Rabu, 08 Agustus 2012

Sedekahnya Wanita

Pernahkah Anda berdagang mendapat
keuntungan sepuluh kali lipat? Alangkah bodohnya kita jika
menolak mendapat keuntungan tujuh ratus kali lipat!
Keshahihan transaksi itu Rasulullah saw. sendiri yang
menjamin. “Barangsiapa yang menafkahkan hartanya untuk
membantu peperangan di jalan Allah, maka akan
dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus,” begitu kata
Rasulullah saw. (Tirmidzi, hadits nomor 1625)
Karena itu tak datang kepada Rasulullah saw. seorang lelaki
dengan membawa seekor untanya, seperti yang diceritakan
Abu Mas’ud Al-Anshari r.a. Ia berkata, “Ada seorang lelaki
datang kepada Rasulullah saw. dengan menuntun seekor
unta yang dilubangi hidungnya. Kemudian ia berkata, ‘Unta
ini saya pergunakan untuk berperang di jalan Allah, wahai
Rasulullah.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Kamu akan
mendapatkan tujuh ratus unta semisal itu pada hari kiamat,
semua dilubangi hidungnya.’” (Muslim, hadits nomor 3508)
Sungguh ini kabar gembira dari Rasulullah saw. Apa yang
kita sedekahkan di jalan Allah, kita akan mendapat gantinya
hal serupa tujuh ratus kali lipat. Jika kita wakafkan satu
rumah untuk majelis taklim, Allah swt. akan mengembalikan
700 rumah kepada kita. Jika kita wakafkan sebuah mobil
Kijang Inova, Allah swt. akan membalas dengan 700 mobil
Kijang Inova semisal yang kita wakafkan.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
dengan sebutir benih yang menunbuhkan tujuh tangkai;
pada setiap tangkai seratus butir. Allah melipatgandakan
(ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah
Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-
Baqarah: 261)
Begitulah janji Allah kepada orang yang berinfak dengan niat
yang ikhlas karena Allah swt. semata. Dan infaknya pun
disalurkan kepada tempat yang benar, kepada orang-orang
yang berhak. Rasulullah saw. mengajarkan perihal ini kepada
para sahabatnya. Bahkan, kepada Bilal yang termasuk
kalangan sahabat yang fakir secara finansial. “Wahai Bilal,
berinfaklah! Jangan takut kekurangan dari Dzat yang
mempunyai langit,” demikian sabda Rasulullah saw. (Shahih
Al-Jami, hadits nomor 1612)
Jika Bilal yang miskin saja Rasulullah saw. menganjurkan
berinfak, bagaimana dengan sahabat yang berpunya?
Anjuran berinfak bukan saja kepada kaum lelaki. Rasulullah
saw. bahkan berwasiat khusus kepada kaum wanita. Saat
bertemu dengan Asma’, Rasulullah saw. berkata,
“Berinfaklah dan janganlah kamu menghitung-hitung
hartamu, karena Allah juga akan menghitung-hitung rezeki-
Nya untukmu. Dan janganlah engkau bakhil dengan
hartamu, karena Allah juga akan bakhil
kepadamu.” (Bukhari, hadits nomor 2420)
Pada kesempatan lain, saat usai shalat Idul Adha di sebuah
tanah lapang, Rasulullah saw. berseru, “Wahai manusia,
bersedekahlah kalian!” Kemudian beliau menuju ke tempat
para wanita dan bersabda, “Wahai para wanita,
bersedekahlah kalian semua, karena aku telah melihat
banyak penghuni neraka adalah dari golongan kalian.”
Mereka berkata, “Ya Rasulullah, mengapa hal itu bisa
terjadi?” Rasulullah saw. menjawab, “Karena kalian sering
melaknat dan mengingkari pemberian suami. Aku tidak
pernah melihat golongan yang lemah akal dan agamanya,
namun dapat menghilangkan kejernihan akal seorang lelaki
yang teguh selain dari kalian, wahai para wanita.”
Setelah mendengar anjuran itu, para wanita itu segera
melepas anting-anting dan cincin mereka. Para shahabiyah
itu bersegera menunaikan anjuran Rasulullah saw.
Bersedekah.
Kemudian Rasulullah saw. pergi. Sesampai di rumah,
datanglah Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud. Ia meminta izin
untuk bertemu. Salah seorang istri beliau pun berkata,
“Wahai Rasulullah, ini ada Zainab.” Kemudian Rasulullah
saw. bertanya, “Zainab siapa?” “Zainab istri Abdullah bin
Mas’ud,” jawab istri beliau. Rasulullah saw. berkata, “Izinkan
ia masuk.”
Setelah masuk, Zainab berkata, “Wahai Nabi Allah, hari ini
Engkau telah menyuruh kami untuk bersedekah, dan aku
mempunyai perhiasan yang ingin aku sedekahkan, namun
Ibnu Mas’ud beranggapan bahwa ia dan anak-anaknya yang
lebih berhak menerima sedekahku.” Rasulullah saw.
bersabda, “Ibnu Mas’ud benar. Suamimu dan anak-anakmu
adalah orang-orang yang paling berhak menerima
sedekahmu.” (Tirmidzi, hadits nomor 664)
Begitulah para wanita di zaman Rasululllah saw. Mereka
selalu bersegera jika melihat peluang untuk beramal dan
berbuat kebajikan. Tidak berpikir dua kali. Sungguh beda
dengan kita. Meski setiap hari melihat korban bencana di
televisi dan membaca berita bayi-bayi menderita busung
lapar di koran, semua itu tidak menggerakkan tangan kita
untuk mengulurkan bantuan. Masih asyik dengan hobi kita
bershopping ria ke mall-mall.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar