Melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi dan
sukses dalam hal duniawi maupun ukhrawi adalah capaian
terbesar dalam hidup kita sebagai orangtua. Kesuksesan
anak tersebut merupakan simbol keberhasilan kita dalam
mendidik. Hal tersebut juga merupakan warisan abadi yang
diturunkan orangtua kepada anaknya. Ya, ketika harta dapat
berkurang bahkan habis, maka pendidikan yang kita berikan
kepada anak akan senantiasa menyertai mereka sampai
kapan pun dan di mana pun mereka berada dan dengannya
anak dapat menjawab segala tantangan dalam petualangan
hidupnya.
Ya, mendidik anak adalah kewajiban terpenting yang menjadi
tanggung jawab orangtua. Namun, untuk hal sepenting ini,
tidak ada sekolah atau kursus yang dapat diambil oleh
orangtua sebagai bekal mendidik anak. Tidak jarang,
besarnya tanggung jawab ditambah tidak adanya acuan pasti
mengenai cara mendidik anak membuat orangtua
memberikan pendidikan seadanya kepada anak. Iya kalau
hal tersebut dapat mengatasi kompleksitas problematika
pendidikan anak. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah
ketimpangan pemahaman antara anak dan orangtua yang
pada gilirannya dapat menghambat komunikasi untuk
kemudian memacetkannya sama sekali.
Berkaca pada nasihat Lukman kepada anaknya dalam salah
satu ayat Al-Quran, kita akan menemukan empat pilar
utama pendidikan dalam Islam.
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya di
waktu dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai, anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman
yang besar.’ Dan, Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu. Dan, jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-
Ku, kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, maka
kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Lukman berkata) ’Hai, anakku, sesungguhnya jika ada (suatu
perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di
langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha
Mengetahui.’” (Q.S. Luqman [31]: 13-16)
Ya, tidak mempersekutukan Allah, berbakti kepada kedua
orangtua, bersyukur kepada Allah dan kedua orangtua, serta
meyakini bahwa semua perbuatan ada balasannya adalah
pilar utama dalam membentuk pribadi qurani. Karenanya,
hal ini mutlak harus ditanamkan pertama kali oleh orangtua
dalam jiwa anaknya sebelum kita mendidiknya dengan
beragam prinsip kehidupan.
Dari buku Mendidik Tidak Mendadak yang ditulis oleh Enny
Sulistiani, dijelaskan prinsip-prinsip fundamental pendidikan
anak. Berikut prinsip-prinsip tersebut.
1. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang menyeluruh,
baik jasmani maupun rohani.
2. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berfokus pada
usaha menciptakan keseimbangan dalam kemapanan
kehidupan dunia dan akhirat sebagaimana tersurat dalam
ayat-Nya berikut, “Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat-baiklah (kepada orang
lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 77)
3. Pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga
praktis; tidak hanya berupa perkataan, tetapi juga
pengamalan secara nyata.
4. Pendidikan Islam bersifat personal, juga sosial. Dikatakan
personal, sebab pendidikan Islam merupakan suatu usaha
untuk membina kepribadian. Dan, dikatakan sosial, karena
kepribadian itu kelak diharapkan berpengaruh positif pada
masyarakat.
5. Pendidikan Islam tidak menyalahi fitrah manusia. Dalam
arti, setiap manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu
apa-apa (Q.S. An-Nahl [16]: 78) dan bahwa setiap manusia
lahir dalam keadaan suci. Setelah melalui proses pendidikan,
seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dan,
pengetahuan inilah yang akan menentukan seseorang
menjadi manusia yang baik (suci) sesuai dengan fitrahnya
atau menjadi manusia yang jahat (menyalahi fitrahnya).
6. Pendidikan Islam berlaku bagi setiap individu tanpa
mengenal diskriminasi apa pun dan bahwa pendidikan
tersebut akan berlangsung secara terus-menerus sejak lahir
sampai mati (life-long education).
Masih dari buku yang sama, dalam mendidik anak, para
orangtua juga hendaknya menekankan pada hal-hal berikut.
1. Memberi penanaman AQIDAH yang benar.
2. Menanamkan JIWA PENDAKWAH. Artinya, orangtua
sebaiknya mendidik anak untuk memiliki jiwa pendakwah
atau pengajar, yaitu suka memberi contoh dalam berbuat
baik dan meninggalkan kemungkaran.
3. Meneladankan AKHLAK MULIA, seperti sabar, qanaah,
tawadhu, dan dermawan.
4. Memberikan anak ILMU, dengan cara memberikan
pendidikan yang baik bagi anak. Ilmu yang diberikan pada
anak, mulai dari ilmu agama hingga ilmu keduniawian yang
dibutuhkannya untuk hidup dan melakukan syiar, serta
menjadi bekal untuk mempersiapkan kehidupannya di
akhirat.
5. Memberikan PENDIDIKAN sangat penting. Tujuan
akhirnya adalah anak akan lebih menyadari kebesaran Allah
Swt. lewat ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Selain
itu, dengan pendidikan, tentu anak akan memiliki wawasan
dan pola pikir yang luas untuk kehidupannya kelak. Dengan
demikian, anak menjadi siap untuk berkompetisi dan
menjalani kehidupannya dengan sukses saat dia besar nanti.
6. BERSIKAP LEMAH LEMBUT serta menghindari kekerasan
dalam mendidik anak.
7. Mengajarkan TANGGUNG JAWAB. Anak harus diajarkan
untuk selalu berani bertanggung jawab karena setiap
perbuatannya kelak harus dia pertanggungjawabkan di
akhirat; amal baik akan dibalas dengan kebaikan dan amal
buruk akan dibalas dengan keburukan.
Memang, tanggung jawab mendidik anak adalah tanggung
jawab seumur hidup. Karenanya, kita tidak akan pernah
berhenti membimbing dam mendidik anak meski dia telah
tumbuh menjadi manusia dewasa sekali pun. Agar wawasan
dan pengetahuan kita senantiasa bertambah seiring dengan
bertambahnya usia anak, adalah sebuah hal mutlak bagi
orangtua untuk senantiasa menimba ilmu (mengenai cara
mendidik anak). Dengan demikian, cita-cita dan tanggung
jawab mulian kita menyaksikan anak sukses dunia akhirat
tidak sebatas angan-angan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar