Senin, 09 Juli 2012

3 musuh Alloh di yaumil kiamat

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah SWT
berfirman, “Ada tiga golongan di hari
kiamat nanti yang akan menjadi musuh-Ku. Barangsiapa
yang menjadi musuh-Ku, maka Aku akan memusuhinya.

Pertama, seorang yang berjanji setia kepada-Ku, namun
mengkhianatinya. Kedua, seorang yang menjual orang lalu
memakan hasil penjualannya. Ketiga, seorang yang
mempekerjakan seorang buruh, namun setelah pekerja
tersebut menyelesaikan pekerjaannya, orang tersebut tidak
memberinya upah.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis Qudsi di atas menyiratkan beberapa adab dan
kesalehan baik secara vertikal maupun horizontal. Secara
vertikal, berarti kesalehan manusia di hadapan Rabb
semesta alam.
Sedangkan secara horizontal, berarti kesalehan sosial hamba
Allah yang harus ditunaikan pada sesamanya. Allah
membuka Hadis Qudsi, bahwa yang pertama termasuk tiga
golongan yang kelak akan menjadi musuh Allah adalah
orang yang ingkar janji.
Dalam Islam, janji dianalogikan sebagai sebuah hutang.
Konsep al-wa’du dainun (janji adalah hutang) menjadi
penting sebab hutang harus ditunaikan (dilunasi).
Sedangkan orang yang mengingkari janji, dalam sebuah
hadis termasuk dalam kategori orang munafik. Beberapa ciri
orang munafik: pendusta, pengingkar janji, dan
pengkhianat.
Perintah menunaikan janji, Allah berfirman, ”Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang
berhak menerimanya...” (QS. An-Nisaa’: 58). Atau dalam
hadis, ”Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki
amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak
memegang janji.” (HR. Ahmad dan Al-Bazzaar).
Perintah melaksanakan amanah dan menunaikan janji
berarti bukti bahwa manusia tersebut menjaga hak-hak baik
kepada Tuhannya maupun sesamanya. Sedangkan hadis
tersebut berarti bahwa yang diperintahkan Allah kepada kita
adalah bukti iman, sedangkan lawannya, yaitu mengkhianati
amanah, merupakan bukti kemunafikan.

Golongan kedua, yakni golongan yang menjual orang lalu
memakan hasil penjualannya. Golongan ini mengingatkan
kita kembali akan praktik perbudakan yang telah terjadi
sejak zaman pra Islam.
Adapun korban orang yang diperjualbelikan ialah para budak
perempuan. Budak perempuan kala itu diperdagangkan
dengan harga murah. Tidak sedikit dari mereka yang
dipaksa melacurkan diri oleh para majikannya.
Dalam konteks kekinian, praktik perbudakan itu terorganisir
secara rapi dan lebih mengerikan sebab terjadi pada orang
yang merdeka atau lebih dikenal dengan istilah human
trafficking. Praktik pemaksaan budak untuk melacurkan diri
ini tertera dalam Surah An-Nuur ayat 33.
“Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu
untuk melakukan pelacuran, padahal mereka sendiri
menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari
keuntungan duniawi. Dan siapa saja yang memaksa mereka,
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang (terhadap mereka yang dipaksa) sesudah mereka
dipaksa itu,” (QS An-Nisaa; 24: 33).

Golongan ketiga yang kelak akan menjadi musuh Allah ialah
seorang atasan yang tidak menunaikan kewajibannya.
Kewajiban tersebut berupa penunaian hak-hak pekerja
dengan memberinya gaji (upah). Islam tidak hanya
menempatkan bekerja sebagai hak, tetapi juga kewajiban.
Bekerja merupakan kehormatan yang perlu dijamin.
Nabi SAW bersabda, "Tidak ada makanan yang lebih baik
yang dimakan seseorang daripada makanan yang dihasilkan
dari usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari).
Bekerja dalam Islam, diartikan sebagai bentuk pengabdian
seseorang baik pada Tuhan maupun bentuk usahanya untuk
mendapatkan penghasilan, sehingga ia mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya. Islam juga menjamin hak pekerja,
seperti terlihat dalam hadis: "Berilah pekerja itu upahnya
sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah).
Semoga kita semua terhidar dari ketiga golongan tersebut
dan senantiasa berusaha menunaikan amanah dalam tiap
sendi kehidupan, baik terhadap Allah maupun sesama.
Wallahua’lam bish shawwab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar