Selasa, 07 Agustus 2012

Tiga tahun jadi raja

negeri antah berantah, berdirilah sebuah kerajaan yang
sangat megah. Sayangnya, meski megah, jurang antara
orang kaya dan orang miskin menganga dengan lebar. Ini
karena kerajaan tersebut tidak memiliki raja yang bisa
memerintah dengan adil dan bijaksana. Kerajaan dengan
kekayaannya yang berlimpah itu hanya dikelola oleh
sejumlah pejabat dan orang-orang kaya, tanpa raja.
Rakyat yang didera kemiskinan pun lalu meminta kepada
para pejabat kerajaan untuk segera mengakhiri penderitaan
mereka. Mereka ingin agar di antara mereka ada yang
diangkat menjadi raja. Tentu saja ini konyol. Namun, di luar
dugaan, para pejabat kerajaan mengabulkan permintaan
rakyat. Dengan syarat, raja hanya memerintah selama tiga
tahun. Setelah itu, raja akan diasingkan dan dibuang ke
hutan yang banyak binatang buasnya. Tanpa berpikir lebih
panjang, rakyat pun setuju dengan kesepakatan itu.
Lalu, diadakanlah pemilihan raja. Setelah melalui proses
seleksi, terpilihlah seorang pemuda dari kalangan jelata
untuk dijadikan raja. Kepada raja itulah, segenap rakyat
menggantungkan harapan. Kiranya, kemelaratan mereka
gegas berganti menjadi kemakmuran, meski hanya tiga
tahun.
Setelah sang raja dari rakyat jelata ini diangkat secara resmi,
amanah rayat yang sungguh berat pun dibebankan
kepadanya. Dia hanya memiliki waktu tiga tahun untuk
menyejahterakan rakyatnya. Setelah itu, dia akan menjadi
santapan binatang buas. Sang raja pun mulai berpikir bahwa
ternyata dirinya hanya menjadi tumbal. Namun,
mengundurkan diri bukan langkah yang bijak. Dia sudah
kadung menjadi raja, bahkan beberapa fasilitas sebagai raja
sudah terpampang di depannya. Makanan enak, pakaian
bagus, perhiasan mewah, dan para selir yang cantik.
Tidak mau dijadikan makanan binatang buas, sang raja pun
berpikir dan mengambil langkah taktis. Di benaknya, sudah
tidak terpikir lagi bagaimana menyejahterakan rakyat. “Ah,
aku hanya tiga tahun menjadi raja sebelum akhirnya jadi
santapan binatang buas. Lebih baik, aku nikmati saja masa
menjadi raja. Segala kemewahan ini lebih baik aku nikmati
sepuas-puasnya,” begitu dalam benak sang raja.
Tiga tahun berlalu dan sesuai kesepakatan, raja tersebut pun
dibuang ke sebuah hutan dan menjadi santapan nikmat para
binatang buas di sana. Pendaftaran sebagai raja pun kembali
dibuka oleh para pejabat kerajaan. Rakyat tidak lagi berani
mengajukan calon. Berkaca pada pengalaman pertama,
membuat mereka trauma. Para pejabat pun senang bukan
kepalang dengan strategi yang telah berjalan lancar tersebut.
Sampai pada satu hari, datanglah seorang pemuda
mengajukan diri sebagai raja. Tidak satu pun rakyat yang
mengenal anak muda ini. Para pejabat kerajaan pun meneliti
pemuda tersebut dengan saksama. Setelah itu, pejabat
kerajaan meluluskan permintaan pemuda tersebut dengan
terlebih dulu menjelaskan syarat yang telah ditetapkan. Anak
muda itu pun menyanggupinya. Para pejabat kerajaan
tertawa senang karena merasa strateginya berhasil.
Sementara itu, rakyat merasa cemas dan banyak yang
pesimis.
Raja muda tersebut sadar bahwa waktunya sebagai raja
hanya tiga tahun. Selama kurun waktu tersebut, raja muda
ini rupanya telah menyiapkan beragam rencana. Dia tidak
larut dan hanyut dengan fasilitas kerajaan. Dia malah
membina hubungan baik dengan prajurit yang dipilihnya
sendiri. Prajurit itu berjumlah sepuluh orang dan benar-
benar setia kepadanya. Kepada sepuluh prajurit
kepercayaannya inilah, sang raja memerintahkan segenap
rencana yang ada di kepalanya.
“Wahai prajurit-prajurit setiaku, aku perintahkan kepada
kalian agar sedapat mungkin di tahun pertama aku menjadi
raja ini, kalian melaksanakan perintahku yang satu ini. Kalian
kuperintahkan untuk membabat habis hutan tempat
pembuangan raja, lalu bunuhlah semua binatang buasnya!”
Perintah tersebut diterjemahkan dengan baik. kesepuluh
prajurit kepercayaan raja itu langsung melakasanakan
perintah tanpa diketahui oleh para pejabat kerajaan. Setahun
kemudian, para prajurit datang menghadap dan melaporkan
bahwa hutan dan binatang buasnya sudah mereka
lenyapkan.
Sang raja tentu saja puas. Dia lalu mengutarakan misinya
yang kedua di tahun kedua usia jabatannya. “Sekarang,
bangunlah sebuah kerajaan yang lebih megah dari kerajaan
ini. Berapa pun harta yang dibutuhkan, akan aku berikan.
Kelak, di kerajaan baru itu, aku akan mengangkat kalian
menjadi pejabat tinggi.”
Kesepuluh prajurit itu pun pamit untuk melaksanakan titah
raja. Setahun berlalu, mereka datang kembali dan
melaporkan bahwa yang telah diperintahkan sudah
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Angkut dan bawalah rakyat yang mencintaiku ke kerajaan
baru. Bangunlah permukiman penduduk di sana. Setahun
lagi aku akan datang kepada kalian,” sang raja muda
membeberkan rencananya yang ketiga.
Perintah itu pun dilaksanakan. Kerajaan baru dan megah
telah berdiri dengan banyak orang berduyun-duyun untuk
menjadi warga kerajaan baru itu.
Ketika masa jabatan habis, para pejabat kerajaan lalu
membuang raja muda itu ke hutan yang dulu penuh
binatang buas. Namun, mereka terbelalak ketika hutan
tersebut telah berubah menjadi sebuah kerajaan yang
bahkan lebih megah dari kerajaan mereka. Alih-alih
menemui ajalnya, sang raja muda disambut meriah oleh
rakyatnya yang kini hidup sejahtera sesuai impiannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar