarbiyah itu seperti air
mengalir, tak usah di- planning-planning .
Sehingga tausiyah yang mestinya sarat makna
menjadi forum interogasi yang tidak dirindui.
Sehingga kata-kata hikmah yang diucapkan adalah
kata-kata yang tak mengendap di hati, sekedar
masuk telinga kanan keluar ke telinga kiri.
Akibatnya, banyak masalah yang mestinya kecil
dan segera bisa diatasi, menjadi membesar dan
tak tahu lagi kemana mencari ujung
kekusutannya.
Ibarat tiang yang saling menopang, suami dan
istri adalah dua tonggak tangguh yang saling
menguatkan. Ketiadaan salah satunya menjadikan
tiang lebih mungkin rapuh. Dan gampang
dirobohkan. Sehingga proses saling
mengingatkan dan berharap peningkatan kebaikan
bagi yang lainnya adalah keniscayaan. Apatah lagi,
kita ini sama–sama manusia dengan segala
kekurangan yang melekat erat. Istri mana yang
tak ingin dimanja suaminya. Dihadiahi coklat,
dipersilakan istirahat, diberi ruang untuk berasyik
masyuk merawat diri di salon, dibolehkan sesaat
untuk membaca novel kesayangannya dan tak
selalu serius memikirkan cucian yang menumpuk
di ruang belakang rumahnya. Dan balasannya, ia
menjadi lebih cinta kepada suaminya. Tentu sang
suami manapun menginginkan istrinya menikmati
posisinya sebagai istri dia seorang, agar
kepemimpinannya memang benar-benar layak
dibanggakan.
Bukankah kata-kata umum mengatakan, seorang
lelaki lebih tahan menerima cobaan yang
diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih
tak tahan bila cobaan itu mampir ke istri yang
dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab
benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu
saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan
tangguh terulur. Bila kenikmatan dan fasilitas
duniawi menggoda, yakinlah bahwa pertolongan
Allah jauh lebih kuat bila kita pun tak sanggup
untuk menyentuh madu manis sampah dunia.
Jadi, mari meletakkan diri di posisi yang lebih baik
dan tertata. Yakinlah, menjadi bagian kecil dari
rumah tangga da’i, adalah kebanggaan dunia
akhirat, dan tak mesti menghilangkan sisi
kewanitaan atau keinginan-keinginan kecil yang
sempat diharapkan. Toh Allah selalu bersama kita,
maka nikmatilah!
jangan beri aku bunga
lalai aku nanti
memandanginya dan menciumi
wanginya
jangan pula kau beri aku
setumpuk busa berwarna biru
sibuk nanti aku
membaca novel seraya menikmati empuknya
tak usah pula kau hadiahi aku
dengan sebatang coklat
yang rasanya memabukkan
karena akan rusak gigiku
dan mencuri waktuku
biarkan aku bercanda dengan mautku
karena aku tak tahu lagi
kapan ia hendak menjemputku
Menjadi istri, dan juga menjadi suami, adalah
proses pembelajaran yang terus menerus. Ia tak
sekedar membutuhkan naluri, insting atau
apapun namanya, tetapi ia membutuhkan banyak
hal yang mendukungnya untuk senantiasa siap
dalam kondisi belajar. Belajar tentang apapun
juga, agar pernikahan sebagai sebuah tangga
pendakian menjadi pengantar yang mengasyikkan
untuk mencapai ridhaNya.
Bukan lagi sebagai sebuah siksaan, rutinitas yang
menjenuhkan atau kebosanan yang dipelihara
karena tak ada lagi yang lainnya. Tak ada satu
orang yang berhak lebih dominan dibanding yang
lainnya, atau tak ada yang boleh merasa
terzhalimi oleh pasangannya. Ia adalah bejana
bening yang ditentukan warna dan isinya oleh
suami dan istri secara bersama-sama.
Itu sebabnya, pernikahan sebagai sebuah ibadah
yang “unik”, karena tak semata-mata menyangkut
keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi,
mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan
harapan, setidaknya, dua orang, dinamai
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai
nisfud din , setengah agama.
Tak mudah dan tak bisa begitu saja memulas
warna pernikahan itu menjadi warna harmonis
yang layak dipamerkan di sebuah galeri sebagai al
usroh al mitsaliyah , rumah tangga percontohan.
Orang–orang di luar mereka memandangnya
dengan keinginan untuk meneladaninya,
tetangga-tetangga mereka merasa nyaman
dengan kehadirannya, anak-anak di sekitarnya
menjadikan mereka sebagai guru yang layak
didengar. Duhai, alangkah indahnya kotak cantik
yang bernama pernikahan itu.
Banyak akhwat , dan mungkin juga ikhwan ,
membayangkan bahwa pernikahan itu ibarat
melewati jalan tol dengan mobil keluaran terbaru
dan di pinggir-pinggir jalan dihiasi rumpun-
rumpun mawar yang baunya semerbak dan
warnanya meneduhkan mata. Mereka tak
sepenuhnya salah. Asal mereka tahu, setelah jalan
tol itu berlalu, mungkin mereka harus berbelok di
jalan becek atau mobilnya ditilang oleh polisi,
atau terbentang sungai tanpa jembatan, atau
yang lain.
Pernikahan itu, tak hanya wangi seperti di
saat walimatul ursy. Mungkin ada kalanya kompor
minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga
bau minyak tanah melekat di antara jari-jari. Atau
saat sang bayi pipis dan buang air besar, ia
menjadi belepotan dengannya. Tak masalah
sebenarnya, toh setelah itu semuanya mudah
dibersihkan. Yang menjadi masalah, bila kesan
yang tertanam di benak salah satu di antara
mereka adalah kesan ketika pasangannya tak
sedang “wangi”. Adakah yang lebih bisa dijadikan
hiburan di saat gundah dengan hal ini bila
memori penuh dengan hal yang tak
mengenakkan?
Saat marah, saat tak berkenan, saat berkata
dengan nada tinggi, saat tak melepas kepergian
dengan senyum kerelaan, saat tak menyambut
pulang dengan wajah sumringah, saat akhir bulan
tak ada lagi beras yang bisa dijadikan bubur untuk
mengganjal perut yang lapar, saat rumah
berantakan oleh kertas dan sampah makanan.
Waduh! Mengapa dia menjadi suamiku? Waduh!
Wengapa pula dia menjadi istriku?
Ada yang bercerita, sesungguhnya ia sama sekali
tak bermasalah dengan suaminya. Ia menerima
dengan cinta yang datang perlahan, ia
mendapatkan kecocokan dan ia dapat tertawa
lepas bersamanya. Lalu apa masalahnya? Ia
merasa mereka tak saling menulari dalam
kebaikan tapi terkadang tertular dalam
keburukan. Satu tak tilawah yang satu ikut-ikutan.
Satu sulit (ini masalah kebiasaan sebenarnya,
bukan stempel yang tak bisa diubah!) menghafal
Al Qur’an, eh yang lainnya juga.
“Benar-benar defisit hafalan saya, dibandingkan
ketika masa gadis dulu!”
Atau kebiasaan buruk lainnya seperti menggigit
jari kuku, menaruh handuk sembarangan, lupa
meletakkan kunci. Wah…wah…wah… , inilah
kenikmatan dunia yang bernama pernikahan!
Betapa kebutuhan untuk menjadi diri sendiri
adalah keniscayaan dalam pernikahan. Siapapun
dia, dia membutuhkan ruang untuk diterima
secara utuh dan dihargai pemberiannya dengan
kelapangan dada. Tidak selamanya diharuskan
ada tadhiyyah dalam masalah- masalah tertentu,
apalagi bila masalah itu tak melanggar syar’i.
Selera, misalnya. Mengapa ia harus meniadakan
keinginannya membeli tahu pong, makanan
favoritnya, gara-gara suaminya lebih menyukai
tempe mendoan? Mengapa ia harus memaksakan
diri kalau itu menyiksanya?
Meski tak ada yang menyalahkannya ketika
akhirnya ia bisa “membuang” seleranya dan
menggantikannya dengan selera pasangannya.
Apalagi bila hal itu berdiri di atas nama cinta.
Silakan, bila tak ada yang merasa terkalahkan
hanya gara-gara tahu dan tempe! Semua itu
masalah pilihan, tak ada yang lebih benar
dibanding lainnya.
Pernikahan membutuhkan energi untuk ikhlas
memberi sekaligus menerima. Dengan energi
keikhlasan inilah sesungguhnya roda pernikahan
itu akan menggelinding mulus meski berbagai
halangan dari pasir, kerikil, lumpur becek, sampai
jalan berapit jurang akan mudah dilalui. Tak ada
yang merasa lebih berharga dan lebih berjasa satu
dengan lainnya. Juga tak boleh ada yang
menghitung mengeluarkan terlalu banyak bila
dibandingkan dengan apa yang dia terima.
Bila ternyata Allah menghadiahi kita dengan
pernikahan barakah, kita pun telah dapat
mengecap makna sakinah, mawaddah, wa
rahmah. Maka sesungguhnya ujian kita akan
berbentuk lain.
Aisyah radhiyallahu anha , istri terkasih Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam meriwayatkan sebuah
hadits panjang tentang sebelas perempuan yang
saling berjanji untuk jujur dan tidak saling
merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku
suaminya. Ada Ummu Zar yang amat disayang
oleh suaminya dan diberi berbagai macam
pemberian. Meski akhirnya ia dicerai, Ummu Zar
tahu, tak ada yang bisa menggantikan Abu Zar
dan menyamai pemberiannya.
Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
pria teragung itu, dalam sabdanya kepada Aisyah,
“Aku dan engkau ibarat Ummu Zar, tetapi Abu Zar
menceraikan Ummu Zar, sedangkan aku tidak
menceraikanmu.”
Seringkali, manusia menjadi lupa bila Allah
memberinya ujian berupa kenikmatan. Padahal
ketika ujian yang datang berupa kesedihan,
ketidaknyamanan, masalah yang datang bertubi,
ketidakcocokan dengan karakter pasangan atau
sedikit kekurangan materi, maka ia akan datang
bersimpuh kepada Allah dengan sepenuh
kerendahan hati, mengadu dan mengucurkan air
mata agar Allah senantiasa membantunya
menyelesaikan problemnya. Bila yang terjadi
sebaliknya, suami sayang istri, tidak perhitungan
(baca: tidak pelit) ketika memberi, tak pernah
saling bentak, bila marah cepat redanya dan
sayangnya bertambah setelah itu, jarang yang
menghiba-hiba kepada Allah agar amanah
keserasian itu sampai ke surgaNya.
Itu sebabnya saya mengungkap hal ini dalam puisi
kecil dan sederhana itu. Bahwa inti pernikahan,
menurut saya, sesungguhnya adalah tarbiyah.
Seorang suami men- tarbiyah istrinya dan
sebaliknya. Meski tak secara formal, mereka paling
berhak menjadi murabbi bagi lainnya. Karena
mereka adalah dua sosok individu yang
dipertemukan dan didekatkan Allah karena
rahmatNya. Tidak ada hubungan yang istimewa
dan erat sebagaimana hubungan antara suami
dan istri. Tidak ada yang bisa menggantikan satu
dengan yang lainnya. Pun, tidak ada relasi apapun
yang bisa menyamai relasi berumahtangga.
Seorang suami, karena kedekatannya itu menjadi
faham betul, kapan sang istri dalam kondisi futur.
Begitu pula, sang istrilah yang paling mengerti
sudah berapa hari, pekan bahkan bulan, sang
suami tak tilawah Al Qur’an di rumahnya. Faktor
inilah yang menjadikan tarbiyah berbasis rumah
adalah tarbiyah yang efektif. Karena sang
pengobat tahu penyakit mana yang mesti
diobatinya terlebih dahulu.
Sayangnya, banyak rumah tangga ikhwah , tak
seideal (kita berharap: mungkin sedang menuju
ideal), seperti konsep-konsep tarbiyah rumah
tangga seperti yang ditulis di banyak buku. Betapa
sibuk sang bapak men- tarbiyah sekelilingnya,
remaja masjid, mahasiswa di kampus, teman-
teman di kantornya atau taklim rutin bapak-bapak
pengurus masjid, tetapi saking sibuknya, ia lupa
bahwa istri dan anak-anaknya juga membutuhkan
sentuhan indah dari lisannya. Bahkan untuk
sekedar berbagi cerita.
Seringkali pula sang bapak beralasan, “Apapun
yang bapak lakukan itu adalah tarbiyah buat
kalian, jadi lihatlah tindakan bapak, perhatikan
bagaimana bapak mengambil keputusan atau cara
bapak menengahi perselisihan.”
“Inilah cara bapak mentarbiyah kalian. Jadi tak
usahlah diformalkan seperti forum yang
melingkar itu!”
Begitupun sang ibu. Ia adalah murabbi tangguh
bagi mutarabbinya. Teman yang enak diajak
berbagi. Empati dengan permasalahan akhwatnya.
Mau berkorban menolong kebutuhan saudaranya.
Tapi sang ibu seringkali lupa, bila ia membaca doa
rabithah, dan menyebut serta membayangkan
deretan wajah-wajah sahabatnya, nama sang
suami terlupa disebutnya.
Itulah, bila kemudian ada yang mengeluhkan,
mengapa rumah tangga dai tak berbeda jauh
dengan rumah tangga pada umumnya, barangkali
faktor tarbiyah ini tak menemukan titik penting
yang bisa menyentuh kebutuhan para
penghuninya. Biarlah tarbiyah itu seperti air
mengalir, tak usah di- planning-planning .
Sehingga tausiyah yang mestinya sarat makna
menjadi forum interogasi yang tidak dirindui.
Sehingga kata-kata hikmah yang diucapkan adalah
kata-kata yang tak mengendap di hati, sekedar
masuk telinga kanan keluar ke telinga kiri.
Akibatnya, banyak masalah yang mestinya kecil
dan segera bisa diatasi, menjadi membesar dan
tak tahu lagi kemana mencari ujung
kekusutannya.
Ibarat tiang yang saling menopang, suami dan
istri adalah dua tonggak tangguh yang saling
menguatkan. Ketiadaan salah satunya menjadikan
tiang lebih mungkin rapuh. Dan gampang
dirobohkan. Sehingga proses saling
mengingatkan dan berharap peningkatan kebaikan
bagi yang lainnya adalah keniscayaan. Apatah lagi,
kita ini sama–sama manusia dengan segala
kekurangan yang melekat erat. Istri mana yang
tak ingin dimanja suaminya. Dihadiahi coklat,
dipersilakan istirahat, diberi ruang untuk berasyik
masyuk merawat diri di salon, dibolehkan sesaat
untuk membaca novel kesayangannya dan tak
selalu serius memikirkan cucian yang menumpuk
di ruang belakang rumahnya. Dan balasannya, ia
menjadi lebih cinta kepada suaminya. Tentu sang
suami manapun menginginkan istrinya menikmati
posisinya sebagai istri dia seorang, agar
kepemimpinannya memang benar-benar layak
dibanggakan.
Bukankah kata-kata umum mengatakan, seorang
lelaki lebih tahan menerima cobaan yang
diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih
tak tahan bila cobaan itu mampir ke istri yang
dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab
benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu
saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan
tangguh terulur. Bila kenikmatan dan fasilitas
duniawi menggoda, yakinlah bahwa pertolongan
Allah jauh lebih kuat bila kita pun tak sanggup
untuk menyentuh madu manis sampah dunia.
Jadi, mari meletakkan diri di posisi yang lebih baik
dan tertata. Yakinlah, menjadi bagian kecil dari
rumah tangga da’i, adalah kebanggaan dunia
akhirat, dan tak mesti menghilangkan sisi
kewanitaan atau keinginan-keinginan kecil yang
sempat diharapkan. Toh Allah selalu bersama kita,
maka nikmatilah!
Rasulullah SAW dan pengemis buta
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang
pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada
orang yang mendekatinya ia selalu berkata:
“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia
itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang
sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya.”
Namun setiap pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan membawa makanan, dan
tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW
menyuapi makanan yang dibawanya kepada
pengemis itu walaupun pengemis itu selalu
berpesan agar tidak mendekati orang yang
bernama Muhammad. Rasulullah SAW
melakukannya hingga menjelang Rasulullah SAW
wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi
orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah r.ha (salah satu istri Rasulullah
SAW). Beliau bertanya kepada anaknya,
“Anakku adakah sunnah kekasihku (Muhammad)
yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya,
“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah
hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum
ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke
hujung pasar dengan membawakan makanan
untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada
di sana”, kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar
dengan membawa makanan untuk diberikannya
kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi
pengemis itu dan memberikan makanan itu
kepadanya.
Sebagaimana kita ketahui bersama Abu Bakar r.a
adalah sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah/Raja/
Presiden seluruh ummat Islam pada waktu itu.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si
pengemis marah sambil berteriak,
“Siapakah kamu?”.
Abu Bakar r.a menjawab,
“Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa
mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu,
“Ketika ia datang kepadaku tidak susah tangan ini
memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu
menyuapiku dengan lembut”, pengemis itu
melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya,
ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang
padamu, aku adalah salah seorang dari
sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar
r.a. ia pun ikut menangis, kemudian berkata,
“Benarkah demikian?, selama ini aku selalu
menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah
memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan
membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya
mengucapkan “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Wa
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh..”
dihadapan Abu Bakar r.a.
pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada
orang yang mendekatinya ia selalu berkata:
“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia
itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang
sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya.”
Namun setiap pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan membawa makanan, dan
tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW
menyuapi makanan yang dibawanya kepada
pengemis itu walaupun pengemis itu selalu
berpesan agar tidak mendekati orang yang
bernama Muhammad. Rasulullah SAW
melakukannya hingga menjelang Rasulullah SAW
wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi
orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah
anaknya Aisyah r.ha (salah satu istri Rasulullah
SAW). Beliau bertanya kepada anaknya,
“Anakku adakah sunnah kekasihku (Muhammad)
yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya,
“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah
hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum
ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke
hujung pasar dengan membawakan makanan
untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada
di sana”, kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar
dengan membawa makanan untuk diberikannya
kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi
pengemis itu dan memberikan makanan itu
kepadanya.
Sebagaimana kita ketahui bersama Abu Bakar r.a
adalah sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah/Raja/
Presiden seluruh ummat Islam pada waktu itu.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si
pengemis marah sambil berteriak,
“Siapakah kamu?”.
Abu Bakar r.a menjawab,
“Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa
mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu,
“Ketika ia datang kepadaku tidak susah tangan ini
memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu
menyuapiku dengan lembut”, pengemis itu
melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya,
ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang
padamu, aku adalah salah seorang dari
sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar
r.a. ia pun ikut menangis, kemudian berkata,
“Benarkah demikian?, selama ini aku selalu
menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah
memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan
membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya
mengucapkan “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Wa
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh..”
dihadapan Abu Bakar r.a.
Bayi Ajaib
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berbicara
ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya:
Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada
zaman Juraij.
Juraij adalah seorang laki-laki ahli Ibadah, dia
membangun sendiri tempat ibadahnya. ceritanya,
pada suatu hari di saat ia sedang shalat ibunya
memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya
Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku
atau aku meneruskan shalatku?’ Juraij
meneruskan shalatnya. Lalu ibunya pergi.
Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia
sedang shalat lagi. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij mengadukan kepada Allah, ‘Ya Rabbi,
aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan
shalatku?’ Ia meneruskan shalatnya. Lalu ibunya
pergi meninggalkan Juraij.
Pada pagi hari Ibu Juraij datang lagi, ketika itu
Juraij sedang shalat. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi
panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan
shalatku?’ Tetapi Juraij meneruskan shalatnya.
Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya Allah, janganlah
Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!’
Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut
ketekunan ibadah Juraij.
Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang
sangat cantik berkata, ‘Jika kalian menghendaki,
aku akan memberinya fitnah.’
Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan
menggodanya. Tetapi Juraij tidak
memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut
mendatangi seorang penggembala yang sedang
berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya
ia berzina dan hamil.
Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang
bertanya, ‘Bayi ini hasil perbuatan siapa?’ Pelacur
itu menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatangi
Juraij dan memaksanya keluar dari tempat
ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij,
mencaci maki dan merobohkan tempat
ibadahnya.
Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian
perlakukan aku seperti ini?.’ Mereka menjawab,
‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini,
sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya,
‘Di mana sekarang bayi itu?’ Kemudian mereka
datang membawa bayi tersebut.
Juraij berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk
mengerjakan shalat!’ Lalu Juraij shalat. Selesai
shalat Juraij menghampiri sang bayi lalu
mencoleknya di perutnya seraya bertanya, ‘Wahai
bayi, siapakah ayahmu?’ Sang bayi menjawab,
‘Ayahku adalah seorang penggembala.’
Serta merta orang-orang pun berhambur,
menciumi dan meminta maaf kepada Juraij.
Mereka berkata, ‘Kami akan mem-bangun kembali
tempat ibadah untukmu dari emas!’ Juraij
menjawab, ‘Jangan! Cukup dari tanah saja
sebagaimana semula.’ Mereka lalu membangun
tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki
Juraij.
Ketika ibu si bayi memangku anaknya untuk
disusui, tiba-tiba lewat seorang lelaki menunggang
kuda yang gesit, gagah dan tampan rupa. Maka
ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku
seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu melepaskan tetek
ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda
tersebut seraya berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan
aku seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan
melanjutkan hisapan susunya.”
Abu Hurairah berkata, “Seakan-akan aku melihat
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jari
telunjuknya di mulut lalu megisapnya.
Lalu lewat serombongan orang membawa wanita
hamba sahaya yang sedang dipukuli. Mereka
menuduh, ‘Kamu telah berzina, kamu telah
mencuri!’ Sementara hamba sahaya perempuan
itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai Pelindungku!’
Melihat kejadian ini, sang Ibu berdoa, ‘Ya Allah,
jangan jadikan anakku seperti dia.’ Maka bayi itu
meninggalkan tetek ibunya dan melihat ke tempat
wanita hamba sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya
Allah jadikanlah aku seperti dia.’
Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata
kepada anaknya, ‘Di belakangku berlalu seorang
penunggang kuda yang gagah dan tampan, lalu
aku berkata, ‘Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.’
Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan
aku seperti dia.’ Lalu berlalu di hadapanku, wanita
hamba sahaya dan mereka memukulinya serta
mengatakan bahwa ia telah berzina, ia telah
mencuri! Melihat hal ini, aku berdoa, ‘Ya Allah,
jangan jadikan anakku seperti dia.’ Lalu engkau
berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku seperti dia.’
Maka bayi itu menerangkan kepada ibunya,
‘Wahai Ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang
tampan itu adalah orang yang sangat sombong.
Maka aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadi-kan aku
seperti dia!’ Sedangkan terhadap hamba sahaya
wanita itu, yang orang-orang berkata, ‘Kamu
berzina, padahal dia tidak berzina, kamu mencuri
padahal dia tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya
Allah jadikanlah aku seperti dia’.” [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
1. Kewajiban birrul walidain (berbakti kepada
kedua orang tua) terutama ibu, dan bahwasanya
jika ia menyumpahi anaknya maka akan
dikabulkan.
2. Allah menyelamatkan seseorang dengan
ketakwaan dan keshalihannya.
3. Jika suatu urusan nampak tumpang tindih,
hendaknya memprioritaskan yang terpenting
kemudian yang penting.
4. Disunnahkan berwudhu terlebih dahulu
sebelum berdoa untuk hal-hal yang genting.
5. Wudhu sudah dikenal umat dan disyariatkan
sebelum Nabi Muhammad.
6. Penetapan karamah para wali, yang bisa
diperoleh melalui ikhtiar atau usaha mereka.
7. Bersikap lemah lembut dan sayang kepada
murid ketika memberikan pendidikan kepadanya.
8. Orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi
kepada Allah tidak mudah termakan fitnah.
9. Boleh melakukan ibadah yang banyak/secara
maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya
mampu.
10. Orang yang biasa berbuat keji tidak akan
memperoleh penghormatan.
11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan
kepadanya suatu tuduhan hendaknya segera
menghadap Allah dengan shalat.
12. Menjelaskan keyakinan Juraij yang sangat
tinggi begitu pula harapannya kepada Allah untuk
memperoleh pertolongan-Nya. Sehingga ketika ia
meminta anak bayi berbicara, Allah
mengabulkannya. Padahal sebagaimana biasanya
yang namanya bayi tentu belum bisa bicara.
13. Sombong dan membanggakan diri adalah
perbuatan tercela, demikian pula orang yang
sombong dan zhalim, mereka semua dicela.
14. Orang yang dizhalimi mempunyai kedudukan
dan kelebihan di sisi Allah. Jika tidak demikian
tentu tidak ada kebaikan-nya seorang anak yang
masih menyusu ingin menjadi seorang pembantu
yang rendah hati.
15. Seseorang boleh membatalkan shalat
sunnahnya manakala dipanggil orang tuanya
untuk melakukan sesuatu yang syar’i.
16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu
tuduhan tanpa bukti.
_______________
[1] HR. al-Bukhari, 3436; Muslim, 2550.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash
Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul
Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH
PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih
dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka
Darul Haq, Jakarta]
‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berbicara
ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya:
Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada
zaman Juraij.
Juraij adalah seorang laki-laki ahli Ibadah, dia
membangun sendiri tempat ibadahnya. ceritanya,
pada suatu hari di saat ia sedang shalat ibunya
memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya
Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku
atau aku meneruskan shalatku?’ Juraij
meneruskan shalatnya. Lalu ibunya pergi.
Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia
sedang shalat lagi. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij mengadukan kepada Allah, ‘Ya Rabbi,
aku memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan
shalatku?’ Ia meneruskan shalatnya. Lalu ibunya
pergi meninggalkan Juraij.
Pada pagi hari Ibu Juraij datang lagi, ketika itu
Juraij sedang shalat. Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi
panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan
shalatku?’ Tetapi Juraij meneruskan shalatnya.
Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya Allah, janganlah
Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!’
Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut
ketekunan ibadah Juraij.
Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang
sangat cantik berkata, ‘Jika kalian menghendaki,
aku akan memberinya fitnah.’
Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan
menggodanya. Tetapi Juraij tidak
memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut
mendatangi seorang penggembala yang sedang
berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya
ia berzina dan hamil.
Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang
bertanya, ‘Bayi ini hasil perbuatan siapa?’ Pelacur
itu menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatangi
Juraij dan memaksanya keluar dari tempat
ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij,
mencaci maki dan merobohkan tempat
ibadahnya.
Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian
perlakukan aku seperti ini?.’ Mereka menjawab,
‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini,
sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya,
‘Di mana sekarang bayi itu?’ Kemudian mereka
datang membawa bayi tersebut.
Juraij berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk
mengerjakan shalat!’ Lalu Juraij shalat. Selesai
shalat Juraij menghampiri sang bayi lalu
mencoleknya di perutnya seraya bertanya, ‘Wahai
bayi, siapakah ayahmu?’ Sang bayi menjawab,
‘Ayahku adalah seorang penggembala.’
Serta merta orang-orang pun berhambur,
menciumi dan meminta maaf kepada Juraij.
Mereka berkata, ‘Kami akan mem-bangun kembali
tempat ibadah untukmu dari emas!’ Juraij
menjawab, ‘Jangan! Cukup dari tanah saja
sebagaimana semula.’ Mereka lalu membangun
tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki
Juraij.
Ketika ibu si bayi memangku anaknya untuk
disusui, tiba-tiba lewat seorang lelaki menunggang
kuda yang gesit, gagah dan tampan rupa. Maka
ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku
seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu melepaskan tetek
ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda
tersebut seraya berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan
aku seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan
melanjutkan hisapan susunya.”
Abu Hurairah berkata, “Seakan-akan aku melihat
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jari
telunjuknya di mulut lalu megisapnya.
Lalu lewat serombongan orang membawa wanita
hamba sahaya yang sedang dipukuli. Mereka
menuduh, ‘Kamu telah berzina, kamu telah
mencuri!’ Sementara hamba sahaya perempuan
itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai Pelindungku!’
Melihat kejadian ini, sang Ibu berdoa, ‘Ya Allah,
jangan jadikan anakku seperti dia.’ Maka bayi itu
meninggalkan tetek ibunya dan melihat ke tempat
wanita hamba sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya
Allah jadikanlah aku seperti dia.’
Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata
kepada anaknya, ‘Di belakangku berlalu seorang
penunggang kuda yang gagah dan tampan, lalu
aku berkata, ‘Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.’
Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan
aku seperti dia.’ Lalu berlalu di hadapanku, wanita
hamba sahaya dan mereka memukulinya serta
mengatakan bahwa ia telah berzina, ia telah
mencuri! Melihat hal ini, aku berdoa, ‘Ya Allah,
jangan jadikan anakku seperti dia.’ Lalu engkau
berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku seperti dia.’
Maka bayi itu menerangkan kepada ibunya,
‘Wahai Ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang
tampan itu adalah orang yang sangat sombong.
Maka aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadi-kan aku
seperti dia!’ Sedangkan terhadap hamba sahaya
wanita itu, yang orang-orang berkata, ‘Kamu
berzina, padahal dia tidak berzina, kamu mencuri
padahal dia tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya
Allah jadikanlah aku seperti dia’.” [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
1. Kewajiban birrul walidain (berbakti kepada
kedua orang tua) terutama ibu, dan bahwasanya
jika ia menyumpahi anaknya maka akan
dikabulkan.
2. Allah menyelamatkan seseorang dengan
ketakwaan dan keshalihannya.
3. Jika suatu urusan nampak tumpang tindih,
hendaknya memprioritaskan yang terpenting
kemudian yang penting.
4. Disunnahkan berwudhu terlebih dahulu
sebelum berdoa untuk hal-hal yang genting.
5. Wudhu sudah dikenal umat dan disyariatkan
sebelum Nabi Muhammad.
6. Penetapan karamah para wali, yang bisa
diperoleh melalui ikhtiar atau usaha mereka.
7. Bersikap lemah lembut dan sayang kepada
murid ketika memberikan pendidikan kepadanya.
8. Orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi
kepada Allah tidak mudah termakan fitnah.
9. Boleh melakukan ibadah yang banyak/secara
maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya
mampu.
10. Orang yang biasa berbuat keji tidak akan
memperoleh penghormatan.
11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan
kepadanya suatu tuduhan hendaknya segera
menghadap Allah dengan shalat.
12. Menjelaskan keyakinan Juraij yang sangat
tinggi begitu pula harapannya kepada Allah untuk
memperoleh pertolongan-Nya. Sehingga ketika ia
meminta anak bayi berbicara, Allah
mengabulkannya. Padahal sebagaimana biasanya
yang namanya bayi tentu belum bisa bicara.
13. Sombong dan membanggakan diri adalah
perbuatan tercela, demikian pula orang yang
sombong dan zhalim, mereka semua dicela.
14. Orang yang dizhalimi mempunyai kedudukan
dan kelebihan di sisi Allah. Jika tidak demikian
tentu tidak ada kebaikan-nya seorang anak yang
masih menyusu ingin menjadi seorang pembantu
yang rendah hati.
15. Seseorang boleh membatalkan shalat
sunnahnya manakala dipanggil orang tuanya
untuk melakukan sesuatu yang syar’i.
16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu
tuduhan tanpa bukti.
_______________
[1] HR. al-Bukhari, 3436; Muslim, 2550.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash
Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul
Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH
PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih
dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka
Darul Haq, Jakarta]
Doa Memohon Perlindungan AllahDari Empat Keburukan
Ada sebuah doa yang diajarkan Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam. Di dalamnya
terkandung permohonan agar Allah melindungi
kita dari empat keburukan. Doanya berbunyi
sebagai berikut:
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu
yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang,
dan dari doa yang tidak dikabulkan.”(HR Muslim
4899)
Setiap muslim tentunya tidak ingin terlibat
dengan keempat macam keburukan yang
disebutkan di dalam doa ini. Pertama, ilmu yang
tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak bermanfaat
adalah semua jenis ilmu yang tidak mengantarkan
seseorang kepada penambahan iman. Ilmu yang
tidak bermanfaat justru merongrong iman
seseorang sehingga semakin lama imannya
semakin menipis. Sedangkan ilmu bermanfaat
ialah ilmu yang membuat seseorang menjadi
semakin dekat dengan Allah.
Ilmu bermanfaat akan mengantarkan seseorang
untuk menjadi ingat akan kehidupan sejati kelak
di akhirat. Contohnya ialah para ulul al-bab
(orang-orang yang berakal) yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“…Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang
Engkau masukkan ke dalam neraka, maka
sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada
bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.” (QS Ali Imran ayat 190-192)
Ulul al-bab merupakan orang-orang yang
menggunakan akal mereka sehingga setelah
melakukan pengamatan terhadap alam sambil
mengingat Allah, lalu mereka segera teringat akan
kehidupan di akhirat. Sehingga mereka segera
berdoa: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Inilah gambaran mereka yang cermat dalam
memilih ilmu untuk diamalkan. Mereka sibuk
dengan ilmu yang bermanfaat. Mereka sangat
peduli untuk memastikan bahwa ilmu apapun
yang dikejar haruslah mengantarkan mereka
menjadi lebih dekat dan tunduk kepada Allah.
Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang segera
membangkitkan ingatan akan kehidupan akhirat
yang hakiki dan abadi. Mereka sangat waspada
dan curiga terhadap berbagai ilmu yang potensial
mengancam stabilitas iman. Mereka sangat
khawatir terhadap berbagai ilmu yang
menimbulkan keraguan akan kebenaran ajaran
Allah, Din Al-Islam. Mereka waspada menghadapi
ilmu yang membuat mereka lebih cinta kepada
dunia dan melalaikan mereka akan akhirat.
Kedua, hati yang tidak khusyu’. Keburukan
berikutnya adalah memiliki hati yang tidak
khusyu’. Artinya hati yang tidak tunduk kepada
Allah. Hati yang liar dan tidak bersandar kepada
Allah dalam menggapai ketenteraman. Padahal
ciri orang beriman ialah bila mengingat Allah hati
mereka menjadi tenteram.
”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-
lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)
Sedemikian pentingnya memiliki hati yang
khusyu’ (tunduk) sehingga Allah sendiri
memperingatkan kita agar waspada terhadap
kekeringan atau kegersangan hati. Hal ini muncul
bila orang beriman terlalu lama mengabaikan
ayat-ayat Allah. Mereka sengaja membuat jarak
dengan ayat-ayat Allah sehingga dengan
berjalannya waktu hati menjadi tidak khusyu’ alias
menjadi keras. Satu-satunya solusi ialah kembali
menghidupkan ingatan dan perhatian terhadap
ayat-ayat Allah. Hidupkan makna ayat-ayat
tersebut di dalam kehidupan nyata.
Ketiga, nafsu yang tidak pernah kenyang. Ini
merupakan keburukan berikutnya. Apalagi kita
sedang menjalani zaman paling kelam dalam
sejarah Islam. Di zaman ini begitu banyak fitnah
yang tersebar, sehingga tawaran untuk menuruti
hawa-nafsu bermunculan di sekeliling kita.
Hampir dalam semua situasi ada peluang untuk
menuruti hawa-nafsu. Maka di zaman seperti ini
sangat diperlukan pengendalian diri. Sangat
diperlukan kemampuan untuk memuaskan nafsu
dengan cara yang sesuai syariat dan proporsional.
Islam tidak datang untuk membunuh nafsu. Islam
datang untuk mengendalikan hawa-nafsu.
Sehingga kebutuhan pemuasan nafsu bukan
dimatikan melainkan diarahkan agar sesuai
dengan aturan syariat Allah. Dan bila hal ini
dilakukan maka bukan saja seseorang terbebas
dari dosa bahkan ia dapat memperoleh pahala
dari Allah atas pemenuhan hawa-nafsu yang
sesuai syariat Allah.
“Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata:”Ya
Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak
mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat
sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan
mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa.
Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta
mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam
bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan
bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya
tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid
adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah,
menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah
sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah
sedekah dan bersetubuhnya seorang kamu
dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka
bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah jika salah
seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya,
apakah ia mendapat pahala?” Rasulullah
menjawab: ”Tidakkah kamu tahu, apabila
seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang
haram, dia berdosa? Demikian pula apabila
disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat
pahala.” (HR Muslim 1674)
Keempat, doa yang tidak dikabulkan. Ini jelas
merupakan suatu keburukan. Bayangkan, seorang
muslim berdoa kepada Allah namun tidak
dikabulkan. Jelas ini merupakan suatu musibah.
Padahal Allah sendiri menjamin bahwa jika
seseorang memohon sesuatu kepada Allah, pasti
Allah akan kabulkan. Tentu ada syaratnya:
pertama, memohon hanya kepada Allah, tidak
kepada selainNya; kedua, penuhi segenap perintah
Allah dan ketiga, beriman dengan sebenarnya
kepada Allah SWT.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdo`a apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat
186)
shollallahu ’alaih wa sallam. Di dalamnya
terkandung permohonan agar Allah melindungi
kita dari empat keburukan. Doanya berbunyi
sebagai berikut:
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu
yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang,
dan dari doa yang tidak dikabulkan.”(HR Muslim
4899)
Setiap muslim tentunya tidak ingin terlibat
dengan keempat macam keburukan yang
disebutkan di dalam doa ini. Pertama, ilmu yang
tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak bermanfaat
adalah semua jenis ilmu yang tidak mengantarkan
seseorang kepada penambahan iman. Ilmu yang
tidak bermanfaat justru merongrong iman
seseorang sehingga semakin lama imannya
semakin menipis. Sedangkan ilmu bermanfaat
ialah ilmu yang membuat seseorang menjadi
semakin dekat dengan Allah.
Ilmu bermanfaat akan mengantarkan seseorang
untuk menjadi ingat akan kehidupan sejati kelak
di akhirat. Contohnya ialah para ulul al-bab
(orang-orang yang berakal) yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“…Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang
Engkau masukkan ke dalam neraka, maka
sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada
bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.” (QS Ali Imran ayat 190-192)
Ulul al-bab merupakan orang-orang yang
menggunakan akal mereka sehingga setelah
melakukan pengamatan terhadap alam sambil
mengingat Allah, lalu mereka segera teringat akan
kehidupan di akhirat. Sehingga mereka segera
berdoa: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Inilah gambaran mereka yang cermat dalam
memilih ilmu untuk diamalkan. Mereka sibuk
dengan ilmu yang bermanfaat. Mereka sangat
peduli untuk memastikan bahwa ilmu apapun
yang dikejar haruslah mengantarkan mereka
menjadi lebih dekat dan tunduk kepada Allah.
Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang segera
membangkitkan ingatan akan kehidupan akhirat
yang hakiki dan abadi. Mereka sangat waspada
dan curiga terhadap berbagai ilmu yang potensial
mengancam stabilitas iman. Mereka sangat
khawatir terhadap berbagai ilmu yang
menimbulkan keraguan akan kebenaran ajaran
Allah, Din Al-Islam. Mereka waspada menghadapi
ilmu yang membuat mereka lebih cinta kepada
dunia dan melalaikan mereka akan akhirat.
Kedua, hati yang tidak khusyu’. Keburukan
berikutnya adalah memiliki hati yang tidak
khusyu’. Artinya hati yang tidak tunduk kepada
Allah. Hati yang liar dan tidak bersandar kepada
Allah dalam menggapai ketenteraman. Padahal
ciri orang beriman ialah bila mengingat Allah hati
mereka menjadi tenteram.
”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-
lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)
Sedemikian pentingnya memiliki hati yang
khusyu’ (tunduk) sehingga Allah sendiri
memperingatkan kita agar waspada terhadap
kekeringan atau kegersangan hati. Hal ini muncul
bila orang beriman terlalu lama mengabaikan
ayat-ayat Allah. Mereka sengaja membuat jarak
dengan ayat-ayat Allah sehingga dengan
berjalannya waktu hati menjadi tidak khusyu’ alias
menjadi keras. Satu-satunya solusi ialah kembali
menghidupkan ingatan dan perhatian terhadap
ayat-ayat Allah. Hidupkan makna ayat-ayat
tersebut di dalam kehidupan nyata.
Ketiga, nafsu yang tidak pernah kenyang. Ini
merupakan keburukan berikutnya. Apalagi kita
sedang menjalani zaman paling kelam dalam
sejarah Islam. Di zaman ini begitu banyak fitnah
yang tersebar, sehingga tawaran untuk menuruti
hawa-nafsu bermunculan di sekeliling kita.
Hampir dalam semua situasi ada peluang untuk
menuruti hawa-nafsu. Maka di zaman seperti ini
sangat diperlukan pengendalian diri. Sangat
diperlukan kemampuan untuk memuaskan nafsu
dengan cara yang sesuai syariat dan proporsional.
Islam tidak datang untuk membunuh nafsu. Islam
datang untuk mengendalikan hawa-nafsu.
Sehingga kebutuhan pemuasan nafsu bukan
dimatikan melainkan diarahkan agar sesuai
dengan aturan syariat Allah. Dan bila hal ini
dilakukan maka bukan saja seseorang terbebas
dari dosa bahkan ia dapat memperoleh pahala
dari Allah atas pemenuhan hawa-nafsu yang
sesuai syariat Allah.
“Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata:”Ya
Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak
mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat
sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan
mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa.
Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta
mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam
bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan
bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya
tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid
adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah,
menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah
sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah
sedekah dan bersetubuhnya seorang kamu
dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka
bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah jika salah
seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya,
apakah ia mendapat pahala?” Rasulullah
menjawab: ”Tidakkah kamu tahu, apabila
seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang
haram, dia berdosa? Demikian pula apabila
disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat
pahala.” (HR Muslim 1674)
Keempat, doa yang tidak dikabulkan. Ini jelas
merupakan suatu keburukan. Bayangkan, seorang
muslim berdoa kepada Allah namun tidak
dikabulkan. Jelas ini merupakan suatu musibah.
Padahal Allah sendiri menjamin bahwa jika
seseorang memohon sesuatu kepada Allah, pasti
Allah akan kabulkan. Tentu ada syaratnya:
pertama, memohon hanya kepada Allah, tidak
kepada selainNya; kedua, penuhi segenap perintah
Allah dan ketiga, beriman dengan sebenarnya
kepada Allah SWT.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdo`a apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat
186)
Langganan:
Postingan (Atom)
