Sabtu, 04 Agustus 2012

Defeated Mentality (Mental Pecundang)

Salah satu penyakit menonjol kaum Muslimin dewasa ini
ialah terjangkiti Defeated Mentality (Mental Pecundang).
Tidak sedikit saudara muslim kita yang malu menampilkan
identitas ke-Islam-annya di tengah masyarakat. Ia sangat
khawatir bila dirinya memperlihatkan segala sesuatu yang
terkait dengan nilai-nilai Islam maka ia akan diejek,
dipandang rendah, diasingkan, dikucilkan, ditolak bahkan
dimusuhi. Inilah yang menyebabkan tidak sedikit pegawai
kantoran yang membiarkan dirinya menunda bahkan
meninggalkan sholat bila mendapati dirinya sedang
“terjebak” di dalam suatu meeting panjang. Tidak sedikit
muslimah yang ragu untuk berjilbab karena tidak siap
menghadapi “komentar negatif” orang-orang di
sekelilingnya. Dan banyak daftar contoh lainnya. Padahal
menampilkan identitas Islam merupakan perintah Allah
SWT :
“Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah).’ “ (QS. Ali Imran [3] : 64)
Keberpalingan orang lain dari agama Allah SWT tidak berarti
kitapun harus ikut-ikutan berpaling darinya. Berjalanlah di
tengah masyarakat dengan identitas Islam yang jelas terlihat.
Sebab menampilkan identitas Islam merupakan bukti
seorang muslim siap beribadah kepada Rabbnya dalam
situasi dan kondisi apapun. Di manapun dan di hadapan
siapapun. Memperlihatkan perilaku dan akhlak Islam
merupakan bukti seorang muslim meyakini bahwa sosok
Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama bagi
dirinya yang perlu ia contoh bagaimanapun situasi dan
kondisi yang melingkupi dirinya. Seorang muslim tidak
dibenarkan membiarkan dirinya berperilaku laksana
bunglon. Berubah warna menyesuaikan diri dengan warna di
sekitar dirinya. Warna Islam harus menjadi warna seorang
muslim betapapun ramainya aneka warna lainnya di sekitar
dirinya. Muslim yang tidak konsisten menampilkan identitas
Islamnya merupakan orang yang memiliki mentalitas
pecundang. Ia telah kalah sebelum bertarung.
Apa sebenarnya yang menyebabkan banyak muslim dewasa
ini ber-mental pecundang? Banyak sebabnya. Di antaranya
ialah:

1. Tidak memiliki keyakinan yang mantap bahwa
sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang
menolong (agama) Allah. Dia ragu apakah benar jika
dirinya tampil dengan identitas Islam ia bakal ditolong
Allah? Sehingga akhirnya dia menawar dalam hal ini.
Dia mulai mencari identitas lain yang dia sangka jika ia
tampilkan –baik bersama dengan identitas Islam
maupun tidak- maka manusia di sekitar akan
memberikan apresiasi kepada dirinya. Ia akan
dianggap sebagai orang yang lebih “mudah diterima”.
Padahal jelas Allah berfirman:” Hai orang-orang
yang beriman, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad
[47] : 7)

2. Dia silau melihat kaum kafir yang Allah sedang
berikan kesempatan memimpin dunia dewasa ini di
zaman yang penuh fitnah (baca: ujian) bagi kaum
yang beriman. Lalu dalam rangka supaya bisa segera
menyaingi keberhasilan kaum kafir, maka diapun
mengikuti jejak langkah, tabiat dan kebiasaan kaum
kafir. Jika kaum kafir bisa meraih kemenangan tanpa
menghiraukan keterlibatan agama dalam urusan
kehidupan sosial, politik dan ekonomi, maka iapun
menganggap bahwa hal itu juga bisa diraih oleh
ummat Islam jika paham sekularisme turut
dikembangkan di tengah kaum muslimin. Akhirnya ia
beranggapan bahwa identitas berdasarkan kesamaan
bangsa lebih dapat diandalkan daripada identitas
berdasarkan kesamaan aqidah dan ketundukan
kepada Allah, Rabb Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan
Penguasa alam raya. Paham nasionalisme yang
merupakan ideologi produk manusia dipercaya dapat
“lebih menjual” daripada ideologi dienullah (agama
Allah) Al-Islam yang bersumber dari Allah. Alhasil
keyakinan bahwa Allah merupakan sebab bersatunya
hati manusia digantikan dengan man-made ideologies
sebagai sebab persatuan dan kesatuan umat manusia.
Padahal jelas Allah berfirman: “Dan (Allah) Dialah
Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang
yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan
semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya
kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka,
akan tetapi Allah telah mempersatukan hati
mereka.” (QS. Al-Anfal [8] : 63)

3. Dia mudah terjebak oleh paham-paham sesat
modern yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sementara ada sebagian ummat Islam bahkan tokoh
Islam yang justeru mendukung paham-paham
tersebut. Dukungan yang diberikan kadang-kala
dijabarkan dalam tulisan-tulisan yang berdalilkan ayat
dan hadits pula. Di antaranya adalah seperti paham
Pluralisme, Sekularisme, Humanisme serta
Demokrasi. Memang harus diakui bahwa jika seorang
muslim tidak memiliki ilmu yang cukup dan rajin
membaca berbagai tulisan para ulama dan pemikir
Islam yang kritis membedah kesesatan paham-paham
tersebut, niscaya dia akan dengan mudah menelan
berbagai pandangan yang mendukung dan
menjustifikasi keabsahan paham-paham tadi. Sebab
media yang pada umumnya sekuler lebih condong
memuat pendapat yang sejalan dengannya. Hanya
sedikit sekali media Islam yang cukup cerdas
membongkar bahayanya paham-paham tadi. Karena
disamping kecerdasan juga diperlukan keberanian
untuk menentang arus yang mengkampanyekannya.
Itulah rahasianya Allah memerintahkan ummat Islam
agar tidak mudah ikut arus yang ramai. “Dan jika
kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di
muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah).” (QS. Al-An’aam [6] : 116)

4. Dia tidak cukup sabar meniti jalan sulit dan mendaki
sesuai sunnah (tradisi) cara berjuang Nabi
Muhammad untuk meraih janji kemenangan agama
Allah di dunia. Dia mengira bahwa jadwal
kemenangan ummat Islam mesti ditentukan oleh
perhitungan akal dirinya sendiri. Padahal segala
sesuatu memiliki dan mengikuti sunnatullah. Akhirnya
demi segera tercapainya kemenangan ia rela berjalan
dan berjuang tidak lagi mencontoh sunnah Nabi
Muhammad. Mulailah dia memandang para
mujahidin yang sejatinya berada di atas jalan Allah
justeru sebagai kalangan yang bodoh, tidak progressif
dan tidak realistis. Sedangkan para kolaborator (baca:
para pengkhianat) justeru dipandangnya sebagai
kalangan yang berpandangan luas, progressif dan
realistis dalam berjuang. Mereka lupa bahwa kalah
dan menang merupakan tabiat hidup di dunia. Tidak
mungkin ummat Islam terus-menerus meraih
kemenangan di dunia sebagaimana tidak mungkin
kaum kafir pasti selalu mengalami kekalahan di dunia.
Allah menggilir masa kejayaan dan kemenangan di
antara ummat manusia. Ada masanya ummat Islam
berjaya, ada masanya ummat Islam terpuruk. Ada
masanya kaum kafir terpuruk, ada masanya mereka
diizinkan Allah meraih kemenangan di dunia.

5. “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka,
maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada
perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan
masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami
pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran); dan supaya Allah
membedakan orang-orang yang beriman (dengan
orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu
dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah
tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali
Imran [3] : 140) Yang pasti, hanya kaum beriman
sejati sajalah yang selamanya akan berjaya dan
bahagia di akhirat. Dan hanya kaum kafirlah —beserta
kaum munafiq yang berkolaborasi dengan mereka—
yang selamanya bakal merugi dan menderita
kekalahan sejati di akhirat kelak nanti.
Begitu kita menyadari bahwa secara konteks zaman kita
ditaqdirkan Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻭ ﻰﻟﺎﻌﺗ lahir ke dunia di era dimana
giliran kekalahan sedang menimpa ummat Islam dan giliran
kejayaan sedang Allah taqdirkan berada di tangan kaum
kuffar, maka kita segera sadar bahwa ini merupakan era
badai fitnah (baca: badai ujian). Dengan legowo kita harus
mengakui bahwa ummat Islam dewasa ini sedang babak
belur dan kaum kafir sedang berjaya secara duniawi. Tapi itu
bukan alasan untuk kemudian kita meniti kehidupan di dunia
ini dengan defeated mentality (mental pecundang). Ini sama
sekali bukan alasan ummat Islam untuk meninggalkan jalan
hidup Islam dan malah mengadopsi jalan hidup kaum
kuffar.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula)
kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.”(QS. Ali Imran [3] : 139)
Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: ‘ Islam muncul dalam keadaan asing,
dan ia akan kembali dalam keadaan asing,maka
beruntunglah orang-orang yang terasing’ .” (HR. Muslim No.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar