Negeri indah Indonesia/memanggil namamu/menyapa
nuranimu
Negeri indah Indonesia/menanti hadirmu/rindukan karyamu
Siapa yang tidak kenal dengan lirik lagu “Indonesia
Memanggil” yang ketika mendengarnya seolah terbetot dari
kemalasan? Lagu ini merupakan lagu yang dinyanyikan oleh
grup nasyid ternama Indonesia, Shoutul Harokah. Grup
nasyid yang berdiri di Bandung pada 31 Desember 2001 ini
memang grup nasyid yang selalu membawakan lagu-lagu
pembakar semangat. Tidak mengherankan jika lagu-lagu
Shoutul Harokah senantiasa dapat menggelorakan semangat
karena dalam prosesnya, baik latihan maupun rekaman,
grup ini memerhatikan betul-betul waktu yang terpakai. Para
personelnya yang rata-rata memiliki kafa’ah syari’ah dengan
latar belakang aktivis dakwah sangat memerhatikan dan
menghargai waktu.
Dan, beberapa waktu yang lalu, MaPI berkesempatan
ngobrol dengan salah satu personel grup nasyid Shoutul
Harokah, yaitu Ust. Ridwan Solichin, S. Ip., M. Si. Ragam
sekali yang kami bincangkan. Namun, obrolan lalu menukik
pada perilaku sehari-hari yang luput dari pengawasan.
Sepele memang hal tersebut, namun jika tidak diantisipasi
dengan baik, bisa melunturkan nilai-nilai keimanan kita. Apa
itu? Tidak lain adalah perbuatan (atau perkataan) yang sia-
sia.
Kepada MaPI, dosen, aktivis sosial kemasyarakatan, dan
anggota DPRD Sumedang yang juga suami dari Drg. Iting
Mursyidah Hanum dan ayah bagi Muhammad Akmal Ath-
Thoriq, Raihana Sabira, dan Muhammad Wildan Al-Fayyad
ini berbagi tentang cara agar terhindar dari hal yang sia-sia,
baik di lingkup keluarga, bahkan sampai ke level
pemerintahan.
Sering sekali kita mendengar kata takwa. Secara sederhana,
apa sih takwa itu?
Kata takwa memang sangat sering kita dengar dalam
ceramah-ceramah agama. Bahkan tiap khutbah Jumat,
pesan takwa malah jadi hal yang wajib disampaikan oleh
khatib. Kalimat ini memang mudah dan ringan di lisan.
Tetapi, kadang-kadang sangat sulit diaplikasikan.
Sederhananya, takwa adalah melaksanakan perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya. Selalu merasa bahwa diri kita
diawasi oleh Allah Swt.
Di dalam Al-Quran disebutkan, salah satu ciri orang
beruntung (orang beriman dan bertakwa) adalah menjauhi
hal yang sia-sia. Sepertinya, hal sia-sia itu adalah hal yang
sederhana, namun sulit dideteksi. Adakah langkah
sederhana untuk mengantisipasinya?
Al-Quran dalam surat Ali Imran (3) ayat 134-135
menggambarkan bagaimana ciri-ciri orang yang bertakwa.
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang
lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah,
lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang
mereka mengetahui.”
Dengan gamblang, ayat ini menjelaskan bahwa takwa adalah
hal yang sangat sederhana. Bahwa kita harus dermawan,
tidak mudah marah, gampang memaafkan, selalu berbuat
kebajikan, istighfar kalau khilaf, dan selalu berdoa. Sangat
sederhana. Tapi, di sinilah godaannya. Sederhana kadang
membuat kita terjebak menyepelekan, sehingga hal
sederhana itu terasa berat.
Hal yang mesti kita ingat bahwa takwa yang sebenarnya
adalah amalan hati, bukan sekadar yang tampak pada
anggota badan. Namun, dengan mempraktikkan kebiasaan-
kebiasaan positif dengan anggota badan, hal tersebut bisa
melekat menjadi kebiasaan hati. Mulailah kebiasaan seperti
membuat jadwal infak rutin, berlatih tidak cepat marah,
berlatih memaafkan, agendakan silaturahim, perbanyak zikir,
dan berdoa setelah shalat.
Lalu, bagaimana menjaga kualitas takwa ketika kita berada di
lingkungan keluarga?
Yang dipesankan Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat
134-135 tersebut masih relevan jika diterapkan di keluarga.
Agenda-agenda sederhana yang mendekatkan pada
ketakwaan, baiknya dijadikan agenda bersama. Biasakan di
keluarga untuk saling mengingatkan. Namun, yang lebih
efektif kita harus menjadi teladan bagi istri dan anak-anak
kita.
Kapan waktu yang tepat memasukkan nilai-nilai ketakwaan
untuk selanjutnya mengeliminasi kesia-siaan di keluarga?
Hal sia-sia yang terjadi di rumah biasanya adalah anak-anak
sering jajan sesuatu yang kurang manfaatnya. Tapi, itu
kebiasaan anak-anak lah. Pelan-pelan, kita arahkan ke hal-
hal yang lebih berguna. Biasanya, saya memberikan nasihat
setelah shalat berjamaah, sangat mengena. Atau, bisa juga
saat jalan-jalan atau rihlah. Sambil refreshing, tidak lupa
menyelipkan pesan-pesan positif yang menyegarkan.
Memang hasilnya tidak segera. Akan tetapi, terpenting
mereka mau mendengarkan terlebih dulu.
Lalu bagaimana tim Nasyid Shoutul Harokah
mengimplementasikan nilai-nilai ketakwaan dalam aktivitas
latihan, rekaman, atau penampilan di panggung?
Saya bersyukur, hobi menyanyi saya dapat tersalurkan di tim
nasyid Shouhar (Shoutul Harokah). Para personelnya adalah
aktivis dakwah, bahkan beberapa anggota ada yang memiliki
pemahaman syari’ah dan menjadi tempat bertanya serta
berdiskusi. Insya Allah, di Shouhar, kami betul-betul
memanfaatkan waktu kami dengan baik saat latihan,
rekaman, maupun saat tampil di panggung untuk hal-hal
yang bermanfaat. Mohon doanya dari pembaca MaPI.
Bagaimana pandangan Anda tentang situasi negeri ini yang
pejabatnya lebih mementingkan diri sendiri dan cenderung
menghambur-hamburkan anggaran negara?
Satu hal, ketika para pejabat atau pengelola negeri ini lebih
banyak melakukan hal yang sia-sia, maka hasilnya pun akan
sia-sia. Bahkan, kita hanya tinggal menunggu masa
kehancuran. Na’udzubillah! Para pejabat harus memberikan
contoh yang baik kepada yang dipimpinnya. Insya Allah,
seandainya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa
kepada Allah, maka keberkahan langit akan segera datang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar