Minggu, 05 Agustus 2012

Imam syafi'i : Pembela sunnah

Mazhab Syafi’i adalah salah
satu mazhab fiqh terbesar di dunia Islam. Pendirinya
adalah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H)
yang dijuluki naashirussunnah , artinya pembela
sunnah.
As-Syafi'i adalah seorang muhaddits besar (ahli
hadits), namun karena prestasi beliau di bidang fiqih
sangat fenomenal, ke-muhadditsan beliau jadi tidak
begitu kelihatan. Kalah dengan cahaya sosok beliau
sebagai ahli fiqih yang jauh lebih terang. Ibarat
cahaya bintang yang sedemikian terang di malam
yang gelap, begitu datang sinar matahari, maka
cahaya bintang seakan redup.
Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati dalam
menggunakan hadits. Beliau tidak akan mengguatkan
suatu hadits yang dhaif atau lemah untuk
membangun pendapatnya. Kalau pun ada hadits
yang beliau gunakan dan dituduh sebagai hadits
lemah, sesungguhnya tidak demikian, karna boleh
jadi beliau punya jalur dan sanad khusus yang tidak
dimiliki oleh para muhaddits lainnya.
Yang menarik, ternyata silsilah yang beliau miliki
adalah silsilah yang paling shahih yang pernah ada di
muka bumi. Yang mengatakan demikian adalah
maestro kritik hadits sendiri, Al-Bukhari. Sebab As-
Syafi'i adalah murid Al-Imam Malik dan mengambil
riwayat darinya. Dalam dunia hadits dikenal istilah
silsilah dzahabiyah, rantai emas, yaitu jalur
periwayatan yang paling shahih, yaitu jalur sanad
dari Imam Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar. Al-
Bukhari mengatakan tidak ada jalur periwayatan yang
lebih shahih dari jalur ini. Dan Al-Imam Asy-Syafi'i
berada di dalam jalur ini, karena beliau mengambil
hadits dari Al-Imam Malik.
Bahkan kitab Al-Muwaththa' karya Al-Imam Malik
telah dihafalnya dalam waktu hanya 9 hari di usia 13
tahun.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah
ditanya tentang sosok Asy-Syafi'i dengan pertanyaan,
apakah Asy-Syafi'i seorang ahli hadits? Maka Imam
ahli hadits ini menjawab dengan sangat tegas, "Demi
Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau
adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli
hadits."
Al-Imam Ar-Razi pernah berkata bahwa Asy-Syafi'i
menulis kitab hadits secara khusus, yaitu Musnad
Asy-Syafi'i. Itu adalah kitab hadits yang teramat
masyhur di dunia ini. Tidak ada seorang pun dari ahli
hadits dan mengerti ilmunya yang bisa mengkritik
kitab ini. Kalau pun ada penolakan, datangnya dari
mereka yang sama sekali tidak mengerti ilmu hadits,
yaitu dari para ahli ra'yi (ahli akal).
Nasab Asy-Syafi'i
As-Syafi'i dilahirkan pada tahun 150 hijriyah di Gaza,
Palestina. Dahulu disebut dengan wilayah Syam.
Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam pada kakek beliau Abdul Manaf. Ia
merupakan keturunan Bani Quaraisy sebagaimana
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam .
Masa Kanak-kanak: Hafal Quran, Syair dan Ahli
Bahasa Arab
Pada usia 2 tahun, As-Syafi’i ditinggal wafat ayahnya.
Sang ibu kemudian membawanya ke Mekah, tanah
air nenek moyangnya. Disanalah beliau tumbuh
besar dalam keadaan yatim.
Sejak kecil As-Syafi’i cepat menghafal Quran.
Diriwayatkan bahwa beliau telah hafal Quran di usia
yang teramat dini, yaitu 5 tahun. Selain Quran,
beliau juga banyak menghafal syair sastra Arab yang
indah dan pandai bahasa Arab secara nahwu dan
sharf. Sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, ”Saya
mentashih syair-syair Bani Hudzail dari seorang
pemuda Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,
Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab."
Masa Remaja: Menjadi Mufti Termuda
Di Mekah, As-Syafi’i berguru fiqih kepada mufti di
sana, Muslim bin Khalid Az-Zanji. Karena
ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan
cepat. Beliau juga cerdas dan benar-benar seorang
yang berbakat menjadi mufti.
Az-Zanji mengakui kemampuan muridnya yang ajaib
itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa
ketika masih berusia 15 tahun. Wah, luar biasa.
Kalau sekedar jadi mufti di kampung-kampung atau
di pelosok pedesaan, wajar-wajar saja. Tapi ini
menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah, tempat
yang begitu mendunia, didatangi oleh jutaan umat
manusia setiap tahunnya. Di tempat yang paling
mulia di muka bumi itulah, As-Syafi'i menjadi mufti
dalam usia yang teramat belia.
Mahasiswa Pasca Sarjana Madinah Imam Malik
Merasa masih kurang ilmu, As-Syafi'i mendengar
bahwa di Madinah (Masjid Nabawi) ada seorang alim
besar yang ilmunya sangat luas dan mendalam.
Beliau adalah Al-Imam Malik rahimahullah .
Maka As-Syafi'i muda bertekad belajar dan berguru
kepada tokoh besar dunia Islam itu. Tapi kelas itu
adalah kelas untuk ulama besar, bukan untuk anak
muda belia berusia belasan tahun. Namun As-Syafi'i
tidak pantang mundur. Meski kelas itu khusus untuk
ulama sepuh, beliau tetap penasaran ingin belajar
kepada Al-Imam Malik. Berbekal hafalan kitab Al-
Muwaththa' yang tebal itu, As-Syafi'i mendaftarkan
diri. Akhirnya beliau diterima mengaji kitab
Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya
dalam 9 malam.
Ke Yaman
Puas menyerap semua ilmu Al-Imam Malik, As-Syafi’i
kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di
sana. Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun
195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin
Hasan.
As-Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di
Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H.
Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i
menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya,
penjelasan nasikh dan mansukh-nya.
Di Baghdad, As-Syafi’i menulis madzhab lamanya
( madzhab qadim ). Kemudian beliau pindah ke Mesir
tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru
( madzhab jadid ). Di sana beliau wafat sebagai
syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” , buku
pertama tentang ushul fiqh, dan kitab “Al-Umm”
yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. As-Syafi’i
adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis,
dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak
dan fiqh ahli Hijaz.
Imam Ahmad berkata tentang As-Syafi’i, ”Beliau
adalah orang yang paling faqih dalam Al-Quran dan
As Sunnah. Tidak seorang pun yang pernah
memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah
memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”.
Thasy Kubri mengatakan di Miftahus Sa’adah , ”Ulama
ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin
ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat
amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan
moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah
lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang
yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja
masih kurang lengkap, ”
Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan
Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat
karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah.
Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap
baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya,
menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk
Madinah.
As-Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan
istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”.
Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama
diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin
Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam
Syafi’i.
Sementara kitab “Al-Umm” sebagai mazhab yang
baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di
Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin
Sulaiman.
As-Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya, ”Jika
sebuah hadits shahih bertentangan dengan
perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan
buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Demikian sekilas tentang sosok As-Syafi'i
rahimahullah. Untuk mendalaminya, kita bisa
membaca begitu banyak rujukan dan literatur, baik
yang lama maupun yang modern berbentuk disertasi
ilmiyah.
Yang lumayan komplit dan ilmiyah adalah kitab yang
ditulis oleh seorang ulama besar Indonesia yang
telah menghabiskan 40 tahunan lebih masa hidupnya
di Mesir dan Saudi. Beliau adalah Dr. Nahrawi
Abdussalam almarhum, dan untuk disertasinya beliau
menulis kitab Al-Imam Asy-Syafi'i baina
madzhabaihil qadim wal jadid ." (Al-Imam Asy-
Syafi'i: Di antara dua pendapatnya yang lama dan
yang baru).
Kitab setebal 700-an halaman ini, sayangnya, belum
ada yang menterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar