“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Tuhan Yang Mahahidup,
Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, serta tidak
mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit
dan bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah
tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan dan
apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui
apa pun tentang ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-
Nya. Kursi Allah (kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi.
Dia tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia
Mahatinggi lagi Mahabesar”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 255)
***
Kata kursi umumnya dimaknai sebagai tempat duduk. Akan
tetapi, dalam skala luas, kata kursi menempati kostelasi
tersendiri seiring dengan rekonstruksi makna kursi sebagai
tempat duduk. Pada zaman awal peradaban manusia, duduk
dilakukan oleh orang pada objek yang tersedia di alam,
seperti di atas batu atau batang pohon yang tumbang yang
merefleksikan persahabatan antara manusia dan
lingkungannya. Di zaman kerajaan, kursi mulai digunakan
sebagai simbol legimitasi kekuasaan. Pada zaman itu, kursi
dibuat semewah mungkin sehingga hanya raja dan orang-
orang berkuasa yang berhak duduk di atasnya. Para abdi
atau bawahan cukup duduk di lantai, sementara para prajurit
atau penggawa kerajaan lainnya cukup dalam posisi berdiri.
Betapa pentingnya persoalan kursi ini sehingga Al-Quran
secara khusus membahasnya dalam ayat yang populer
disebut sebagai Ayat Kursi. Tentu saja, kata kursiyun yang
terdapat dalam ayat tersebut mengacu pada makna simbolik
kursi dalam konteks yang berbeda. Isyarat lain bisa kita
tangkap jika merujuk pada makna kursi dalam ayat tersebut
notabene hanya milik Allah. Ya, dalam ayat tersebut
dijelaskan bahwa “kursi” kekuasaan semuanya hanya milik
Allah. Dan, “kursi” yang saat ini dimiliki sebagian kecil
manusia, semata-mata adalah pemberian Allah dan
hendaknya ketika duduk di “kursi” itu, manusia tetap berpijak
pada ayat kursi (dan ayat-ayat lain yang semakna, tentunya).
Jangan sampai, mereka yang tengah duduk di “kursi”
pemberian Allah, terkena olok-olok sebagian orang yang
mengatakan, “Mencari ‘kursi’ dengan membawa-bawa ayat
kursi, tapi setelah ‘kursi’ itu didapat, ayatnya dengan serta
merta dilipat.”
Agar tidak keliru dalam menjadikan ayat kursi sebagai
pijakan dalam menduduki “kursi” kekuasaan atau “kursi”
kehidupan, perlu kiranya mengulas bagaimana kandungan
ayat kursi ini sebagaimana diuraikan oleh para ahli tafsir.
Ibnu Katsir mengawali pembahasan ayat kursi dengan
mengungkap sejumlah keutamaan ayat kursi yang dimuat
dalam hadits berikut. “Segala sesuatu itu mempunyai
puncaknya, dan puncaknya Al-Quran adalah surah Al-
Baqarah, di dalamnya terdapat sebuah ayat sebagai
penghulu seluruh ayat Al-Quran, yaitu ayat kursi.” (H.R.
Turmudzi)
Ayat kursi memiliki kedudukan tersendiri di antara ayat-ayat
lainnya. Keagungan ayat kursi tecermin dari setiap kalimat
yang menunjukkan sifat dan dzat Allah yang Mahaagung. Hal
tersebut sekaligus menunjukkan betapa manusia sangat
rendah di hadapan-Nya meski memiliki kekuasaan yang
seolah tanpa batas di hadapan manusia. Jika dilihat dengan
saksama, mengagungkan ayat kursi berarti sama dengan
mengakui diri sebagai makhluk yang sarat kekurangan
dengan kelemahan.
Namun demikian, jangan sampai kemuliaan ayat kursi
membawa kita pada anggapan bahwa ayat yang lainnya
tidak begitu penting. Ada sedikit kekeliruan di beberapa
kalangan umat Islam menyikapi sebuah keutamaan, baik itu
berupa ayat dan surah Al-Quran, amalan, ataupun yang
lainnya. Ketika sebuah amalan dikatakan memiliki
keutamaan luar biasa, mereka menganggap bahwa amal
lain tidak perlu dilakukan karena merasa cukup dengan
amalan itu. Ketika satu surat dianggap memiliki kehebatan
tertentu, maka ayat itu dan itu lagi yang dibaca dan
diperhatikan. Demikian pula, ketika suatu ayat dianggap
memiliki kemuliaan tertentu, seolah membaca ayat tersebut
dapat membebaskannya dari kewajiban membaca ayat yang
lainnya. Sama sekali tidak! Semua ayat berkedudukan sama
dan hendaknya dibaca secara saksama, kata demi kata.
Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Surat Al-
Baqarah di dalamnya terdapat sebuah ayat, yaitu penghulu
semua ayat Al-Quran. Tidak sekali-kali ia dibaca di dalam
sebuah rumah yang ada setannya, melainkan setan itu keluar
darinya, ialah ayat kursi.” (H.R. Hakim)
Tidak sedikit anggapan bahwa ayat kursi ada hubungan
dengan urusan hantu, sosok aneh yang menakutkan dan
datang dari alam gaib. Bahkan, ayat kursi dianggap sebagai
pengusir hantu. Karenanya, cukup banyak orang yang yakin
bahwa dengan menempelkan tulisan ayat kursi di dinding
rumah, rumah itu akan terbebas dari pengaruh hantu. Perlu
untuk diketahui, sebenarnya dalam Islam tidak dikenal istilah
hantu. Yang ada hanyalah iblis yang perilakunya disebut
setan, walaupun kadang setan juga bisa datang dari bangsa
jin (dan juga manusia ). Jika hantu yang dimaksud adalah jin,
tentu tidak ada salahnya ayat kursi dibaca selama tidak
menjadikan kita keliru menyikapinya.
Ayat kursi bisa menjauhkan setan dari rumah selama
penghuni rumah tersebut membaca dan menelaah dan
kemudian mengamalkannya. Keangungan ayat kursi
selayaknya menjadi cerminan perilaku sehari-harinya
sehingga setan merasa tidak betah berada dalam rumah
atau merasa gerah berhadapan dengan orang yang berada
dalam rumah tersebut.
Dari aspek etika sehari-hari, Rasulullah Saw. menekankan
agar ayat kursi menjadi bacaan sebelum tidur, sebagaimana
dijelaskan dalam hadits berikut. Abu Hurairah r.a.
mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jika
kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat
kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah taala
dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai
pagi.” (H.R. Bukhari)
Kandungan Ayat Kursi
Ayat kursi mengandung 10 kalimat yang semuanya
menjelaskan asma, sifat, dan dzat Allah. Ini berarti
keberadaan ayat kursi tersebut semata-mata untuk
menunjukkan keagungan Allah dengan segala Kekuasaan-
Nya. Berikut ke-10 kalimat yang dimaksud.
1. Allah, tidak ada Tuhan–yang berhak disembah–melainkan
Dia
Informasi diawali dengan unsur ketauhidan. Tiada Tuhan
selain Allah. Jika dikaitkan dengan pemaknaan kursi
sebagaimana dibahas sebelumnya, apa pun maknanya,
seharusnya ketauhidan menjadi tempat pemberangkatan
pertama dan utama.
2. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-
Nya
Allah, dzat Mahahidup dan kekal. Semua makhluk
bergantung kepada-Nya. Allah Mahakaya untuk semua
makhluk berhajat kepadaNya. Tidak ada makhluk berwujud
tanpa kehendak-Nya.
3. tidak mengantuk dan tidak tidur
Allah mustahil terhadap kekurangan. Tiada kantuk, apalagi
tidur. Dalam kekuasaan-Nya segala yang berada di langit
serta di bumi. Dialah yang mengatur dan mengurus segala
“jiwa” dan “amal” perbuatan-Nya. Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur dan tidak seharusnya
Dia tidur. Dia berkuasa menurunkan timbangan amal dan
mengangkatnya. Kemudian akan diangkat kepada-Nya
(maksudnya dilaporkan) segala amalan pada waktu malam
sebelum (dimulai) amalan pada waktu siang, dan begitu juga
amalan pada waktu siang akan diangkat kepada-Nya
sebelum (dimulai) amalan pada waktu malam. Hijab-Nya
adalah cahaya (menurut riwayat Abu Bakar adalah “api”).
Andaikata Dia menyingkapkannya, pasti keagungan wajah-
Nya akan membakar makhluk yang dipandang oleh-
Nya.” (H.R. Muslim)
4. kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi
Semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Allah
Mahakuasa untuk segala sesuatu. Yang dimiliki setiap
manusia pada hakikatnya bukanlah milik mereka. Semua
hanya titipan. Bukankah kala maut menjemput, semua
menjadi musnah? Ingatlah bahwa hidup ini, nikmat ini, dan
rezeki ini, semua adalah milik-Nya yang harus kita
kembalikan kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.
5. tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-
Nya
Jika syafaat diartikan sebagai pertolongan, maka tidak ada
pertolongan dari makhluk kepada makhluk, sekalipun dia
nabi atau malaikat, kecuali atas izin-Nya. Terlebih, syafaat
adalah kekhususan yang diberikan kelak di akhirat.
Sementara, di akhirat Allah tidak memberi izin adanya
kekuasaan–meski sangat terbatas–kepada makhluk-Nya.
Allah Swt. berfirman, “Dan, berapa banyaknya malaikat di
langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali
sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan
diridhoi (Nya).” (QS. An-Najm [53]: 26)
Rasulullah Saw. bersabda , “Aku datang ke Arasy, lalu aku
menyungkur bersujud dan Allah membiarkan aku dalam
keadaan demikian menurut apa yang dikehendaki-Nya, lalu
Allah berfirman, ‘Angkatlah kepalamu lalu katakanlah (apa
yang engkau kehendaki), niscaya kamu didengar, dan
mintalah syafaat, niscaya kamu akan diberi syafaat.’”
Rasulullah melanjutkan kisahnya, “Lalu aku diberi suatu
batasan, lalu aku masukkan mereka ke dalam surga.” (H.R.
Abu Daud)
6. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di
belakang mereka
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, mulai dari yang paling
kecil sampai yang paling besar, di awal dan juga di akhir.
7. dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah
melainkan apa yang dikehendaki-Nya
Tidak ada ilmu yang dimiliki makhluk kecuali bahwa itu
adalah pemberian Allah semata dalam skala yang sangat
sedikit. Tidak ada manusia yang mengetahui dzat-Nya
kecuali yang diberitahukan oleh Allah kepada mereka.
8. Kursi Allah meliputi langit dan bumi
Kursi dalam ayat ini diartikan oleh Ibnu Abbas sebagai ilmu.
Ada juga riwayat lain yang mengemukakan bahwa yang
dimaksud adalah tempat kedua “telapak kaki” (kekuasaan-
Nya). Kursi di sini sama sekali tidak bisa dianalogikan dalam
bentuk dan ukurannya sebagaimana kursi yang kita kenal
dan pergunakan setiap hari.
9. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya
Mengurusi langit dan bumi serta segala isinya yang demikian
rumit dan njelimet sama sekali tidak membuat-Nya ribet dan
merasa berat. Justru yang terjadi sebaliknya, bagi Allah
semuanya ringan dan bukan beban sama sekali karena Dia
pula yang menciptakan semuanya.
10. dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar
Allah Mahabesar, Allah Mahatinggi. Namun, semuanya di
luar batas kemampuan imajinasi kita. Kewajiban kita
hanyalah mengagungkan-Nya dengan senantiasa mentaati
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Wallahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar