Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Mengecap rasanya iman
orang yang rela kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai
agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (H.R. Muslim)
Konsekuensi lain dari keimanan kita kepada Allah adalah rela
atau ridho Muhammad Saw. sebagai utusan Allah
(Rasulullah). Lalu, bagaimana kita membuktikan kerelaan
atas Muhammad sebagai Rasulullah tersebut? Di antara hal-
hal penting mewujudkan hal itu adalah sebagai berikut.
Pertama, yang harus ada dalam hati kita adalah perasaan
ridho bahwa Allah menyampaikan ajaran-Nya kepada
manusia dengan menggunakan wasilah (perantara) seorang
rasul. Allah Swt. tentu saja Mahamampu dan Mahakuasa
menurunkan ajaran, perintah, dan larangan-Nya kepada
setiap manusia secara langsung. Namun, itu tidak dilakukan-
Nya dan Dia memilih mengutus rasul dari kalangan manusia
sebagai penyampai pesan-pesan-Nya kepada manusia.
Tentu saja, ada banyak hikmah dari pilihan atau kehendak
Allah tersebut. Di antaranya, dikemukakan oleh Ustadz Sa’id
Hawwa dalam bukunya Ar-Rasul. Beliau mengatakan tidak
semua manusia memiliki kesiapan untuk berinteraksi dengan
alam gaib. Berinteraksi dengan alam gaib memerlukan
kelayakan dan persiapan khsusus. Faktanya, Allah
menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-
beda dan kesiapan yang beragam, baik dari sisi fisik maupun
mental, dalam mengemban amanah. Tentang hal itu, Allah
Swt. menjelaskan,
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Quran ini tidak
diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negri
(Mekkah dan Taif) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi
rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami
telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang
lain beberapa derajat agar sebahagian mereka dapat
mempergunakan sebahagian yang lain. Dan, rahmat
Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 31-32)
Hikmah lain diutusnya Rasul dan bukannya Allah
menyampaikan titah kepada setiap orang satu persatu
secara langsung adalah ketaatan kepada sang utusan
dijadikan-Nya sebagai salah satu esensi ibadah dan batu
ujian kepatuhan manusia kepada Allah Swt. Firman-Nya,
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu,
melainkan mereka sungguh memakan makanan dan
berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu
cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?;
dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (Q.S. Al-Furqan [25]:
20)
“Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari
manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 75)
Kedua, rela bahwa Allah telah memilihkan untuk kita rasul
yang tepat. Pilihan kepada Muhammad bin Abdillah sebagai
utusan Allah adalah tepat dan sempurna dari tinjuan apa
pun. Jangan ada keraguan sedikit pun tentang ini. Beliau
adalah orang yang tepat, baik dari sisi personalnya,
keluarganya, atau kabilahnya. Tepat pula bahwa sang rasul
terakhir yang dipilih itu dari dataran Arabia. Dan tepat pula
bahwa rasul yang dipilih itu berbahasa Arab. Dari sisi apa
pun tepat, tidak ada kesalahan alamat dan tidak ada
kekeliruan dalam pemilihan itu. Semuanya sempurna.
Karena memang Dialah yang Mahatahu kepada siapa
kerasulan seharusnya diamanahkan. Allah Maha Mendengar
dan Maha Melihat, maka segala pilihannya pasti benar dan
tepat.
“…Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas
kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa
kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan
mereka selalu membuat tipu daya.” (Q.S. Al-An’am [6]:
124)
Pilihan Allah itu telah dipersipakan sedemikian rupa. Allah
Swt. memang mengangkat Muhammad sebagai nabi dan
utusan Allah pada saat usia beliau empat puluh tahun. Akan
tetapi, proses pemilihan tersebut sudah dirancang jauh-jauh
hari sebelumnya yang hanya Dialah yang tahu waktu
persisnya. Buktinya, sejak Muhammad berusia dini, telah
terjadi irhashat pada dirinya. Irhashat adalah kejadian di luar
kebiasaan yang memberi isyarat tentang adanya kekuatan
dan kekuasaan di luar kekuatan dan kekuasaan manusia.
Sebagai contoh, saat Muhammad kecil dalam pengasuhan
Halimah, tiba-tiba saja kambing-kambing milik keluarga
Halimah mengeluarkan susu yang sangat banyak. Padahal,
sebelumnya mereka sudah putus asa karena kambing-
kambing itu tidak bisa mengeluarkan susu. Pernah juga
dalam perjalanan menuju Syam bersama Abu Thalib, tiba-
tiba ada awan yang menutupi teriknya matahari sehingga
Muhammad kecil berjalan di bawah teduhnya awan. Dan,
masih banyak lagi contoh-contoh irhashat lainnya. Semua
itu menunjukkan bahwa rencana Allah memilih Muhammad
sebagai rasul terakhir sudah ada jauh sebelum
diturunkannya wahyu yang mengukuhkan beliau sebagai
nabi dan rasul.
Ketiga, rela Muhammad Saw. sebagai pembawa risalah dari
Allah Swt. dan rela untuk menaati segala yang diajarkannya.
Pemilihan Muhammad sebagai utusan Allah adalah pilihan
sempurna, maka kita pun rela menerima segala yang
diajarkannya dan meyakini bahwa semua yang disampaikan
kepada manusia adalah kebenaran.
Ajaran yang disampaikan oleh Muhammad Saw. bukanlah
dari hawa nafsunya, melainkan bersumber dari Allah Swt.
Karena, beliau tidaklah berbicara berdasarkan dorongan-
dorongan atau kepentingan-kepentingan pribadi. Allah Swt.
menegaskan,
“Demi bintang ketika terbenam; kawanmu (Muhammad)
tidak sesat dan tidak pula keliru; dan tiadalah yang
diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya); yang diajarkan kepadanya oleh
(Jibril) yang sangat kuat.” (Q.S. An-Najm [53]: 1-5)
Dan, sikap seorang mukmin terhadap segala titah dan
putusan Allah Swt. tersebut adalah seperti yang
digambarkan dalam ayat berikut ini.
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam
perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan
yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 65)
Rasulullah Saw. sendiri menegaskan,
“Tidaklah seseorang di antara kalian beriman hingga hawa
nafsunya menjadi pengikut terhadap apa yang
kubawa.” (H.R. Imam An-Nawawi)
Keempat, rela Muhammad Saw. sebagai teladan. Kerelaan
kita kepada Nabi Muhammad sebagai teladan ditunjukkan
dengan cara berusaha meneladani segala yang dilaksanakan
dan diperintahkannya. Sungguh merupakan karunia yang
luar biasa karena Allah menurunkan utusan untuk menjadi
teladan adalah manusia seperti kita dan bukannya malaikat.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)
Keteladan Nabi Muhammad Saw. sangatlah penting bagi
umat manusia. Dengan keteladan, kita yakin bahwa yang
diajarkan adalah benar. Rasulullah Saw. adalah orang yang
pertama melaksanakan yang diajarkannya. Ketika beliau
mengajarkan dan melaksanakan apa yang diajarkannya,
maka tahulah kita bahwa yang diajarkan adalah benar,
bermanfaat, tidak merugikan, dan tidak menyengsarakan.
Maukah kita mengikuti perkataan seseorang yang dia sendiri
tidak melaksanakannya?
Manfaat lain dari keteladan adalah yakin bahwa yang
diajarkan itu berada dalam jangkauan kemampuan manusia
(untuk melaksanakannya). Ajaran tersebut bukan sesuatu
yang tidak mungkin dilakukan. Rasulullah Saw. adalah
manusia biasa. Jika beliau bisa dan mampu melaksanakan
segala ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt., maka kita
sebagai umatnya juga pasti bisa melakukannya. Bayangkan,
seandainya yang menjadi teladan adalah malaikat. Niscaya,
manusia akan berkata, “Pantas saja dia bisa melakukannya
karena dia malaikat sedangkan kita manusia.”
Manfaat keteladanan selanjutnya adalah bahwa hal tersebut
menjadikan pelaksanaan ajaran-ajaran Islam menjadi
mudah. Ketika Rasulullah Saw. mempraktikkan shalat, para
sahabatnya dengan mudah mengikuti. Dan, perbuatan itu
telah mewakili jutaan kata-kata. Bukankah anak-anak kita
pun lebih mudah meniru perilaku ketimbang mengikuti kata-
kata kita?
Persoalan iman adalah persoalan keridhoan atau rela
sebelum persoalan kemampuan melaksanakan. Oleh karena
itu, pastikan bahwa jiwa kita meridhoi Allah sebagai Rabb,
meridoi Islam sebagai din, dan meridhoi Muhammad Saw.
sebagai utusan-Nya. Setelah itu, teruslah kita berusaha dan
berjuang untuk melaksanakan tuntunan-tuntunan-Nya
seoptimal mungkin. Wallahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar