Sabtu, 16 Oktober 2010

Mari kita coba renungkan Nice Word karya WS Rendra (Alm) yang tercecer, yang saya sendiri tidak tahu judulnya :

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,
Tetapi,
Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali olehNya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdo’a,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah …. semua “derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika,
Aku rajin beribadah,
Maka selayaknyalah derita jauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku,
Kuperlukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai dengan keinginanku,
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah,
“Ketika bumi dan langit bersatu, maka bencana dan keberuntungan sama saja“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar