Selasa, 07 Agustus 2012

Matinya laut mati

“Kaum Luth telah mendustakan peringatan itu. Sungguh
Kami kirim pada mereka badai batu, kecuali keluarga Luth,
yang Kami selamatkan di waktu sahur.” (Q.S Al-Qamar [54]:
33-34)
Kalau kita naik mobil dari Amman – ibukota Jordania – ke
Jerusalem, di tengah perjalanan atau lebih tepatnya di KM 37
ada sebuah persimpangan. Jika belok ke kiri, kita akan
menemui jalan yang terus menurun sepanjang 10 km. Dan,
sampailah kita pada tempat paling rendah di muka bumi,
minus 423 m di bawah permukaan laut. Di sini, terbentang
danau yang saking luasnya disebut laut dan dinamakan
Bahrul Mayyit atau Laut Mati.
Disebut demikian karena di danau ini tidak ada kehidupan
sama sekali akibat kadar garam yang sangat pekat, yakni
33,7% atau hampir 10 kali lebih asin dari air laut lain. Hal ini
juga yang membuat orang bisa terapung walau tidak pandai
berenang. Posisinya sebagai tempat terendah di bumi
menyebabkan sinar ultra violet matahari harus menembus
lapisan udara hampir setengah kilometer sebelum sampai ke
kulit kita. Maka, berjemur di sini lebih aman dibandingkan
pantai-pantai lain. Apalagi lumpurnya mengandung mineral
magnesium chlorida, sodium, potassium, dan lain-lain yang
baik untuk kesehatan kulit. Pantas kiranya jika sejak ribuan
tahun lalu, Laut Mati menjadi favorit tempat beristirahat
para raja sekelas Herodes dan Cleopatra.
Daerah ini juga menjadi pentas sejarah beberapa Nabi,
seperti Musa, Daud, dan Luth. Di ujung selatan danau, ada
perbukitan dengan bebatuan kapur. Salah satunya dipercaya
sebagai istri Nabi Luth yang dikutuk menjadi batu karena
menolak meninggalkan kota Sodom yang merupakan pusat
kaum homoseksual.
Tapi sayang, volume Laut Mati ini menyusut 30 cm setiap
tahun akibat penguapan air. Hal ini diperparah dengan
berkurangnya pasokan air dari sungai Jordan yang
mengalirkan air dari danau Galilea. Memang, air sungai
Jordan banyak dimanfaatkan penduduk setempat untuk
keperluan pertanian, industri, dan rumah tangga. Para ahli
memperkirakan bahwa Laut Mati akan kering pada 2050.
Setelah itu, kita hanya akan melihat lahan gersang yang
pernah menjadi lokasi Laut Mati yang sudah mati. Namun
tetap, Laut Mati akan menjadi peringatan tentang murka
Allah pada perilaku homoseksual. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar