Syarat kedua agar seseorang bisa merasakan nikmatnya
iman adalah rela Islam sebagai agama. Islam itu sendiri
bermakna kepasrahan kepada Allah dengan penuh kerelaan.
Orang yang ber-Islam adalah orang yang tunduk. Akan
tetapi, bukan sembarang tunduk melainkan tunduk kepada
Allah Swt. semata. Ketundukan kepada sembarang pihak
atau sembarang tuhan bukanlah Islam.
Ketundukan dan kepasrahan adalah sesuatu yang Allah
kehendaki dari manusia dalam rangka menguji kita.
“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk
menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik
amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” (Q.S. Al-Mulk [67]: 2)
Allah menciptakan kehidupan dengan satu paket sistem atau
tata aturan yang terintegrasi. Ada sistem yang berlaku pada
tubuh manusia secara personal. Tumbuh kembang manusia
dan metabolisme tubuh, misalnya, tunduk pada sistem ini.
Ada sistem yang berlaku pada tubuh binatang. Ada sistem
yang berlaku pada tetumbuhan. Ada sistem yang berlaku
pada tatasurya. Dan ada sistem yang mengatur dan
mensinerjikan antar segala anggota alam semesta kesuluran.
Dan semuanya dirancang oleh-Nya dengan begitu
sempurna.
Tentang sistem yang berlaku pada bumi dan dan sekaligus
secara spesifik pada manusia, Allah berfirman, “Dan di bumi
itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang
yang yakin; Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah
kamu tiada memperhatikan?” (Q.S. Ad-Dzariyat [51]: 20-21)
Tentang sistem yang berlaku pada tetumbuhan, firman-Nya:
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan,
dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon
kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami
dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-
tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Ra’d
[13]: 4)
Tentang sistem yang berlaku di alam semesta, Allah
berfirman: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain
selain (agama) Allah? Padahal kepada-Nyalah tunduk segala
apa yang ada di langit dan di bumi baik secara suka maupun
secara terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka
dikembalikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 83)
Semua ayat itu menegaskan tentang adanya sistem yang
mengendalikan kehidupan alam semesta pada umumnya
dan manusia pada khususnya. Nah, bagian dari paket aturan
itu adalah aturan yang mengatur bagaimana seharusnya
manusia bersikap kepada Sang Pencipta, kepada sesama
manusia, dan kepada alam semesta. Itulah agama Islam.
Jika demikian, wajar awal ayat itu mengemukakan
pertanyaan retoris “Maka apakah mereka mencari agama
lain selain (agama) Allah?”
Makanya jaminan kebahagian manusia dalam kehidupan di
dunia dan juga akhirat adalah ketundukan kepada Allah
sebagai muslim. Dengan tunduk kepada Allah Swt. maka
manusia hidup dalam harmoni dengan seluruh anggota
alam semesta yang senantiasa tunduk kepada-Nya. Dengan
harmoni itulah hadir kebahagian, rasa takut sirna, dan
kesedihan pun hilang.
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan
diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan, maka
baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 112)
Kerelaan kita kepada Islam sebagai agama harus ditunjukkan
dengan kesiapan kehidupan kita diatur oleh Islam, dalam
segala aspeknya. Bukankah kita tidak pernah protes kepada
siapa pun tentang sistem kerja tubuh kita? Kita patuh saja
ketika perut menuntut makanan. Dan kita pun tidak pernah
melakukan perlawanan ketika kita harus “ke belakang” untuk
membuang apa yang seharusnya dibuang. Kita tidak pernah
membangkang saat tubuh kita menghendaki tidur dan
istirahat. Dan, kita hanya menikmati saja saat ada orang
memperhatikan, membela, dan mencintai diri kita.
Kita tidak pernah memprotes berlakunya segala tata aturan
di alam semesta. Kita tidak memprotes proses yang terjadi
pada tetumbuhan: bermula dari benih kecil yang terus
bertumbuh dan kemudian pada akhirnya berbuah. Kita tidak
pernah berusaha menghentikan terbitnya matahari dari
sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kita rela
semua itu terjadi.
Seperti kerelaan itulah hendaknya kerelaan jiwa kita untuk
tunduk kepada Allah dan diatur oleh Islam. Kerelaan yang
tanpa reserve. Kerelaan tanpa pilih-pilih.
Mengapa ada orang yang merasa begitu berat dan kesulitan
untuk mengukuti ajaran Islam dalam hal tata cara makan
dan minum. Misalnya bahwa sebelum makan dan minum
dianjurkan melafalkan basmalah. Makan dan minum
menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan
kiri, karena–kata Rasulullah Saw.-setan makan dan minum
dengan tangan kirinya. Makan dan minum dianjurkan sambil
duduk. Memulai dengan tangan kanan saat mengenakan
baju dan kaki kanan saat mengenakan celana atau sandal/
sepatu. Dan, berbagai tuntunan lainnya yang kalau diikuti
maka segala yang kita kerjakan menjadi bernilai ibadah.
Tidak sulit, bukan? Tapi, nyatanya ada orang yang tidak suka
terikat dengan tuntunan itu. Padahal, dia dengan suka rela
dan senang hati mengikuti segala yang dijarkan di sekolah
“kepribadian”. Dari mulai cara berjalan, cara duduk, cara
jongkok, posisi kaki saat berdiri, cara makan dan minum,
dengan tangan mana memegang sendok, garpu, dan pisau,
serta pernak-pernik lainnya. Padahal, semua aturan yang
rigid itu hanyalah aturan yang dimaksudkan agar orang yang
mematuhinya mendapatkan penerimaan di kalangan orang-
orang dan tidak disebut kampungan atau dianggap tidak
tahu tatakrama.
Itu contoh sederhana tentang ajaran Islam. Tentu saja Islam
tidak hanya mengatur urusan personal dan hal sederhana
seperti makan minum itu. Islam juga menuntun manusia
dalam hal tatacara berpakaian, batas-batas aurat yang harus
ditutupi dan tidak boleh dipamerkan. Dahulu, para wanita
yang hidup pada masa Rasulullah Saw. dengan sukarela
menutup aurat mereka begitu mereka mendengar ayat Allah
tentang kewajiban menutup aurat dibacakan.
Alhamdulillah, di zaman sekarang kita menyaksikan semakin
banyak orang rela menyesuaikan diri dalam hal berpakaian
dengan aturan Islam. Mereka mengenakannya dengan
penuh percaya diri ke segala ranah yang mereka masuki;
dunia profesi, sosial, bahkan dunia seni dan budaya.
Alhamdulillah.
Kita juga rela Islam sebagai pengatur urusan harta kita, baik
terkait dengan cara mencarinya atau membelanjakannya.
Kita rela untuk tidak melakukan kecurangan dan
penyimpangan dalam bisnis dan usaha apa pun. “Supaya
harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya
saja di antara kamu.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)
Dalam urusan politik, Islam juga mempunyai aturan. Dan,
kita rela serta menerima dan senang hati. Politik dalam
Islam adalah segala upaya untuk menghadirkan
kemaslahatan bagi manusia, mendekatkan mereka kepada
Sang Pencipta dan menjauhkan mereka dari segala
keburukan.
Tesis Lord Acton yang menyatakan, “Kekuasaan cenderung
korup dan kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara
mutlak” tidaklah sepenuhnya salah, tapi jelas tidak sejalan
dengan semangat politik Islam. Karena seperti apa corak
kekuasaan bergantung seperti apa watak orang yang
mengelolanya. Jika pemegang kekuasaan itu orang yang
beriman, jujur, adil, dan amanah, bahkan dia akan menjadi
satu dari tujuh orang yang mendapatkan perlindungan di
hari akhirat. Luar biasa, bukan?
Akan tetapi, kerelaan kita jangan pilih-pilih. Jangan terjadi
kita rela bagian Islam tertentu karena ia menguntungkan
bagi diri kita. Sedangkan bagian lain kita tolak karena
dianggap tidak menguntungkan. “Adakah kalian mengimani
sebagian kitab dan menolak sebagian yang lain? Maka
tiadalah balasan bagi orang yang melakukan hal itu selain
kehinaan di dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat
dikembalikan kepada siksaan yang paling dahsyat.” (Q.S. Al-
Baqarah [2]: 85).
Jangan pilih-pilih karena sesungguhnya seluruh ajaran Islam
menguntungkan manusia. Bahwa kita melaksanakan Islam
secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang ada pada
kita, adalah sah. Yang paling penting kita rela hidup diatur
dengan aturan Islam dan kita yakin. “Pada hari ini telah aku
sempurnakan untukmu agamamu dan telah aku
sempurnakan (pula) nikmat (dari)-Ku untukmu, dan telah
Aku ridhoi bagimu Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al-
Maidah [5]: 3). Allahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar