Kamis, 11 April 2013
siap jadi istri kedua?
Pembaca, kami ini saya ingin mengajak Anda melihat
keluar. Ternyata, akhwat di Arab Saudi pun punya
masalah yang sama. Sulit menemukan jodoh yang
pas. Ukti Ain misalnya. Ia menuliskan problemnya
kepada Dr. Hannan Faruq. Dan, jawaban Dr. Hannan
sangat menarik untuk diketahui kita bersama. Karena
itu silakan simak secara lengkap salinan suratnya dan
jawaban Dr. Hannan berikut ini.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Saya terlambat mendapatkan jodoh. Namun saya
bersyukur kepada Allah swt., sebab, alhamdulillah, saya
merasa qana’ah secara sempurna atas kehendak Allah
swt. itu. Bagaimana tidak? Nikah tidak lain hanyalah
sarana untuk mencapai sasaran, sementara saya tidak
menjadikan pernikahan sebagai sasaran yang harus
dikejar, lalu menjadi bersedih manakala tidak terealisir.
Sekedar untuk diketahui, penyebab terlambatnya saya
menikah bukanlah karena saya banyak membuat syarata-
syarat dunia yang menyulitkan apalagi sampai membuat
kaum laki-laki tidak berdaya. Tetapi, saya memang cukup
keras dan ketat dalam mencari seseorang yang bisa
memahami tuntutan-tuntutan situasi dan kondisi umat
masa ini (tuntutan dakwah). Berupa keharusan
mempersiapkan diri secara baik dalam berbagai tingkatan.
Banyak memang yang datang melamar saya, bahkan
sebagian mereka lebih muda usianya. Saya pun menggali
informasi. Saya mendapati mereka orang-orang yang
hanif. Tetapi, begitu melihat realita dakwah dan harakah
mereka, saya berketetapan hati untuk menolak lamaran
mereka.
Benar jika dikatakan bahwa seorang wanita –dengan
taufiq dari Allah swt.– akan mampu mengkondisikan
suaminya dengan dakwah, tapi bukankah ikhtiar dari awal
juga merupakan sebuah tuntutan. Lalu, apa jadinya
seandainya sang suami yang hanif itu melarang saya untuk
berdakwah sebagai yang sering saya dengar? Bagaimana
juga seandainya antara saya dan “suami” tidak ada
kesepakatan dalam mentarbiyah anak dengan tarbiyah
jihadiyah? Dan banyak lagi seandainya-seandainya yang
lain. Bukankah ini realita?
Beberapa waktu lalu, datang kepada saya seorang
pemuda. Saya duga ia aktivs harakah yang punya
pemahaman mendalam. Ia juga punya sifat-sifat baik
(saya tidak bermaksud mendahului Allah swt. dalam
menjelaskan sifat-sifat ini). Hanya sayang, dia telah punya
istri dan hendak menjadikan saya sebagai istri kedua. Tapi,
dia tinggal jauh dari daerah tempat tinggal saya.Untuk
bisa menikah, dia siap pindah kerja ke daerah saya. Dia
sudah bicara dengan istrinya. Istrinya setuju.
Barangkali antum bertanya-tanya, lalu kelanjutannya
bagaimana? Secara pribadi, saya merasa lega. Sebab,
susah sekali mendapatkan orang yang punya kecocokan
pemikiran saat ini. Meski begitu, semua orang, termasuk
keluarga saya, menilai saya gila jika menerima lamaran
itu. Mereka mengulang-ulang perkataan, “Yang melamar
banyak. Masih muda-muda lagi. Eh… malahan menerima
orang yang sudah punya istri. Bukankah materi yang akan
kamu terima lebih rendah dibandingkan kekayaan
keluargamu?”
Saya tidak mencela dan menyalahkan sikap mereka itu.
Sebab, mereka melihatnya dari kacamata yang berbeda.
Dalam pandangan saya, kondisi umat yang menuntut para
dai adalah nomor satu, baru hal-hal lainnya.
Saya telah memperhitungkan positif-negatif penerimaan
saya itu. Betul, terasa sangat berat dan sulit. Tapi, jika saya
ukur dengan hasil yang akan diperoleh umat dan dakwah,
saya dapati hasilnya lebih besar dan lebih menarik.
Saya ingin mendengar pandangan antum yang bijaksana
dalam masalah ini. Terlebih lagi saya membaca, katanya,
istri pertama akan merasa sakit hati jika menemukan
suaminya menikah lagi, walaupun ia telah menyetujuinya.
Saya akui, saya sendiri tidak ingin menjadi penyebab hati
orang sakit.
Semoga Allah swt. memberikan ganjaran atas jihad,
dakwah, dan jawaban antum. Amin.
Ain, Saudi Arabia
Saudariku yang tercinta, pertama sekali saya ingin
mengucapkan selamat atas semangat ukhti dalam
menegakkan kalimat Allah swt. dan memperjuangkan
dakwah dan umat. Semoga Allah swt. membantu ukhti
untuk meraih ridha-Nya.
Shidiq (benar) terhadap Allah swt. adalah asas keimanan
dan juga asas jihad fi sabilillah. Karenanya, mohonlah
kepada Allah swt. agar Dia senantiasa memberikan taufiq
dan bimbingan kepada ukhti untuk ini.
Dari dulu jihad itu ada dua macam: jihad di medan laga
dan jihad di medan kehidupan. Orang-orang yang
mempunyai cita-cita tinggi dan siap memikul masalah-
masalah besar adalah orang-orang yang berjihad pada
lapangan kedua, dan saya memohon kepada Allah swt.
semoga ukhti termasuk salah satunya.
Dan keinginan ukhti untuk mendapatkan suami yang
menjadi pendorong dan penopang dalam perjalanan
dakwah merupakan kunci dan kendali segala kebaikan.
Bahkan saya menganggapnya sebagai kewajiban setiap
muslimah yang hendak mencari jodoh.
Mengingat betapa jauh dan panjangnya perjalanan
dakwah, maka persiapan berupa bekal yang lengkap dan
mantap serta teman perjalanan yang tabah dan handal,
adalah kunci sukses mengarungi perjalanan itu.
Hanya saja, saya melihat ada kelebihan semangat pada
diri ukhti. Kelebihan yang mengalahkan cara berpikir dan
sikap moderat ukhti. Meskipun takjub dengan semangat
ukhti itu, saya ingin mengajak ukhti memandang
permasalahan ini dari berbagai sudut pandang. Sebab,
kehidupan itu punya seribu satu wajah untuk dipandang.
Ukhti yang telah memikul semangat dan amanah, dakwah
adalah sesuatu yang indah. Hanya saja perlu ukhti pahami
bahwa dakwah dimulai dari rumah yang akan ukhti
bangun bersama suami ukhti. Karena inilah, saya meminta
ukhti untuk memandang masalah satu ini dengan
pandangan cermat dan general. Bukan pandangan silau
terhadap aktivitas dakwah dan semangatnya.
Hendaklah ukhti bertanya kepada diri sendiri seribu satu
kali: mampukah saya membangun rumah tangga,
dalamnya cinta, dan terungkapnya kasih sayang?
Mampukah saya berinteraksi dengan berbagai ganjalan
dengan kesadaran penuh, tenang, dan saling memahami?
Bisakah saya menundukkan ganjalan-ganjalan itu dan
menjadikannya sebagai alat kebahagiaan rumah tangga?
Sayang sekali ukhti, kita hidup di tengah masyarakat yang
“kadung” menilai poligami sebagai perbuatan “kriminal”.
Ukhti telah mengatakan bahwa istri pertama calon suami
anti telah setujui. Namun, ukhti masih perlu melihat dua
hal lain yang menjadi prasyarat poligami bagi seorang
lelaki, yaitu kemampuan material dan biologis.
Mengenai rasa sakit hati wanita yang suaminya menikah
lagi, perlu kita ketahui kita (dan juga dia) adalah manusia
biasa. Tidak ada seorang wanita pun yang merasa bahagia
melihat suaminya menikah lagi. Termasuk ummahatul
mukminin . Rasa cemburu itu tetap ada.
Karena itu, saya nasihatkan ukhti dua hal. Pertama,
usahakanlah untuk menjaga perasaan istri pertama.
Kedua, dorong “suami’ ukhti untuk berbuat adil
Masih ada satu hal lagi yang harus ukhti ingat. “Suami”
ukhti adalah seorang dai. Sangat bisa jadi ia akan sering
terlambat sampai ke rumah. Akan sering pergi
meninggalkan rumah. Artinya, ukhtilah yang akan
bertanggung jawab atas urusan rumah tangga saat itu.
Mulai dari A sampai Z.
Jika semua pertanyaan di atas ukhti jawab dengan “ya”,
saya katakan, “Semoga Allah swt. memberkati ukhti juga
‘suami’ ukhti”. Dan, jangan lupa, beristikharah!
Salam saya, Dr. Hannan Faruq.
Manfaat Jima' pagi hari
MALAM hari selalu dianggap merupakan waktu yang paling
pas untuk berjima. Namun, medis juga mencatat bahwa
jika jima dilakukan di pagi hari, banyak manfaat yang bisa
didapatkan pasangan suami-istri.
Para peneliti kesehatan mengatakan bahwa orang yang
memulai hari mereka dengan berjima akan merasa lebih
sehat dan lebih senang daripada mereka yang tidak.
“Berjima di pagi hari melepaskan hormon oksitosin yang
membuat pasangan merasa lebih mencintai dan lebih
dekat seharian,” ujar Debby Herbenick, Ph.D., penulis
buku Because It Feels Good .
Sebuah penelitian yang dilakukan di Queen’s University,
Belfast, menyebutkan kalau ‘morning sex’ juga akan
memberikan jantung yang sehat. Tak hanya sekadar
menyehatkan, jima pagi hari juga banyak membrikan
manfaat lainnya yang menguntungkan bagi hidup Anda.
Berikut beberapa manfaat melakukan jima di pagi hari:
1. Berjima di pagi hari akan meningkatkan sirkulasi darah.
Ini tentu baik bagi Anda yang memiliki penyakit darah
tinggi. Karena berjima di pagi hari bisa menurunkan
tekanan darah.
2. Berjima di pagi hari bisa menurunkan kadar kalori Anda
hingga 300 kalori per jam. Ini akan membuat Anda
terhindar dari risiko diabetes.
3. Jima di pagi hari mampu mengurangi resiko serangan
sakit kepala sebelah (migrain).
4. Jima di pagi hari yang biasanya tanpa persiapan dan
tanpa kondom akan membuat Anda lebih bahagia dan
mampu menghilangkan depresi.
5. Bagi wanita, morning sex dapat menambah kecantikan
kulit dan rambut akan lebih nampak berkilau.
6. Berjima di pagi hari juga bisa meningkatkan sistem
imun Anda dengan meningkatkan produksi antibodi IgA
dalam tubuh.
7. Jima di pagi hari lebih mengasyikkan karena pria bisa
tahan lebih lama setelah mendapatkan waktu istirahat
yang cukup pada malam sebelumnya. Tak hanya itu,
setelah tidur di malam hari, tingkat testosteron pria akan
semakin melonjak dan membuat jima lebih
menggairahkan.
8. Berjima di pagi hari akan mengurangi kadar stres dan
kecemasan Anda. Jadi, ini adalah hal yang tepat dilakukan
untuk membuat Anda bersemangat di pagi hari.
9. Apa lagi cara yang paling hebat untuk menambah
energi serta memulai hari Anda selain melakukan jima di
pagi hari? []
antara Agnes n kiyai matre
Oleh : Miarti, A.Ma (Direktur ZAIDAN Tutorial
Preschool and Kindergarten)
“Apabila datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu
ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia.
Bila tidak kamu lakukan, akan terjadi fitnah di muka bumi
dan kerusakan yang meluas,” (HR. Attirmidzi dan Ahmad)
Seorang Agness Monica dengan segala keberanian dan
“kenyelenehannya”, dalam sebuah wawancara yang
dilakukan oleh seorang kru infoteinment pernah
mengungkapkan tentang kriteria calon suami. Artis cantik
yang sangat optimis untuk bisa sehebat Madonna itu
menuturkan bahwa syarat pertama calon suaminya adalah
harus seagama. Baginya, agama adalah nomor satu.
Agama adalah segala-galanya. Intinya, ia tidak akan bisa
menerima lelaki yang bukan Kristen untuk menjadi
pasangan hidupnya.
Lain halnya dengan seorang kiyai di sebuah desa yang
dikenal oleh masyarakat setempat sebagai seorang tokoh
terkemuka yang cukup berpengaruh dan berwibawa.
Suatu saat, kiyai berpenampilan enerjik itu dengan tegas
melarang salah seorang putrinya untuk menerima
lamaran seorang pemuda. Alasannya sangat klasik. Sang
pemuda tersebut belum memiliki pekerjaan yang tetap.
Bahkan, ada satu hal yang sangat memperkuat kiyai
tersebut menolak lamaran pemuda tersebut adalah
karena sang pemuda yang gagah dan tampan itu bukan
berasal dari turunan kiyai maupun santri. Atau paling
tidak, berketurunan birokrat. Di mata kiyai yang pandai
mengatur strategi itu, sang pemuda bernasib naas itu
hanya dipandang sebelah mata. Tidak ada apa-apanya.
Bahkan tidak berbanding dengan keadaan dirinya yang
selalu dihormati oleh berbagai lapisan masyarakat.
Padahal, penilaian objektif dari anak kecil hingga orang
tua, pemuda yang cool, calm and confident itu adalah
pemuda yang rajin ke masjid, sopan, ramah, tidak terlibat
dalam kenakalan remaja apalagi narkoba.
Hari terus berganti. Jumlah pekan terus bertambah. Dan
bulan pun terus berubah. Namun sang puteri kiyai yang
“manut” pada ayahnya itu tak kunjung ketemu dengan
jodohnya. Bahkan akibat penolakan ayahnya itu, ia harus
rela menelan kekecawan yang cukup mendalam hingga ia
banyak mengurung diri di dalam kamar. Suatu malam, ada
serombongan keluarga berkunjung ke rumah kiyai. Mereka
adalah keluarga kaya raya yang memiliki banyak sawah,
ladang, pabrik, bahkan kendaraan. Maksud mereka tiada
lain adalah untuk melamar puteri kiyai yang satu lagi, yaitu
adik dari sang puteri yang tengah menelen kekecewaan.
Tanpa berpikir panjang, sang kiyai yang “cukup cerdas” itu
langsung menerima lamaran sang pemuda kaya raya. Dan
tidak tanggung-tanggung, sang kiyai langsung berdiskusi
tentang penentuan hari pernikahan. Singkat cerita,
lamaran itu disambut dengan hangat oleh sang kiyai
hingga ia merelakan sang putri yang tengah jatuh karena
dirundung malang itu harus tertimpa tangga. Ia dilangkahi
oleh adiknya.
Sungguh sangat senjang. Antara Agness Monica yang
selalu tampil berbusana “dajjal” dengan kiyai yang dikenal
sebagai penebar nilai-nilai kebenaran. Namun ada sesuatu
yang sangat ironis di balik kesenjangan yang cukup
membuat otak kita terkuras dan terperas. Mengapa
Agness yang begitu menikmati hingar bingarnya budaya
jahiliyah masih memposisikan agama sebagai prioritas
andalan. Sementara sang kiyai yang sudah
mentransformasikan ilmu agama kepada puluhan generasi
masih memposisikan harta sebagai sesuatu yang pertama
dan utama. Adakah semua ini sebagai buah dari
ketidakpahaman. Ataukah sebagai indikasi kiamat akan
segera menjelang dimana keadaan manusia sudah sangat
tidak menentu.
Agness Monicca hanyalah sebuah ikon dunia selebritis
yang tenggelam dalam dunia hingar bingar. Hingga ketika
berkata tentang posisi agama sebagai sesuatu yang
dianggap pertama dan utama, namun penampilan tidak
sedikitpun mencerminkan kalimat yang mengalir dari
mulutnya itu. Pun dengan “kiyai matre”. Ia hanya
merupakan wakil dari sebuah realita. Karena pada
kenyataannya, masih banyak orang yang mengklaim
dirinya sebagi kiyai maupun non kiyai yang belum bisa
bertindak layaknya seorang figur yang kaya akan ilmu.
Ada sesuatu yang benar-benar membuat “keder”. Adakah
kalimat yang mengalir dengan sangat mulus dan lancar
dari mulut Agness itu benar-benar prinsip ataukah hanya
sekadar retorika yang secara tidak langsung akan
membuat dirinya dipandang selebriti yang mumpuni,
berbobot, tidak kosong, dan qualifield.
Apapun adanya, baik kiyai yang telah mengecewakan
salah satu putrinya maupun Agness dengan segala
kelincahannya, keduanya merupakan potret kehidupan.
Keduanya merupakan contoh nyata dari sebuah
ketimpangan. Keduanya telah membuat diri kita “berkerut
kening”. Dan apapun adanya, tidak semua orang mampu
mengalahkan ego dan komitmen. Sehingga siapapun,
kapanpun dan dimanapun, sangatlah potensial untuk tidak
menyadari akan siapa dirinya, apa yang telah
diucapkannya dan apa yang telah dilakukannya. Namun
setidaknya, petuah Maha Indah Allah SWT dalam dalam
surat An-Nahl cukup menempa jiwa-jiwa kita yang sangat
mudah untuk tersilaukan oleh gemerlapnya dunia. Apa
yang ada di isimu akan lenyap, dan ada yang ada di sisi
Allah adalah kekal. Dan kami pasti akan memberi balasan
kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang merek kerjakan.
Harta dan tahta memang masih menjadi standar
kelayakan untuk menjadi seorang suami maupun istri.
Harta dan tahta memang masih menampati posisi terkuat.
Begitupun dengan gemerlapnya bintang kehidupan.
Terkadang telah membuat manusia bertolakbelakang
dengan segala prinsip. Namun, apakah “ketidaksinkronan”
seperti itu harus tetap membudaya dan tetap hidup dalam
dunia kita yang semakin carut marut. Wallohu a’lam bish
showab. Semoga Kemahabesaran Allah senantiasa
menyelamatkan diri-diri kita dari maha panasnya api
neraka. []
beljar dari hasan albana sb seorang suami
Dakwah tidak membuat Hasan Al-Banna menjadi sibuk
atau berpaling dari kewajiban-kewajibannya sebagai
seorang suami Muslim yang meneladani Rasulullah saw:
“ Sebaik-baik kalian, sebaik-baik kalian adalah kepada
keluarganya .” Ustadz Saiful Islam bercerita: Ayahku adalah
seorang yang sangat menjaga penerapan sunnah
Rasulullah saw. Ketika beliau menikah, beliau berusaha
mengenali kerabat istrinya satu-persatu. Setiap orang
yang berhubungan dengan istrinya, beliau sambung.
Beliau hitung jumlah mereka, didatangi rumahnya
meskipun jaraknya jauh karena kondisi kekeluargaan yang
turun-menurun. Akan tetapi ayah—rahimahullah—suatu
ketika mengagetkan ibuku bahwa ia telah mengunjungi
seorang laki-laki. Dan ini beliau lakukan melalui hubungan
kerabat melalui si fulan, karena ia adalah anaknya fulan.
Ini kembali kepada kelembutannya yang kuat dalam
memegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw.
Demikianlah perhatian Hasan al-Banna terhadap urusan
rumah tangganya secara sempurna tanpa kurang
sedikitpun. Beliau mencatat sendiri berbagai kebutuhan
dan semua jenis urusan rumah tangga selama sebulan dan
memperlihatkannya di awal bulan kepada salah seorang
ikhwan, yaitu haji Sayyid Syihabuddin, pemilik toko yang
terkenal untuk menyediakan bahan makanan setiap
bulannya.
Imam Syahid Hasan Al-Bana merasakan cobaan hidup
yang dijumpai istrinya dan berusaha mencarikan seorang
pembantu untuk selalu menyertainya agar bisa menangani
tugas-tugas rumah tangga.
Ustadz Saiful Islam menceritakan tentang kelembutan dan
kepekaan perasaannya. Ia berkata: Beliau pulang ke
rumah selalu pada larut malam setelah berkumpul
bersama Ikhwan. Saya sebutkan bahwa kunci rumahnya
berbentuk panjang. Pada beberapa malam saya sengaja
begadang dengan membaca buku. Tiba-tiba ayah
membuka pintu dengan kunci yang beliau pegang dengan
sangat pelan-pelan dan tenang sekali agar tidak
mengganggu semua yang sedang tidur. Dan saat itu saya
mengagetkan kedatangannya.
Anak putrinya, Tsana bercerita: Ayah adalah orang yang
tenang, lapang dada dan lemah-lembut. Di rumah,
suaranya tidak pernah keras karena sebab apapun. Beliau
membantu ibu dalam sebagian tugas rumah tangga,
meskipun beliau sibuk dengan tugas dakwah. Ayah saya
adalah sosok yang rendah hati terhadap seluruh anggota
keluarga, baik yang besar ataupun yang kecil. Setiap hari
beliau menulis di sebuah notes kecil tentang semua
kebutuhan rumah sampai mengabsennya sendiri atau
menyuruh salah satu di antara kami untuk mengabsennya.
Beliau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan
rumah sampai pada jadwal mengurus banyak hal seperti
mentega, bawang, mentimun dan lain sebagainya.
Ustad Saiful Islam bercerita: Ketika masuk rumah, beliau
menutup selimut anak-anak dengan sangat pelan-pelan.
Terkadang beliau makan malam dengan hidangan yang
ada di atas meja tanpa membangunkan ibu atau seorang
pun di antara penghuni rumah karena kedatangannya di
tengah malam itu. (Dikutip dari Majalah Liwa Islam). []
Kamis, 28 Maret 2013
kematian yang kulupakan. .
Ketika satu per satu sahabatku pergi
meninggalkanku…
Menuju alam yang belum pernah kuketahui wujudnya. Aku masih juga
belum ter sadarkan. Kematian itu datang tak mengetuk pintu.
Mencerabut manusia dari orang-orang terkasihnya tak peduli ia miskin
atau kaya,tua atau muda,sengsara atau bahagia,siap atau tak siap
menyambutnya.
Masih saja aku bergeming. Menganggap kematian itu masih jauh
dariku. Kematian adalah milik orang lain. Aku? Entah lah..Yang jelas aku
yakin ia masih jauh dariku. Lihat saja tubuhku yang bugar,lenganku yang
kokoh,pandangan mataku yang tajam,langkah kakiku yang tegap, tak
ada satu pun yang menunjukkan bahwa aku pantas dijemput maut.
Aku senantiasa menjaga kebugaran tubuhku. Olahraga dan suplemen
vitamin menjadi makananku sehari-hari. Pun check up rutin kulakukan
setahun sekali. Sungguh,saat ini aku tak yakin kematian akan
menghampiriku.
Hingga sore tadi tubuhku tiba-tiba menggigil. Bukan,bukan karena sakit,karena seperti kubilang tadi,aku
rajin berolahraga,minum vitamin,dan berobat rutin ke dokter. Aku tergetar oleh sebuah pesan singkat
yang singgah di selulerku. Seorang sahabat (lagi-lagi) meninggalkanku tanpa pamit. Seorang sahabat
yang pagi tadi masih kunikmati tawanya yang berderai-derai,tegap badannya yang gagah,langkah
kakinya yang tegap,pandangan matanya yang tajam…
Oh kematian…pelajaran apa yang hendak kau bagi kali ini?
Bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Bahwa kita tak pernah tahu kapan ia menjemput kita?
Bahwa kematian tak mungkin menghampiri kita di usia yang masih belia?
Benarkah?
Bukankah Dia telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap yang berjiwa
akan merasakan mati?
Bukankah Dia juga mengingatkan melalui lisan utusan-Nya yang mulia bahwa orang yang paling cerdas
diantara kita adalah yang paling banyak menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya?
Bukankah Dia telah ‘memvonis’ saat kepulangan kita seiring Ia hembuskan ruh di jasad kita?
Sungguh,berulang kali Dia mengingatkan kita akan satu kepastian ini.
Masihkah kita menganggap bahwa kematian itu datang tiba-tiba?
Senin, 25 Maret 2013
Ketika Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798)
bahwa populasi dunia tumbuh secara deret ukur (1,2,4,
8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan tumbuh
secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia
belum mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul
pemikiran yang ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa
tidak ada gunanya mengentaskan kemiskinan – karena bila
si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak dan
problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin
serius.
Pemikiran Thomas Malthus yang ganjil tersebut kemudian
menjadi justifikasi bagi Karl Marx, Lenin dan teman-
temannya – untuk menentang kapitalisme. Menurut
mereka ini justru itu perlunya sumber daya-sumber daya
kehidupan yang terbatas tersebut untuk dibagi sama rata
dan sama rasa agar cukup bagi semua.
Separuh saja dari teorinya Thomas Malthus yang
mendekati kebenaran , yaitu bahwa penduduk bumi
tumbuh secara deret ukur. Dua tahun setelah teori tersebut
penduduk bumi mencapai 1 Milyar pertama (1800), ini
adalah hampir 12,000 tahun sejak peradaban manusia
mengenal pertanian menetap. Sejak saat itu jumlah
penduduk bumi melesat dengan cepat seiring dengan
peningkatan kemakmurannya.
130 tahun kemudian penduduk bumi mencapai 2 milyar
(1930), 30 tahun kemudian mencapai 3 milyar (1960), 15
tahun kemudian mencapai 4 milyar (1975), 12 tahun
kemudian mencapai 5 milyar (1987), 12 tahun kemudian
mencapai 6 milyar (1999) dan 12 tahun kemudian
mencapai 7 milyar (2011). Lihat kelipatan ini, 12,000
tahun untuk mencapai jumlah 1 milyar dan hanya perlu
sekitar 200 tahun kemudian untuk mencapai 7 Milyar !.
Dengan pertumbuhan seperti ini penduduk bumi akan
mencapai 8 Milyar sebelum tahun 2023 !.
Sisi pertumbuhan populasi bumi secara deret ukur tersebut
nampaknya akan terbukti tetapi sisi sumber daya
kehidupan ternyata juga tetap cukup untuk menopang
kehidupan penduduk bumi yang kini sudah lebih dari 7
Milyar dan akan segera mencapai 8 milyar ini. Artinya sisi
lain teori Thomas Malthus bahwa penopang kehidupan
yang tumbuh secara deret hitung terbukti tidak benar,
penduduk bumi secara kumulatif ternyata tidak berkurang
kemakmurannya kini dibandingkan dengan ketika teori
Malthus tersebut dikeluarkan lebih dari dua abad lalu -
ketika penduduk bumi belum mencapai 1 Milyar
pertamanya.
Tetapi kecukupan penopang kehidupan bukan berarti tanpa
masalah. Dengan pola ekonomi yang dikendalikan
kapitalisme sekarang, rata-rata penduduk negara maju
seperti Amerika menyerap sumber daya kehidupan di
bumi 32 kali lebih banyak dari yang diserap rata-rata
penduduk negeri miskin seperti Kenya misalnya . Sumber
daya kehidupan yang disedot mereka ini meliputi pangan,
air, energy, mineral, hasil tambang dlsb.
Jadi masalahnya jelas, bukan sumber daya kehidupan di
bumi yang tumbuh secara deret hitung sehingga tidak bisa
mengejar pertumbuhan populasi yang tumbuh secara deret
ukur – tetapi lebih pada masalah distribusi sumber daya
tersebut yang tidak dilakukan secara adil.
Berbagai system mulai dari keuangan, perdagangan,
standar industri, teknologi dlsb. diciptakan untuk
mengunggulkan segelintir orang atau kelompok terhadap
mayoritas penduduk bumi. Negeri-negeri yang memiliki
sumber daya alam melimpah, tidak jaminan bahwa mereka
yang paling makmur dan paling cepat pertumbuhannya –
mereka justru menjadi target penjajahan jenis baru –
penjajahan ekonomi, keuangan, politik dan pemikiran.
Lantas apakah yang benar Marxism dan Leininism yang
membagi sumber daya kehidupan yang terbatas secara
sama rasa dan sama rata ?, tidak juga ! Karena pembagian
yang demikian juga tidak mendorong orang untuk
berkinerja optimal meng-eksplorasi kekayaan alam di bumi
ini.
Maka solusinya tinggal umat ini yang seharusnya bisa
menghadirkan kemakmuran di bumi itu. Umat inilah yang
dikabarkan oleh hadits Nabi berikut yang akan
memakmurkan bumi sekali lagi sebelum kiamat datang di
bumi ini :
" Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan
telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-
laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta
zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang
bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab
menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang
rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).
Kita bisa optimis bahwa kemakmuran di bumi masih akan
datang sekali lagi – berapapun jumlah penduduk bumi saat
itu, karena selain hadits tersebut di atas juga adanya janji
Allah langsung di sejumlah ayat yang bunyinya senada :
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah
khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan
dengan ukuran yang tertentu .” (QS 15 :21).
Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak
seimbang seperti ketidak seimbangan antara jumlah
penduduk bumi dengan sumber daya kehidupannya – yang
diteorikan oleh Thomas Malthus tersebut di atas :
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu
sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah
berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang ? ” (QS 67 :3)
Bahwa belum semuanya sumber daya kehidupan tersebut
kita temukan dan kita kuasai saat ini, karena ke-Maha
Tahu-an Allah juga – yang tidak menghendaki kita berlebih-
lebihan dalam menggunakannya :
“Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-
Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,
tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya
dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui
(keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat .” (42:27)
Jadi sumber daya di bumi itu cukup untuk semuanya, tidak
berlebih dan tidak kurang - tetapi harus terus digali dan
dikelola secara adil. Untuk bisa terus menggali dan
mengelola sumber daya yang ada di bumi ini secara adil
itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai khalifahNya – yang
memakmurkan bumi ini (QS 11 :61).
Bila kapitalism itu memperebutkan sesuatu yang
dianggapnya sedikit atau terbatas (scarcity), Marxism
membagi yang sedikit itu sama rata sama rasa dan
berharap cukup dengan yang sedikit itu. Kita bukan
keduanya, kita yakin bahwa sumber-sumber kehidupan itu
cukup, hanya perlu terus digali dan dikelola secara adil
mengikuti petunjuk-petunjukNya. InsyaAllah.
Langganan:
Postingan (Atom)
