Rabu, 08 Agustus 2012

orang terakhir yg keluar Neraka!?

Abu Hurairah telah menceritakan kepada Atha’
nin Yazid Al-Laitsi bahwa para sahabat telah
bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah
engkau akan melihat Tuhan kami kelak pada hari
kiamat?” Maka Rasulullah saw. balik bertanya,
“Apakah kamu sekalian merasa kesulitan melihat
bulan pada malam purnama?” Mereka
menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Rasulullah saw,
bertanya lagi, “Apakah kalian merasa kesulitan
melihat matahari yang tidak ada awan yang
menghalangi?” Mereka menjawab, “Tidak.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda,
“Seperti itulah kamu sekalian akan melihat-
Nya.” Kemudian Rasulullah saw. meneruskan
perkataaannya, “Pada hari kiamat nanti Allah
akan mengumpulkan seluruh umat manusia,
lalu Allah berfirman kepada mereka,
‘Hendaknya setiap orang mengikuti sesuatu yang
disembahnya selama di dunia.’ Oleh karena itu,
orang yang menyembah matahari mengikuti
matahari, orang yang menyembah bulan
mengikuti bulan, dan orang yang menyembah
berhala mengikuti berhala. Sedangkan orang-
orang munafik dari kalangan umat Muhammad
tetap berdiri di tempat dan tidak bergerak sama
sekali (karena yang disembah oleh mereka tidak
jelas).
Kemudian Allah mendatangi kaum muslimin
dalam wujud yang tidak dikenali oleh mereka,
seraya Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku ini
adalah Tuhanmu.’ Mendengar itu, mereka
berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah dari
bujuk rayumu, dan kami akan tetap berdiri di
tempat ini sampai datang kepada kami Tuhan
kami yang sebenarnya.’ Kemudian Allah datang
kepada mereka dalam wujud yang mereka
kenal, dan Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku
ini Tuhanmu yang sebenarnya.’ Pada saat
mereka mendengarnya dan mereka merasa
yakin bahwa itu Tuhannya, maka mereka
berkata, ‘Engkaulah Tuhan kami yang
sebenarnya.’ Setelah itu mereka mengikuti-Nya.
Kemudian Allah swt. menciptakan sebuah titian
yang membentang di atas api neraka, maka aku
–Rasulullah saw.—dan umatku menjadi umat
yang pertama menyeberangi titian itu. Pada saat
itu tidak ada seorang pun yang dapat berbicara
selain para rasul, dimana ketika itu para rasul
berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah, ya Allah,
selamatkanlah.’ Sementara di dalam neraka
Jahanam terdapat besi-besi yang melengkung
bagaikan lengkungan pancing, seperti duri
pohon Sa’dan (nama pohon yang berduri).
Kemudian Rasulullah bertanya kepada sahabat
yang hadir, ‘Apakah kalian pernah melihat duri
pohon Sa’dan?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’
Mendengar hal itu, Rasulullah saw. bersabda,
‘Seperti itulah besi-besi yang melengkung itu,
hanya saja besarnya tidak terkirakan, dan hanya
Allah yang mengetahui ukurannya. Besi-besi
inilah yang kelak akan mengait orang-orang yang
sedang meniti titian itu sesuai dengan kadar
dosa masing-masing. Dimana orang yang teguh
dengan amalnya akan selamat dari kaitannya,
sementara orang yang berdosa akan terkait
(tersangkut), tetapi akhirnya dilepaskan.
Setelah Allah selesai mengadili hamba-hamba-
Nya, dan Dia berkehendak mengeluarkan
penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka
Allah memberikan perintah kepada para
malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka yang
patut mendapat rahmat-Nya, yaitu orang yang
tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun selama hidup di dunia. Di antara orang
yang patut mendapatkan rahmat-Nya adalah
orang yang mengatakan bahwa tidak ada Tuhan
(yang patut disembah) selain Allah. Kemudian
para malaikat yang mendapat perintah itu
segera mengenali mereka, dan mereka
mengenalinya melalui tanda bekas sujud yang
ada pada kening mereka karena hanya bekas
sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan
hangus dibakar api neraka, dimana Allah telah
mengharamkan api neraka untuk membakarnya
dan menghanguskannya.
Kemudian para malaikat segera mengeluarkan
mereka dalam keadaan yang sudah pada hangus,
lalu disirankan ke tubuh mereka air kehidupan
(air pemulihan). Akibat siraman air kehidupan
itulah, akhirnya mereka tumbuh dan pulih
kembali seperti sediakala bagaikan tumbuhnya
biji-bijian setelah terjadi banjir besar (dimana
mereka tumbuh dalam keadaan masih muda
dan besar).
Setelah Allah selesai mengadili dan memvonis di
antara hamba-hamba-Nya, tiba-tiba terlihat
seseorang (yang masih tertinggal) yang sedang
mengarahkan pandangannya ke arah neraka,
dan dialah orang yang paling terakhir masuk
surga. Kemudian kepada Allah, dia memohon,
‘Wahai Tuhanku, palingkan mukaku dari neraka
karena baunya telah meracuniku, dan kobaran
apinya telah membakarku.’ Permohonan itu
diulanginya berulang kali, dan akhirnya Allah
berfirman kepadanya, ‘Seandainya Aku
mengabulkan permintaanmu ini, apakah kiranya
kamu tidak akan mengajukan permohonan yang
lain?’ Maka orang itu menjawab, ‘Tidak.’
Kemudian dia berjanji dengan sungguh-sungguh
kepada Allah bahwa dia tidak akan mengajukan
permohonan apapun lagi.
Akhirnya permohonan itu dikabulkan Allah,
dimana Allah memalingkan muka orang itu dari
neraka. Akantetapi ketika dia dihadapkan ke
arah surga dan dia menyaksikan kemegahan
yang ada di baliknya, maka dia terdiam dalam
beberapa saat, lalu dia memohon kepada Allah,
‘Wahai Tuhanku, sampaikanlah aku ke dalam
pintu surga.’ Mendengar hal itu, Allah berfirman
kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji
dengan sungguh-sungguh bahwa kamu tidak
akan memohon lagi kepada-Ku selain
permohonanmu yang telah Aku kabulkan tadi?
Celakalah kamu, wahai anak Adam, kamu telah
memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan
mengabulkan permohonanmu ini.’ Akantetapi
dia tetap memohon kepada Allah untuk
dikabulkan permohonannya, sehingga Allah
berfirman kepadanya, ‘Seandainya
permohonanmu ini Aku kabulkan, apakah kamu
tidak akan memohon yang lainnya lagi kepada-
Ku?’ Orang itu menjawab, ‘Demi kemuliaan-Mu,
sungguh aku tidak akan mengajukan
permohonan lagi.’
Kemudian Allah mengabulkan permohonannya
itu. Allah membawanya ke depan pintu surga.
Setibanya dia di depan pintu surga, Allah
membuka pintu surga itu lebar-lebar sehingga
orang itu melihat keindahan dan kebahagiaan
yang ada di dalamnya. Menyaksikan itu, orang
itu terdiam beberapa saat, lalu memohon
kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, masukanlah aku
ke dalam surga.’ Mendengar itu, Allah berfirman
kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji
bahwa kamu tidak akan mengajukan
permohonan lagi kepada-Ku setelah
permohonanmu yang tadi Aku kabulkan? Celaka
kamu, wahai anak Adam, kamu telah
memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan
mengabulkan permintaanmu itu.’
Akantetapi orang itu terus menerus memohon
kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, janganlah
kiranya hamba-Mu ini menjadi orang yang
paling celaka.’ Kemudian ia mengulang-ulang
permohonannya, sehingga hal itu menyebabkan
Allah tertawa. Allah berfirman kepadanya,
‘Masuklah kamu ke dalam surga.’ Pada saat
orang itu masuk ke dalam surga, Allah
berfirman kepadanya, ‘Sekarang angankanlah
segala keinganmu.’ Kemudian orang itu
memohon kepada Allah dengan mengajukan
berbagai macam keinginannya dan mencita-
citakan berbagai macam kenikmatan, sampai
Allah mengingatkannya kepada berbagai
menikmatan yang tidak diketahuinya. Lalu Allah
berfirman kepadanya, ‘Nikmatilah olehmu
kemewahan dan kenikmatan yang telah
disediakan ini, bahkan akan ditamabah lagi
dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.”
Atha’ bin Yazid berkata, “Ketika Abu Sa’id Al-
Kudri mendengarkan Abu Hurairah menuturkan
hadits itu, tidak ada bagian dari hadits itu yang
dipertanyakannya, selain firman Allah terhadap
orang tadi: ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan
kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan
akan ditamabah lagi dengan berbagai
kenikmatan sebanyak itu pula.’
Abu Sa’id Al-Kudri berkata, ‘Wahai Abu
Hurairah, apakah kenikmatan itu
dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat?’ Abu
Hurairah menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya
selain aku mendengarnya seperti itu dari
Rasulullah saw., dimana beliau bersabda, ‘
kemewahan dan kenikmatan yang telah
disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi
dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’
Kemudian Abu Sa’id Al-Kudri berkata, “Aku
bersumpah bahwa aku telah mendengar dari
Rasulullah saw. dimana beliau bersabda,
‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan
kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan
kenikmatan ini akan dilipatgandakan menjadi
sepuluh kali lipat dengan berbagai kenikmatan
sebanyak itu pula.’” (Hadits shahih, Shahih
Muslim nomor 182; Shahih Bukhari nomor 7437)g

Tidak ada komentar:

Posting Komentar