Kamis, 11 April 2013

siap jadi istri kedua?

Pembaca, kami ini saya ingin mengajak Anda melihat keluar. Ternyata, akhwat di Arab Saudi pun punya masalah yang sama. Sulit menemukan jodoh yang pas. Ukti Ain misalnya. Ia menuliskan problemnya kepada Dr. Hannan Faruq. Dan, jawaban Dr. Hannan sangat menarik untuk diketahui kita bersama. Karena itu silakan simak secara lengkap salinan suratnya dan jawaban Dr. Hannan berikut ini. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya terlambat mendapatkan jodoh. Namun saya bersyukur kepada Allah swt., sebab, alhamdulillah, saya merasa qana’ah secara sempurna atas kehendak Allah swt. itu. Bagaimana tidak? Nikah tidak lain hanyalah sarana untuk mencapai sasaran, sementara saya tidak menjadikan pernikahan sebagai sasaran yang harus dikejar, lalu menjadi bersedih manakala tidak terealisir. Sekedar untuk diketahui, penyebab terlambatnya saya menikah bukanlah karena saya banyak membuat syarata- syarat dunia yang menyulitkan apalagi sampai membuat kaum laki-laki tidak berdaya. Tetapi, saya memang cukup keras dan ketat dalam mencari seseorang yang bisa memahami tuntutan-tuntutan situasi dan kondisi umat masa ini (tuntutan dakwah). Berupa keharusan mempersiapkan diri secara baik dalam berbagai tingkatan. Banyak memang yang datang melamar saya, bahkan sebagian mereka lebih muda usianya. Saya pun menggali informasi. Saya mendapati mereka orang-orang yang hanif. Tetapi, begitu melihat realita dakwah dan harakah mereka, saya berketetapan hati untuk menolak lamaran mereka. Benar jika dikatakan bahwa seorang wanita –dengan taufiq dari Allah swt.– akan mampu mengkondisikan suaminya dengan dakwah, tapi bukankah ikhtiar dari awal juga merupakan sebuah tuntutan. Lalu, apa jadinya seandainya sang suami yang hanif itu melarang saya untuk berdakwah sebagai yang sering saya dengar? Bagaimana juga seandainya antara saya dan “suami” tidak ada kesepakatan dalam mentarbiyah anak dengan tarbiyah jihadiyah? Dan banyak lagi seandainya-seandainya yang lain. Bukankah ini realita? Beberapa waktu lalu, datang kepada saya seorang pemuda. Saya duga ia aktivs harakah yang punya pemahaman mendalam. Ia juga punya sifat-sifat baik (saya tidak bermaksud mendahului Allah swt. dalam menjelaskan sifat-sifat ini). Hanya sayang, dia telah punya istri dan hendak menjadikan saya sebagai istri kedua. Tapi, dia tinggal jauh dari daerah tempat tinggal saya.Untuk bisa menikah, dia siap pindah kerja ke daerah saya. Dia sudah bicara dengan istrinya. Istrinya setuju. Barangkali antum bertanya-tanya, lalu kelanjutannya bagaimana? Secara pribadi, saya merasa lega. Sebab, susah sekali mendapatkan orang yang punya kecocokan pemikiran saat ini. Meski begitu, semua orang, termasuk keluarga saya, menilai saya gila jika menerima lamaran itu. Mereka mengulang-ulang perkataan, “Yang melamar banyak. Masih muda-muda lagi. Eh… malahan menerima orang yang sudah punya istri. Bukankah materi yang akan kamu terima lebih rendah dibandingkan kekayaan keluargamu?” Saya tidak mencela dan menyalahkan sikap mereka itu. Sebab, mereka melihatnya dari kacamata yang berbeda. Dalam pandangan saya, kondisi umat yang menuntut para dai adalah nomor satu, baru hal-hal lainnya. Saya telah memperhitungkan positif-negatif penerimaan saya itu. Betul, terasa sangat berat dan sulit. Tapi, jika saya ukur dengan hasil yang akan diperoleh umat dan dakwah, saya dapati hasilnya lebih besar dan lebih menarik. Saya ingin mendengar pandangan antum yang bijaksana dalam masalah ini. Terlebih lagi saya membaca, katanya, istri pertama akan merasa sakit hati jika menemukan suaminya menikah lagi, walaupun ia telah menyetujuinya. Saya akui, saya sendiri tidak ingin menjadi penyebab hati orang sakit. Semoga Allah swt. memberikan ganjaran atas jihad, dakwah, dan jawaban antum. Amin. Ain, Saudi Arabia Saudariku yang tercinta, pertama sekali saya ingin mengucapkan selamat atas semangat ukhti dalam menegakkan kalimat Allah swt. dan memperjuangkan dakwah dan umat. Semoga Allah swt. membantu ukhti untuk meraih ridha-Nya. Shidiq (benar) terhadap Allah swt. adalah asas keimanan dan juga asas jihad fi sabilillah. Karenanya, mohonlah kepada Allah swt. agar Dia senantiasa memberikan taufiq dan bimbingan kepada ukhti untuk ini. Dari dulu jihad itu ada dua macam: jihad di medan laga dan jihad di medan kehidupan. Orang-orang yang mempunyai cita-cita tinggi dan siap memikul masalah- masalah besar adalah orang-orang yang berjihad pada lapangan kedua, dan saya memohon kepada Allah swt. semoga ukhti termasuk salah satunya. Dan keinginan ukhti untuk mendapatkan suami yang menjadi pendorong dan penopang dalam perjalanan dakwah merupakan kunci dan kendali segala kebaikan. Bahkan saya menganggapnya sebagai kewajiban setiap muslimah yang hendak mencari jodoh. Mengingat betapa jauh dan panjangnya perjalanan dakwah, maka persiapan berupa bekal yang lengkap dan mantap serta teman perjalanan yang tabah dan handal, adalah kunci sukses mengarungi perjalanan itu. Hanya saja, saya melihat ada kelebihan semangat pada diri ukhti. Kelebihan yang mengalahkan cara berpikir dan sikap moderat ukhti. Meskipun takjub dengan semangat ukhti itu, saya ingin mengajak ukhti memandang permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. Sebab, kehidupan itu punya seribu satu wajah untuk dipandang. Ukhti yang telah memikul semangat dan amanah, dakwah adalah sesuatu yang indah. Hanya saja perlu ukhti pahami bahwa dakwah dimulai dari rumah yang akan ukhti bangun bersama suami ukhti. Karena inilah, saya meminta ukhti untuk memandang masalah satu ini dengan pandangan cermat dan general. Bukan pandangan silau terhadap aktivitas dakwah dan semangatnya. Hendaklah ukhti bertanya kepada diri sendiri seribu satu kali: mampukah saya membangun rumah tangga, dalamnya cinta, dan terungkapnya kasih sayang? Mampukah saya berinteraksi dengan berbagai ganjalan dengan kesadaran penuh, tenang, dan saling memahami? Bisakah saya menundukkan ganjalan-ganjalan itu dan menjadikannya sebagai alat kebahagiaan rumah tangga? Sayang sekali ukhti, kita hidup di tengah masyarakat yang “kadung” menilai poligami sebagai perbuatan “kriminal”. Ukhti telah mengatakan bahwa istri pertama calon suami anti telah setujui. Namun, ukhti masih perlu melihat dua hal lain yang menjadi prasyarat poligami bagi seorang lelaki, yaitu kemampuan material dan biologis. Mengenai rasa sakit hati wanita yang suaminya menikah lagi, perlu kita ketahui kita (dan juga dia) adalah manusia biasa. Tidak ada seorang wanita pun yang merasa bahagia melihat suaminya menikah lagi. Termasuk ummahatul mukminin . Rasa cemburu itu tetap ada. Karena itu, saya nasihatkan ukhti dua hal. Pertama, usahakanlah untuk menjaga perasaan istri pertama. Kedua, dorong “suami’ ukhti untuk berbuat adil Masih ada satu hal lagi yang harus ukhti ingat. “Suami” ukhti adalah seorang dai. Sangat bisa jadi ia akan sering terlambat sampai ke rumah. Akan sering pergi meninggalkan rumah. Artinya, ukhtilah yang akan bertanggung jawab atas urusan rumah tangga saat itu. Mulai dari A sampai Z. Jika semua pertanyaan di atas ukhti jawab dengan “ya”, saya katakan, “Semoga Allah swt. memberkati ukhti juga ‘suami’ ukhti”. Dan, jangan lupa, beristikharah! Salam saya, Dr. Hannan Faruq.

Manfaat Jima' pagi hari

MALAM hari selalu dianggap merupakan waktu yang paling pas untuk berjima. Namun, medis juga mencatat bahwa jika jima dilakukan di pagi hari, banyak manfaat yang bisa didapatkan pasangan suami-istri. Para peneliti kesehatan mengatakan bahwa orang yang memulai hari mereka dengan berjima akan merasa lebih sehat dan lebih senang daripada mereka yang tidak. “Berjima di pagi hari melepaskan hormon oksitosin yang membuat pasangan merasa lebih mencintai dan lebih dekat seharian,” ujar Debby Herbenick, Ph.D., penulis buku Because It Feels Good . Sebuah penelitian yang dilakukan di Queen’s University, Belfast, menyebutkan kalau ‘morning sex’ juga akan memberikan jantung yang sehat. Tak hanya sekadar menyehatkan, jima pagi hari juga banyak membrikan manfaat lainnya yang menguntungkan bagi hidup Anda. Berikut beberapa manfaat melakukan jima di pagi hari: 1. Berjima di pagi hari akan meningkatkan sirkulasi darah. Ini tentu baik bagi Anda yang memiliki penyakit darah tinggi. Karena berjima di pagi hari bisa menurunkan tekanan darah. 2. Berjima di pagi hari bisa menurunkan kadar kalori Anda hingga 300 kalori per jam. Ini akan membuat Anda terhindar dari risiko diabetes. 3. Jima di pagi hari mampu mengurangi resiko serangan sakit kepala sebelah (migrain). 4. Jima di pagi hari yang biasanya tanpa persiapan dan tanpa kondom akan membuat Anda lebih bahagia dan mampu menghilangkan depresi. 5. Bagi wanita, morning sex dapat menambah kecantikan kulit dan rambut akan lebih nampak berkilau. 6. Berjima di pagi hari juga bisa meningkatkan sistem imun Anda dengan meningkatkan produksi antibodi IgA dalam tubuh. 7. Jima di pagi hari lebih mengasyikkan karena pria bisa tahan lebih lama setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup pada malam sebelumnya. Tak hanya itu, setelah tidur di malam hari, tingkat testosteron pria akan semakin melonjak dan membuat jima lebih menggairahkan. 8. Berjima di pagi hari akan mengurangi kadar stres dan kecemasan Anda. Jadi, ini adalah hal yang tepat dilakukan untuk membuat Anda bersemangat di pagi hari. 9. Apa lagi cara yang paling hebat untuk menambah energi serta memulai hari Anda selain melakukan jima di pagi hari? []

antara Agnes n kiyai matre

Oleh : Miarti, A.Ma (Direktur ZAIDAN Tutorial Preschool and Kindergarten) “Apabila datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia. Bila tidak kamu lakukan, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas,” (HR. Attirmidzi dan Ahmad) Seorang Agness Monica dengan segala keberanian dan “kenyelenehannya”, dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh seorang kru infoteinment pernah mengungkapkan tentang kriteria calon suami. Artis cantik yang sangat optimis untuk bisa sehebat Madonna itu menuturkan bahwa syarat pertama calon suaminya adalah harus seagama. Baginya, agama adalah nomor satu. Agama adalah segala-galanya. Intinya, ia tidak akan bisa menerima lelaki yang bukan Kristen untuk menjadi pasangan hidupnya. Lain halnya dengan seorang kiyai di sebuah desa yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai seorang tokoh terkemuka yang cukup berpengaruh dan berwibawa. Suatu saat, kiyai berpenampilan enerjik itu dengan tegas melarang salah seorang putrinya untuk menerima lamaran seorang pemuda. Alasannya sangat klasik. Sang pemuda tersebut belum memiliki pekerjaan yang tetap. Bahkan, ada satu hal yang sangat memperkuat kiyai tersebut menolak lamaran pemuda tersebut adalah karena sang pemuda yang gagah dan tampan itu bukan berasal dari turunan kiyai maupun santri. Atau paling tidak, berketurunan birokrat. Di mata kiyai yang pandai mengatur strategi itu, sang pemuda bernasib naas itu hanya dipandang sebelah mata. Tidak ada apa-apanya. Bahkan tidak berbanding dengan keadaan dirinya yang selalu dihormati oleh berbagai lapisan masyarakat. Padahal, penilaian objektif dari anak kecil hingga orang tua, pemuda yang cool, calm and confident itu adalah pemuda yang rajin ke masjid, sopan, ramah, tidak terlibat dalam kenakalan remaja apalagi narkoba. Hari terus berganti. Jumlah pekan terus bertambah. Dan bulan pun terus berubah. Namun sang puteri kiyai yang “manut” pada ayahnya itu tak kunjung ketemu dengan jodohnya. Bahkan akibat penolakan ayahnya itu, ia harus rela menelan kekecawan yang cukup mendalam hingga ia banyak mengurung diri di dalam kamar. Suatu malam, ada serombongan keluarga berkunjung ke rumah kiyai. Mereka adalah keluarga kaya raya yang memiliki banyak sawah, ladang, pabrik, bahkan kendaraan. Maksud mereka tiada lain adalah untuk melamar puteri kiyai yang satu lagi, yaitu adik dari sang puteri yang tengah menelen kekecewaan. Tanpa berpikir panjang, sang kiyai yang “cukup cerdas” itu langsung menerima lamaran sang pemuda kaya raya. Dan tidak tanggung-tanggung, sang kiyai langsung berdiskusi tentang penentuan hari pernikahan. Singkat cerita, lamaran itu disambut dengan hangat oleh sang kiyai hingga ia merelakan sang putri yang tengah jatuh karena dirundung malang itu harus tertimpa tangga. Ia dilangkahi oleh adiknya. Sungguh sangat senjang. Antara Agness Monica yang selalu tampil berbusana “dajjal” dengan kiyai yang dikenal sebagai penebar nilai-nilai kebenaran. Namun ada sesuatu yang sangat ironis di balik kesenjangan yang cukup membuat otak kita terkuras dan terperas. Mengapa Agness yang begitu menikmati hingar bingarnya budaya jahiliyah masih memposisikan agama sebagai prioritas andalan. Sementara sang kiyai yang sudah mentransformasikan ilmu agama kepada puluhan generasi masih memposisikan harta sebagai sesuatu yang pertama dan utama. Adakah semua ini sebagai buah dari ketidakpahaman. Ataukah sebagai indikasi kiamat akan segera menjelang dimana keadaan manusia sudah sangat tidak menentu. Agness Monicca hanyalah sebuah ikon dunia selebritis yang tenggelam dalam dunia hingar bingar. Hingga ketika berkata tentang posisi agama sebagai sesuatu yang dianggap pertama dan utama, namun penampilan tidak sedikitpun mencerminkan kalimat yang mengalir dari mulutnya itu. Pun dengan “kiyai matre”. Ia hanya merupakan wakil dari sebuah realita. Karena pada kenyataannya, masih banyak orang yang mengklaim dirinya sebagi kiyai maupun non kiyai yang belum bisa bertindak layaknya seorang figur yang kaya akan ilmu. Ada sesuatu yang benar-benar membuat “keder”. Adakah kalimat yang mengalir dengan sangat mulus dan lancar dari mulut Agness itu benar-benar prinsip ataukah hanya sekadar retorika yang secara tidak langsung akan membuat dirinya dipandang selebriti yang mumpuni, berbobot, tidak kosong, dan qualifield. Apapun adanya, baik kiyai yang telah mengecewakan salah satu putrinya maupun Agness dengan segala kelincahannya, keduanya merupakan potret kehidupan. Keduanya merupakan contoh nyata dari sebuah ketimpangan. Keduanya telah membuat diri kita “berkerut kening”. Dan apapun adanya, tidak semua orang mampu mengalahkan ego dan komitmen. Sehingga siapapun, kapanpun dan dimanapun, sangatlah potensial untuk tidak menyadari akan siapa dirinya, apa yang telah diucapkannya dan apa yang telah dilakukannya. Namun setidaknya, petuah Maha Indah Allah SWT dalam dalam surat An-Nahl cukup menempa jiwa-jiwa kita yang sangat mudah untuk tersilaukan oleh gemerlapnya dunia. Apa yang ada di isimu akan lenyap, dan ada yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang merek kerjakan. Harta dan tahta memang masih menjadi standar kelayakan untuk menjadi seorang suami maupun istri. Harta dan tahta memang masih menampati posisi terkuat. Begitupun dengan gemerlapnya bintang kehidupan. Terkadang telah membuat manusia bertolakbelakang dengan segala prinsip. Namun, apakah “ketidaksinkronan” seperti itu harus tetap membudaya dan tetap hidup dalam dunia kita yang semakin carut marut. Wallohu a’lam bish showab. Semoga Kemahabesaran Allah senantiasa menyelamatkan diri-diri kita dari maha panasnya api neraka. []

beljar dari hasan albana sb seorang suami

Dakwah tidak membuat Hasan Al-Banna menjadi sibuk atau berpaling dari kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami Muslim yang meneladani Rasulullah saw: “ Sebaik-baik kalian, sebaik-baik kalian adalah kepada keluarganya .” Ustadz Saiful Islam bercerita: Ayahku adalah seorang yang sangat menjaga penerapan sunnah Rasulullah saw. Ketika beliau menikah, beliau berusaha mengenali kerabat istrinya satu-persatu. Setiap orang yang berhubungan dengan istrinya, beliau sambung. Beliau hitung jumlah mereka, didatangi rumahnya meskipun jaraknya jauh karena kondisi kekeluargaan yang turun-menurun. Akan tetapi ayah—rahimahullah—suatu ketika mengagetkan ibuku bahwa ia telah mengunjungi seorang laki-laki. Dan ini beliau lakukan melalui hubungan kerabat melalui si fulan, karena ia adalah anaknya fulan. Ini kembali kepada kelembutannya yang kuat dalam memegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw. Demikianlah perhatian Hasan al-Banna terhadap urusan rumah tangganya secara sempurna tanpa kurang sedikitpun. Beliau mencatat sendiri berbagai kebutuhan dan semua jenis urusan rumah tangga selama sebulan dan memperlihatkannya di awal bulan kepada salah seorang ikhwan, yaitu haji Sayyid Syihabuddin, pemilik toko yang terkenal untuk menyediakan bahan makanan setiap bulannya. Imam Syahid Hasan Al-Bana merasakan cobaan hidup yang dijumpai istrinya dan berusaha mencarikan seorang pembantu untuk selalu menyertainya agar bisa menangani tugas-tugas rumah tangga. Ustadz Saiful Islam menceritakan tentang kelembutan dan kepekaan perasaannya. Ia berkata: Beliau pulang ke rumah selalu pada larut malam setelah berkumpul bersama Ikhwan. Saya sebutkan bahwa kunci rumahnya berbentuk panjang. Pada beberapa malam saya sengaja begadang dengan membaca buku. Tiba-tiba ayah membuka pintu dengan kunci yang beliau pegang dengan sangat pelan-pelan dan tenang sekali agar tidak mengganggu semua yang sedang tidur. Dan saat itu saya mengagetkan kedatangannya. Anak putrinya, Tsana bercerita: Ayah adalah orang yang tenang, lapang dada dan lemah-lembut. Di rumah, suaranya tidak pernah keras karena sebab apapun. Beliau membantu ibu dalam sebagian tugas rumah tangga, meskipun beliau sibuk dengan tugas dakwah. Ayah saya adalah sosok yang rendah hati terhadap seluruh anggota keluarga, baik yang besar ataupun yang kecil. Setiap hari beliau menulis di sebuah notes kecil tentang semua kebutuhan rumah sampai mengabsennya sendiri atau menyuruh salah satu di antara kami untuk mengabsennya. Beliau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah sampai pada jadwal mengurus banyak hal seperti mentega, bawang, mentimun dan lain sebagainya. Ustad Saiful Islam bercerita: Ketika masuk rumah, beliau menutup selimut anak-anak dengan sangat pelan-pelan. Terkadang beliau makan malam dengan hidangan yang ada di atas meja tanpa membangunkan ibu atau seorang pun di antara penghuni rumah karena kedatangannya di tengah malam itu. (Dikutip dari Majalah Liwa Islam). []

Kamis, 28 Maret 2013

kematian yang kulupakan. .

Ketika satu per satu sahabatku pergi meninggalkanku… Menuju alam yang belum pernah kuketahui wujudnya. Aku masih juga belum ter sadarkan. Kematian itu datang tak mengetuk pintu. Mencerabut manusia dari orang-orang terkasihnya tak peduli ia miskin atau kaya,tua atau muda,sengsara atau bahagia,siap atau tak siap menyambutnya. Masih saja aku bergeming. Menganggap kematian itu masih jauh dariku. Kematian adalah milik orang lain. Aku? Entah lah..Yang jelas aku yakin ia masih jauh dariku. Lihat saja tubuhku yang bugar,lenganku yang kokoh,pandangan mataku yang tajam,langkah kakiku yang tegap, tak ada satu pun yang menunjukkan bahwa aku pantas dijemput maut. Aku senantiasa menjaga kebugaran tubuhku. Olahraga dan suplemen vitamin menjadi makananku sehari-hari. Pun check up rutin kulakukan setahun sekali. Sungguh,saat ini aku tak yakin kematian akan menghampiriku. Hingga sore tadi tubuhku tiba-tiba menggigil. Bukan,bukan karena sakit,karena seperti kubilang tadi,aku rajin berolahraga,minum vitamin,dan berobat rutin ke dokter. Aku tergetar oleh sebuah pesan singkat yang singgah di selulerku. Seorang sahabat (lagi-lagi) meninggalkanku tanpa pamit. Seorang sahabat yang pagi tadi masih kunikmati tawanya yang berderai-derai,tegap badannya yang gagah,langkah kakinya yang tegap,pandangan matanya yang tajam… Oh kematian…pelajaran apa yang hendak kau bagi kali ini? Bahwa kematian itu datang tiba-tiba? Bahwa kita tak pernah tahu kapan ia menjemput kita? Bahwa kematian tak mungkin menghampiri kita di usia yang masih belia? Benarkah? Bukankah Dia telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati? Bukankah Dia juga mengingatkan melalui lisan utusan-Nya yang mulia bahwa orang yang paling cerdas diantara kita adalah yang paling banyak menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya? Bukankah Dia telah ‘memvonis’ saat kepulangan kita seiring Ia hembuskan ruh di jasad kita? Sungguh,berulang kali Dia mengingatkan kita akan satu kepastian ini. Masihkah kita menganggap bahwa kematian itu datang tiba-tiba?

Senin, 25 Maret 2013

Ketika Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798) bahwa populasi dunia tumbuh secara deret ukur (1,2,4, 8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan tumbuh secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia belum mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul pemikiran yang ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa tidak ada gunanya mengentaskan kemiskinan – karena bila si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak dan problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin serius. Pemikiran Thomas Malthus yang ganjil tersebut kemudian menjadi justifikasi bagi Karl Marx, Lenin dan teman- temannya – untuk menentang kapitalisme. Menurut mereka ini justru itu perlunya sumber daya-sumber daya kehidupan yang terbatas tersebut untuk dibagi sama rata dan sama rasa agar cukup bagi semua. Separuh saja dari teorinya Thomas Malthus yang mendekati kebenaran , yaitu bahwa penduduk bumi tumbuh secara deret ukur. Dua tahun setelah teori tersebut penduduk bumi mencapai 1 Milyar pertama (1800), ini adalah hampir 12,000 tahun sejak peradaban manusia mengenal pertanian menetap. Sejak saat itu jumlah penduduk bumi melesat dengan cepat seiring dengan peningkatan kemakmurannya. 130 tahun kemudian penduduk bumi mencapai 2 milyar (1930), 30 tahun kemudian mencapai 3 milyar (1960), 15 tahun kemudian mencapai 4 milyar (1975), 12 tahun kemudian mencapai 5 milyar (1987), 12 tahun kemudian mencapai 6 milyar (1999) dan 12 tahun kemudian mencapai 7 milyar (2011). Lihat kelipatan ini, 12,000 tahun untuk mencapai jumlah 1 milyar dan hanya perlu sekitar 200 tahun kemudian untuk mencapai 7 Milyar !. Dengan pertumbuhan seperti ini penduduk bumi akan mencapai 8 Milyar sebelum tahun 2023 !. Sisi pertumbuhan populasi bumi secara deret ukur tersebut nampaknya akan terbukti tetapi sisi sumber daya kehidupan ternyata juga tetap cukup untuk menopang kehidupan penduduk bumi yang kini sudah lebih dari 7 Milyar dan akan segera mencapai 8 milyar ini. Artinya sisi lain teori Thomas Malthus bahwa penopang kehidupan yang tumbuh secara deret hitung terbukti tidak benar, penduduk bumi secara kumulatif ternyata tidak berkurang kemakmurannya kini dibandingkan dengan ketika teori Malthus tersebut dikeluarkan lebih dari dua abad lalu - ketika penduduk bumi belum mencapai 1 Milyar pertamanya. Tetapi kecukupan penopang kehidupan bukan berarti tanpa masalah. Dengan pola ekonomi yang dikendalikan kapitalisme sekarang, rata-rata penduduk negara maju seperti Amerika menyerap sumber daya kehidupan di bumi 32 kali lebih banyak dari yang diserap rata-rata penduduk negeri miskin seperti Kenya misalnya . Sumber daya kehidupan yang disedot mereka ini meliputi pangan, air, energy, mineral, hasil tambang dlsb. Jadi masalahnya jelas, bukan sumber daya kehidupan di bumi yang tumbuh secara deret hitung sehingga tidak bisa mengejar pertumbuhan populasi yang tumbuh secara deret ukur – tetapi lebih pada masalah distribusi sumber daya tersebut yang tidak dilakukan secara adil. Berbagai system mulai dari keuangan, perdagangan, standar industri, teknologi dlsb. diciptakan untuk mengunggulkan segelintir orang atau kelompok terhadap mayoritas penduduk bumi. Negeri-negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah, tidak jaminan bahwa mereka yang paling makmur dan paling cepat pertumbuhannya – mereka justru menjadi target penjajahan jenis baru – penjajahan ekonomi, keuangan, politik dan pemikiran. Lantas apakah yang benar Marxism dan Leininism yang membagi sumber daya kehidupan yang terbatas secara sama rasa dan sama rata ?, tidak juga ! Karena pembagian yang demikian juga tidak mendorong orang untuk berkinerja optimal meng-eksplorasi kekayaan alam di bumi ini. Maka solusinya tinggal umat ini yang seharusnya bisa menghadirkan kemakmuran di bumi itu. Umat inilah yang dikabarkan oleh hadits Nabi berikut yang akan memakmurkan bumi sekali lagi sebelum kiamat datang di bumi ini : " Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki- laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim). Kita bisa optimis bahwa kemakmuran di bumi masih akan datang sekali lagi – berapapun jumlah penduduk bumi saat itu, karena selain hadits tersebut di atas juga adanya janji Allah langsung di sejumlah ayat yang bunyinya senada : “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu .” (QS 15 :21). Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak seimbang seperti ketidak seimbangan antara jumlah penduduk bumi dengan sumber daya kehidupannya – yang diteorikan oleh Thomas Malthus tersebut di atas : “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? ” (QS 67 :3) Bahwa belum semuanya sumber daya kehidupan tersebut kita temukan dan kita kuasai saat ini, karena ke-Maha Tahu-an Allah juga – yang tidak menghendaki kita berlebih- lebihan dalam menggunakannya : “Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba- Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat .” (42:27) Jadi sumber daya di bumi itu cukup untuk semuanya, tidak berlebih dan tidak kurang - tetapi harus terus digali dan dikelola secara adil. Untuk bisa terus menggali dan mengelola sumber daya yang ada di bumi ini secara adil itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai khalifahNya – yang memakmurkan bumi ini (QS 11 :61). Bila kapitalism itu memperebutkan sesuatu yang dianggapnya sedikit atau terbatas (scarcity), Marxism membagi yang sedikit itu sama rata sama rasa dan berharap cukup dengan yang sedikit itu. Kita bukan keduanya, kita yakin bahwa sumber-sumber kehidupan itu cukup, hanya perlu terus digali dan dikelola secara adil mengikuti petunjuk-petunjukNya. InsyaAllah.