Selasa, 07 Agustus 2012

Bencana dhuha

“Demi matahari dan dhuhanya.” (Q.S Asy-Syams
[91]: 1 )
Dua kali Allah bersumpah dengan dhuha, yaitu di
awal surat Asy-Syams dan surat Adh-Dhuha.
Ketika sesuatu dipakai sebagai sumpah oleh Allah
Swt., tentunya ada yang luar biasa di dalamnya.
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna
dhuha. Mujahid menafsirkan bahwa dhuha adalah
cahaya matahari. At-Thobary menjelaskan bahwa
dhuha adalah waktu matahari sedang naik di ufuk
timur sampai sempurna cahayanya. Qotadah
mengatakan dhuha adalah siang hari seluruhnya.
Sayyid Quthb menafsirkan bahwa dhuha
melambangkan harapan menuju yang baik. Jadi,
dhuha dijadikan sumpah oleh Allah Swt. karena
dinilai baik, titik.
Nanti dulu. Terkadang dhuha bisa ditafsirkan
dalam konotasi tidak baik. Muqatil menafsirkan
bahwa dhuha adalah panasnya matahari yang
menyengat. Lalu, kitab tafsir Adlwa’ul Bayan
menyitir surat Thaahaa ayat ke-119 di mana
nikmat surga adalah karena di sana tidak ada
dahaga akibat panasnya matahari dhuha.
“Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa
dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas
matahari di dalamnya.” (Q.S. Thaahaa [20]: 119)
Kemudian, dalam surat Al-A’raaf ayat ke-98,
dengan jelas Allah memperingatkan akan
datangnya siksa bersamaan dengan dhuha.
“Atau apakah penduduk kota merasa aman
terhadap datangnya siksaan duha dari Kami ketika
mereka sedang bermain-main?” (Q.S. Al-A’raaf
[7]: 98)
Pada 2004, bencana tsunami di Aceh yang
menghancurkan kota-kota besar dan menelan
korban seperempat juta jiwa terjadi di waktu
dhuha. Maka, kita harus mewaspadai makna lain
dhuha yang berkonotasi negatif ini.
Dhuha selalu berkaitan dengan matahari. Cahaya
matahari memang telah bermanfaat
memunculkan kehidupan di bumi. Tetapi,
terkadang di daerah kronosfer (di permukaannya)
terjadi ledakan massif yang melontarkan massa
plasma matahari. Kecepatannya sampai 2000 km
per detik berupa badai awan massif. Badai
matahari ini disebut Coronal Mass Ejection (CME)
dan mengganggu kinerja satelit dan perangkat
komunikasi. Ahli astrofisika Alexei Dmitriev
mengatakan dalam majalah National Geographic
bahwa saat ini seluruh tata-surya sedang bergerak
mengarah ke energi awan antarbintang
(interstellar energy cloud) yang merupakan
wilayah turbulensi yang akan sangat mengganggu
amosfer bumi dan matahari sendiri. Energi awan
bintang ini juga akan diserap oleh bumi yang
sebagai sistem akan mempengaruhi cuaca dan
menimbulkan banyak gempa.
Bila hal ini dikombinasi dengan ramalan
memuncaknya badai matahari pada 2012-2013,
bisa disimpulkan bahwa bencana katastropik
global berada di depan mata. Karena jarak
matahari ke bumi adalah 150 juta km, maka
dalam tempo lima hari badai matahari akan
segera mencapai bumi. Bila itu memang terjadi,
manusia tidak bisa berbuat banyak. Namun,
seorang mukmin nantinya masih akan bisa
berkata shodaqollahul’adzim, Mahabenar Allah
yang telah menjadikan dhuha beserta berbagai
maknanya sebagai sumpah dalam Al-Quran.
Wallaahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar