Rabu, 08 Agustus 2012

Bencana : ujian atau azab?

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang melakukan
dengan terang-terangan berupa riba dan zina,
melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan
azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Cobaan dan ujian adalah sunnatullah yang Allah
‘berlakukan’ terhadap hamba-hamba-Nya di muka
bumi. Ada beberapa gambaran mengenai hal ini dari
Alquran dan hadits. Setidaknya seperti berikut.
1. Cobaan dan ujian adalah sarana untuk
mengungkap keimanan seseorang; apakah ia benar-
benar beriman atau tidak.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah
beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang
dusta .” (Al-Ankabut: 1-3)
2. Cobaan dan ujian merupakan hakikat dari
kehidupan manusia di dunia.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala
kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun . (Al-
Mulk: 1-2)
3. Cobaan dan ujian alat introspeksi diri dan pelajaran
agar manusia dapat lebih baik dalam beribadah
kepada Allah swt.
Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya,
lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka
lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim .
(Al-Qashas: 40)
4. Cobaan dan ujian sebagai sarana peningkatan
ketakwaan seseorang kepada Allah swt.
Dari Sa’d bin Abi Waqash, aku bertanya kepada
Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab,
“Para nabi, kemudian orang-orang yang seperti para
nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka.
Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya.
Jika keimanannya kokoh, maka akan semakin berat
cobaannya. Namun jika keimanannya lemah, maka ia
akan diuji berdasarkan keimanannya tersebut. Dan
cobaan tidak akan berpisah dari seorang hamba
hingga nanti ia meninggalkannya berjalan di muka
bumi seperti ia tidak memiliki satu dosa pun. (HR.
Turmudzi).
5. Cobaan dan ujian merupakan salah satu bentuk
cinta Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Besarnya suatu pahala adalah tergantung dari
besarnya ujian dari Allah. Dan sesungguhnya Allah
swt. apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji
mereka. Jika (dengan ujian tersebut) mereka ridha,
maka Allah pun memberikan keridhaan-Nya. Dan
siapa yang marah (tidak ridha), maka Allah pun
marah terhadapnya.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)
Bencana Alam: Antara Ujian dan Azab
Ketika bencana datang dan menimbulkan korban dan
kerugian yang besar –seperti gempa dan tsunami di
Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta– sering
muncul pertanyaan: musibah ini azab atau cobaan
dari Allah?
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-
ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu
kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah
timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka
kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan
ujian bagi kaum yang beriman; supaya mereka lebih
dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.
Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah
dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan
kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau
beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab
kepada mereka berupa banjir yang sangat besar.
Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang
dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).
Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat
anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau
memanggilnya. Namun sang anak tidak mau
mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian
Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya
karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh :
45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi
Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk
keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada
Allah swt.
Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang
Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena
keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi
yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan
sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang
mengikuti Nabi Nuh.
Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan
ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri
dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak
kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43).
Orang tua mana yang tega melihat anaknya
meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia
aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan
yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan
bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.
Sebab-sebab Terjadinya Bencana
Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang
musibah dan bencana yang menimpa orang-orang
terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar
yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh
Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan
keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt.
Silakan simak beberapa data di bawah ini.
Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan
dengan banjir yang sangat dahsyat, yang
tinggi gelombangnya sebesar gunung
(Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun
yang tersisa melainkan yang berada di atas
kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan
dengan gempa bumi yang dahsyat.
Sampai-sampai Alquran menggambarkan
seolah-olah mereka belum pernah
mendiami kota tempat yang mereka
tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota
mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan
hujan batu. Alquran menggambarkan,
bangunan-bangunan tinggi hasil
peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata
dengan tanah (Hud: 82).
Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh),
juga Allah hancurkan dengan gempa.
Mereka mati bergelimpangan di dalam
rumah mereka sendiri (Hud: 67).
Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh
Allah dengan ditenggelamkan ke dalam
lautan hingga tidak satu pun yang tersisa
(Al-A’raf: 136).
Karun beserta pengikutnya, Allah
benamkan mereka ke dalam bumi
sehingga kekayaannya sedikitpun tidak
tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada
Allah swt. (Al-Qashash:81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau
musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu,
penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur,
ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab
yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan
manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum:
41-42).
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali
(ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan
di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan
dari mereka itu adalah orang-orang yang
mempersekutukan (Allah).”
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang
berbicara mengenai bencana atau azab yang
menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
Penyebab terjadi azab atau musibah
adalah lantaran mendustakan ayat-ayat
Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan
membukakan pintu-pintu keberkahan baik
dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf:
96)
Penyebab terjadinya bencana atau
musibah adalah lantaran manusia
menyekutukan Allah dengan sesuatu
(baca: syirik), seperti mengatakan bahwa
Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah
mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya
kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang
sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah
karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-
gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah
Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam:
91)
Allah timpakan bencana kepada kaum
yang tidak mau memberikan peringatan
kepada orang-orang dzalim di antara
mereka.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak
khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di
antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat
keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)
Dalam hadits juga digambarkan bahwa
azab dan bencana itu bisa bersumber dari
kemaksiatan yang akibatnya dirasakan
secara sosial. Di antaranya adalah
perbuatan zina dan riba.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan
dengan terang-terangan berupa riba dan zina,
melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan
azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang
memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya
musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di
atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana
selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh
manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya
praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri
nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan
menyekutukan Allah.
Karena itu, atas semua musibah dan bencana yang
tengah kita alami saat ini, seharusnya kita mawasdiri:
apakah ini azab akibat kemaksiatan yang kita lakukan,
ataukah cobaan untuk meningkatkan ketakwaan kita?
Yang pasti, tidak ada waktu lagi bagi kita untuk tidak
segera bertaubat. Jangan sampai menunggu bencana
yang lebih besar kembali datang memusnahkan kita.
Ketika bencana itu datang, tak ada lagi kata taubat
diterima!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar