Minggu, 05 Agustus 2012

berbuat dan bergeraklah

Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
“Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk
(tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan
yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad
dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan
satu derajat bagi orang-orang yang berjihad
dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang
yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka
Allah menjajnjikan pahala yang baik (surga) dan
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas
orang-oang yang duduk dengan pahala yang
besar.” (QS. An Nisa: 95)
Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu
Ayat ini bercerita tentang perang Badr dan
orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya.
Ketika terjadi perang Badr bertanyalah Abdullah
bin Jahsy dan Abdullah bin Ummi Maktum,
“Wahai Rasulullah, kami berdua buta, adakah
rukhshah bagi kami?” maka turunlah ayat
“Tidaklah sama orang-orang beriman yang
duduk (tidak pergi jihad) tanpa udzur” . Allah
‘Azza wa Jalla mengutamakan para mujahidin di
atas orang yang tidak berangkat jihad,
maksudnya adalah jika orang itu tidak berangkat
tanpa memiliki alasan syar’i (udzur) atau Ulul
Dharar. Begitu pula ayat “Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad atas orang-orang
yang duduk dengan pahala yang besar” adalah
tertuju untuk orang beriman yang tidak
berangkat tanpa ada alasan syar’i. Lafazh ini
dari At Tirmidzi. Ia berkata hadits ini hasan
gharib melalui jalur ini. (Imam Ibnu Katsir,
Tafsir Al Qur’anul Azhim, 2/387. Dar Ath
Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)
Ada beberapa ‘ibrah dari ayat ini. Pertama, Allah
‘Azza wa Jalla menceritakan tentang dua tipe
orang beriman, yaitu mu’min mujahid (mu’min
yang berjihad) dan mu’min qa’id (mu’min yang
duduk tidak berjihad), di mana Allah melebihkan
mu’min mujahid di atas mu’min qa’id sebanyak
satu derajat, dan pahala yang besar. Kedua, ayat
ini tidaklah mencela mu’min qa’id, namun
demikian, memberikan stimulus (rangsangan)
agar kita menjadi mu’min mujahid, sebab Allah
‘Azza wa Jalla telah menyediakan balasan yang
besar bagi mereka. Ketiga, dari ayat yang mulia
ini, kita mengetahui tentang adanya orang yang
memang beriman tapi enggan berjihad. Walau
sebenarnya, tidak pantas orang beriman tapi
minus amal shalih.
Seringkali orang yang enggan bergerak memiliki
alasan untuk itu. Baik alasan yang logis dan
syar’i atau yang sengaja dicari-cari. Namun
alasan apapun, Allah ‘Azza wa Jalla lebih
mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Ada juga yang berdalih dengan ayat:
“Dan tidak sepatutnya orang mu’min semuanya
pergi berjihad, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan di antara mereka untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka
itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At taubah: 122)
Padahal ayat ini bukanlah hujjah (alasan) bagi
mereka yang diam-diam saja. Justru ayat ini
hujjah bagi mereka yang pergi berjihad.
Berkata Imam Al Hasan Al Bashri Radhiallahu
‘Anhu:
ﻪﻘﻔﺘﻴﻟ ﻦﻳﺬﻟﺍ ،ﺍﻮﺟﺮﺧ ﺎﻤﺑ ﻢﻫﺩﺮﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﺭﻮﻬﻈﻟﺍ ﻰﻠﻋ
،ﻦﻴﻛﺮﺸﻤﻟﺍ ﺍﻭﺭﺬﻨﻳﻭ ،ﺓﺮﺼﻨﻟﺍﻭ ﻢﻬﻣﻮﻗ ﺍﺫﺇ ﻢﻬﻴﻟﺇ ﺍﻮﻌﺟﺭ .
“Hendaknya orang-orang yang keluar itu
mempelajari dengan apa-apa yang Allah
kehendaki atas diri mereka berupa kemenangan
dan pertolongan bagi mereka atas kaum
musyrkin, dan mereka memberi peringatan
kepada kaumnya jika mereka kembali nantinya.”
(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,
4/237. Imam Ibnu Jarir, Jami’ Al Bayan, 14/571.
Muasasah Ar Risalah )
Apa yang dkatakan oleh Imam Al Hasan Al Bashri
ini didukung oleh Imam Ibnu Jarir bahwa
hendaknya ada sekelompok pasukan yang
mempelajari bagaimana menolong agama Allah,
umat Islam, dan para sahabat nabi, dari
kekuatan musuhnya dan orang kafir. Secara
hakiki makna tafaqquh di sini adalah
mempelajari cara untuk memenangkan Islam
atas orang-orang musyrik. (Ibid, 14/573)
Maka, tidak benar menggunakan saat ini sebagai
dalil untuk meninggalkan perjuangan islam,
hanya demi mempelajari ilmu-ilmu dunia dan
demi kepentingan dunia. Simaklah ucapan
Imamul Mujahid Asy Syahid Syaikh Abdullah
‘Azzam Rahimahullah berikut ini, “Sesungguhnya
agama ini tidak akan dapat dipahami kecuali
oleh orang-orang yang berjihad untuk
merealisasikan secara nyata di bumi. Adapun
orang yang menghabiskan hidupnya di antara
lembaran kitab dan fiqih, tidak akan dapat
memahami tabiat agama ini kecuali mereka
berjihad untuk membelanya. Agama ini tidak
dapat dipahami rahasia-rahasianya oleh orang
faqih yang duduk-duduk, karena fiqih itu tidak
diambil kesimpulannya kecuali dari perjalanan
kehidupan berharakah bersama agama ini di
alam realita.”
Berkata Asy Syahid Sayyid Quthb rahimahullah,
“Sesungguhnya fiqih tidak dipelajari dari seorang
‘alim yang duduk-duduk saja, sesungguhnya
agama Allah ini tidak dipelajari dari seorang
‘alim yang duduk dan beku.” Dalam kesempatan
lain ia berkata, “Sesungguhnya duduk
meninggalkan jihad adalah tanda cacatnya
aqidah dan lemahnya pemahaman agama.”
Kenapa Harus Berbuat?
Pertama. Allah ‘Azza wa Jalla, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang
beriman melihat amal kita. Iman dan amal-lah
yang menentukan kemuliaan dan kehinaan
manusia. Dan untuk amal-lah kenapa Allah ‘Azza
wa Jalla menciptakan kita. Dan yang terpenting,
Allah ‘Azza wa Jalla melihat amal terbaik
(ahsanu ‘amala), bukan amal terbanyak..
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)
“Dan katakanlah, ‘Beramal-lah kamu, maka Allah,
RasulNya, dan Orang-orang beriman akan melihat
amalmu’ ” (QS. At taubah: 105)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa
Rasulullah ‘alaihi shalatu was salam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan
penampilan kalian, tetapi Allah melihat hati-hati
dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)
Kedua. Amal shalih di dunia adalah hujjah
(alasan) bagi kita di depan mahkamah Allah pada
yaumul hisab nanti. Walau hasilnya jauh dari
yang diharapkan bahkan banyak menemui
kegagalan, paling tidak kita telah berbuat dan
memiliki deposito amal di dunia yang bisa
dibanggakan di akhirat kelak.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
“Dan (ingattlah) ketika suatu umat di antara
mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasehati kaum
yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan
azab yang keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami
mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada
Tuhanmu, dan agar mereka bertaqwa.’ “ (QS. Al
A’raf: 164)
Ketiga. Amal shalih adalah tiket bagi manusia
menuju surga. Apa yang kita perbuat di dunia
dengan tujuan mengharapkan surgaNya adalah
haq dan masyru’. Sebab dunia adalah ladang
bagi akhirat. Dunia adalah tempat menanam dan
berjuang, sedangkan akhirat adalah tempat kita
menyemai hasilnya.
Jangan hiraukan ucapan para sufi yang
melampaui batas. Mereka menyalahkan manusia
yang beramal untuk mengharapkan surgaNya,
bahkan bagi mereka itu adalah bentuk
kemusyrikan. Bagi mereka beramal harus
mengharapkan ridhaNya saja dan lantaran cinta
kepadaNya, bukan keinginan yang lain seperti
mengharap surga atau takut neraka. Lantaran
sikap berlebihan ini, mereka terjebak pada sikap
menggugat terhadap perintah Allah ‘Azza wa
Jalla. Sungguh, mengharapkan surga dan
mengharapkan ridhaNya bukanlah dua hal yang
layak dipertentangkan. Sebab orang yang
mendapatkan ridhaNya pastilah tempatnya di
surga, sebagaimana penduduk surga adalah pasti
orang yang telah diridhaiNya. Sebagaimana ayat:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada
Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-
hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS.
Al Fajr: 27-30) Semoga para sufi –khususnya
yang ghuluw (melampaui batas)- dan para
pengikutnya memahami ayat ini dengan baik dan
benar, agar tidak mengeluarkan pernyataan yang
merusak dan berlebihan.
Apakah kita berani menyalahkan orang yang
mengharapkan surga, padahal Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman: “Salam sejahtera untukmu,
masuklah kalian ke surga lantaran amal yang
kamu lakukan.” (QS. An Nahl: 32) atau ayat lain:
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-
orang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk
mereka disediakan surga-surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai ..dst” (QS. Al Baqarah: 25)
Apakah kita berani menyalahkan orang yang
mengharapkan terhindar dari neraka padahal
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa
yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke
dalam surga, maka ia telah beruntung.” Dan
Rasulullah ‘alaihi shalatu was salam
mengajarkan doa Allahumma ajirni minannar
(Ya Allah jauhkanlah aku dari api neraka) atau
doa lain yang lebih tegas dalam masalah harap
surga dan takut nereka ini, Allahumma inni as-
aluka ridhaka wal jannah wa a’udzubika min
sakhatika wan naar (Ya Allah aku mohon
kepadaMu ridhamu dan surga, dan aku
berlindung kepadamu dari panasnya api
neraka).
Keempat. Adanya permusuhan orang-orang kafir
yang terus-menerus. Sejak fajar da’wah Islam
bersinar, kaum kafirin tidak pernah ridha
dengan agama ini dan pemeluknya. Mereka
membenci Rasulullah dan para sahabat, dengan
memberikan julukan-julukan hina dan gambaran
yang dusta yang disebarkan. Kebencian ini terus
menerus terjadi dari masa ke masa hingga hari
ini, bahkan selamanya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-
orang yang bersamanya bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud
mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Pada
wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan)
dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang
mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu
semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus
di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya, karena Allah hendak
membuat jengkel hati orang-orang kafir terhadap
orang-orang beriman. Allah menjanjikan kepada
orang-orang beriman dan meramal shalih,
ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath:
29)
“Dan tidak akan pernah senang kepadamu
selamanya, orang-orang Yahudi dan Nashrani,
sampai kamu mengikuti millah mereka.” (QS. Al
Baqarah: 120)
Karena kebencian inilah mereka bersatu satu
sama lain.
“Dan orang-orang kafir, sebagian mereka
melindungi sebagian yang lain.” (QS. Al Anfal: 73)
Walau mereka bersatu, sebenarnya hati mereka
bermusuhan satu sama lain.
“Kamu kira mereka bersatu padahal hati-hati
mereka berpecah-belah.” (QS. Al Hasyr: 14)
Demikianlah, permusuhan mereka ini membuat
mereka selalu mengintai, membuat makar,
perangkap, dan bahkan penyerangan, terhadap
kaum muslimin. Mereka mengetahui kelemahan
umat ini, menyusup ke dalam barisannya, dan
rela banyak berkorban untuk itu. Sementara
umat ini, sedang apa kalian ?
Dari Mana Kita Bergerak?
Telah jelas alasan syar’i dan waqi’ , kenapa kita
harus bergerak. Maka, bukan waktunya bagi
para ikhwah aktifis bersikap diam, jutek,
merengut, cemberut, hanya bisa mencaci maki
keadaan, dan gagal gaul. Bertambah buruk bila
justru zhan terhadap ikhwah yang bergerak
hanya karena ada hal yang tidak berkenan di
hati. Lebih buruk jika hal-hal itu sifatnya sangat
remeh, tidak prinsip. Akhirnya kader dakwah
seperti ini hanya disibukkan dengan apa yang
berkecamuk di pikirannya sendiri, hatinya
sempit, ingin pergi dari lingkungan da’wah
hanya karena ketidakmampuan beradaptasi
dengan lingkungan dan para da’i lannya.
Alangkah baik jika kita memberikan banyak
pemakluman, sebab bagaimanapun juga, orang
bergerak lalu ada kesalahan masih lebih baik
dibanding orang yang tanpa kesalahan sebab
memang tidak ada yang diperbuat. Kesalahan
orang yang berbuat akan terhapus oleh kebaikan
yang menyusulinya. Bukankah demikian?
Namun dari mana kita memulai? Dalam hal ini,
potret perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah contoh terbaik untuk diteladani
oleh para pejuang. Imam Malik radhiallahu
‘anhu mengatakan, ‘Islam tidak akan tegak
kecuali dengan cara pertama kali ia ditegakkan.”
Aqidah (Ideologi)
Inilah yang harus dibenahi oleh para pejuang
Islam. Sebab Inilah yang pertama kali dilakukan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Yaitu
‘ani’budullah wajtanibuth thaghut (mengabdi
kepada Allah dan menjauhi thaghut) bahkan
inilah yang diperjuangkan para Rasul. Sebab
dibalik aqidah yang kuat dan bersih, terdapat
kekuatan yang maha dahsyat yang mampu
merubah si lemah menjadi kuat, si pengecut
menjadi pemberani. Kekuatan aqidah adalah
kekuatan revolusioner yang merubah secara
drastis kondisi Arab jahiliyah menjadi Arab
berperadaban. Kekuatan inilah yang merubah
Bilal bin Rabbah dari seorang budak menjadi
mulia, bahkan dialah yang membunuh dengan
tangannya sendiri Umayyah bin Khalaf, mantan
majikannya nan kejam ketika jahiliyah.
Kekuatan aqidah inilah yang menjadikan umat
Islam menjadi pemimpin dunia selama satu
milenium. Hilangnya kekuatan aqidah adalah
penyebab utama hilangnya supremasi umat
Islam dalam percaturan pergaulan dunia.
Aqidah di sini adalah kekuatan cinta dan iman
mendalam kepada Allah ‘Azza wa Jalla, siap mati
untuk membela agamanya. Siap menjalankan
segala perintahNya dan ridha menjauhi semua
laranganNya, disertai pengagungan asma dan
sifatNya, menetapkan adanya, tanpa ta’thil
(mengingkari), tahrif (merubah), takyif (bertanya
bagaimana), tasybih (menyerupakannya dengan
yang lain). MenjadikanNya sebagai satu-satunya
Asy Syari’ (pembuat syariat) dan paling berhak
diibadahi, selainNya adalah thaghut dusta yang
wajib diingkari secara total.
Aqidah disini adalah kekuatan cinta dan iman
kepada nubuwwah Muhammad Shallallhu ‘alaihi
wa sallam. Mengikuti jejak hidupnya, dan
menjadi pembela sunah-sunahnya. Mentaati dan
mencintainya, serta mencintai apa yang
dicintainya, dan membenci apa yang dibencinya.
Dan mengimaninya sebagai penutup para Nabi
dan Rasul. Memuliakan seluruh sahabatnya dan
menilai bahwa mereka semua adil dan
merupakan generasi terbaik sepanjang masa
yang menjadi panutan setuiap muslim sepanjang
masa dan di seluruh tempat.
Menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah Ash
Shahihah sebagai satu paket pedoman hidup
yang tak boleh dipisahkan dan tidak ada
keraguan di dalamnya, baik di depan maupun di
belakangnya, serta tidak tergantikan dan
tertandingi oleh yang lainnya. Semua adalah Al
haq (benar), sebab ia turun dari yang Maha
Benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan
Kami turunkan adz Dzikr (Al Qur’an) kepadamu,
agar kamu menerangkan kepada manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka dan agar
mereka memikirkan.” (QS. Al Hijr:44) atau ayat
lain: “Dan tidaklah yang diucapkan (Muhammad)
itu berasal dari hawa nafsunya, melainkan
wahyuNya kepadanya.” (QS. An Najm: 4-5)
Meyakini Islam adalah agama dan kehidupan,
pemerintahan dan rakyat, akhlak dan kekuatan,
undang-undang dan peradaban, da’wah dan
jihad, aqidah dan syariah. Tidak menjadikan
selainnya sebagai ideologi dan pedoman hidup,
sebab semua selain Islam adalah batil dan sesat,
baik Nashrani dan Yahudi yang telah dirusak
oleh pemeluknya sendiri, atau isme-isme
jahiliyah modern seperti marksisme,
komunisme, sosialisime, kapitalisme,
nasionalisme sempit, dan lain-lain.
Demikianlah sebagian kecil masalah aqidah yang
harus segera dibenahi dalam dada kaum
muslimin, sebagai modal dasar menuju
kemenangan da’wah Islam.
Akhlak (Moralitas)
Pembenahan akhlak adalah tuntutan selanjutnya,
sebab “Aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak mulia” demikian sabda yang masyhur
dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apa yang diinginkan dari perbaikan akhlak ini?
Tujuan perbaikan akhlak begitu jauh dan
mendalam. Perbaikan ini menginginkan agar
seorang muslim tetaplah menjadi seorang
muslim yang sebenarnya di mana saja mereka
berada, apapun kondisinya. Sehingga mereka
menjadi intan permata yang tegar di tengah
gundukan sampah. “Bertaqwalah kalian kepada
Allah di mana saja berada, dan ikutilah
perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya
akan menghapuskannya.” (HR. Tirmidzi, hasan
shahih). Tidak menjadi mumayyi (plin-plan),
tidak berpendirian, mudah diwarnai keadaan.
Perbaikan ini menginginkan agar setiap muslim
menjadikan akhlak Islam dalam urusan
keseharian mereka, politik, ekonomi, pendidikan,
militer, kelembagaan, dan lain-lain. Tidak
mengunakannya secara parsial. Shalat cara
Islam, tetapi ekonomi cara Yahudi. Nikah cara
Islam, politik cara machiaveli. Aqiqah cara Islam,
mendidik anak cara Amerika.
Setiap bangsa memiliki akhlaknya sendiri, satu
sama lain saling bertentangan dan intervensi.
Maka akhlak Islam yang memiliki kekhasan dan
keunggulan -sebab sifatnya universal tidak
terbatas pada bangsa tertentu- lebih berhak
mewarnai yang lain. Namun kenyataannya umat
Islam sendiri telah menjauh dari akhlak Islam.
Perbaikan ini menginginkan agar setiap ukhti
muslimah kembali kepada jati dirinya. Tidak
diperbudak mode, fashion, dan para
propagandis kebebasan. Tidak menjadikan para
artis dan celebritis sebagai acuan hidup dan
bahan obrolan. Betapa aneh, sebuah dunia yang
tengah ditinggalkan di tempatnya lahir, justru
sedang trend di negeri-negeri muslim. Apa yang
disebut emansipasi dan isu kesetaraan gender,
semua bermuara pada satu hal yang sama,
menjerumuskan muslimah dalam jurang tak
berujung, menjadi budak hawa nafsu dan syetan,
merusak peradaban Islam dan generasi baru,
sebab bagi mereka wanita adalah madrasah
pertama yang harus dirusak. Adakah ini
disadari?
Perbaikan ini menginginkan lahirnya para
pemuda yang tangguh, militan dan shalih.
Sebagaimana pemuda kahfi. Pemuda yang tidak
lupa Tuhannya, menghormati orang tua dan
menyayangi anak kecil. Pemuda yang
mengetahui tugasnya sebagai agen perubahan
dan penerus perjuangan, serta menjadi pasukan
iman yang menjadi oposisi bagi kebatilan dan
kekuatan syetan.
Amat disayangkan bila ada Harakah Islamiyah
yang menyepelekan masalah akhlak ini, bagi
mereka perubahan akhlak tidaklah signifikan
untuk menuju Khilafah Islamiyah. Mereka lupa,
sempitnya negeri bukanlah karena padatnya
penduduk, melainkan karena bobroknya akhlak
penduduknya. Bukankah demikian?
Fikrah (Pemikiran)
Tidak syak lagi, ghazwul fikri telah lama
merontokan bangunan dan struktur pemikiran
Islam yang melanda sebagian besar kaum
muslimin. Kaum kafir, khususnya Yahudi dan
Nashrani, menyerang pemikiran umat melalui
berbagai media dan sarana. Sarana informasi
dan propaganda seperti televisi, radio, koran dan
majalah, yang mudahnya masuk ke negeri-negeri
muslim. Bahkan mereka memiliki kaki tangan di
negeri-negeri muslim.
Bagai obat bius, -disadari atau tidak- serangan
pemikiran ini juga menyusup ke dalam
kurikulum pelajaran sekolah-sekolah. Sehingga
umat Islam terasa asing di hadapan budaya,
peradaban, dan sejarahnya sendiri. Jangan
tanyakan mereka, tentang kehebatan
Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih,
keberanian Barra bin Malik atau ‘Imad Aqil,
kejeniusan Syaikh Ahmad Yasin atau Yahya
Ayyash, kecerdasan Ali bin Thalib atau kehebatan
debat Imam Abu Hanifah, kepahlawanan Ummu
Khansa atau kepintaran ‘Aisyah, kekuatan hujjah
Imam Syafi’i atau ketegaran Imam Ahmad bin
Hambal, kecermelangan otak Ibnu Haitsam sang
ahli fisika atau Ibnu Nafis penemu pembuluh
darah, Al Khawarizmi ahli matematika atau Ibnu
Sina rujukan para dokter, Ibnu Batutah sang
pengembara atau Laksamana Ceng Ho muslim
cina penemu Amerika, Ibnu Rusyd filsuf besar
Islam atau Al Ghazaly faqih yang sosiolog, dan
lain-lainnya. Jangan tanyakan itu semua! Allahul
musta’an
Coba tanyakan tentang Che Guevara, Karl Marx,
Lenin, Isaac Newton, Einstein, Thomas Alfa
Edison, Superman, Batman, Power Rangers,
Ksatria Baja Hitam, Dora, Sponge Bob, Metallica,
Guns n Roses, Nirvana, J-Lo, Michael Jackson,
Madonna, Britney Spears, Christina Aguilera,
Simple Plan, David Beckham, David Trezeguet,
Ronaldo, Ronaldinho, Batistuta, Veron, Michael
Jordan, Shaqil O’neal, Kobe Bryant, dan lain-lain.
Tanyakanlah ini, niscaya meluncurlah jawaban
menakjubkan dari mereka, yang tidak kita
dapatkan dari pertanyaan sebelumnya.
Menuntut kepedulian mereka terhadap
kesengsaraan saudaranya di Palestina, Irak,
Afghanistan atau lainnya, adalah tuntutan yang
sulit terwujud. Tapi dengarkan tuturan mereka
tentang HAM, kesetaraan gender, kebebasan,
persamaan, mereka telah meguasainya dengan
baik. Tentu dengan definisi yang terbaratkan.
Apalagi berbicara tentang kematian artis,
perceraiannya, kumpul kebo, dan tetek bengek
lainnya. Sunguh begitu peduli. Demikianlah
gambaran suram yang meracuni sebagian umat
Islam lantaran dahsyatnya ghazwul fikri.
Inilah generasi muslim yang hilang. Mereka
kosong dari kebanggaan Islam dan
peradabannya. Maka tidak heran bila setelah
ghazwul fikri berhasil, musuh-musuh Islam
mudah menaklukan wilayah Islam.
Tarbiyah (pendidikan dan pembinaan)
Apa yang Allah ‘Azza wa Jalla tegaskan bahwa
Dia meninggikan derajat orang yang beriman
dan berilmu dengan banyak derajat adalah
benar adanya. Kemuliaan dan kejayaan umat ini
pernah diraih lantaran pesatnya ilmu
pengetahuan. Saat itu tak ada dikotomi antara
ilmu-ilmu agama dan dunia. Mereka memahami
semua ilmu adalah tanda-tanda kebesaran Allah
di muka bumi dan bernilai ibadah
mempelajarinya. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Al
Haq (Yang Maha Benar), maka apa yang
diturunkanNya melalui QauliyahNya adalah
benar, dan apa yang diturunkanNya melalui
KauniyahNya adalah benar. Kedua kebenaran ini
tmustahil berbenturan, ilmu-ilmu agama yang
berasal dari QauliyahNya akan selalu sejalan
dengan iptek yang berasal dari KauniyahNya.
Jika ada perbenturan, maka ipteklah yang harus
dikaji ulang sebab ia mengalami perkembangan.
Sekarang teorinya A, besok berubah B. Sedang
agama ini tetap. Hanya sihir, perdukunan, dan
sejenisnya yang bukan berasal dari ilmu Allah,
melainkan dari syetan.
Paradigma inilah -paradigma yang selalu
memuliakan ilmu, apapun ilmu itu selama
bermanfaat bagi kehidupan dunia akhirat
manusia- yang membuat umat memimpin
dunia. Sebab mereka membina diri disertai
dengan kesungguhan dan rasa pengabdian
kepada Allah Rabbul Jalil, dan berharap balasan
yang baik dan besar.
Mereka tidak merasa remeh dengan apa yang
dipelajarinya. Adapun saat ini, kita lihat sendiri,
calon mahasiswa mencari jurusan bukan
semata-mata menuntut ilmu melainkan
mengutamakan prospek profesi masa depan. Ya,
ujung-ujungnya duit dan perut. Mereka lupa,
Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mewafatkan
hambaNya sebelum hak rizkinya terpenuhi
semua baginya. Inilah aqidah yang harus
dipegang erat. Sungguh, ilmu akan menjaga
pemiliknya di mana saja berada. Sebaliknya,
harta akan merepotkan pemiliknya, dia akan
selalu mencari cara untuk menjaganya.
Jihad
Jihad adalah puncak ajaran Islam. Ia wajib ada
dalam benak para pejuang Islam, walau
negerinya tanpa pergelokan. Hakikatnya, esensi
jihad ada di manapun. Kita bisa jihad di bidang
apa saja, sebab jihad adalah kesungguhan dan
kesulitan. Namun dalam konteks ini, jihad dalam
arti sebenarnya yaitu qital bi saif (perang dengan
pedang) tidak boleh redup apalagi hilang dalam
agenda para pejuang Islam. Sebab cepat atau
lambat akan datang masanya umat ini akan
mengalami jihad besar melawan kekuatan kafir,
Nashrani dan Yahudi. Peristiwa Bosnia
Herzegovina atau Ambon adalah bukti dan akibat
dari kelengahan umat dalam mempersiapkan
dirinya dengan jihad.
Rasulullah ‘Alaihi shalatu wa salam
mengingatkan:
" ﻦﻣ ﺕﺎﻣ ﻢﻟﻭ ﺰﻐﻳ ﻢﻟﻭ ْﺙِّﺪَﺤُﻳ ﻪﺴﻔﻧ ﻭﺰﻐﻟﺎﺑ ﺕﺎﻣ ﻰﻠﻋ ٍﺔﺒﻌﺷ
ﻦﻣ ٍﻕﺎﻔﻧ ".
“Barangsiapa yang belum pernah berperang, dan
belum pernah dirinya membicarakan perang,
maka jika ia mati, mati dalam cabang
kemunafikan.” (HR. Muslim No. 1910, Abu
Daud No. 2502, )
Wallahu a’lam wa lillahil ‘izzah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar